
''APA!?''
Mereka berniat membunuhku dan memakan dagingku?
Jadi itulah yang dimaksut Nona sistem bahwa mereka memancarkan hawa membunuh.
Kurasa Aku terlalu naïf menganggap bahwa mereka memiliki akal yang normal.
Mendengar pernyataan mereka yang hendak memakanku aku mengeluarkan pedangku.
Mencoba bernegosiasi dengan makhluk tak berakal seperti mereka itu percuma.
Waspada. Aku mengamati mereka berdua dan menyiapkan kuda-kuda ku.
Dikanan Seorang Orc berbadan besar dengan hanya berpakaian yang menutupi bagian bawahnya sedang membawa gada yang sepertinya terbuat dari kayu keras.
Disampingnya memiliki penampilan sama namun dengan ukuran lebih kecil, ada orc yang sedang membawa pedang besar berselimut seperti petir kecil.
'' Ghughughu kau pikir senjata kecil seperti itu dapat melukai kita? Aku yang akan menghadapinya! Lihat bagaimana kakakmu ini bertarung! Akan kuremukkan tulangnya. Setelah itu, kau potong dia untuk kita makan bersama!"
Orc yang besar tersebut berkata dengan sombongnya setelah melihatku mengeluarkan pedangku.
" Tidak! Lebih baik aku saja yang mengahadapinya bukankah dia menggunakan senjata yang sama denganku? Aku ingin berlatih menggunakan senjata ini. Lagipula tikus sepertinya tidak pantas menghadapi kekuatanmu. Biar Aku saja yang mengurusnya!"
Orc yang lebih kecil mengatakan hal demikian sembari mengacungkan pedang silvernya yang memiliki panjang kira-kira 1 setengah meter kapadaku. Walaupun lebih kecil tapi dia tetap saja lebih besar dan lebih tinggi dariku. Lalu,
“ Senjata nya hampir sama denganku? Hei! Apa kau begitu bodoh? Jelas-jelas ukuran senjata kita berbeda. Senjatamu lebih besar dari punyaku!! Lagian apa-apaan petir yang menyelimuti pedang itu!? ”
Sial! Pedangnya berbahaya! Aku harus lebih berhati-hati!
“ Kalau begitu hadapilah dia!"
“ Akan kucincang tikus itu menjadi lembut.”
Orc itu mulai berjalan mendekat ke arahku.
.
.
Ini benar-benar gawat!
__ADS_1
Tapi tunggu dulu.
Latihan... Latihan... Latihan!
Dia bilang dia sedang latihan bukan? Kalau dapat kuasumsikan dia belum tentu bisa menggunakan senjatanya itu kan?
Jadi ada! Kesempatanku menang adalah ada.
Tersenyum, Aku benar-benar memancarkan senyum saat ini.
Setelah berulang kali bertarung dengan hewan tak masuk akal dihutan ini dan melihat skill berpedangku sudah mencapai level 2, Aku benar-benar percaya diri kali ini. Dengan itu pun kemudian aku berkata,
"Sistem! Aktifkan auto battleku!"
[Jawaban: Auto battle diaktifkan. Pertanyaan, apakah Anda sekalian ingin mengaktifkan skill Learn, Master?]
"Ya"
[Sistem Learn Diaktifkan. Menganalisi dan mempelajari pola pergerakan musuh.]
Terkejut atau tidak menyangka jika Aku akan seberani itu dengan langsung menyerangnya, dengan tergesa-gesa orc itu segera mengayunkan pedangnya.
Serangan itu terkesan tergesa-gesa dan hanya mengandalkan kekuatan murni semata, maka dengan mudah Aku menghindar dengan memiringkan badan dan melompat kecil ke kanan.
Memperbaiki pijakanku, kemudian Aku melompat melucur ke arahnya dan menyayat pinggul kanannya.
Aliran darah berwarna hijau keluar dari luka bekas sayatanku itu.
Tanpa membuang waktu aku juga berbalik kemudian kembali menebas bagian belakangnya .
"Ghaaaaa"
Menghiraukan luka yang aku berikan kepadanya, Orc itu berbalik dan langsung menyerangku.
Tinggg
__ADS_1
Pedang kami saling berbenturan.
Sial. Tanganku kesemutan gara-gara getaran yang dihasilkan dari pedang kami.
Kuat. Kekuatan murni dari orc ini tidaklah bisa dianggap main-main. Segera Aku melompat ke belakang menjaga jarak darinya.
Kesal karena Aku berhasil menghindar dan menahan serangannya, dengan marah dia berusaha menyerangku lagi dan lagi.
Aku tidak ingin lagi beradu kekuatan dengannya karena kemungkinan terbesar adalah Aku akan dirugikan.
Sebisa mungkin Aku berusaha menghindar serangannya dan meminimalisir perkenaan pedang kami.
Memanfaatkan tubuhku yang lebih kecil darinya, Aku terus berusaha bertahan dan menghindar sembari mencari celah pertahanannya.
[Skill Learn: Pola serangan musuh telah berhasil dipelajari. Menyiapkan tindakan balasan]
Benar apa yang diucapkan oleh nona sistem itu. kini Aku benar-benar dapat menghindari dan memprediksi kemungkinan-kemungkinan serangan dari lawan di depanku ini.
Saat dia mengayunkan pedangnya Aku melihat celah dan,
Slash...
Mengayunkan pedangku dari bawah ke atas Aku berhasil memotong pergelangan tangan orc ini!
Tangan orc terjatuh melayang di udara beserta pedangnya.
"Ghaaa''
Dengan cepat Aku segera menendang pedangnya yang terjatuh akibat lengannya terpotong itu ke arah kanan jauh, agar orc itu tidak dapat menggunakan senjata itu lagi di tangan satunya.
Mendapati tangannya telah putus, Orc itu sekarang hanya bisa berlutut sembari memegangi pergelangan tangannya. Darah berwarna hijau tua mengalir dan menetes ke bawah.
Sepertinya kemenangan sudah hampir mendekatiku dalam pertarungan saat ini.
Tapi, tiba-tiba Aku melihat bayangan hitam mengarah kepadaku dari kiri dan itu semakin lama semakin gelap.
__ADS_1
Secara reflek dan tergesa Akupun menahan cahaya itu menggunakan pedangku. Tetapi... Aku terpental melayang ke udara.