Tentara Malaikat: Sisi Gelap

Tentara Malaikat: Sisi Gelap
Kesalahpahaman terselesaikan


__ADS_3

Menggenggam erat pedangku aku berjalan ke depan untuk memulai serangan.


Melihatku yang maju ke arah mereka, tidak kusangka mereka malah mundur perlahan.


Apakah mereka tidak jadi untuk mengajak konfrontasi denganku?


" Tunggu! Mohon tunggu sebentar " Seseorang berteriak kepadaku.


" ?? "


Muncul dari balik kerumunan orang-orang dikiriku ada seorang pria paruh baya. Sebagian besar rambutnya telah memutih dan perawakannya khas dari seorang petani dengan kulit yang berwarna coklat.


" Tunggu, Tuan! Saya mohon kepada Anda untuk tidak menyerang kami! "


" Ah, akhirnya ada yang bisa kuajak bicara. Siapa kau?"


" Nama saya adalah Fenrid, Saya Kepala Desa disini. "


" Fenrid ya? Saya Glen. Seperti ada kesalahpahaman disini. Kami tidak bermaksud untuk menyerang Desa anda ini. Kami hanya terkejut karena tiba-tiba dikepung seperti ini dan berniat membela diri." Terangku.


Aku sedikit berbohong untuk bagian menyerang itu karena tadi aku memang berniat menyerang mereka dan hendak membuat mereka takut sedikit.


''Ma-Maafkan kami juga Tuan! Hei kalian semua.. Cepat buang senjata kalian!!''


'' Kepala Desa, itu terlalu berbahaya. Mundur lah!'' Salah satu pria  berteriak kepada Kepala Desa


'' Diamlah! Dan cepat buang senjata kalian, sebelum kalian benar-benar dihabisi!!'' Membalas teriakan orang tadi, Kepala Desa juga berteriak.


Aku tidak mengerti akan apa yang mereka bicarakan, namun seperti merespon teriakan kepala desa tadi, kini mereka menurunkan senjatanya.


''Maaf atas kesalahpahaman barusan Tuan. Bisakah saya asumsikan bahwa Tuan ini bukanlah perampok?" Tanya Kepala desa kepadaku secara sopan.


Karena mereka telah menurunkan senjatanya, akupun memutuskan menurunkan senjataku juga dan menyimpannya kembali.


'' Tentu kami bukanlah perampok. Kami baru saja keluar dari dalam hutan disebelah utara itu. Sebenarnya kami dalam perjalanan untuk ke desa dengan kincir air. Karena kami melihat ada desa disini jadi kami memutuskan untuk bersinggah. Oh iya. Biar ku perkenalkan diriku kembali, nama saya Glen Eldric Ruterdom. Yang besar dibelakang itu adalah Archilles. Dia adalah Orc, tetapi dia bukanlah Orc yang jahat sejauh ini, dan merupakan bawahanku. Selanjutnya, Peri hutan putih ini adalah Siena, dia adalah penjaga hutan atau apalah itu. "


" Tunggu, Tuan?! Anda berkata nama Anda Ruterdom? Apakah benar? "


" Iya benar. Menang kenapa? "


" Ah. Tidak apa-apa Tuan- "


'' Hei!! Bukankah sudah kubilang, namaku adalah  Siena vor Duntinea. Tidak bisakah kau sebut namaku secara lengkap?! Aku memang bekerja sebagai Ranger, terus apa maksudmu dengan apalah itu?"


Siena tiba-tiba memotong ucapan Kepala Desa itu yang membuatnya agak terkejut.


" Hei Siena! Kami sedang berbicara disini! Bukankah tidak sopan untuk memotong ucapan seperti itu?"


" Kau yang tidak tahu sopan santun!! Bagaimana kau bisa memperkenalkan ku dengan tidak benar seperti itu?!"


Dia malah lebih garang membentakku.


" Yadeh, maafkan aku. "


" Bodo amat! " Memalingkan mukanya sepertinya dia ngambek. Huft.


"Huh. Silahkan lanjutkan Kepala Desa! "

__ADS_1


" Jadi Anda sedang dalam perjalanan untuk ke Desa yang ada kincir Airnya? Bolehkah saya bertanya mengapa?"


"Kami hendak mengantarkan sesuatu yang penting. Kenapa kau bertanya?"


"Mungkinkah tujuan Anda sekalian adalah Disini? Desa ini juga memiliki kincir air. "


" Benarkah? Kalau begitu mungkin kita bisa pastikan. Archilles! Tunjukan benda itu kepada Kepala Desa ini!"


"Baik Tuan."


