
Aku terbangun ketika matahari telah meninggi dilangit.
Aku masih malas untuk bangun sebenarnya, namun ini sudah siang untukku melanjutkan tidurku. Lagipula aku juga ingin segera melanjutkan latihan memanahku.
Menguap, aku meregangkan tubuhku.
" Hoam. Ahh enaknya. "
Ngulet dipagi hari memang terasa sangat enak terlebih untuk tubuhku yang terasa sangat kaku akibat latihan berlebih yang kulakukan kemarin.
Bangun dan duduk, aku memutar garis pandangku.
Dimana ya Siena? Dia tidak ada ditempat tidur? Atau mungkin dia sedang ada diluar?
Yah. Nanti juga bertemu diluar.
Kira-kira Nyonya sudah ada yang masak belum ya? Hari ini aku malas masak.
Menggaruk pipiku, aku menyingkirkan selimut ke samping.
Tiba-tiba, ketika aku hendak akan turun dari tempat tidurku, ( Duak ) tiba-tiba aku dikagetkan oleh bantingan pintu.
" Siapa ya?.. Woo.. Apa yang kau lakukan? Itu berbahaya! "
Tanpa mau menjawab pertanyaanku, seseorang berpakaian serba hitam dengan wajah yang tertutup kecuali area mata menyerangku dengan sebilah pedang.
Serangan itu dapat kuhindari. Karena serangan itu kuhindari, serangan itu mengenai kasur yang menyebabkan bulu beterbangan dimana-mana.
Tidak mungkin dia adalah penduduk disini dan itu jelas adalah serangan yang bermaksud untuk membunuh lawan.
Siapa sebenarnya orang ini?
Dia terus-menerus mengibaskan senjatanya mencoba mengenaiku.
Namun, usahanya itu seolah percuma. Dia bahkan tidak dapat mengenaiku satu kalipun.
Serangannya itu terlihat mudah dibaca olehku.
Entah aku yang bertambah kuat atau orang ini memang lemah, aku masih belum tahu.
Tapi aku tidak boleh terus-menerus menghindari seperti ini.
Banyak barang-barang yang terkena sabetan senjatanya dan rusak.
Ini adalah kamar yang kusewa. Semakin banyak barang yang rusak, beban dari kerusakan yang harus kuganti juga semakin banyak.
Aku bahkan tidak yakin jika penjahat sepertinya dapat menganti rugi semua kerusakan yang kian parah. Tapi aku tidak peduli. Ini bukan salahku, melainkan salahnya.
" Kampret. Kau harus membayar semua kerusakan yang kau buat! "
Memanfaatkan celah yang dibuatnya aku memukul perutnya dengan sekuat tenaga.
Ini keras. Besi? Apakah dia memakai baju besi dibalik bajunya?
Walaupun seranganku berdampak padanya.
Tapi, itu tertahan oleh besi yang ada dibalik bajunya dan hanya membuatnya mundur beberapa langkah.
Dia kini penuh waspada kepadaku dan tidak gegabah lagi.
Berhadapan di ruangan sempit dan penuh barang-barang seperti ini membuat pedang panjangnya itu terlihat lebih banyak memiliki kelemahan karena tidak daoat bergerak bebas.
...
Dia tidak hendak menyerangku lagi kah?
Sampai kapan dia akan terdiam dalam posisi itu?
Aku lelah menunggu dan hendak mengambil langkah duluan.
Dia tahu. Makanya dia mengibaskan pedangnya secara horizontal kepadaku, saat aku berlari menerjang kepadanya.
Tepat waktu, aku meloncat mundur membuat pedang itu tidak jadi mengenaiku dan hanya memotong bajuku.
Mungkin karena beban dari berat pedang itu sendiri, pedang itu terus bergerak ke samping menghantam dinding dan tertanam disitu.
__ADS_1
Dia berusaha menarik pedangnya, namun itu sudah telat.
