
Aku dibawa mereka ke dalam istana. Melewati sebuah koridor yang telah ada belasan prajurit yang mengenakan baju besi dengan tombak dan perisai, aku sampai di sebuah pintu kembar berukuran besar yang tertutup.
Pintu kembar berukuran besar ini berwarna hitam dan memiliki ukiran pohon berwarna emas.
Dua orang penjaga yang tengah berjaga di depan pintu itupun membuka pintu secara bersamaan.
Begitu pintu terbuka, sebuah ruang besar mewah dengan banyak orang muncul disudut pandangku.
Ruangan ini besar dan kelihatan sangat berkelas dengan lantai yang tertutupi marmer serta berbagai ornamen yang tak kalah indahnya. Sementara tidak ada jendela dalam ruangan ini, ruangan ini tidaklah gelap karena ruangan ini memiliki pencahayaan dari beberapa lampu raksasa yang tergantung di atap-atap.
Di dalam ruangan megah ini terdapat sekitar 30 orang.
Terduduk di sebuah kursi yang seperti terbuat dari kayu dengan desain berukirkan ukiran yang rumit, seorang pria berpakaian megah duduk dengan kepala yang memakai mahkota. Rambutnya panjang berwarna pirang dan wajahnya seperti wajah seorang pria paruh baya sekitar umur 40 tahunan. Kantong mata hitam menghiasi bawah matanya menandakan dia kurang tidur baru-baru ini. Namun dibalik itu, tatapannya tajam memandangku, seolah aku adalah musuhnya.
Aku tidak berfikir ini akan berakhir dengan mudah.
Sementara sang Raja duduk di posisi paling atas. Di sampingnya masih ada kursi lagi walaupun berukuran lebih kecil.
Di kanan, ada seorang pria yang sebelumnya telah kutemui. Mengenakan pakaian berwarna hijau dia duduk dengan gagah. Dia adalah sang Pangeran mahkota Dustines Vor Leofoye atau lebih dikenal Pangeran Leo.
Di kiri, ada seorang gadis yang mengenakan gaun berwarna hijau muda. Gaun itu indah. Namun, keindahan gaun itu tidak selaras dengan raut wajahnya yang kini muram dan tampak khawatir. Dia adalah Istriku - atau kurang lebih begitu - , Dustines Vor Siena.
Sementara mereka bertiga duduk di tempat teratas, ada 6 kursi di tempat yang lebih rendah terpaut tiga tangga dari tempat sang raja.
Menduduki kursi-kursi itu ada 5 orang, empat laki-laki dan satu perempuan. Mereka semua tampak seperti orang berusia empat puluh sampai lima puluh tahunan. Adapun 2 orang dari mereka mengenakan pakaian besi putih sementara 3 lainnya mengenakan pakaian biasa yang tampak mewah.
Selain mereka yang kusebutkan tadi, ada para prajurit bersenjata lengkap dengan tombak dan perisai yang membentuk 2 baris di masing-masing sudut ruang. Mereka berjumlah kira-kira 20 orang.
Di bawanya aku ke tengah-tengah, tepat diantara barisan kedua pasukan ini yang seolah tengah menjagaku.
" Yang mulia. Anak manusia telah datang menghadap! "
Salah satu dari kelima orang itu bangun dan meneriakan hal itu.
Prajurit yang memegang taliku menundukan badannya memberi hormat. Belum sempat aku mengikuti apa dia lakukan, aku dikagetkan oleh sesuatu yang menghantam belakang kakiku dan memaksaku berlutut.
Menengok, aku melihat seorang prajurit habis menghantam kakiku dengan bagian bawah tombaknya.
Apa-apaan dia?
Walaupun ini tidak terasa sakit sama sekali karna bukan suatu yang di anggap penyerangan, tapi tetap saja ini bukan hal yang pantas untuk dilakukan mengingat statusku yang belum jelas.
" Yang berdiri di hadapanmu sekarang ini adalah Raja dari Kerajaan Darthea, yang mulia Dustines Vort Ellysia. Sekarang anak manusia–"
" Cukup perkenalannya, Hart. Biar aku langsung saja yang bicara! "
Aku kembali menengok ke arah orang yang berdiri itu yang mana omongannya tengah disela oleh sang Raja.
" Baik, Yang Mulia." Seru orang itu kemudian kembali duduk.
" Jadi anak manusia, apa sebenarnya tujuanmu?... Ah Tidak. Sebelum itu, katakan! Siapa dirimu? "
" Nama saya Glen Al- Ah tidak. Maksut saya, Glen Eldric Notterdam, Yang Mulia. Mungkin paduka mengizinkan saya untuk menjelaskan perihal tujuan saya? "
" Ho. Bangsawan manusia. Jadi ada apa sampai bangsawan manusia datang ke tempat ini? Apakah para manusia itu sudah melupakan perjanjian yang telah kita buat? "
" Saya kurang begitu faham mengenai masalah itu. Namun, saya dapat menjelaskan dua perihal kedatangan saya kesini. Pertama, Saya bermaksud untuk menolong dan mengawal para Elves yang tengah kesusahan untuk kembali ke negerinya. Adapun alasan kedua.. "
Disini aku agak ragu untuk mengatakannya. Melihat ke arah Siena, aku menguatkan tekadku.
