Tentara Malaikat: Sisi Gelap

Tentara Malaikat: Sisi Gelap
Kesialan? Tidak. Itu keberuntungan.


__ADS_3

" Kalian sedang apa?"


Di depanku ada dua Elf yang tengah dalam posisi duduk bersimpuh dilantai menghadap Siena yang duduk sendirian diatas kasur.


Hebat juga mereka dapat bergerak setelah koma berhari-hari seperti itu.


" Apakah dia tuan pahlawan itu?"


Mereka serempak melihat ke arahku yang ada di ambang pintu, kemudian melihat kembali Siena.


Siena mengangguk.


Berbalik, mereka berlutut menghadapku.


Sementara Siena menatapku dengan senyum bermasalah dengan mulut terbuka seolah mengatakan ' Maafkan aku '.


" Sebelumnya kami belum berterima kasih kepada Anda! Maka izinkanlah kami mengucapkan terima kasih kepada Anda! "


Kedua Elf itu menundukkan kapalanya setelah Si Elf wanita itu berbicara.


" Tidak perlu sampai begitu. Bangunlah! Lagipula, lebih baik berterima kasih kepada wanita yang ada diatas kalian itu! Karena dialah aku memutuskan menolong kalian. Jadi sudah sepantasnya dialah yang kalian beri ucapan terima kasih. "


" Tuan Putri! Sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada Anda! Untuk tetap menolong kami yang tidak bisa melindungi Anda, kami sungguh menyesal."


" Tidak apa. Sudah sewajarnya sebagai teman kita saling membantu kan. "


Dengan tersenyum dia mengucapkan itu.


" Putri- " 2x Ucap mereka terpotong.


" Ehem. Dengar! Berhubung kalian berdua sudah bangun. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan. "


Aku kemudian duduk dibawah bersama kedua Elf itu.


Tanpa kuduga Siena ikut duduk di bawah di sampingku.


Apakah dia merasa segan karena semua duduk di bawah?


" Aku memiliki informasi penting. Menurut Archilles kemungkinan akan ada serangan yang ditujukan ke kerajaan kalian dalam waktu sebulan. Karena kita sudah menghabiskan seminggu untuk keluar hutan dan 4 hari disini. Maka kita kemungkinan masih memiliki waktu sekitar 2 minggu. "


Mendengar apa yang kukatakan kedua Elf itu tampak terkejut. Sementara Siena, dia cemberut dan memasang muka tidak senang seolah dia sudah tahu maksut dari kalimatku ini.


" Apa maksut Tuan? "


" Iya, apa maksutmu? Jangan bilang.. "


Selidik Siena sembari menarik pipiku.


" Aku akan pergi ke desamu- adudu''


" Bukannya kita sudah membicarakan hal ini! Kenapa kau masih juga bersikeras! "


Siena tampak marah. Sebelumnya dia juga pernah kuberitahu tentang hal ini dan dia terlihat tidak sejengkel sekarang.


" Bisakah kau lepaskan dulu?"


Kemudian Siena melepaskan cubitan kedua tangannya dari pipiku sembari memalingkan wajahnya. Melihat ini membuat kedua Elf itu kebingungan.


" Lama-lama pipiku bisa kendor jika terus-menerus kau cubit! Ehem. Sampai dimana kita. Oh iya. Jadi aku bermaksud mengantar dan melindungi kalian untuk kembali ke kampung halaman kalian. ''


" Melindungi kami? "


Elf laki-laki itu berbicara setelah dari tadi dia hanya diam.


" Benar! Aku sudah dapat mengukur kekuatan kalian. Dalam perjalanan pulang ke kampung halaman kalian itu kemungkinan kalian untuk bertemu Orc atau makhluk kuat lainnya tidaklah kecil. Anggap saja aku ini sejenis bodyguard kalian dalam perjalanan ini."


Kedua Elf itu seperti sedang berfikir. Kemudian Si Elf wanita itu pun seperti tersadar dan bertanya.


" Kenapa Anda mau repot-repot menolong kami? Selain itu dari awal juga. Sebenarnya apa hubungan Anda dengan Tuan Putri, Tuan Pahlawan? "


Tentu saja ini akan aneh apabila ada orang asing tiba-tiba berkata akan menolong seseorang yang akan masuk ke kobaran api.


Kalau boleh dibilang tujuanku yang sebenarnya adalah untuk memperoleh imbalan dari membawa mereka pulang dengan selamat.


Siena itu adalah anak dari raja dikerajaan Elf.


Jadi imbalan untuk membawanya pulang dengan selamat pastilah tidak kecil.


Saat ini aku membutuhkan uang untuk membayar hutangku kepada kepala desa serta untuk kebutuhanku sehari-hari.


Aku sudah memikirkan untuk mencari pekerjaan, tapi kupikir dengan begini aku akan lebih mudah untuk mendapatkan uang.


Di dunia ini jelas peradaban manusia telah paling tidak mengerti arti dari mata uang.


Tapi, untuk mengatakan aku melakukan itu semua karena uang akan terdengar tidak keren.


" Kami ini sepasang kekasih."


