Tentara Malaikat: Sisi Gelap

Tentara Malaikat: Sisi Gelap
Archilles


__ADS_3

Perlahan aku mulai membuka mataku.


“ Dimana ini? Aduduh. ”


Bangkit, aku melihat sekitar.


“ Anda sudah bangun, Tuan.”


Tersentak, aku segera melihat sosok yang berbicara itu, tanganku otomatis mengapai pedang yang tergeletak disampingku.


Seperti halnya diriku yang terkejut saat ini, sosok di depanku itu juga terkejut. Tidak, lebih tepatnya dia ketakutan.


“T-Tenang... Tuan... S-saya tidak akan menyerang Anda. Mohon Anda menurunkan senjata Anda!”


Orc di depanku itu berusaha membujukku dengan panik.


Mendapati tidak adanya permusuhan yang ditujukan oleh Orc di depanku, aku menurunkan senjataku.


“ Kau Orc yang kemarin?”


“ Benar, Tuan. ”


“ Dimana kita? ”


“ Saya juga tidak tahu, Tuan. Namun, saat ini kita berada dijarak setengah hari ke selatan dari tempat bertarung Anda kemarin. ”


“Hm. Kenapa aku bisa ada disini? ”


“ Saya yang membawa Anda Tuan. Karna Tuan kemarin pingsan jadi saya memutuskan untuk membawa Anda pergi.”


“ Caranya? Apa kau juga yang mengobati lukaku?”


Aku menunjuk bekas luka diperutku yang sudah menutup.


Ini aneh. Semua luka robek ditubuh ku telah benar-benar menutup sekarang.


Apa yang terjadi? Hal itu terus terlintas dipikiranku.


Seharusnya luka terbuka akibat sabetan senjata tidaklah bisa sembuh secepat ini, mengingat ini baru terjadi kemarin seperti yang dikatakan si Orc.


“Tidak Tuan. Saya tidak tahu obat apapun yang dapat diberikan kepada manusia.”


Aku lupa, Orc adalah ras yang memiliki tingkat regenerasi yang tinggi. Tentu saja dengan regenerasi mereka yang tinggi itulah tidak diperlukan lagi obat-obatan untuk luka yang mereka derita itu.


“Namun, saya bersyukur Anda telah sembuh, Tuan.”


“Ah. Terima kasih. ”


Kalau boleh dikatakan, sebenarnya aku belum benar-benar sembuh sekarang.


Tubuh bagian luarku ini memang terlihat baik-baik saja sekarang. Namun, saat aku berusaha bangun, tidak.. lebih tepatnya ketika aku mencoba menggerakkan tubuhku aku masih merasakan sakit dibeberapa bagian tubuhku yang menandakan luka dalam tubuhku ini memang belum sembuh.


Selain itu, aku bahkan tidak bisa menggerakan tangan kiriku. Tapi ini masihlah lebih baik daripada yang kemarin. Coba kau bayangkan, posisi kemaren tanganku bergerak kearah yang tidak benar. Selain rasa sakit yang tidak tertahankan, melihatnya saja membuatku sangat kesakitan.


Sebisa mungkin aku tidak ingin memperlihatkan kelemahanku ini.


Memang benar mahluk di depanku ini sekarang terlihat ketakutan dan patuh kepadaku, namun siapa yang tahu apa yag dapat dilakukan oleh monster ini.


Kepercayaan memang penting, namun kewaspadaan jauh lebih penting.


Selain itu,

__ADS_1


“ Bisakah kau berhenti memanggilku dengan “Tuan” ? Aku tidak terbiasa dipanggil seperti itu. Namaku Glen Al… Ah, maaf biar kuulangin, namaku Glen Eldric Rutterdom. Kau bisa memanggilku dengan Glen saja. Siapa namamu?”


Aku kembali duduk perlahan bersender ke pohon dibelakangku.


“ Rasanya tidak etis untuk langsung memanggil Anda dengan nama langsung, Tuan Glen.”


Orc gemuk dan pendek di depan ku ini menunduk dengan ekspesi yang rumit.


“Tidak apa, kau bisa memanggilku Glen saja!”


“Tidak-tidak Tuan, Saya tidak bisa…”


“Yasudah terserahlah. Jadi siapa namamu?”


Dengan jengkel aku menyerah untuk menyuruh Orc agar berhenti memanggilku Tuan. Jika diteruskan, aku tahu ini hanya akan terus berputar-putar.


“Saya tidak punya nama, Tuan.’’


