
Memimpin kami kepala desa tidak berbicara banyak. Aku tidak tau apakah itu karena faktor segan atau bagaimana.
Tidak lama kami sampai di bangunan yang terlihat mencolok diantara bangunan yang lain. Ukurannya dua kali dari ukuran bangunan disekitar.
" Ini.."
" Ini adalah rumah saya. Karena di desa ini tidak ada penginapan, saya harap tuan berkenan untuk menginap ditempat saya ini. "
" Tentu saja kami tidak keberatan. Justru kami akan sangat berterima kasih atas kebaikan Anda. "
" Panggil saja Fenrid, Tuan. "
'' Baik. "
Sebenarnya aku agak segan. Tapi tak apalah.
" Mari.."
Dipimpin oleh Fenrid, kami memasuki rumah.
Kami diantar ke kamar yang pertama. Di dalam kamar ini terdapat 2 ranjang terpisah dengan kasur yang berisi semacam bulu. Di kamar ini kami menaruh kedua Elf yang masih tidak sadarkan diri.
Lalu ke kamar selanjutnya. Disini hanya terdapat 1 kasur tunggal dan kamarnya lebih kecil dari kamar selanjutnya. Sepertinya kamar ini memang hanya ditujukan untuk penghuni tunggal saja. Disini disetujui bahwa kamar ini akan ditempati Archilles. Lagipula kasur itu seperti memang pas untuk tubuh Archilles sendiri.
Kemudian tibalah saatnya untuk kamarku.
•
" ... "
'' Baiklah. Mari kita tidur. ''
Terkejut Siena dengan cepat menengok dan memandangku dari samping seolah tidak percaya.
" A.. Apa kau sudah GILA!! "
Dia berteriak sangat keras sampai aku harus menutup kedua telingaku dengan jari.
" Hei! Jangan berteriak! Kau bisa menganggu penghuni rumah ini yang lain tahu! "
" Bagaimana kau bisa setenang itu?!.. Ah aku tahu! Ini pasti memang sudah kau rencanakan! "
Dia menunjuk kepadaku dengan jarinya.
" Rencanakan ?"
'' Iya, ini pasti rencanamu!! Apa maksudmu dengan segera tidur? Kau pasti menyuap kepala Desa itu untuk menempatkanku disini! Di kamar ini bersamamu!! Kau ingin berbuat macam-macam lagi dengan tubuhku?! Hah! Hah! AKU TIDAK MAU!!''
Dia memaksa membuka jari yang menutup telingaku kemudian berteriak.
" Oi kampret! Sudah kubilang jangan berteriak! Lagipula apa memang harus kau berteriak tepat ditelingaku! Meskipun kututup masih dapat kudengar ocehanmu. Jadi tidak perlu teriak-teriak!!"
__ADS_1
" Kau bilang sudah mendengarku tapi masih bersikap bodo juga! Aku bilang kenapa hal ini terjadi? Pergi sana! Cari kamarmu sendiri!"
" Huh. Bukankah kau juga mendengarkan? Ini adalah kamar terakhir. Kau mau aku tidur dimana? "
" Terserah. Tidur dikandang atau manapun terserah padamu! Atau kau bisa tidur bersama dengan bawahanmu itu! "
" Teruslah mengoceh. Minggir! Aku mau tidur. "
Aku berjalan ke arah ranjang yang berukuran besar itu. Namun aku malah dihadang oleh wanita berisik di depanku ini.
" Tidak boleh!! Eh-"
Aku mendorong tubuh Siena ke belakang ke ranjang. Tanpa membuang waktu aku segera mengunci dirinya. Jelas, karena hal yang kulakukan ini Siena kaget dan mulai ketakutan.
" A-Apa yang akan kau lakukan? "
" Dengar ya Nona berisik! Sudah kubilang tubuhku saat ini dalam kondisi lelah dan sakit. Aku harus tidur untuk memulihkan kondisi itu. Aku tidak peduli kau keberatan dengan keberadaanku atau apapun. Jika kau memang merasa begitu kau boleh tidur dilantai atau pergi saja dari kamar ini. Aku masih memiliki kekuatan untuk mengusirmu keluar dari kamar ini. Jadi, jika kau masih berisik, aku tidak segan untuk melakukan hal itu. Meskipun kau wanita atau apapun aku tidak peduli. Kau mengerti? "
Sebagai balasan dia tidak menjawab melainkan hanya mengangguk lemah.
" Bagus! Dengan begini kita saling mengerti! "
Aku tersenyum dan melepaskan dia. Kemudian menempatkan diriku diranjang.
Huh. Dalam hati aku berdengus. Walau mataku sudah terpejam, namun ini agak mengangguku dan membuatku tidak dapat tidur.
