
< Ting... Ting... Sret >
Pedang kami terus saling beradu dengan intens hingga dapat memercikan bunga api antara aduan itu.
Aku benar-benar heran. Meskipun dia memiliki tubuh besar tapi kobold ini sangat gesit dan kuat.
Semakin lama aku bertarung keadaan semakin merugikanku. Aku diserang habis-habisan.
Tidak mau terus-terusan bertahan. Aku berusaha membalas menyerangnya. Namun sangat sulit untuk menemukan celah di antara tubuhnya karena kecepatan pedangnya benar-benar tidak dapat dianggap remeh.
Sekali saja aku lengah, sudah pasti pedang miliknya itu akan dengan mudahnya merobek daging ditubuhku ini.
Pedangku menahan laju pedangnya yang diarahkan tepat ke kepalaku dari atas.
Untuk tinggi badan kami yang tidak seimbang ini, tentu saja ini menjadi suatu kerugian untukku diantara banyak kerugian lainnya.
Menggunakan kedua tanganku. Ini tetap terasa sangat berat. Tanganku terasa seperti tersengat listrik, ketika getaran dari hantaman pedang itu mengalir.
Suara decitan dari pedang kami semakin keras. Tekanan yang diberikan dirinya semakin meningkat. Aku dipaksa untuk semakin ke bawah. Aku berlutut dengan satu lutut menyentuh tanah.
Posisiku berbahaya!
Tanpa bisa kuhindari, sebuah serangan menghantamku dengan cepat.
< Duak >
" Ugh"
< Bukk >
Sebuah tendangan dilayangkan ke pinggangku membuatku terhempas dan terlempar menghantam tanah.
"Hah-hah-hah... Uhuk.. Hah.. Hah "
Nafasku tersengal-sengal. Disamping karna aku kelelahan, dada kananku terasa sakit dan sesak. Batuk darah keluar dari mulutku.
__ADS_1
Melihat ke atas aku melihat bayangan hitam bergerak ke bawah dengan cepat.
< Bum >
Aku memaksa tubuhku untuk berguling ke kiri guna menghindari serangan yang datang dari anjing sialan itu.
'' Hah..Hah.."
Jadi dia tidak membiarkanku untuk beristirahat ya.
Tertatih, aku berusaha bangkit.
" !.. Hakk.. cuih.."
Aku meludah mengeluarkan darah di dalam mulutku.
Menjaga jarak. Aku mengelap darah yang masih mengalir dari mulutku.
Memegang perut bagian atasku. Ini terasa menyakitkan ketika kusentuh dan menyesakkan.
Sepertinya rusukku retak.
Sialan!!!
astaga! Dia datang lagi!!
Kobold itu benar-benar tidak memberiku waktu untuk bernapas. Dia langsung menerjangku lagi dan lagi.
Kurasa kami hanya bertarung kurang dari sepuluh menit. Namun bagiku ini bahkan lebih lama dari waktu satu jam. Waktu benar-benar berjalan lambat sekarang.
Kini, luka sayat dan memar memenuhi tubuhku. Darah mengalir dari kepalaku membuatku sedikit berkunang-kunang.
Aku mati-matian berusaha menstabilkan pernafasanku yang terasa sangat berat.
Tanganku tidak henti-hentinya bergemetaran dan hampir mati rasa. Bahkan kakiku terasa amat berat menopang tubuhku. Aku bisa kapan saja ambruk oleh keadaan ini.
Melihat ke arahnya. Kobold lawanku ini sepertinya juga bisa merasakan lelah. Nafasnya juga terengah-engah saat ini.
Walaupun begitu. Ini terasa menyedihkan karena aku tidak dapat memberikan luka yang fatal kepada dirinya.
__ADS_1
Dia memang kelelahan saat ini, namun luka yang didapat nya oleh seranganku tidak terlalu mengancam dirinya.
Mulai bergerak mendekat lagi. Dengan pohon besar dibelakangku, kini aku benar-benar terpojokkan olehnya.
Mengacungkan pedangku ke arahnya, aku tetap tidak akan berpasrah diri.
Saat jarakku dan dirinya sudah semakin dekat, sebuah suara muncul disamping kiri mengagetkan kami.
"... Dengan karunia Mu. Ikatlah dan buat mereka meratapi takdir mereka » « ağac tələsi » "
Kami berdua sama-sama menoleh pada orang yang menghasilkan suara itu. Tanpa kami berdua sadari, sebuah akar pohon tiba-tiba muncul dari bawah dan dengan cepat mengikat tangan, kaki, serta tubuh kobold itu beserta denganku tanpa sempat kami hindari.
Kobold itu berusaha meronta terlihat dari massa ototnya yang kian membesar saat ini. Namun itu sama sekali sia-sia. Tubuhnya bahkan tidak dapat bergerak sama sekali.
Ini kuat.
Tidak. Ini bahkan sangat kuat!
Lain halnya dengan dirinya, aku sama sekali tidak melawan. Aku melepaskan pegangan pedangku dan menjatuhkannya ke bawah sesuai kesepakatan.
" Lakukan! Akhiri dia ! "
Mengambil pedangku yang terjatuh, Siena bergerak ke arah kobold yang terikat itu dan segera menusukan pedangku beberapa kali ke tubuh itu melalui celah yang ada di akar dan pelindung tubuh anjing itu.
Bahkan ketika dia ditusuk seperti itu, tubuhnya sama sekali tidak bergerak. Hanya tangan, pergelangan kaki, dan kepalanya saja yang mengejang merasakan rasa sakit.
Setelah beberapa kali mendapat tusukan seperti itu, tubuhnya mulai melemas dan mulai tidak bergerak.
Darah segar mengalir ke tanah dan menggenang di bawah anjing itu.
Sebenarnya aku sedikit segan untuk memberikan perintah kepada seorang gadis untuk melakukan tindakan kejam seperti ini.
Namun, sebagai seorang prajurit harusnya dia sudah siap untuk melakukan hal seperti ini.
Aku hanya dapat melihat punggungnya untuk saat ini. Tak lama dia kemudian berbalik dan melihat ke arahku dengan tubuh berlumuran darah.
" Kerja bagus! Bisakah sekarang kau melepaskanku? "
Gadis ini? Meskipun raut wajahnya dia buat setenang itu tapi jelas dia menyembunyikan rasa syok yang dimiliki. Namun, yang membuatku binggung adalah..
__ADS_1
Dia menghunuskan pedang yang masih berlumuran darah ke leherku!
" ? "