Paling tidak aku harus menahan untuk memberitahu mereka tujuan asliku sampai kita tiba disana.


" ..Ya benar. Paling tidak seperti itu. "


Tanpa kusadari aku bergumam cukup keras hingga terdengar oleh mereka.


...


Tunggu dulu!


" Em. Siena? Kenapa kau memeluk lenganku? Lalu apa yang tadi kau katakan? Sepertinya aku tadi melamun. Bisa kau ulang? "


" Kita sepang kekasih. "


" Hah? Apa maksudmu? "

__ADS_1


" Kenapa kau begitu terkejut? Bukankah kita sudah tidur bersama selama 4 hari ini?"


" Lantas? "


" Kita sudah menjadi kekasih!.. Ah tidak. Bukankah kita malah sudah jadi suami-istri? Yah itu sama saja sih fufu."


Dia tersenyum dengan ceria.


Tapi bertolak belakang dengannya, aku tambah binggung.


Selama 4 hari ini memang kita tidur dikamar yang sama.


Tapi aku tidak pernah ingat pernah berbuat yang tidak-tidak pada gadis ini. Lagipula aku juga tau etika dan moral. Mana berani aku berbuat yang tidak-tidak ditempat aku menginap begini terlebih kepada seorang anak raja sepertinya. Bisa-bisa kepalaku akan diburu 1 kerajaan hanya karna pemerkosaan dan lain sebagainya.


Atau pada saat itu? Rasanya tidak. Mungkin. Tapi, keringat dingin terus mengalir dibelakang tubuhku.


" Apa maksudmu berkata begitu? Apakah-ah.."


Aku baru lupa jika kedua elf itu masih disini.


" Hei. Kita harus bicara berdua! "


Aku menarik Siena keluar dari kamar ini dan menuju kamar kami.



" Jadi.. Apa maksutmu kita adalah kekasih karena kita sudah tidur bersama selama ini? A-Aku tidak melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kepadamu kan? "


Sialan. Keringat dingin masih saja mengalir dipunggungku dan omonganku agak sedikit tergagap.


" Melakukan sesuatu yang tidak seharusnya? "


Dengan polosnya dia bertanya dengan raut wajah tanpa dosa.


" K-kau tau kan. Melakukan hal itu! M-m-menyentuhmu.. "


Sialan. Kenapa aku malah jadi gugup begini.


" ..!! Oh itu. Apakah kau tidak ingat apa yang kita lakukan? "


Dia memasang senyum yang tak kuketahui artinya, membuat keringat semakin bercucuran diwajahku. Sementara Siena terus mendekat ke arahku dengan tangannya yang menyentuh dadaku.


" B-Benarkah? "


Ini buruk... Ini bur.. uk... Eh!! Apanya yang buruk?


Aku coba menengok kembali ke arah wajah di depanku ini dan baru kusadari..


Ini keberuntungan!


Selain sifatnya yang kadang-kadang kasar kepadaku, bukankah gadis di depanku ini adalah wanita yang sangat cantik?


Dengan kulit putih seperti salju, rambut berwarna putih yang entah kenapa sangat cocok untuk dirinya, wajah seorang gadis yang terkesan lembut, bibir merah merona dan terkesan lembab yang dapat menggoda setiap laki-laki yang melihatnya, serta badan yang bisa dikatakan proposional.


Bukankah akan banyak pria yang mengejarnya?


Lagipula jika masalah itu yang dijadikan dasar tentang kenapa dia menganggap bahwa aku adalah kekasihnya maka itu adalah hal yang masuk akal. Lagipula aku adalah Pria yang bertanggung jawab.


'' Aku- "


" Hei ? Kenapa kau bercucuran keringat begitu? Dadamu bergemuruh?.. Jangan-jangan kau percaya tentang apa yang kukatakan tadi? "


''Eh? ''


Aku tidak tahu apa yang kini di katakan oleh gadis ini. Sebelum aku sempat membalasnya dia malah melanjutkan.


" Pfff.. Hahahaha "


Dia malah tertawa yang menambah kebingunganku.


"... Ah. Maaf-maaf. Kau pasti kebingungan saat ini. Tadi itu aku bercanda."


Huh?


" Aduduh sakit.. Sakit "


Aku mencubit kedua pipinya seperti yang dia lakukan tadi kepadaku, namun agak keras.


Apa dia tidak merasa bersalah setelah memainkan perasaan seorang pria?!


" Tapi.."


'' ? ''


Hm. Aku melepaskan cubitanku pada pipinya agar dia bisa berbicara dengan lebih lancar.


