Tentara Malaikat: Sisi Gelap

Tentara Malaikat: Sisi Gelap
Bekas Pertempuran


__ADS_3

''Hey bukankah itu rencana besar dan rahasia? Bukankah kau terlalu berterus terang?  Hem... Kau bisa mengangkat kepalamu!''


Dia pun mengangkat kepalanya dan masih dalam posisi terduduk berusaha menjelaskan kepadaku.


''Benar. Tetapi menurut firasat saya, Saya tidak bisa berbohong di depan kemampuan hebat yang Anda miliki. Sehingga Saya memutuskan untuk menceritakan tanpa menyembunyikan apapun.''


Eh? Dia percaya akan kemampuan yang kukarang itu?


Menahan tawa, Aku berusaha berbicara senormal mungkin dan kurasa akan lebih bagus kalau Aku buat sedikit berwibawa.


'' Uhuk... Baguslah. Kurasa kau tau posisimu. Sekarang katakan, apa yang terjadi disebelah sana!! Tadi Aku mendengar suara benda keras jatuh dari arah sana?''


Aku menunjuk di arah timur laut dimana suara pertempuran itu berasal.


''Itu adalah  pertempuran antara kelompok Saya dengan para Elf yang berpatroli di hutan ini. Kami berempat bertugas menghadang Elf yang melarikan diri dari pertempuran itu dan membunuhnya. Sementara kelompok utama kami bertugas menghadapi mereka.''


'' Jadi begitu. Hanya untuk kau tahu! Aku bukan berasal dari hutan ini. Maka Aku tidak memilki keperluan untuk memihak siapapun. Tetapi tergantung situasi, Aku akan membunuh orang yang berniat membunuhku. Jika kau mengerti hal itu, cepat tunjukan jalan ke sana! Aku akan memastikan keselamatanmu selama kau tidak menghianatiku. Tetapi jika kau menghianatiku, maka kau akan berharap untuk mati itu lebih baik.''

__ADS_1


Sepertinya ancamanku berhasil. Tubuhnya bergetar dan dia mengangguk pelan.


Berdiri, dia memanduku dan menunjukan jalannya.


Tak perlu beberapa lama, kini kami sampai disebuah area bekas pertempuran.


Panah-panah menancap di pohon dan tanah sepanjang jalan yang kami lalui . Darah merah dan hijau mengenang disana-sini.


Bukan hanya anak panah dan darah. Bahkan ada pedang dan tombak berserakan dimana-mana beserta para pemegangnya yang telah tak bernyawa.


Para Orc dan Elf berserakan seolah seperti sampah yang bertebaran dimana-mana, tapi jumlah mayat Orc lebih banyak.


Tak beberapa lama, tiba-tiba Orc di depanku berhenti.


'' Kita berhasil mendapatkan buruan yang bagus! Kita akan menghadiahkan wanita ini kepada Orc Lord. Kita akan mengunakan sisanya sebagai budak atau makanan. Segera kumpulkan senjata dan armor mereka!...Hei kau, bukankah kau yang bertugas sebagai kelompok belakang? Apa yang terjadi?  Mana anggotamu yang lain ? Kenapa kau sendiri ke sini tanpa senjata?''


Orc yang paling besar yang sepertinya adalah komandannya memberi perintah kepada Orc yang lain.

__ADS_1


Aku kurang mengerti apa yang dikatakannya. Mungkin dia menggunakan bahasa kaum Orc atau semacamnya. Namun, Melihat saat ia melihat Orc yang didepanku, wajahnya yang jelek itu seolah menyiratkan keheranan. Sepertinya dia belum melihatku dibelakang Orc ini.


Akupun kemudian bergerak ke samping kanan Orc di depanku ini untuk melihat apa yang terjadi didepan dengan lebih jelas.


Aku melihat disitu ada 12 Orc. Berdiri dengan siaga mengeliling ada 6 Orc yang menjaga tawanan perang yang tengah terduduk lemah tidak berdaya. Tangan mereka tidak terikat. Namun, seperti yang kukatakan, mereka tak berdaya, penuh luka dan tidak seperti punya niatan untuk kabur. Mereka sepertinya telah pasrah. Menghitung jumlah mereka, itu hanya tersisa 4 orang bertelinga panjang. Ada 3 wanita dan 1 pria.


Sementara itu, 4 orc  yang lain sepertinya sedang mengumpulkan senjata yang terletak berdekatan di depanku. Itu kuketahui karna mereka kini tengan mengumpulkan dan mendekap baju besi serta senjata yang berserakan ditanah.


Terletak dijarak paling belakang, ada dua  Orc besar tengah berdiri berhadapan. Orc yang lebih besar berdiri memandangku dengan palu besar ditangannya.


Sementara itu Orc yang lebih kecil, kini tengah memegang wanita berambut putih.


Wanita itu terkulai lemas. Tapi, sepertinya masih hidup karna alunan napas lemah masih bergerak di dadanya yang tertutup baju yang seperti terbuat dari kulit. Sepertinya dia dibuat pingsan tadi.


Pelan dan tak bertenaga gadis itu mengangkat wajahnya yang penuh dengan luka dan debu.


Saat aku melihatnya Dia juga melihatku. pandangan kami bertemu. Lalu...

__ADS_1


''Bi-Bitte helfen (To-Tolong)'' Dia mengucapkan lirih tanpa tenaga, bahkan hampir tak terdengar suaranya.


__ADS_2