" Sampai kapan kau mau termenung disitu? Apa kau masih takut denganku? Aku tidak akan menyerangmu lagi kok. Tenang saja, aku tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak terhadapmu. Aku hanya butuh tidur. Naiklah!"
Cukup lama hingga dia mau naik ke atas tempat tidur.
" Kau sudah tidur? " Ucap Siena dengan pelan.
" Sudah. Jadi jangan berisik!"
" Ah kau belum tidur. Apakah kau berencana untuk menyerangku saat aku tertidur! "
" Kenapa kau masih berpikir seperti itu? Aku hanya belum bisa tidur, hanya itu."
" Aku juga tidak bisa tidur. Sudah sangat lama aku tidak tidur bersama seseorang seperti ini. Terakhir kali aku seperti ini saat aku masih bersama ibuku saat aku masih kecil."
" Benarkah? Dan kapan itu? "
" Kalau tidak salah itu saat usiaku masih 20 tahun. "
Mau tidak mau aku dibuat membuka mataku dan menengok ke arahnya karena jawabnya itu.
" Apa? "
Dia yang menyadari aku menengok ke arahnya terkaget.
" 20 tahun? Itu kecil? "
__ADS_1
" Memang. Apa yang salah? Eh. Kau manusia ya? Aku lupa akan hal itu. Ya, kalau untuk umur manusia berapa ya itu.. ah aku tidak tahu. "
" Begini saja sebagai gambaran. Berapa kira-kira usiaku jika aku adalah Elf? "
" Hm. Berapa ya? Mungkin 73-78 tahun? "
Kucoba hitung kemungkinan umur yang dimaksud Siena sejenak.
'' Itu mungkin ada dikisaran 6-7 tahun untuk anak manusia. Lalu berapa umurmu? "
" 83 tahun pada kalender bulan biru besok. "
Untuk umur Elf, itu adalah umur yang wajar ya?
Siena terlihat seperti seorang gadis berumur 17 tahunan dimataku.
Jadi legenda mengenai umur Elf yang panjang itu benar adanya. Tapi untuk kalender bulan biru itu. Aku tidak tahu. Apakah itu penanggalan yang berlaku didunia ini? Yah, lagipula tidak mungkin juga penanggalan di dunia ini akan sama dengan duniaku dulu.
" Lalu berapa umurmu yang sebenarnya? Kau adalah manusia pertama yang aku temui selain Ibu. Jadi aku tidak tahu informasi apa-apa mengenai itu. "
" Aku ya? Mungkin 15 atau 16. Aku juga kurang tahu. "
Aku tidak dapat menentukan umur yang pas dan itu hanya perkiraan saja setelah melihat bayanganku di sungai waktu itu.
'' Kau tidak mengetahui umurmu sendiri? Ini aneh. Hm. Sebenarnya aku agak berfikir tentang ini. Tapi, Glen? Apakah kau itu bukan berasal dari dunia ini? ''
Darimana dia tahu? Tidak. Mungkin itu hanya sebuah tebakan saja.
" Apa maksutmu? Bukankah kau mendengar jika aku mempunyai keluarga di barat? Bagaimana kau bisa berfikir jika aku bukan berasal dari dunia ini? "
" Tidak. Hanya saja aku merasa begitu. Aku merasa kekuatanmu itu sama dengan milik ibu. Jadi aku berfikir kau mungkin berasal dari tempat yang sama seperti Ibuku. Tapi benar juga ya? Kau memiliki keluarga di barat.''
" Yah itu. Tapi.. "
" Tapi? "
Apakah benar tidak apa untuk memberitahunya? Tapi ini bukanlah sejenis rahasia atau semacamnya. Jadi kurasa tidak apa~ kurasa.
" Sebaiknya memang aku tidak berbohong. Ya, tebakanmu benar. "
" Kau bukan berasal dari dunia ini? Lalu keluarga yang dibarat itu? "
Melihat ke langit-langit dengan memposisikan tangan dibelakang kepala aku melanjutkan berbicara,
" Kurasa mereka memang keluargaku disini. Lebih tepatnya, keluarga dari pemilik tubuh ini sebelumnya. Aku juga kurang tahu hal ini. Tapi aku benar-benar tidak ingat tentang mereka. "
" Sudah kuduga. Kau tahu? Ibuku adalah orang yang sama sepertimu. Dia adalah orang yang tahu banyak hal dan sangat kuat.. "
Kurasa suasana hati gadis ini benar-benar telah berubah. Kini dia dengan penuh semangat bercerita tentang Ibunya. Tanpa kusadari, aku malah tertidur karena merasa seperti tengah dongengin olehnya.
__ADS_1