Tentara Malaikat: Sisi Gelap

Tentara Malaikat: Sisi Gelap
Bergerilya


__ADS_3

Sekarang tinggal Satu lagi.


" Ah!? " Merespon sebuah tombak yang datang menerjangku tubuhku bergerak sendiri berkat Auto-Battle yang masih aktif.


Dia pengguna tombak rupanya, Orc yang terakhir ini.


Clingg...tombak dan pedang saling berbenturan.


"Cih, Pengguna tombak memang merepotkan."


Sementara aku yang tengah bertahan dari serangan pengguna tombak ini. Mereka yang ada dibelakang sudah tersadar akan apa yang terjadi.


"Apa yang kalian lakukan?! Cepat serang dia!! ''


Orc yang berukuran paling besar itu memberikan perintah kepada para Orc yang bertugas menjaga tawanan itu.


Keenam orc yang bertugas menjaga tawanan perang, maju serempak ke arahku.


Jadi dia itu benar-benar pemimpin mereka.


Sial, aku dalam bahaya!!


7 lawan 1? Apa kalian bercanda!!


Keparat!!


Dengan mati-matian aku berusaha bertahan dari keroyokan para monster babi ini.


Kuwalahan aku memutuskan berlari ke arah pepohonan. Paling tidak aku dapat memisahkan mereka.

__ADS_1


Menghadapi mereka bertujuh kini tubuhku penuh dengan luka.


Tetap bergerak aku mencoba memisahkan mereka. Keadaan yang mulai gelap memiliki sebuah keuntungan dan kerugian tersendiri untukku. Keuntungan nya adalah aku dapat bergerak tanpa dideteksi oleh mereka. Sementara kerugiannya adalah jarak pandangku yang sama dengan mereka. Hanya cahaya mentari tenggelam yang menyeruak dedauan dan 2 cahaya bulan yang menembus daun yang daat kuandalkan sebagai pencahayaan.


Oh iya, disini memang ada 2 bulan.


Kembali ke saat ini, agar tidak terdeteksi aku terus berlari berusaha bergerilya diantara rimbunan kegelapan semak dan pepohonan.


Memanfaatkan kegelapan ini pula aku akan berusaha menyerang mereka.


Berlari menerjang aku menebaskan pedangku.


Slassh..


Sebuah tubuh terpotong.


Kembali berlari aku berusaha mencari Orc yang tak memakai pakaian besi. Orc yang tak memakai pakaian besi cenderung lebih mudah kuserang bagian tubuh utamanya daripada Orc yang tidak berpakaian.


Mengunci target aku mengincar Orc yang menggunakan gada dari kayu.


Keluar dari semak-semak aku memberikan serangan kejutan kepadanya.


Dia berusaha mengapaiku dengan gadanya. Namun, kecepatan pukulannya itu tidaklah secepat ayunan pedangku.


Mengincar kakinya aku berhasil memutuskannya. Begitu orc itu tumbang aku kemudian menusukkan pedangku ke kepalanya. Setelah itu aku kembali berlati ke semak-semak.


.


.

__ADS_1


.


Kali ini ada Orc seukuranku namun lebih gemuk yang berusaha mencariku sendirian.


Seperti seekor predator, aku berusaha mengendap-endap tanpa ketahuan.


Sialnya, aku merasakan suatu kehadiaran dibelakangku. Segera aku memblokir tusukan pedang yang telah sedikit tumbul dengan pedangku.


"Ting..Crack.."


Walaupun pedang itu telah berhasil kubelokkan tapi tetap saja pedang itu berhasil menyerempet perutku.


Tertahan oleh pelindung rantai yang kukenakkan tusukan itu tidaklah melukaiku terlalu dalam, namun juga meninggalkan luka robekan.


Membalikan alunan pedangku yang terbebas dari senjatanya aku menebaskan menuju leher Orc didepanku ini.


Slash... Kepalanya berhasil kupisahkan.


Tidak membiarkanku untuk beristirahat Orc yang kuiintai tadi rupanya menyadari kehadiranku.


Kurasa Dia kini ada dibelakangku karena Aku menyadari ada hawa aneh dibelakangku.


Dengan cepat aku berbalik dan secara spontan menahan tebasan pedangnya.


Tingg...


Pedang kami saling berbenturan.


Tak ingin ada lagi yang datang aku menendang Orc ini. Terpental dia kehilangan kesembangan dan menabrak pohon.

__ADS_1


Sebenarnya aku berniat lari, namun mengambil kesempatan yang datang padaku itu aku langsung saja melesatkan tebasanku membelah kepalanya.


Setelah itu sembari memegang perutku yang mengeluarkan darah akibat serempetan pedang orc tadi aku menghilangkan diri di kegelapan.


__ADS_2