Tentara Malaikat: Sisi Gelap

Tentara Malaikat: Sisi Gelap
Percikan sebelum pertempuran


__ADS_3

Disinilah aku sekarang, berdiri di antara 2000 pasukan garis depan Elves. Tidak. Lebih tepatnya aku berdiri di posisi paling depan di samping salah satu komandan dari pasukan ini. Seorang pria bernama Dale yang tengah mengendarai sebuah rusa coklat bertanduk besar seukuran sapi.


Dia mengenakan pakaian yang agak berbeda dengan para pasukan yang di belakang sebagai penanda bahwa dia adalah seorang komandan.


Kembali ke aku sendiri. Aku sekarang mengenakan pakaian besi yang menutup bagian atasku dengan pelindung besi ada ditangan dan kaki. Untuk senjata, aku menggunakan dua pedang berada dikanan-kiri pinggangku juga belati yang terikat di paha kananku.


Tidak perlu waktu lama. Sebuah bunyi terompet mengaung dari dalam hutan sebagai tanda jika pasukan Orc sudah akan mendekat. Meskipun bunyi itu terasa kecil dan mungkin masih jauh, tapi bisa terdengar jelas dari sini.


Burung-burung dan kupu-kupu terbang di atas pohon mengalir ke arah luar hutan, menunjukan ada sebuah pergerakan di sana.


Sontak seluruh pasukan memandang ke arah hutan itu, bersiaga.


Namun, bukanlah musuh kami yang terlihat. Dari dalam hutan bermunculan para prajurit Elves. Mereka terlihat sangat kelelahan. Bahkan sebagian besar dari mereka terluka dan berjalan dengan langkah gontai dan terengah-engah keluar dari hutan.


Semakin banyak. Paling tidak ada puluhan dari mereka yang sudah terlihat keluar dari hutan itu. Semuanya sama. Raut wajah mereka lelah dan ketakutan.


Mengejutkan. Tiba-tiba ada beberapa Elves yang keluar dari hutan dangan berlari terbirit-birit. Kelompok yang baru keluar ini seperti berlainan dengan mereka yang telah keluar dahulu tadi seolah mereka sedang lari dari kejaran sesuatu.


Mereka berteriakan, menunjuk-nunjuk ke arah hutan dan menyulut kepanikan rombongan yang ada di depan. Sontak, kini semua Elves yang keluar hutan itu juga panik dan berlari sekencang yang mereka bisa ke arah kami.


" Apa itu orc? " Ujarku karena melihat sesosok yang berbeda berjalan keluar hutan.


Bergiliran, kelima sosok yang memiliki tubuh lebih besar dari para Elves keluar dari dalam hutan.Kelima sosok itu nampak berbulu dan memiliki taring yang keluar dari dalam rahangnya.


Mereka nampak seperti **** hutan yang berjalan dengan kedua kakinya. Mereka bertelanjang dada memamerkan bulu-bulu coklat dan hitam yang kini terdapat berbagai noda darah. Mereka juga bertelanjang kaki. Gada, pedang dan kapak tergengam ditangan sebagai senjata mereka.


" Orc pemburu. " Ucap Dale singkat.


" Orc apa? Jadi mereka memang sejenis Orc kah? " Tanyaku kepada Dale memastikan.


" Mereka adalah Orc yang bertugas untuk memburu mangsa. Mereka tidak akan pernah menyerah jika mereka sudah menentukan mangsa mereka meskipun masuk ke dalam wilayah musuh mereka sekalipun. Dalam artian tertentu, mereka adalah pasukan yang disiapkan memang untuk berburu sampai mati. Aku pernah melawan Orc semacam itu. Mereka lumayan kuat dan yang paling menyusahkan adalah kecepatan mereka. Perlu setidaknya 3-4 orang untuk mengalahkan mereka. Lihatlah itu!"


Dale mengarahkan pandanganya ke depan ke arah para Elves.

__ADS_1


Kepanikan semakin pecah diantara mereka karena kehadiaran makhluk-makhluk mengerikan itu.


Baik mereka yang bisa berlari ataupun tidak, kini mereka berusaha untuk menjauh dan mencapai pasukan kami secepatnya atau berakhir mengenaskan di tangan para Orc itu.


Karena pemikiran mereka itulah, tidak ada pilihan lain selain berlari. Mereka yang pincang berusaha menyeret kakinya. Sementara mereka yang terjatuh hanya akan terinjak-injak oleh mereka yang ada dibelakang.


Mendapati buruan-buruannya mulai berhamburan. Makhluk itupun mulai bergerak juga. Berlari dengan langkah gontai mereka memburu para Elves yang melarikan diri itu seolah tidak terpengaruh oleh kehadiran pasukan kami.