"...Untuk membawa Putri anda kembali ke negeri saya sebagai istri atas izin paduka! "
Tanpa menunggu lama tentu ucapanku ini langsung mendapatkan respon yang berbeda.
Ada bisikan-bisikan senter terdengar dari luar yang mendengar pembicaraan kami di dalam karena pintu tidak ditutup.
Di dalam pun sama. Ke-lima orang itu saling berbisik-bisik di antara mereka.
Melihat hal ini sepertinya pangeran menunjukan raut wajah yang tidak suka. Sementara, Siena sendiri berada diantara rasa senang dan kuatir. Kegembiraan agak terpancar namun kekuatiran yang membuat jantungnya berdebar-debar lebih besar karena menunggu respon dari sang raja, Ayahnya.
Sang Raja sendiri hanya menunjukan raut wajah yang biasa saja dan terkesan datar.
" Diam! Kita masih ada di hadapan Baginda Raja! "
Pangeran berteriak memerintahkan semua orang untuk diam karena menunjukan rasa tidak hormat kepada sang raja.
__ADS_1
Suasan hening. Raja melanjutkan berbicara lagi,
" Jadi, kau ingin membawa Putriku pergi ke negeri manusia kah? "
" Benar, Yang Mulia! "
" Aku telah mendengar hal ini dari Putriku. Bagaimanapun adat kita tidak berubah. Sebenarnya kau tidak perlu izinku. Cukup dua pihak untuk memberitahukan masalah itu. Tapi aku menghargai ini. Adapun untuk membawa Putriku ke negerimu, aku menolaknya! "
" Bolehkah Saya mengetahui alasannya? "
" Aku tidak perlu untuk memberitahukan hal itu karena itu terlalu banyak!.."
Raja itu kemudian tampak sedang berfikir sejenak, kemudian berbicara kembali,
" Ah Tidak. Aku akan memberitahumu satu alasannya. Mungkin Kau kuat karena berhasil membawa Putriku sampai kesini. Tapi, apakah kau merasa kuat untuk melindungi Putriku apabila berada disana wahai anak manusia? "
" Saya- "
" Kau tidak perlu menjawab! Yang kuperlukan adalah bukti. Kurasa kau sudah mengetahui tentang peperangan yang akan terjadi. Ikut dan menanglah! Jadilah seorang pahlawan di dalam perang yang akan datang itu. Anggap itu syarat yang kuberikan kepadamu! "
" Ayah!.. " Siena langsung menyuarakan keberatannya atas persyaratan itu.
Sementara mereka berdua tengah berdebat. Aku tengah sibuk dengan pergolakan pikiranku sendiri.
Perang kah? Sebisa mungkin aku ingin menghindari semua ini. Terlebih aku mengetahui bagaimana kekuatan dari para Orc itu. Tapi, disisi lain hanya hal itu yang bisa kulakukan untuk meyakinkan ayah Siena.
Aku sudah mengetahui bagaimana brutalnya sebuah peperangan. Aku lelah dan ingin menghindari hal itu sebisa mungkin untuk hidup dalam kedamaian saja.
Tapi tidak ada hal lain yang bisa kulakukan.
Aku mengerti akan kekuatiran yang seorang ayah rasakan saat sang putri akan dibawa oleh pria lain. Walaupun menurut Siena Ayahnya itu adalah ayah yang membenci dirinya tapi disisi lain, dia hanyalah ayah biasa disaat-saat tertentu.
Yah. Kurasa menambah satu perang saja tidak akan terlalu masalah. Anggap saja ini yang terakhir.
Huh. Ini mungkin akan kusesali.
" Baiklah. Saya menyetujuinya! Saya akan mengikuti perang ini dan membuktikan diri saya! "
Siena nampak tertegun tidak percaya mendengar ucapanku sementara ayahnya sendiri nampak lebih bahagia daripada sebelumnya-sebelumnya.
Mereka melepaskan ikatanku. Akupun berdiri.
" Siapkan tempat untuk anak manusia ini! Dan kau Sie! Pergilah dan temani suamimu ini!.. Disini aku akan sekaligus mengumumkan! Kills! ''
Disini sang raja berdiri dari singgasananya dan berteriak dengan lantang seolah mata hitam dan rasa lelah yang dia tunjukkan tadi menghilang entah kemana.
" Ya, Yang Mulia! "
Seorang yang memakai baju besi merespon berdiri dimana semua orang yang ada kursi itu juga dan arah pandangan mereka kini ke arah dari yang sang raja.
" Persiapkan prajurit untuk berperang! Lily! Persiapkan stok rasum! Lusa kita akan berperang dengan para Orc apabila benteng Bord jatuh. Leo! "
" Ya, Yang mulia! "
" Kau akan menjadi Panglima di perang ini dengan Kills sebagai komandan kedua! "
" Baik! "
" Kalian berdua boleh pergi! '' Perintah Raja kepadaku dan Siena.