Archilles memberikan surat yang disimpanya kepada kepala Desa. Menbaca surat yang diberikan kepadanya, kepala Desa itu memasang muka terkejut dan seolah tidak percaya.


" Be-Benarkah ini? Ini memang tulisan tangannya. Jadi memang begitu ya. "


" Ada apa?"


" Ini adalah tulisan tangan salah satu warga disini, kebetulan aku adalah teman dia juga. Apakah benar Tryen telah tiada? Ah, maksutku yang menuliskan surat ini, apakah dia telah tiada? "


" Benar. Dia menuliskan surat itu sebelum dia meninggal karena penyakitnya dan dia menyuruh saya untuk membawanya ke Desa berkincir air di Selatan."


"


"Maaf Tuan untuk menyela. Namun apa yang sudah terjadi? Sepertinya kedua Elf dibelakang Anda itu terluka?"


" Sebenernya-"


" Biar aku saja yang menjelaskan! Kau pasti hendak berkata hal yang ngaco lagi!" Potong Siena.


" Huh, terserah kau sajalah."


" Begitu lebih baik. Maaf Tuan. Akan saya jelaskan dengan lebih baik mengenai kondisi kami saat ini,... Pada saat itu Kami sedang berpatroli dihutan, tiba-tiba tanpa kami sadari kami disergap oleh pasukan Orc. Karena kalah jumlah dari mereka, akhirnya kami kalah dan banyak orang-orang kami yang gugur. Tapi secara kebetulan kami diselamatkan oleh orang menyebalkan ini, jadi kurasa kalian bisa mempercayai dia.''


" Bukankah sama denganmu?!"


" Yasudah lupakan! Hei, Tuan Fenrid? Kau mengerti apa yang dikatakan oleh Siena? "


" Oh tolong. Anda tidak usah menambahkan -Tuan kepada saya."


" Kalau begitu kepadaku juga, rasa agak aneh untuk dipanggil "Tuan" oleh seseorang yang lebih tua seperti anda."


" Maafkan saya. Sepertinya saya tidak bisa melakukan itu. Terlebih untuk anda yang berasal dari keluarga Ruterdom. "


" Apa maksudnya itu?"


'' Bukankah tadi anda berkata bahwa anda berasal dari keluarga Ruterdom? Jadi Anda pasti adalah anak dari Marquis Eldric dari wilayah barat. Untuk saya yang hanya seorang kepala desa sudah seharusnya untuk memanggil anda dengan sopan."


" Begitu ya? Baiklah."


Entah kenapa aku seperti mengenal dan tidak mengenal siapa yang dimaksudkan oleh kepala desa itu. Nama itu diingatanku seperti samar-samar. Apakah benar itu memang keluargaku didunia ini?


'' Lalu, tadi Anda bilang bahwa nama Anda adalah Duntine, Nona? Apakah Anda berasal dari keluarga bangsawan Elf Duntine?'' Tanya kepala desa kembali.


'' Benar. Namaku adalah  Siena Vor Duntinea. Aku adalah anak dari Liliana Vor Duntinea dan merupakan anak ke-empat dari raja Elf Zehfi Vor Duntinea. "


Dengan bangga Siena mengatakan itu secara keras kemudian meliriku dan melanjutkannya,


" Bagaimana, Glen? Apakah kau sekarang bisa lebih menghormatiku?''

__ADS_1


''Heh, jadi kau adalah anak raja kah? Luar biasa. " Balasku dengan datar.


'' Apa-apaan itu? Apa-apaan kalimat datar itu? Apakah kau tidak mempercayaiku?''  Siena yang merasa diremehkan karena kalimat datarku, memprotes dengan keras.


'' Ya.. Ya.. Aku percaya. Aku percaya. Seorang Elf yang bertugas menjaga hutan adalah seorang putri raja. Juga terkagum-kagum dengan sebuah Padang rumput seperti anak kecil yang pertama melihat hal yang seperti  adalah putri Raja-*Duak*..Uh...''


''Kau.. kau.. kau membahasnya lagi!! Dasar manusia menyebalkan,'' Tanpa rasa bersalah, dia mengucapkan hal itu sehabis memukul perutku.


'' Ka- kau yang menyebalkan. Kenapa kau memukulku lagi? Apakah itu sudah menjadi kebiasaanmu?! "


'' Salah sendiri, kenapa kau  mengej- " Sebelum menyelesaikan kalimatnya, tangan Siena dan dirinya telah ditangkap oleh Archilles.


'' Tuan, apakah wanita ini hendak menyerang Anda lagi? Apakah perlu saya patahkan tangannya agar dia tidak menyerang Anda lagi?''