“Tidak Punya? Kenapa?”


“Kami di ras Orc memang tidak memiiki nama Tuan.”


“ Itu aneh. Lalu bagaimana kalian saling memanggil selama ini? ”


“ Kami meggunakan panggilan seperti kakak-adik untuk keluarga. Tapi lebih banyak kami memanggil dengan posisi kami serta dari suku apa kami berasal.”


“ Jadi itu seperti julukan dari pasukan ya? Boleh juga sih, namun akan repot untuk kedepannya. Coba kau beri nama panggilan untuk dirimu sendiri agar mudah kupanggil! “


“Saya tidak tahu dan tidak bisa, Tuan.”


Orc itu kembali menampakan wajah yang rumit dan kebingungan lagi.


Ah. Ini merepotkan, ucapku sembari menggaruk rambutku yang tidak gatal.


Berulang kali aku melihat orc di depanku ini sembari memegang daguku.


Nama apa ya yang cocok untuknya?


Perutnya gendut, wajahnya jelek. Ah ini benar-benar merepotkan... Tapi, ayolah abaikan saja tentang kekurangannya itu.


Saat pertama bertemu Orc ini, dia memegang tombak dengan gemetaran. Hal itu membuatku teringat akan suatu tontonanku dulu dan membuat suatu ide terlintas dipikiranku.


Namun, aku ragu apakah nama itu akan cocok dengan wajah dan penampilan Orc ini. Tapi, kalau dipikir lagi itu akan sesuai dengan regenerasi yang dimiliki kaum orc yang membuat dirinya susah mati.


Akhirnya dengan ragu aku memutuskan.


“ … Bagaimana dengan… Archilles?


“Archilles Tuan? Anda ingin memberikan saya nama itu?”


“Apakah kau tidak suka? Kalau gitu aku akan memikirkan nama lain.”


“T-Tidak Tuan. Nama ini sungguh bagus. Terima kasih Tuan! Dengan ini saya akan mengabdikan diri saya kepada anda dengan lebih tulus dan lebih lagi, Tuan Glen.”


“Kau barusan bilang apa? Bukankah sudah kubilang aku tidak ingin pelayan!”


“Tapi Tuan… Saya mohon!”


Orc itu berlutut kemudian bersujud memohon kepadaku.


Aku yang tidak pernah diberlakukan seperti ini menjadi serba salah.

__ADS_1


“Oh ayolah, tidak usah seperti itu!.. baik.. baiklah, lakukan terserahmu. Sekarang bangunlah!”


Mengangkat kepalanya Orc itu menatapku.


“Tuan menerima saya?”


“Ya-ya… terserahlah. Sekarang bangun!”


“Baik Tuan.”


Orc itupun bangun.


Tiba-tiba, aku merasakan pusing hebat mendera diriku. seperti ada sesuatu yang hilang dan keluar dariku.


Lelah dan pusing menjadi bercampur dan menghantamku. Bersamaan dengan itu sebuah suara dan tampilan muncul di depan ku.


[[ Selamat. Bawahan Baru telah berhasil direkrut. Pemberian Nama Berhasil. ]]


[[ >>Bawahan<< ]]


[[ Nama : Archilles


Ras : Orc


Level : 5


JOB : Pendekar tombak pemula


HP : 100 AGI : 60


MP : 75 MAG ATK : 40


PHY. ATK : 70 MAG. DEF : 90


PHY DEF : 200 RESIST : 120


 


Skill : Skill bertombak level 1. Regenerasi level 1. Skill membaca level 3.\]\]


 


Apa ini? Apakah rasa pusing dan lelahku ini ada hubungannya dengan pemberitahuan ini?


Ah. Kepalaku terus-menerus berdenyut.


Melihatku yang pucat dan terus menerus memegang kepalaku, sepertinya memunculkan kekhawatiran tersendiri bagi Archilles.


“Tuan Glen? Anda tidak apa-apa?”


“Ah tidak. Sepertinya aku masih kelelahan saja. Ngomong-ngomong, apakah kau punya makanan?”


Mungkin dengan makan dapat meredakan pusingku ini.


“Makanan, Tuan? Saya punya. Kebetulan tadi saya sempat dapat hewan disekitar sini. Akan saya ambilkan.”


Archilles meninggalkanku, tidak lama dia kembali membawa potongan daging.


“ Apa ini? ”


“Daging, Tuan.”

__ADS_1


“ Iya aku tahu. Apa maksudmu aku harus makan daging mentah gitu?"


__ADS_2