" Aku serius soal hubungan kita! "


" Apa maksudmu? "


" Aku belum bilang ya? Sepertinya kau juga belum tahu akan hal ini. Sebenarnya dikerajaan kami ada 2 adat tentang bagaimana seseorang bisa menjadi sepasang kekasih untuk selamanya. Pertama, melalui pernikahan. Ini adalah adat baru yang diperkenalkan oleh ibuku saat dia menikahi ayahku. Kemudian adat yang lebih tua. Disini lebih mudah. Dimana sepasang kekasih hanya perlu berbagi kamar atau tinggal bersama selama dua hari atau lebih dengan kemauan sendiri atau tidak dalam keadaan terpaksa. Maka pasangan itu akan dianggap secara resmi sebagai pasangan suami-istri. Oh iya. Yang memperkenalkan istilah ini juga Ibuku. ''


" Jangan bercanda!! Jadi kita menjadi pasangan hanya karena hal itu? Kau mau membodohiku lagi? "


Siena terkejut karena aku membentaknya. Dia terlihat sangat ketakutan atas hal yang baru kulakukan.


Itu bukan ketakutan yang disengaja atau dibuat-buat. Aku pernah melihatnya. Itu lebih seperti ketakutan saat orang sedang dirundung.


Sialan. Aku merasa menyesal.


" Sudahlah. Maafkan aku. Aku mau pergi mencari udara segar dulu."


Aku membalikan badan dan hendak keluar.

__ADS_1


" G-Glen.. "


Agak ragu, dia memanggilku. Merespon panggilannya aku berhenti.


" Aku tidak bermaksud untuk mengerjaimu tadi. "


" Sudahlah. Aku ingin mendinginkan kepalaku dulu. "


" G-Glen.. "


Sekali lagi dia memanggilku. Namun, kali ini disertai tarikan yang membuatku berbalik. Lalu..


Aku membelakan mataku. Bibirku merasakan sesuatu yang empuk dan lembab.


Momen ini hanya berlangsung mungkin kurang dari 3 detik. Tapi ini cukup untuk membuatku berhenti bernafas.


Dengan mata tertutup dan ada air mata yang menetes dari mata yang tertutup itu, Siena menciumku.


" Kau sekarang percaya padaku? "


Ditengah matanya yang berair dia mencoba tersenyum.


Tanpa kusadari aku juga tersenyum kecil.


Aku mengusap air mata yang masih ada dipipinya dengan jariku.


" Kenapa menangis? ''


'' Aku takut dan senang."


" Begitu ya? Kalau begitu menangis saja. "


Aku mendekap Siena dengan erat. Karena tinggi kita sama, malah mungkin lebih tinggi Siena maka dia menanggis dipundakkku.



" Sudah tenang? "


Dia menganggukan kepalanya kemudian bertanya.


" J-Jadi bagaimana? "


" Bagaimana? "


" Tentang hubungan kita.."


" Ah. Itu. Sepertinya yang kau bilang. Kita jadi pasangan kekasih. Kalau memang adat kerajaanmu seperti itu mau bagaimana lagi bukan? "


Lagian sapa juga yang mau menolak akan tawaran yang sangat mantap ini.


" Kau terpaksa? "


Matanya menatapku penuh selidik.


" Tentu saja tidak. "


Aku malah membalasnya bersemangat.


" Begitu ya. ''


Siena tersenyum. Sial. Dia begitu cantik.


" Iya "


Suasana canggung menghampiri kami.


'' Em. Glen? Bolehkah aku bertanya? ''


'' Ya? "


" Kenapa kau bersikeras untuk ke kerajaanku? Tidak bisakah kita terus disini saja? "


" Bukankah kita pernah membahasnya? Serangan Orc yang dikatakan Archilles itu tidak bisa dianggap remeh. Bukan tidak mungkin, bahwa nasib yang menimpa kerajaanmu adalah kepunahan. "


" Iya. Lalu kenapa? Jika hal itu terjadi maka bukankah sebaiknya kita menjauh dari sana? "


" Itu mungkin saja benar. Tapi membiarkan sebuah pembantaian yang mungkin saja dapat kubantu hentikan untuk terjadi. Itu bertentangan dengan prinsip hidupku. Kuharap kamu mengerti."


" Begitu ya. Kalau memang itu keputusanmu maka aku hanya dapat menerima. ''


" Hei. Kenapa ekspresimu begitu murung? Tenang saja. Aku kuat kok. "


" Aku tahu. Tapi tetap saja.. Pertarungan yang kau hadapi mungkin akan menjadi brutal. "


" Karena aku akan berusaha semakin kuat hari demi hari. Jadi kau tidak perlu menghawatirkanku. Lebih dari itu, kuharap kamu akan lebih percaya padaku."


Menepuk pipinya seolah menyingkirkan pikiran negatif yang membelenggunya, Siena mengangguk dan menjawab.


" Baiklah. Aku percaya padamu "


Diiringi senyum yang diarahkan padaku.


Dia benar-benar cantik. Aku dibuat salah tingkah oleh senyum itu.


" Ngomong-ngomong, sepertinya sudah sore. Karena tubuhku sudah benar sembuh, sebaiknya aku memulai latihan lagi sekarang . Aku pergi dulu! "


Aku bangun dari tempat tidur kemudian hendak pergi dari kamar yang disediakan untukku itu.


" Semangat dan hati-hati.. Sayang. "


Deg. Jantungku seolah berhenti.


Sialan. Aku sungguh beruntung.

__ADS_1


" Oke "


Dengan perasaan gembira aku meninggalkan kamar itu.


__ADS_2