
Sudah empat hari berlalu semenjak pertarunganku dengan dua Orc bersaudara itu. Meski dengan kondisi tubuhku yang penuh luka ini, aku terus terpaksa menggunakan tubuhku untuk bertahan melawan hewan buas yang terus-menerus datang menyerangku.
Dari mulai moster kecil seperti ular berkepala dua hingga hewan besar seperti kera yang memiliki taring besar aku sudah tidak bisa menghitung lagi berapa jumlah monster yang sudah kutebas. Tapi, dari segala jenis monster itu aku lebih memilih daging kelinci petarung daripada monster lainnya. Selain karna daging kelinci itu lebih lembut, kurasa dagingya memang lebih enak dari daging hewan lain yang kucoba icipi.
Sekarang, walaupun aku merasa telah berjalan jauh ke arah timur atau tenggara namun aku tak kunjung juga menemukan tempat hunian manusia.
Apakah aku benar-benar tersesat atau memang karena hutan ini begitu besar, aku tak tahu.
Sungguh. Aku tidak tahu, apakah kesialan memang menyukaiku atau memang aku yang terlalu ceroboh. Saat aku berhasil menembus semak-semak belukar yang ada dijalanku, tiba-tiba aku bertemu sosok pernah yang aku temui empat hari yang lalu.
Berdiri di hadapanku sekarang ada empat sosok Orc. Ukurannya memang tidak sebesar Orc yang kulawan kemarin. Namun, kini mereka memiliki baju yang terbuat dari semacam besi dan memiliki persenjataan yang berbeda.
Apakah mereka lebih berpengalaman dan terlatih daripada Orc sebelumnya meskipun tubuh mereka lebih kecil dan hanya seukuran denganku?
Kami saling tatap sejenak hingga secara samar aku mendengar "Dum" suara dentuman benda keras yang menghentikan momen hening singkat ini.
" Hei Lhihat Adha Manusia.Akhku Lapar Dhan Shekarang Ada mhakanan hugh-wik-hugh-wik."
Berbeda dengan Orc kemarin yang dapat berbicara dengan fasih. Mereka berbicara dengan tidak jelas dan mengerang seperti babi.
" Beneran deh. Kenapa setiap aku bertemu dengan orc selalu dianggap makanan! Apakah mereka hanya memikirkan makanan?" Pikirku.
Tanpa membuang waktu akupun mengeluarkan pedangku. Kurasa pedangku ini memang pedang berkualitas. Selama empat hari kugunakan, pedang ini sama sekali tidak berkarat ataupun menjadi tumpul seperti pedangku sebelumnya.
__ADS_1
Walaupun begitu, tetapi yang sulit ku mengerti adalah listrik kecil yang terus-menerus muncul dan menyelimuti pedang ini.
Apakah itu hanya untuk memperindah tampilan atau hanya sekedar buat menakut-nakuti?
Sejauh ini listrik ini tidak memiliki kemampuan apapun bahkan tidak memiliki kemampuan menyengat seperti listrik pada umumnya saat aku mencoba menyentuhnya.
Memandang mereka berempat aku sedikit khawatir mengingat luka dan patah tulang yang kuderita belum sembuh secaa total.
Namun, sejauh yang kutahu, kemampuan berpedangku telah meningkat 1 level ke level 3. Hal ini lah yang membuatku sedikit percaya dengan kemampuanku kini.
Paling tidak aku harus mengukur kemampuan mereka dahulu. Jika memang aku tidak sanggup melawan mereka, tentu saja aku tidak akan ragu untuk melarikan diri sesegera mungkin.
" Hei jangan remehkan manusia itu! Dia memiliki pedang para Elf! Kita harus tetap waspada!"
Kuperhatikan lebih seksama, bukankah tanganya sedikit gemetaran? Tidak. Kurasa itu bukan sedikit. Tangannya memang gemetar.
Melihat dan mengamati Orc didepanku, mereka memiliki senjata yang berbeda-beda.
Orc yang pertama menyapaku dengan sombong dan hendak memakanku tadi adalah Orc bersenjatakan kapak. Dia berdiri ditengah mereka bergaya seolah dia adalah pemimpinya.
Orc yang mewaspadaiku dan berdiri paling belakang adalah yang memakai tombak.
Sedangkan dua sisanya memakai pedang sedikit berkarat di masing-masing orang. Mereka berdua berdiri disamping Orc berkapak itu.
__ADS_1
'' Bukankah itu senjata milik para Elf? Berarti dia adalah bala bantuan yang datang?'' Selidik Orc bertombak.
Sepertinya Orc yang memakai tombak itu adalah Orc yang memiliki pemikiran yang sedikit rasional. Dia bahkan mencoba menyelidiki ku barusan. Berlainan dengannya, ke-tiga temannya bahkan tidak seperti orang yang dapat berpikir. Mulut mereka mengeluarkan liur dan mereka terus-terusan menatapku dengan lapar dengan muka bodohnya. Mereka sama sekali tidak mendengarkan kata-kata dari Orc bertombak.
'' Peduli amat!! Sudah lama aku tidak memakan daging manusia yang enak. Kalian cepat serang dia!''
Masih dengan tidak jelas dan tidak dapat kumengerti orc itu sepertinya menyuruh menyerangku, berdasar gerakan yang ditunjukan tangannya. Kurasa dia berbicara dengan bahasa Orc?
Benar saja. Menuruti Orc itu, kedua Orc yang memakai pedang tadi bergerak ke arahku.
"Nona, Aktifkan Auto-Battle ku. Skill Learn sekalian."
[ Skill Bantuan: Skill Auto-Battle Diaktifkan]
[ Skil Learn Aktif ]
Dengan sporadis dan tak terarahkan dengan baik, kedua Orc berpedang menyerangku. Walaupun mereka menyerangku secara bersamaan. Namun, gerakan mereka benar-benar mudah dibaca. Tak ayal aku dapat menghindari setiap serangan yang diberikan mereka. Mereka seperti tidak berpengalaman dalam memakai pedang dan asal-asalan menebas.
Ini diluar ekspektasiku. Kedua Orc ini benar-benar lemah.
Slassh... Slassh...
Tanpa membuang waktu, mudah saja aku menebas, membelah dan memenggal masing-masing dari mereka. Terjatuh, darah hijau mengucur dari tubuh yang kutebas ini. Dua Orc dapat kukalahkan dengan cepat.
__ADS_1
Menghilangkan noda darah yang ada dipedangku aku mengibaskannya ke samping