Archilles yang melihatku dipukul oleh Siena segera menangkap Siena. Sementara Siena yang mendengar Archilles mengucapkan kalimat itu hanya bisa memucat dan ketakutan.


'' Hey lepaskan aku!!''


''Diam. Jika kau bergerak maka akan kupatahkan kedua lenganmu yang kecil ini'' Ancam Archilles kembali.


Siena yang mendengar hardikan Archilles kemudian diam ketakutan.


'' Cukup Orxsia! Tidak perlu melakukan hal itu. Tapi benar juga, bagaimana  kalau kita buat dia terasa terpingkal-pingkal seperti sebelumnya, atau kita telanjangi saja dia. Hahahaha''


''Tidak!!! Kau keterlaluan Glen! Jangan lakukan itu! Maafkan aku, tapi itu bukan murni hanya kesalahanku, kau ingat? Aku memukulmu karena kau mengejekku, jadi bisa kita anggap impas? Atau jika perlu kau hanya perlu untuk memukulku bukan? Silahkan pukul aku!''


Siena yang mendengar ku mengucapkan kalimat tadi hanya bisa menjawab pasrah dan dengan mata yang berkaca-kaca.


'' Ha-Ha-ha kau terlalu menangapi serius Siena. Tadi itu hanya bercanda kau tahu? Lihat ekspresi ketakutannmu itu hahahaha. Mana ada aku kepikiran untuk berbuat hal seperti itu kepadamu! Lagipula aku bukanlah tipe orang yang akan menyiksa atau menyakiti seorang wanita jika itu bukanlah sebuah keadaaan darurat kau tahu! Yah kita bisa anggap ini impas atau lebih tepatnya aku yang menang karena bisa membuatmu berkaca-kaca seperti anak kecil hahahaha. Archilles, Cepat lepaskan dia!''


Mendengar aku mengucapakan perintah segera Siena diturunkan dan dilepaskannya.


''Kau..hiks..kau keterlaluan Glen! Kau melakukannya lagi!"


Siena yang sudah diturunkan mengucapkan dengan muka yang memerah dan mata berkaca-kaca.


Sepertinya dia hendak memukulku lagi, tapi karna masih ada Archilles di belakang nya, diapun menyurutkan niatnya.


'' Yah maafkan aku, Tenang saja, aku tidak akan memukulmu kok. Baiklah..Baiklah.. Archilles! Lain kali kau tidak boleh menyakiti Elf menyebalkan ini, okay? "


Karena melihat Siena yang ketakutan setelah diancam oleh Archilles aku jadi merasa bersalah.


''Baiklah Tuanku! Saya mengerti dan akan melaksanakannya.''


''Baguslah kalau kau mengerti. Sekarang.. kepala desa, bisa kah kau meminjam kan tempat untuk kami menginap? Kami tidak punya uang untuk saat ini, Tapi aku berjanji, jika kami punya uang, maka aku akan mengembalikan biaya penginapan ya 2x lipat. Apakah kau setuju?'' Aku bertanya kepada kepala desa yang sedari tadi hanya diam, ketika kami sedang bertengkar.


'' Ba-baiklah Tuan, bagaimana kalau Anda menginap ditempat saya? Rumah saya tidak terlalu jauh dari sini, dan berukuran lumayan besar.''


''Hemm. Baiklah, berapa biaya sewanya?''


''Ti-Tidak usah Tuan! Saya menawarkan bantuan kepada anda secara gratis sebagai bentuk permintaan maaf karena telah berlaku tidak sopan kepada rombongan Anda.''


''Gratis? Kau akan memberikan sebuah tempat menginap secara cuma-cuma, kepada orang yang baru kau kenal? Apa kau berniat menjebak ku?'' karena merasa curiga aku  menunjuk kepada kepala desa itu.


''Ti-Tidak Tuan, saya tidak punya niat seperti itu. Ini saya lakukan sebagai permintaan maaf yang tulus kepada Anda.. Kalau Tuan masih mencurigai saya, bagaiman jika Tuan memberikan 3 koin perak kepada saya setelah Anda mempunyai uang? Itu adalah harga standar untuk sebuah penginapan.'' Dengan gugup dan terbata kepala desa itu berusaha menjelaskan kepadaku bahwa dia tidak berusaha menjebak ku.


''Baiklah, aku terima tawaranmu. Aku akan mengembalikan nya 2x lipat setelah mendapatkan uang. Tunjukkanlah kami jalannya!''

__ADS_1


'' Baiklah, silahkan lewat sini Tuan''


Kepala Desa menuntun kami berjalan menuju rumahnya.


__ADS_2