
Setelah berjalan selama delapan hari, aku dan rombonganku akhirnya sampai di wilayah kekuasan Kerajaaan Elves.
Di jalan yang terlihat bisa dilewati sebuah kereta kami berjalan.
Selama kami berjalan, semakin ke dalam wilayah kerajaan Elves ini, kami telah melewati berbagai desa yang telah ditinggalkan.
Namun, kami belum menemukan berbagai kerusakan disana, yang berarti belum ada penjarahan ataupun penghancuran yang terjadi. Sehingga kemungkinan besar para Orc belum sampai disini.
Menurut penuturan Siena, desa-desa yang kami lewati ini sebelumnya berpenghuni dan sepertinya warganya diungsikan ke ibukota kerajaan guna menghindari invasi para Orc.
Kami tidak mendapati satupun penduduk di desa ini.
Namun, sebagai gantinya, kami bertemu dengan tiga orang yang sepertinya adalah bagian dari pasukan kerajaan Elves yang bertugas untuk pengintai.
Mereka memiliki perawakan tinggi dengan pakaian yang berlapis pelindung kulit.
Sebuah busur dengan tempat panah tersampir di punggung sementara pedang berada di samping kiri pinggul.
Mereka bertiga memiliki rambut pirang dan wajah yang lebih tua dibandingkan Siena maupun teman-temannya.Tentu saja telinga mereka runcing.
Setelah berbincang dan menjelaskan berbagai hal, mereka kemudian menjauh untuk berdiskusi sendiri.
Tidak lama, salah satu dari Elves itu pergi dan menghilang dengan cepat.
Sementara dua Elves yang lain datang menghampiri rombongan kami dan mengatakan mereka setuju untuk membawa rombongan kami memasuki kerajaan.
Dengan dipandu kedua Elves kami berjalan menuju pusat kerajaan yang mana ini akan memakan waktu satu hari penuh dengan melewati dua benteng.
Selama perjalanan mereka tidak banyak berbicara. Kecuali saat kutanyakan mereka sama sekali tidak tertarik untuk berbicara. Suasana diam mengiringi kami.
Memakan waktu sekitar tiga jam kami sampai di benteng yang pertama. Benteng ini memiliki tinggi 10 meter lebih tinggi dari pepohonan disekitar dan terdapat parit selebar 8 meter di depannya dengan kedalaman 40 meter ke bawah. Jembatan angkat selebar 3 meter menjadi penghubung antara ujung parit dan benteng.
Sebagai pertahanan pertama dari kerajaan Elves benteng itu terlihat kokoh dengan banyak prajurit di atasnya.
Dipandu oleh kedua Elves, kami melewati gerbang itu tanpa masalah.
Begitu aku melewati benteng, berjalan sekitar lima belas menit, aku mulai melihat banyak pasukan-pasukan yang berposisi diatas pohon.
__ADS_1
Mereka memiliki penampilan yang berbeda dengan Elves yang ada di atas benteng.
Rata-rata Elves yang ada diatas benteng mengenakan pakaian pelindung besi berwarna emas dengan senjata busur serta pedang besar.
Sementara Elves yang ada diatas pepohonan dan sekitar jalanan ini, mereka umumnya tidak memakai baju besi.
Mereka mengenakan pakaian pelindung dari kulit, membawa pedang berukuran sedang bahkan relatif kecil dipinggang. Busur panah serta tempat panah tersampir dipunggung.
Dapat dikatakan mereka itu adalah unit yang berbeda dengan yang ada di sekitar bentengl.
Sulit untuk mengerti apa yang terjadi.
Semenjak aku melewati Benteng itu dan bertemu dengan prajurit-prajurit Elves. Mereka seolah tidak melepaskan pandangannya terhadapku.
Mungkin saat melihat orang asing kau akan tertarik untuk melihatnya dan itulah yang aku pikirkan. Namun, semakin aku masuk ke dalam, entah bagaimana pandangan mereka perlahan berubah. Terutama saat kami sampai dibarisan Elves ini.
Aku agak terganggu dengan pandangan orang-orang ini. Terlebih, aku merasa bahwa pandangan mereka itu seolah menghina akan kehadiranku.
