Tentara Malaikat: Sisi Gelap

Tentara Malaikat: Sisi Gelap
Hasil


__ADS_3

“ Hei-hei? Wasiat apa itu? “


" Aku tidak bisa mengatakan nya”


“ Apakah itu semacam harta warisan? Atau mungkin suatu perintah rahasia?”


" Sudah kubilang, aku tidak bisa mengatakannya!”


" Ayolah! Aku bisa menjaga rahasia. Aku harus tau hal ini!


"Tidak''


" Ayolah! Katakan saja! "


''...''


“ Hei-hei? Apa kau dengar?”


“ Diamlah! Kepalaku pusing karena benturan pertarungan tadi. Selain itu, aku telah kehilangan banyak darah. Jangan ditambah dengan ocehanmu itu. “ Hardikku kepadanya.


Mungkin kaget atas kemarahanku Siena terdiam lesu.


" Maaf. " Ucapnya pelan disertai nada ketakutan.


Dengan dirinya yang merasa ketakutan seperti itu, mulai muncul rasa bersalah kepadaku. Hadeh. Ini merepotkan.


" Huh. Bukan maksutku marah seperti itu. Tapi jangan sekarang. Kepalaku benar-benar terasa sakit saat ini. Nanti akan kuceritakan jika saatnya sudah tepat." Menghela nafas dan tanpa menghentikan langkah, aku berusaha menjelaskan kepadanya.


'' Baiklah. "


Baguslah dia mengerti dan mulai diam sekarang.


Tiba ditempat dimana Archilles tadi bertarung. Terlihat di mataku, pertarungan Archilles tidak ubahnya pertarunganku. Area sini menjadi kacau balau dan banyak bekas hantaman, sabetan senjata dipohon, serta tusukan diikuti oleh percikan-percikan darah disana sini.


Terbujur ditanah ada 2 sosok, salah satunya tidak bergerak dengan tombak menacap ditubuhnya. Sementara satunya terlentang tidak jauh dari posisi makhluk yang tertancap tombak itu. Mendekat aku mencoba memastikan.


“ Kau masih hidup kan, Archilles? ”

__ADS_1


Terbaring juga ditanah, tubuh Archilles terlihat mengenaskan. Banyak luka sayatan, tusukan pedang dan bukankah dipundaknya itu ada bekas gigitan yang lumayan serius?


Dipergelangan tangan kirinya menacap pedang pendek milik kobold. Jadi dia menggunakan tangan itu sebagai tameng dan menangkap senjata lawannya. Aku tidak bisa berkata jika itu adalah pilihan yang tepat, namun sepertinya itu cukup berhasil.


Jika bertanya tentang darah, banyak darah keluar dari tubuh archilles.


Dada dan perutnya masih kembang kempis yang menandakan dia masih bernafas. Aku hanya memastikan dengan bertanya padanya.


" Eh? Apa ini? " Berjongkok aku melihat luka Archilles dari dekat.


Asap-asap tipis keluar dari luka-luka Archilles. Asap ini mirip dengan asap saat air mulai mendidih dan makin lama makin menebal seiring dengan luka Archilles yang mulai pulih dan menutup perlahan. Dia beregenerasi dan asap ini sebagai efeknya?


Saat aku tengah terfokus dengan hal itu. Archilles Berucap dengan lemah,


“ Saya berhasil Tuan.”


Dia menatapku dengan lemah disertai senyuman kepuasan.


“ Baguslah! Aku akan memberimu waktu. Beristirahatlah dan pulihkan dirimu!”


Menatapnya balik, aku memberikan sebuah pujian.


Archiles memejamkan matanya. Kurasa dia pingsan. Ini tidak bagus untuk membiarkan dia tidak sadarkan diri. Namun, aku tidak begitu tahu tentang para Orc sehingga aku membiarkannya. Mungkin dengan begini dia akan lebih cepat pulih.


Bangkit, aku meninggalkan Archilles dan pergi ke tempat siena.


“ Bagaimana? ’’ Aku bertanya kepada siena yang tengah jongkok mengecek keadaan para tawanan kobold.


“ Manusia ini telah mati. Sementara ketiga orang ini dalam keadaan yang buruk.”


“ Begitu ya?”


Akan aneh jika tubuh pria paruh baya itu dapat bertahan dengan luka separah itu. Terlebih, kurasa potongan ditubuhnya itu disengaja, yang mana berarti dia memang sudah dimakan oleh para kobold itu? Yah karena dia sudah tidak ada, tidak banyak yang dapat kulakukan.


“ Kau mau kemana?” Tanyaku kepada Siena yang bangkit dan hendak pergi.


Sial. Pandanganku mulai berkunang-kunang.

__ADS_1


“ Aku hendak pergi mencari tanaman obat. Dihutan ini seharusnya banyak tersebar tanaman obat. Kau tunggu saja disini! ”


Disaat seperti ini, rasa pusing malah semakin menderaku. Aku memijat samping kepalaku dengan tangan kiri mencoba meredakannya.


“ Kau paham resikonya?”


“Aku paham. Aku akan berusaha menghindar dan lari saat bertemu kobold ataupun makluk lain. Aku tidak akan pergi jauh kok.”


“ Kalau begitu, bawa ini! ‘’ Aku mengulurkan pedang kepadanya.


“ Bagaimana denganmu?”


“ Aku akan menggunakan tombak Archilles disana. Bawa ini untuk jaga-jaga.”


“ Baiklah.”


Mengambil pedangku, dia kemudian pergi.


Begitu melihat dia pergi aku menghampiri mayat kobold.


“ Perlawanan yang bagus, Archilles.”


Kobold ini mendapatkan beberapa luka tusuk ditubuhnya dan beberapa luka parah lainnya.


Sepertinya aku harus mempertimbangkan untuk menggunakan tombak juga sebagai senjataku.


Sekarang. Mengabaikan rasa pusing dikepalaku. Menggunakan kedua tanganku, aku mencoba menarik tombak yang menacap di dada kobold yang sebelumnya kuinjak terlebih dahulu.


Ini sangat berat untuk ditarik. Sepertinya tombak ini menancap di tanah setelah menembus tubuhnya. Mengerahkan seluruh kekuatanku yang tersisa aku mencoba menariknya dengan lebih keras.


“ Bagus. Ini mulai bergerak.”


Perlahan tombak ini berhasil kutarik sampai akhirnya terlepas. Benar-benar usaha yang keras.


Menggunakan bantuan tombak untuk berjalan aku menuju ke pohon untuk menyandarkan badan.


Bukannya mereda, rasa pusing dan pandangan yang buram makin menjadi parah.

__ADS_1


Aku takut jika aku akan jatuh pingsan untuk saat ini. Bukannya tidak mungkin jika teman –teman dari kobold ataupun Orc maupun hewan buas lainnya bisa datang kapan saja.


Memegang tombak aku duduk memandang ke arah mereka penuh kewaspadaan. Namun tetap saja. Tanpa kusadari aku tertidur.


__ADS_2