Tentara Malaikat: Sisi Gelap

Tentara Malaikat: Sisi Gelap
Pertarungan Melawan kelinci(?)


__ADS_3

Itu Seekor kelinci? Tapi aneh. Kenapa warnanya kuning?



Akupun berusaha maju mendekat dengan pelan-pelan ke arah kelinci(?) itu, lalu aku menyadari.



Hey bukankah itu terlalu besar untuk ukuran kelinci?



Apa-apaan itu. Kenapa bisa setinggi itu?



Kelinci itu berdiri dan mungkin tingginya kira-kira mencapai 1 m lebih.



Apakah aku salah mengenali hewan itu? apakah itu kanguru?



Tidak-tidak. Bagaimana pun kau melihatnya, mengabaikan besar hewan itu, jelas- jelas itu berbentuk seperti kelinci, tapi warnanya kuning ?



Apakah dia mutan?



Aku maju mengendap-endap menuju kearahnya karena penasaran.



Namun, saat aku mendekat sampai jarak kurang dari 8 m, kelinci itu mengetahui kehadiranku. Kamipun bertatap muka.



''Ah, Hallo!?''



''Ciiiiiiittttt" Kelinci itu berdecit dan tiba-tiba mengeluarkan cakar panjang dari masing-masing jarinya.



Tanpa membuang waktu kelinci itu berlari setengah meloncat menuju ke-arahku.



Dengan reflek aku berusaha menghindar dari serangan kelinci itu dengan cara berguling ke samping dan menarik pedangku.



Mengetahui serangannya tidak mengenaiku kelinci itupun berbalik dan memutuskan untuk menyerang lagi. Kali ini aku yakin aku tidak bisa menghindari sabetan cakar hewan buas ini. Karena itu aku segera menyiapkan pedangku.



Aku berusaha menangkis serangan cakar kelinci itu menggunakan pedangku.



"Cling..."



Kuat!!



Kelinci(?) ini benar benar kuat.



Hal itu aku rasakan saat aku menangkis serangan cakar hewan itu. Bahkan tanganku dibuat kesemutan karna getarannya.

__ADS_1



Mengetahui bahwa serangannya dapat kutahan, dengan tangan satunya kelinci itu berusaha menyabetkan cakarnya dari arah bawah.



Melihat hal itu aku segera melompat ke belakang.



Namun tidak berhenti sampai disitu, kelinci itu segera mengejarku dan menyerangku dengan membabi buta.



Dari kanan, dari kiri, dia menyerang secara terus menerus.



Mati-matian aku berusaha menghindari setiap serangannya. Namun, tetap saja ada beberapa serangannya yang lolos dan berhasil mengenaiku.



[Skill Learn: Aktif. Mempelajari pola serangan musuh. Mencoba Menyiapkan tindakan balasan]



Payah. Aku benar-benar payah dalam mengayunkan pedangku. Dan tanganku mulai mati rasa karna terus-terusan berbenturan dengan cakarnya yang sekuat besi itu!



Bagaimana ini? Dari tadi aku terus bertahan dan sekarang aku mulai kelelahan. Apakah aku akan mati lagi?



Dibunuh kelinci? Hei!! Itu tidak lucu!!!



"Arrggg Bangsat kau kelinci sialan!!"




Tubuhku bergerak sendiri dan akhirnya seranganku kena!! Tapi tebasan itu hanya mengores perutnya. Sial, kurang dalam!!



Mendapat luka diperutnya dia semakin barbar dalam menyerangku.



Kini aku merasakan tubuhku seolah-olah bergerak sendiri, aku merasakan seolah-olah tubuhku adalah boneka yang digerakan sesorang. Apa yang terjadi?



[ Jawaban: Karna level lawan terlalu besar, tubuh Master saat ini sedang ada dalam kendali bernama ''Auto-battle''. Hingga Master telah berada dalam level yang cukup, Master akan bisa menggunakan sistem dari berkah Dewa untuk pahlawan terpanggil itu.]



Auto-Battle? Pertarungan otomatis maksutnya?



Sampai kapan aku bisa menggunakan hal itu? Lalu, bukankah kau terlalu santai? aku sedang mau dibunuh kelinci ini!!



[Jawaban: Sistem itu akan dihentikan saat Anda mencapai level 10 atau Anda sudah dapat bertarung sendiri. Anda tidak usah cemas, kemungkinan Anda menang sekitar 60 persen.]



"Jadi begitu. Baiklah kelinci sialan. Sekarang rasakan pembalasan dariku!!"



.

__ADS_1


.


.


Luka cakar memenuhi tubuhku. Rasanya lumayan perih. Tapi seperti diriku yang terluka. Kelinci itu juga terluka. Kurasa seperti yang dikatakan Nona sistem itu, kelinci itu benar-benar memiliki level yang tinggi.



Mengabaikan kondisi kami yang sama-sama terluka, kurasa aku lebih unggul dalam hal stamina. Tapi sampai kapan aku dapat bertahan? Aku harus cepat menyelesaikan ini!



"Hei kelinci bangst! Apa kau kelelahan? Kenapa kau tidak lari saja keparat!''



Bereaksi atas perkataan provokatifku, kelinci itu maju berlari dengan garang menuju kearahku.



Dia bermaksut bertarung sampai mati kah? Baikklah ini dia!



Membalas aku juga berlari ke arahnya berusah mendaratkan serangan kepadanya.



Tukar serangan terjadi. Hasilnya? Serangan kami telah mencapai target masing-masing. Dia berhasil mengenai dan menancapkan cakarnya pada pahaku sebelah kiri sementara aku berhasil mengenai dan menusuk perutnya.



"Ciiitttt'''



Dia tetap berusaha menyerangku meski tubuhnya telah tertusuk oleh pedangku.



Tidak mau kecolongan aku pun langsung menendang dia dengan kaki kananku.



Terbental kami berdua sama-sama jatuh ke tanah.



Bangkit, aku berusaha bangkit bertumpu dengan pedangku.



Melihat kearahnya. Aku bersyukur karna dia tidak bangun lagi.



[Skill Bantuan dinon-aktifkan.]


[ Skill learn: dinon-aktifkan.]


[Skill berpedang didapatkan. ]


[Skil pedang level. 1. ]


[ Naik level: level. 3 diperoleh.]



''Huff- huff apa-apaan hewan ini. Bukankah seharusnya dia melarikan diri saat melihat manusia? lagian apa-apaan kekuatan dan kelincahan yang dia miliki, sebenarnya level berapa hewan buas ini!?''



Dengan terengah-engah aku kemudian terduduk berusaha beristirahat setelah pertarungan sengit ku. Dengan robekan kain aku berusaha menghentikan pendarahan dikakiku.



"Sebenarnya dimana aku ini!?''

__ADS_1



Saat kurasakan istirahatku telah cukup, bangkit dan tertatih aku melanjutkan perjalanan ke arah yang kupikir adalah tenggara.


__ADS_2