Dengan itu aku meninggalkan ruangan tahta ini bersama Siena.
•••
Aku mendapatkan sebuah kamar yang lumayan bagus. Desainnya sederhana dengan tembok yang terbuat dari kayu. Sebuah tempat tidur yang terbuat dari semacam kapas mengisi sebagian besar dari kamar ini.
Dengan buku ditanganku, aku duduk menyandar ditembok yang terhubung dengan kasur. Selimut terbuat dari semacam kain halus yang dari bulu menutupi tubuh bagian bawahku sementara tubuh atasku kini tidak berpakaian. Disini udaranya agak dingin memang, namun jika aku berselimut total dingin ini akan berubah jadi gerah. Lagipula aku memang malas memakai kembali pakaianku.
Kini aku benar-benar fokus untuk membaca beberapa hal disini. Terutama materi tentang beberapa sihir-sihir yang mungkin dapat kupelajari. Aku tidak ingin mengikuti perang tanpa persiapan sama sekali.
" Em.. Glen? kamu belum tidur? "
Siena melihat ke arahku dengan memicingkan mata seolah matanya masih rekat dan tidak mau dibukanya. Dia masih mengantuk.
" Tidak. Kau tidur duluan saja. "
__ADS_1
" Kamu sedang apa? "
Tidak menurutiku Siena malah bangun sembari tangannya memegang selimut guna menutupi tubuhnya yang tidak berpakaian.
" Membaca buku yang kamu berikan. "
" Kamu beneran bisa membacanya? "
Mata Siena yang mengantuk sepertinya kini telah terbuka semua seiring antusiasnya karena mendengar jawabanku.
" Iya. Kenapa? Kamu tidak bisa membaca tulisan ini kah? "
" Tidak. Ibu belum sempat mengajariku tentang tulisan itu sebelumnya. "
" Begitukah? Oh ya. Lalu, apakah ini foto ibumu? "
Aku menunjukan sebuah halaman yang tertempel foto ditengah halaman buku ini.
" Iya ini. Bagaimana wajah ibuku bisa ada disini? "
Siena merebut buku di tanganku kemudian menyentuh foto ibunya itu.
" Itu namanya foto. Bagaimana ya menjelaskan... Em? "
Siena yang melihat dan menyentuh foto itu mendadak meneteskan air matanya dan menangis sesenggukan.
Aku binggung akan apa yang harus kulakukan selanjutnya. Melihat dia menangis seperti itu membuatku juga ikutan sedih. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana.
Pelan. Aku mencoba memeluknya dan menyenderkan kepalanya ke dadaku. Tapi, itu justru membuatnya menangis semakin kencang.
" A-Aku rindu kepadanya! Kenapa ibu pergi begitu cepat! "
Aku hanya mendengarkannya, tanpa menanggapi. Mengerakan tanganku, aku mencoba mengelus rambutnya perlahan berusaha menenangkannya.
Setelah beberapa lama, tangisannya mereda.
" Kau sudah tenang sekarang? "
Siena mengangguk sebagai jawaban.
" Maafkan aku. "
" Kenapa kamu meminta maaf? "
" A-Aku sudah menunjukan hal memalukan kepadamu? "
" Memalukan? Ah. Tidak apa. Aku malah suka melihatmu telanjang begini.. aaaduh.. Ampun Ampun.. "
Siena menanggapi candaanku dengan mencubit perutku.
" G l e n! "
" A a ampun.. Iya - iya. itu hanya candaan... Candaan! "
Siena akhirnya melepas cubitan di perutku, meninggalkan bekas merah agak kebiruan disana.
" Tapi. Aku tidak menggangap hal itu memalukan kok. Terlebih, bukankah kita adalah pasangan sekarang? Kita memang sudah sepantasnya berbagi suka dan duka bukan? Jadi tidak usah malu untuk menangis ataupun bersandar di dadaku kapanpun. Aku akan berusaha selalu ada untukmu. "
Siena yang mendengar itu tersenyum dengan malu-malu.
" Nah gitu dong. Senyum begitu kan kamu kelihatan lebih cantik.. Aa a sakit-sakit.."
Siena kembali mencubit dan memutar jarinya diperutku. Tidak lama dia kemudian melepaskannya. Jadi ada dua bekas lingkaran merah agak biru disana. Kemudian melihat buku itu lagi.
" Glen-Glen! Tulisan apa ini? "
Siena menyodorkan buku itu sembari menunjukan tulisan dibawah foto.
" Itu? Kalau aku baca sekilas sih itu seperti semacam catatan harian ibumu dari awal datang ke dunia ini dan sebagainya. Kamu ingin aku membacakannya kah? "
" Apakah tidak apa? Apa kamu tadi baca itu juga? ''
" Tidak. Aku tadi baca bagian sihir-sihir. Tapi tidak apa. Siapa tahu dibagian ini ada informasi juga. "
Setelah itu aku mengambil buku itu dan mulai membaca paragraf demi paragraf serta halaman demi halaman selama semalaman suntuk.
__ADS_1