" Hei? Kenapa mereka memandangiku seperti itu? "
Bisikku kepada Siena yang berada di depan.
Ugh.
Aku sepenuhnya menyadari bahwa ini adalah kesalahanku untuk tidak bertanya tentang hal seperti ini sebelumnya.
Namun, terlambat untuk menyesali sekarang. Maju atau tidak sama sekali. Pilihannya hanya maju dan mengabaikan tatapan menghina mereka semua itu.
Dengan itu aku tetap berjalan dalam diam mengabaikan tatapan serta bisikan dikanan-kiri yang nyaring terdengar ditelingaku tetap mengikuti Elf di depanku.
Berjalan selama 12 Jam dengan satu kali beristirahat, kini sampailah kami disebuah tempat yang seperti hamparan padang rumput luas sepanjang 400 meter yang seolah memisahkan hutan.
" Lihat itu, Glen! Itu adalah Istana kerajaan kami! "
Aku melihat ke arah yang ditunjuk oleh Siena dan benar saja, aku melihat sebuah bagian atas Istana.
Itu terlihat masih agak jauh, namun mengingat itu terlihat dari tempat ini sepertinya istana itu berukuran besar atau berada di sebuah dataran tinggi yang lebih tinggi dari wilayah sini.
__ADS_1
" Apakah jarak kita masih jauh? Berapa lama lagi kita sampai?"
Tanyaku kepada Siena.
" Kita seharusnya sampai sebentar lagi. Tidak jauh kok. "
Kamipun berjalan melewati padang rumput dan memasuki hutan kembali.
Pepohonan disini lebih tinggi dan besar daripada pohon-pohon sebelumnya.
Mungkin hanya berjarak 500m berjalan, sampailah kami ditempat yang kami tuju.
Sebuah jurang terbentang memanjang selebar 40 meter ada di depan kami. Di bawah jurang ini begitu gelap dan menakutkan.
Sempat menjatuhkan kerikil ke jurang guna mengukur ke dalamannya, aku tidak mendapatkan respon gema suara yang membuat buluku agak bergidik. Seberapa dalam sebenarnya jurang ini?
Satu buah jembatan batu berdiameter tiga meter ditengah dan dua buah jembatan berdiameter dua meter di kanan kiri yang agak jauh terbentang menghubungkan jembatan ini dengan benteng besar di ujungnya.
Sebuah benteng besar yang memiliki tinggi sekitar 8-10 meter yang berada diujung jembatan terlihat berdiri kokoh menjulang memajang mengikuti pinggiran jurang dengan banyak area yang sepertinya memiliki sudut yang sangat bagus untuk melepaskan anak panah.
Sudah pasti geografis dari tempat ini sangatlah bagus sebagai benteng pertahanan. Bahkan sepertinya akan memakan sangat banyak korban tersendiri untuk bisa menaklukan benteng diujung tersebut.
Dipimpin oleh kedua Elves, kami mulai berjalan melewati jembatan yang berbahaya ini.
Baik Siena maupun para Elves yang lain, mereka sama sekali tidak terganggu dengan ketinggian dari jembatan ini dan berjalan dengan santainya. Sementara untukku, aku berjalan dengan langkah waswas.
Bukan takut akan ketinggian, hanya saja melihat samping kiri dan kanan jembatan ini memang menakutkan.
Sampai di ujung jembatan. Setelah kedua Elves pemandu kami memberikan isyarat, gerbang yang memiliki dua pintu besar itu terbuka.
Kami berjalan masuk dengan ditatap oleh orang-orang yang berada di atas benteng.
Gerbang kembali tertutup ketika kami sudah melewatinya. Namun,
Kewaspadaanku meningkat dengan sangat cepat. Tangan kananku bersiap menarik pedang sementara tubuhku segera bergerak ke depan tubuh Siena.
Pandangan mataku bersiaga akan apa yang mungkin akan terjadi.
__ADS_1
" Ada apa ini?! "
Siena berteriak kepada kedua Elves yang sebelumnya memandu kami yang kini berbalik dan mengacungkan pedang.