Tentara Malaikat: Sisi Gelap

Tentara Malaikat: Sisi Gelap
Akhirnya! Sebuah Desa


__ADS_3

Setelah melewati pepohonan yang menjadi pembatas antara hutan yang selama ini kami temui kami menemukan sebuah padang rumput yang amat luas dikanan dan kiri yang terbelah oleh aliran sungai yang terus menuju ke arah selatan.


Ketika kami menginjakan kaki di rerumputan ini, angin berembus menerpa kami seperti menyambut kedatangan kami disini.


Rumput-rumput ini pendek dan hijau khas rerumputan musim semi. Dengan suasana segar, ditambah sinar matahari yang perlahan mulai tenggelam, suasana disini benar-benar terasa bagus.


Rupanya bukan cuma aku yang tertegun dengan pemandangan ini, bahkan Siena dan Archiles juga sama halnya denganku.


" Akhirnya!! "


" Ini indah sekali, belum pernah aku melihat hal seperti yang diceritakan ibu secara langsung seperti ini."


"Mengagumkan. Dunia luar memang mengagumkan."


Kami masing-masing memilkik komentar kami sendiri.


Setelah Puas dengan melihat-lihat pemandangan ini, kami bergegas untuk bergerak lagi sebelum hari benar-benar memasuki waktu malam.


Mengikuti aliran sungai ini kami berharap dapat menemukan pemukiman dari manusia atau penduduk lokal.


Setelah berjalan kurang lebih 500m menyusuri sungai. Benar saja, ada sebuah bekas lahan pertanian. Ini memang belum ditanami tanaman, tapi jelas ini adalah lahan pertanian aktif. Hal itu diperkuat dengan adanya seperti bayangan rumah-rumah dijarak 200 meter dari tempat kami sekarang.


Kami akhirnya menemukan sebuah pemukiman penduduk. Dengan bersegera kami mempercepat langkah kami menuju ke sana.


Kami memasuki wilayah yang kupikir adalah desa saat hari telah beranjak gelap. Di depan rumah para penduduk ini terdapat pencahayaan dari dari sesuatu yang mirip lampu penerangan jalan biasa. Tapi sejauh ini aku tidak melihat akan adanya kabel listrik atau semacamnya.


Tapi kenapa desa ini sangat sepi? Kemana orang-orangnya?


Aku sudah mencoba beberapa kali mengetuk rumah warga disini. Tapi tidak ada respon dari setiap rumah yang kuketuk tersebut. Padahal aku sangat yakin di dalam rumah tersebut terdapat penghuninya. Lagian, aku merasa kami seperti sedang diawasi dari setiap rumah yang kami lewati.

__ADS_1


Apakah mereka ketakutan kepada kami?


Karena merasa tetap tidak ada respon, aku memutuskan untuk terus melangkah ke arah pusat desa berharap ada yang berbaik hati kepada kami sembari tetap menggedong Elf wanita teman siena.


Ah. Disana ada beberapa orang!


" Permisi? Bisakah saya meminta bantuan kepada kalian? Eh?"


"..!!"


Sebagai jawaban dari pertanyaanku itu, aku malah ditodong oleh 2 diantara mereka bertiga dengan pedang mereka. Sementara satu lagi segera lari entah kemana.


Reflek, aku segera menarik pedang dipinggang kiriku dengan tangan kanan sementara tangan kiriku tetap menopang tubuh Elf dibelakangku. Sama halnya dengan diriku, Siena juga mengambil pedang pendek bekas milik kobold. Melihat apa yang kami lakukan 2 orang di depanku terkejut dan mundur beberapa langkah.


Tak lama berselang sebuah bunyi bel bergema di desa ini mengagetkanku.


Kini, kami terkepung. Jika melihat sekeliling kami, mungkin ada 30-40 orang yang mengelilingi kami walau tetap menjaga jarak.


Menyadari bahwa aku tidak dapat bertarung dengan Gadis Elf dipunggungku, dengan tetap mengacungkan pedangku ke depan aku menurunkan Elf dibelakangku ini. Archilles pun melakukan hal serupa dan kini dia telah bersiap dengan tombaknya.


" Apa yang kalian mau?! Kami bukanlah orang jahat dan aku tidak ingin mencari masalah disini!"


Aku mencoba bertanya alasan mereka mengepung kami seperti ini.


" Turunkan Senjata kalian orang asing dan monster!"


Salah seorang diantara mereka berbicara dengan keras namun penuh ketakutan.


Kurasa mereka mau diajak negosiasi tanpa menyerang lebih dulu?

__ADS_1


Yah itu bagus, tapi ada sebuah masalah. Aku sama sekali tidak tahu maksud dan bahasa yang digunakan orang itu.


" Apa diantara kalian ada yang paham bahasa mereka?" Berbisik aku bertanya kepada 2 orang dibelakangku.


" Tidak. "


" Tidak, Tuan."


Sial. Jadi merek berdua juga tidak tahu.


Sepertinya memang tidak ada pilihan lain. Meskipun aku tidak yakin bisa mengalahkan semua orang-orang ini, namun sepertinya menyerah juga bukan pilihan yang baik.


Ketakutan mereka itu nyata. Orang-orang yang ketakutan cenderung akan berbuat sesuatu untuk menghilangkan ketakutan mereka dan mengabaikan rasionalitas dari pemikiran. Kemungkinan hasil akhir yang kumaksut itu adalah kemungkinan dari kami dibunuh tidaklah kecil.


" Bersiaplah Archilles! Kita akan hadapi orang-orang ini! Sementara kau Siena, Lindungi kedua temanmu ini! "


"Baik, Tuan!"


" Aku mengerti, Tapi glen-"


" Dengar! Sudah kukatakan bahwa aku tidak berniat buruk kepada kalian! Tapi jika kalian berniat menyerang kami, maka kami akan mempertahankan diri kami dengan membunuh kalian!! " Aku berteriak dengan lantang memperingati mereka walau kutahu itu harusnya percuma dengan kami yang saling tidak memahami bahasa masing-masing.


Aku kemudian meneruskan dengan merapal mantra sihirku. Setelah selesai, Pedangku menjadi berselimut petir. Walaupun hanya itu sihir yang kupunya untuk saat ini. Namun, aku sangat yakin akan kemampuan yang telah kulatih selama 3 hari ini dan kurasa itu cukup efektif juga untuk memberikan pukulan psikologi kepada mereka sehingga mereka ragu untuk menyerang.


Sampai kapan ini berakhir? Tidakkah kalian akan maju? Ah ini menyebalkan.


" Apa kalian tidak ingin maju? Aku cukup heran dengan perbedaan jumlah orang seperti ini kalian akan menahan diri. Baiklah, kalau kalian tidak ingin maju, biar aku yang memulai."


Badanku sudah cukup letih untuk membuat emosiku tidak stabil. Bosan menunggu aku kini akan memulai inisiatifku sendiri. Rencanaku adalah menghajar sebagian dari mereka dan menakut-nakuti mereka. Aku kedepan bersiap menyerang mereka.

__ADS_1


__ADS_2