" Apa kita tidak akan menolong mereka? " Tanyaku kepada komandan Dale yang memandang ke arah mereka dengan tatapan tajam.


"..."


Tidak ada satupun jawaban. Apakah dia sedang memikirkan strategi? Kalau begitu aku tidak boleh menganggunya. Aku kurang tahu tentang strategi perang untuk jenis perang seperti ini. Jadi lebih baik kuserahkan kepadanya.


30 detik berlalu.


1 menit berlalu.


Apakah belum juga? Apakah sesusah itu?


Aku merasa tidak sabaran karena melihat korban pembantaian itu semakin banyak. Tidak sedikit yang memutuskan untuk berhenti dan melawan, namun mereka semua dapat dihempaskan oleh para Orc itu tanpa perlawanan yang berarti. Entah karena mereka telah kelelahan atau memang karena Orc itu terlalu kuat.


" Tidak ada. "


" Apa? Apa maksud anda? "


" Tidak ada yang dapat kita lakukan. Tidak. Mungkin ada. Kita akan hujani para orc itu dengan panah ketika mereka sudah ada dijarak serang. " Ujar komandan Dale.


" Apa maksud anda? Bukankah jika kita melakukan itu maka akan banyak korban dari para pelarian itu? "


" Benar. Lantas kenapa? Mereka adalah pelarian (desertir) yang melarikan diri dari benteng. Sudah seharusnya mereka pantas menerima itu. ''


Apa maksud orang ini? Ah. Apa maksudnya adalah hukuman bagi para pembelot yang lari dari pertempuran adalah kematian? Bukankah itu hukum yang sangat kuno? Tidak. Jika memang pertempuran disini adalah pertempuran yang menggunakan pedang dan senjata konvensional maka itu akan masuk akal.

__ADS_1


" Tidak bisakah kita menggunakan strategi lain? Bagaimanapun, jika mereka selamat mereka akan bisa berguna nantinya. "


" Apa maksudmu? "


" Seperti yang saya katakan. Saya telah mendengar berita mengenai jumlah pasukan Orc. Bagaimanapun kita sekarang kalah jumlah disini. Selain itu, mengingat kemampuan para Orc yang cukup merepotkan bukan tidak mungkin bahwa kita akan cukup direpotkan nanti dengan kekalahan jumlah ini. Ah. Bukan maksud saya meremehkan kemampuan para Elves. Namun, dengan sebuah pertimbangan pernyataan saya ini mungkin ada benarnya. Jikalau memang begitu bukankah setiap sumber daya sangat berharga saat ini? "


" Lantas apa kau memiliki strategi lain ?"


" Bagaimana jika anda mengirimkan pasukan kecil untuk menghabisi para Orc itu? "


" Itu terlalu beresiko, dengan pasukan utama mereka yang semakin dekat. Terlebih, jika pasukan itu malah kalah, itu hanya akan menurunkan moral pasukan. "


" Kalau begitu, bagaimana denga- "


" Dale!" Sebuah suara memotong datang dari belakang.


" Yang mulia! " Komandan memberi hormat kepada pemimpin utama dari pasukan ini, Sang Pangeran.


" Ada apa? " Tanya pangeran sembari berjalan mendekat diatas rusa putihnya.



" Begitu kah? Kalau begitu kau pun sudah mendengar hal itu. Lantas bagaimana, manusia? "


Apakah orang ini tidak bisa memanggil dengan nama saja? Kenapa dia harus memanggilku manusia coba. Yasudahlah.


" Saya yang akan menghadapi Orc itu! Saya sudah pernah menghadapi beberapa Orc sebelumnya, jadi paling tidak saya mungkin dapat mengalahkan satu atau dua Orc disana. Kemudian, bisakah anda meminjamkan pasukan untuk membantu saya melakukan itu? "


" Apakah kau menjamin akan menang? " Tanya komandan Dale.


" Saya tidak bisa memastikannya. Tapi saya akan berusaha sebaik mungkin! "


" Bagaimana kalau begini. Aku akan meminjamkan pasukanku. Tapi jika sampai pasukan utama Orc itu muncul dan kau belum bisa mengalahkan para pemburu itu, maka kami akan menghujani Orc itu dengan panah. Bagaiamana dengan itu? "

__ADS_1


Hei-Hei? Kenapa kau bisa memikirkan hal seperti itu? Bukankah aku disini untuk membantu kalian? Jika kau ingin menghujani mereka dengan tembakan panah pada saat itu bukankah mungkin aku bisa terkena panah itu juga meskipun aku masih hidup? Sial. Aku merasa memakan buah simalakama sekarang. Tapi tidak ada waktu untuk berdebat sekarang. Jumlah korban semakin banyak. Harus cepat kuputuskan!


" Baiklah. Aku akan berusaha menang sebelum pasukan utama itu datang."


__ADS_2