
"Kau tahu? Untuk seukuran monster kau cukup pandai juga ya? Sepertinya kau dari tadi memahami akan apa yang kuperintahkan dan kuajarkan kepadamu."
" Terima kasih, atas sanjungan Tuan. Serta, terima kasih telah membagikan pengetahuan luar biasa Tuan kepada saya. Saya tidak sabar untuk belajar lebih banyak lagi dari kebijaksanaan yang Anda miliki."
Sambil terus memutar ranting, Archilles membalas menyanjungku.
Eh? kebijaksanaan? Apakah yang seperti ini disebut kebijaksanaan? Kurasa dia terlalu berlebih-lebihan memujiku. Yasudahlah. Ngapain juga aku memikirkan itu.
.
.
.
Ini lumayan lama juga, kurasa ini membutuhkan waktu yang lebih lama dari perkiraanku. Namun, akhirnya percikan api tercipta juga dari gesekan itu.
Kalau tidak salah aku dulu hanya membutuhkan waktu kurang dari 5 menit untuk menghasilkan bara api. Apa itu efek dari skill bernama fire create apalah itu ya? Ah entahlah.
Karna api sudah jadi, sekarang tinggal memasak dagingnya.
Lagi-lagi orc ini kusuruh untuk bekerja. Kali ini dia kusuruh untuk menusukan ranting basah ke daging hasil buruannya itu.
Untuk urusan membakar, hal itu aku lakukan sendiri dengan tangan kananku.
__ADS_1
Aku mempunyai skill memasak, jadi ada kemungkinan masakanku akan terasa lebih enak walaupun saat ini kami tidak memiliki bumbu apapun.
Yah, itu hanyalah asumsiku saja sih. Tapi siapa tahu itu akan benar-benar berhasil.
“ Jadi, kau membawa dia juga rupanya.”
Aku menghentikan kegiatanku sebentar lalu menunjuk sesosok tubuh yang terbaring dibawah pohon tidak sadarkan diri, kemudian melanjutkan lagi.
‘’Benar, Tuan. Saya pikir kemarin Anda bertarung untuk menolong dirinya sehingga saya memutuskan untuk membawa dia juga disamping saya membawa Anda.”
“Begitu ya. Baguslah. Paling tidak, kita tidak meninggalkannya disana sendiri. Kerja bagus Archilles!”
“ Terima kasih Tuan.”
"Tidak-tidak! Sebaiknya Anda dahulu, Tuan. Kalau tidak salah tadi bukankah Tuan mengatakan pusing? Sebaiknya Anda makan dahulu Tuan! Saya tidak lapar Tuan.''
Kau tahu? Kau pembohong yang buruk!
Bagaimana kau bisa mengatakan tidak lapar dengan mulut yang terdapat liur menetes seperti itu? Astaga.
Tapi aku terkesan, bagaimana dia bisa mengatakan itu? Dia tahu sopan santun?
" Aku tidak bisa makan sekarang. Saat ini hanya satu tangan yang dapat kugunakan. Jika aku makan maka akan lama untuk memasak yang lainnya, aku tidak dapat menyerahkanmu untuk memasak karna aku mempunyai skill memasak sementara kau tidak punya.''
__ADS_1
Aku terpaksa memberitahunya tentang kondisi tanganku. Yah bodo amatlah, sepertinya dia dapat dipercaya juga.
"Kalau begitu saya akan menunggu Anda selesai, Tuan."
"Benarkah? Baiklah kalau begitu, bersabarlah."
Selang beberapa waktu, akhirnya semua daging telah matang bertepatan dengan hari yang telah gelap.
Dibawah sinar bulan dan didepan api unggun kami makan bersama.
“ Bagaimana? Enak tidak? Hambar ya? Yah, maklumlah ini cuma daging panggang biasa.”
Berbeda dengan apa yang kutanyakan, kenyataannya Archilles dengan rakusnya memakan daging yang telah dipanggang ini dengan cepat.
“Hei! Pelan-pelan saja, masih banyak kok dagingnya. “
“Ah. Maaf Tuan. Tapi ini enak sekali. Saya tidak pernah makan yang seperti ini! Bolehkah saya ambil lagi, Tuan?”
“ Benarkah? Kurasa itu hanya karna kau hanya pernah makan daging matang saja.. ah tentu, silahkan. Tapi makan secara pelan saja ya, jangan sampai kau tersedak!!”
“ Terima kasih, Tuan.”
“Oh ya. Ada yang membuatkku penasaran! Sembari kau makan, bisakah kau jelaskan? Kenapa untuk makhluk sepertimu itu kau tahu banyak hal tentang tata karma manusia? Terutama saat kita berbincang ini, sepertinya dari tadi kau berbicara dengan sopan kepadaku.”
__ADS_1
Aku menanyakan sesuatu yang mengusik hatiku.