Tentara Malaikat: Sisi Gelap

Tentara Malaikat: Sisi Gelap
Bergerilya part 2


__ADS_3

"Ini masih saja perih!!"


Walaupun luka dipinggulku sudah ku balut dengan baju yang telah ku sobek tapi tetap saja ini menyakitkan.


" Tinggal berapa lagi para babi siapan itu? ... Empat?"


Mengendap-endap aku berusaha bergerak dalam kegelapan.


Aku tidak dapat bergerak secepat tadi kali ini. Selain itu, dengan bergerak cepat kemungkinan menggerakan semak-semak semakin tinggi dan itu akan membuat posisiku ketahuan dengan mudah.


Dari balik semak aku mengintip.


Baiklah yang satu itu sepertinya terpisah dari yang lain.


Memakai perisai dari kayu dengan senjata terbuat dari kayu pula, seekor Orc berjalan penuh waspada sedang mencariku.


Dia tidak menyadari keberadaanku yang kini ada disampingya kurasa.


Pelan, aku berusaha mendekatinya. Sedikit lagi... sedikit lagi... kumohon jangan ketahuan.


Saat aku telah merasa jarak kita sudah dekat dan aku dapat melakukan serangan kejutan, aku meloncat dari semak-semak.


"Jleb "


"GUH"


Pedangku tepat mengenai punggung dan menebus ke dadanya. Menyadari bahwa itu kurang, aku kemudian memegang pedang dengan kedua tangan lalu mendorong ke bawah dengan sekuat tenaga.


"Horaaa"


Setelah pedangku berhasil melewati bagian tubuh terakhirnya. Orc itu jatuh ke depan dengan darah mulai merembes dibawahnya.


Setelah mendapat luka yang begitu serius ini tidaklah mungkin untuk dirinya dapat beregenerasi.


" Baiklah. Kurasa aku dapat menggunakan ini "


Aku mengambil perisai kayu dari tangan Orc yang kukalahkan.


Kurasa tinggal 3 lagi.


Aku kembali mengendap-endap diantara semak dan pepohonan lagi.

__ADS_1


kembali mengintip dibalik pohon dan semak aku melihat bayangan hitam besar.


" Cih. Rupanya mereka tidak sebodoh yang kukira."


Sekarang tiga Orc yang tersisa tidak berpencar lagi . Sepertinya mereka bertiga memutuskan untuk mencari bersama.


.


.


.


" Mana yang lain? Kalian sudah menemukan kelinci itu?"


" Tidak. Mereka telah dikalahkan oleh si kelinci itu. Aku melihat mayat disana."


" Dasar Monyet kurang aja!! Seharusnya makanan berperilaku sebagai manakanan saja."


" Yo!? Kalian mencariku?"


Sebuah sosok yang tengah mereka cari muncul dari semak-semak menyapa mereka seolah dia meremehkan mereka bertiga.


Mengerti bahwa dia sedang diremehkan, Orc bersenjatakan pedang usang mengejar Glen yang kembali masuk ke dalam semak-semak.


" Tunggu!! Jangan kejar sendiri!! Dia Sedang memancing kita!! "


" Persetan. Dia hanya monyet pengecut!!" Kata terakhir dari Orc yang mengejar Glen itu sebelum dia juga ikut menghilang dirimbunan semak-semak.


"Bodoh!!"


"Bukk.. cling..Tang-Ting-Tang... Bukk...(hening)" Sebuah suara pertarungan dikejauhan dapat di dengan kedua Orc yang berniat menyusul Orc yang telah pergi duluan tadi. Anehnya tiba-tiba Setelah mendengar benda dipukul suasana langsung menjadi hening.


Saat kedua Orc itu telah berhasil menyusul, mereka mendapati tubuh Orc yang mereka susul kini tengah tiduran ditanah dengan tubuh penuh luka dan kepala terpisah.


" Dasar bodoh!! Bukankah udah kubilang, kelinci itu tidaklah bodoh!!" Ucap Orc bertombak.


"Kita bepecar lagi mengejar dia?" Tanya Orc yang memiliki Gada dari besi ditanganya.


" Jangan bodoh! Lihat dia yang mengejar sendiri!! Dia tahu bahwa kita tidak bisa beregenerasi jika luka yang kita peroleh terlalu parah. Kita bersama!!"


"Baik."

__ADS_1


.


.


.


Disemak-semak diantara bayangan pohon.


Sialan. Kedua orc itu tidak bodoh. Padahal sudah kupancing 3 kali tapi mereka tidak bergeming juga untuk berpisah. Jadi memang tidak ada pilihan lain.


Orc itu masing masing bersenjatakan tombak dan gada besi. Kurasa gada memang senjata standar kaum orc ini.


Keluar dari semak-semak aku menyapa mereka.


Sepertinya kalian cukup pintar. Yah, aku juga lelah untuk bermain kucing-kucingan dengan kalian.


Berlari, aku mencoba menyerang yang memiliki gada terlebih dahulu.


Ting... Pedangku dapat ditahan oleh gadanya.


"Hop. Hampir saja."


Melompat aku menghindari tusukan tombak yang menganggu jalannya duelku.


" Kalian memang tidak memperbolehkanku duel satu lawan satu rupanya. Yah. Boleh juga. "


Aku kembali menyerang si pemegang gada itu. Ketika aku sudah mendekat dia mengayunkan gadanya ke kanan tubuhku.


"Dugg" gadanya mengenai perisai kayuku.


Rasanya lumayan sakit dipergelangan tangan kiriku saat terkena energi kinetik gada itu. Namun aku masih dapat menahannya.


Memutar tubuhku aku mengayunkan pedangku memutar ke belakang lalu menyerang sisi kananya.


Gadanya yang tertahan oleh perisaiku menyebabkan dia tidak dapat menahan serangan dari pedangku, selain itu reflek milik dia juga buruk.


"Jleb.. Slassh "


Pedangku melewati lehernya.


" Ough Sialan!! namun sebagai bayaran sebuah tombak menyerempetku dari belakang. "

__ADS_1


__ADS_2