'' Kena kau!"
Aku menghantam rahangnya yang membuat dia terlempar ke belakang dan menghantam dinding kemudian jatuh tak sadarkan diri.
" Mungkin aku agak berlebihan. "
Gigi-gigi dari orang ini mungkin patah dan dari mulutnya menetes darah.
'' Kuharap dia tidak mati sehingga dia bisa membayar semua kerusakan yang diperbuatnya. Tapi siapa orang ini? "
Jangan-jangan dia pencuri?
Tapi mana ada pencuri yang memakai baju besi.. Atau tidak. Mungkin saja ada sejenis tren untuk memakai baju besi saat untuk bertarung di dunia ini. Atau dia ini sejenis bandit?
Lalu, apakah dia bereaksi sendiri atau berkelompok. Kalau memang benar dia berkelompok,
'' Gawat!! Siena!! ''
Aku segera memakai pelindung rantaiku serta membawa panah dan pedangku.
Mengecek sebentar tubuh orang yang kukalahkan ini, aku mendapatkan pedang pendek dan sekantung uang emas dan perak.
Selesai mengambil benda-benda yang mungkin berguna dari orang yang barusan kukalahkan ini, aku kemudian keluar.
•
" 1..2...3...4... 27 ''
Sial mereka banyak sekali.
Terlihat ada 27 orang yang dapat kuhitung saat ini tengah berdiri di beberapa posisi.
Selain itu, sepertinya ada beberapa yang sudah tumbang di tanah terbujur bercampur dengan tubuh beberapa penduduk yang tak beruntung.
Saat ini aku masih berada di rumah kepala desa, lebih tepatnya ada dilantai 2 di kamar yang sebelumnya di tempati oleh pemilik rumah ini yang memiliki jendela yang menghadap ke alun-alun desa.
Dibalik jendela yang tertutup, dengan celah yang kubuat sekecil mungkin agar tidak ketahuan aku mengamati situasi.
Beberapa orang yang sudah tumbang itu mungkin ditumbangkan oleh Siena, Archilles dan beberapa penduduk yang dapat bertarung.
Keadaan Archiles mengerikan dengan luka di sekujur tubuhnya. Jari tangannya seperti terpotong beberapa, dan kini dia sedang diinjak oleh salah satu orang yang memiliki pakaian aneh berwarna hitam legam.
Aku heran kenapa Archilles dapat ditumbangkan oleh orang-orang ini.
Seharusnya kemampuan, kekuatan, serta daya regenerasi yang dimiliki oleh Archilles saja akan mampu untuk menghadapi orang-orang ini.
Namun kenapa dia bisa takluk seperti itu?
Tunggu. Ini aneh. Kenapa seolah badan dia seperti tertahan sesuatu?
Dari ekspresinya dia terlihat seperti sedang menahan beban yang sangat berat dipunggungnya.
Apakah itu dari faktor kelelahan?
Tapi dari bekas pertarungan dan debu yang masih ada dibeberapa sisi, pertarungan mereka baru saja selesai. Ini sungguh aneh.
Tidak mungkin orang yang menginjaknya itu memiliki berat yang mampu menundukan Archilles.
Terlebih,... Pandanganku kini berfokus pada seseorang.
Orang bertudung itu mencurigakan.
Ada bola ungu bersinar di tangan kirinya.
Dia mengarahkan tangan kanannya ke arah Archiles yang tetap mencoba bangun.
Sihir. Itu pasti efek dari suatu mantra sihir yang ada di dunia ini!
Melihat dari pergerakan penutup kepala yang bergerak disekitar mulut itu, mungkin saat ini dia tengah membaca mantra untuk menahan pergerakan Archilles.
Mungkin ini yang menjelaskan kenapa Archiles, Siena dan kedua Elf serta warga dapat ditumbangkan oleh mereka ini.
Berarti prioritas pertamaku adalah dia. Orang yang berbahaya.
__ADS_1
Lalu,
Siena juga tidak bernasib lebih baik.
Tubuhnya penuh luka dan pakaiannya compang-camping.
Rambut milik Siena kini tengah dijambak oleh seseorang pria yang memakai pakaian hitam sama seperti yang lain, namun dengan wajah yang terbuka.
Dia mendekatkan wajahnya ke depan, ke arah wajah Siena dengan muka menjijikan sembari mengatakan sesuatu.
Aku tidak dapat mendengar apa yang dikatakannya, namun melihat dari ekspresinya aku tahu jika itu adalah sesuatu yang buruk.
Kemudian tidak lama Pria menjijikan itu memulai aksinya.
Apakah dia bermaksud menelanjangi Siena?!
Sementara tangan kanannya masih digunakan untuk menjambak rambut Siena, dia menggunakan tangan kirinya untuk merobek pakaian milik Siena.
Siena bukannya diam saja, malahan dia berusaha memberontak lemah dengan tenaganya yang masih tersisa yang mana itu hanya akan menyakiti dirinya dengan rambut yang terjambak itu.
Tak cukup sampai disitu, laki-laki itu kemudian menampar Siena sampai bibir Siena mengeluarkan darah.
Cengkraman ditangan kiriku semakin kuat sementara gigiku bergemeretak.
Keparat!! Akan kubunuh kau b******!!
Dadaku bergemuruh dan terasa amat panas. Tapi,
Tidak. Aku harus tenang dan fokus.
Lawan kali ini bukanlah monster, melainkan manusia yang memiliki taktik bertarung. Aku harus meredam kemarahanku untuk kali ini. Paling tidak untuk sebantar.
Cih.. Sialan.
Hah.. huh.. Aku menghirup nafas dan mengeluarkannya untuk berusaha meredakan emosiku walau sedikit dan kembali berkonsentrasi untuk menumbangkan targetku terlebih dahulu.
Jarak targetku ada disekitar 35-40 meter.
Itu adalah jarak yang termasuk menengah untuk jarak panahanku.
Dengan kepercayaan diriku, aku yakin pasti mengenai dia.
Kemarin saja aku dapat mengenai target dijarak 60 meter dengan akurasi yang mengerikan. Tidak peduli apapun yang terjadi, memang harus kena.
Sekarang yang kubutuhkan hanya satu,
" Jika saja Archilles bisa mengamuk sebentar dan mengalihkan perhatian saat ini aku akan sangat terbantu. "
Seolah mendengar gumamanku, Archilles mulai berusaha bangkit walau dia seperti tengah mengangkat sesuatu yang berat dipunggungnya.
Sontak orang yang menginjaknya mundur dan seperti berteriak ke arah orang bertudung.
Tangan orang bertudung itu bergetar selaras dengan kebangkitan Archilles.
'' Kena kau! "
Anak panahku melesat langsung menuju ke arah kepala dari orang bertudung itu dan membuatnya langsung terpental selaras dengan energi kinetik yang diberikan anak panahku.
Darah mulai merembes dan mengalir dari bawahnya.
Keadaaan menjadi hening sesaat sebelum mereka terjebak di dalam kepanikan.
Memastikan bahwa tidak ada orang lagi yang mempunyai kemampuan menyebalkan seperti sihir.
Aku membuka jendelaku lebar dan mulai melepaskan beberapa anak panah.
Aku berhasil mengenai dan menumbangkan beberapa orang, serta tangan orang yang menjambak Siena sebelum aku dibalas dengan hujaman dari beberapa pemanah.
•
Sudut komentar Lana: Karena adanya kesibukan yang sangat padat dibeberapa bulan yang lalu membuat cerita ini sempat saya tunda. Saya mohon maaf sebesar-besarnya dan terima kasih bagi kalian yang masih mengikuti cerita ini. Saya akan mulai melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda mulai sekarang.

__ADS_1