
Menurut orang yang mengajari Archilles, Archilles itu adalah Orc yang aneh.
Entah kenapa dia memiliki tingkat kepintaran mirip manusia.
Bukan hanya postur tubuh yang lebih kecil dari Orc yang lain, namun Archilles memiliki seseuatu yang dimiliki manusia juga, yaitu rasa haus akan pengetahuan.
Umumnya para Orc tidak tertarik dengan hal merepotkan seperti membaca dan pengetahuan.
Mereka hanya memikirkan tentang kekuatan serta makanan.
Semakin kau kuat semakin tinggi pula hak mu didalam suku. Itulah yang mendasari itu. Tapi, Archiles adalah bentuk penyimpangan dari semua itu.
Hanya dalam kurun waktu sekitar 2 bulan Archilles dapat membaca huruf-huruf dibuku.
Dari buku-buku inilah Archilles mengetahui gambaran dunia luar dan bagaimana cara manusia berkomunikasi.
Karna buku itu mayoritas adalah buku cerita tentang kerajaan maka Archilles banyak belajar secara otodidak bagaimana berbicara Antara Tuan dan bawahan.
Namun malang, umur manusia yang mengajarkan Archilles itu tidaklah panjang.
Manusia itu menderita sakit keras setelah itu.
Archilles yang tidak tahu akan penyakit dan obat tidak dapat berbuat banyak.
Bertepatan dengan saat-saat terakhirnya dia mengucapkan sebuah pesan,
" Sebenarnya aku sudah pasrah akan nasibku yang mati kelaparan atau dimakan Orc disini. Tapi disatu sisi aku teringat oleh seseorang yang sangat berharga, yang membuatku tidak bisa menyerah begitu saja." Dengan berlinang air mata serta tangan gemetar seorang pria tua yang mengajari Archilles membaca selama dua bulan ini berucap.
"Tuan? Apakah ada yang bisa saya lakukan? Tuan telah mau mengajari saya membaca dan banyak hal. Apakah Tuan mau kabur dari sini? Saya akan membantu sebisa mungkin."
"Kau tahu bahwa kau tidak akan bisa melakukan itu bukan. Lagipula sepertinya Sang Dewi sudah memberikan jawabannya untuk- *uhuk*"
Dia terbatuk darah.
__ADS_1
" T-Tuan? Anda tidak apa-apa? T-Tubuh Anda panas!! A..pa yang dapat saya lakukan Tuan?!"
"Saat itu saya panik Tuan, saat saya menyentuh tubuh orang itu dibalik penjara tubuhnya panas sekali ditambah tubuhnya gemetar dan terbatuk darah. saya tidak tahu harus berbuat apa. S-Saat saya panik itu dengan isyarat tangan (✋) bergematarnya dia menghentikan saya dan melanjutkan, " Archiles menerangkan kepadaku keadaan saat itu.
"A-Aku ada permintaan... Terakhir. J-jika kau ada kesempatan, tolong pergilah ke selatan! Disana ada sebuah desa dengan kincir air di pinggir desa itu. Tolong berikan ini kepada Seorang gadis yang tinggal disana. M.. Mungkin beberapa hari lagi aku sudah akan pergi. J-Jadi aku mohon pada..*uhuk-uhuk*"
Setelah itu, pria tua itu tidak sadarkan diri.
Badannya panas dan dia terus-menerus batuk darah. Archilles yang tidak tau apa yang harus dilakukan tidak mampu berbuat banyak.
Kemudian, sehari setelah itu dia menghembuskan nafas terakhirnya.
Setelah 2 minggu berlalu dari kematian orang yang mengajarinya membaca itu, ada sebuah peristiwa yang cukup menggemparkan.
Dari sebuah suku yang menjadi saingan suku milik Archilles ada Orc yang memproklamirkan dirinya sebagai Orc Lord.
Pernyataan itu bukanlah pernyataan sembarangan. Terbukti dia berhasil menyatukan ke 8 suku Orc yang ada disana termasuk suku archilles sendiri. Setelah penyatuan itu, Agresi Orc ke Elf dimulai.
.
.
.
Begitulah cerita yang dipaparkan oleh Archilles. Tapi, ada yang membuatku penasaran,
'' Apa yang diberikan orang itu? Dia menyuruhmu ke selatan? Apakah gadis itu istrinya?"
Archilles merogoh sesuatu dibalik celananya.
" Ini Tuan."
Dia memunjukanku sebuah kertas dan boneka kayu, seperti sebuah jimat?
__ADS_1
Bagaimana dia dapat menyembunyikan sesuatu dibalik celana kotornya itu? Itu terbuat dari kulit hewan bukan, lalu apakah dibalik situ ada kantong atau semacamnya?
" Saya juga tidak tahu siapa gadis yang dimaksudkan itu karna setelah itu dia tidak sadarkan diri dan badannya berubah jadi panas." Archiles melanjutkan.
" Kalau begitu kau harus mengantarkan surat itu! Itu merupakan sesuatu yang amat penting kan, jangan sampai mengecewakan gurumu itu.."
Archilles mengangguk.
"...Aku akan mengantarmu."
"Maaf, Tuan? Lalu bagaimana dengan tujuan Tuan sendiri? Bukankah Tuan akan ke tenggara?"
" Menurutku itu dapat ditunda. Lagipula, bukankah Gadis yang dimaksut oleh orang itu sedang menunggu? Membuat seorang gadis menunggu bukanlah hal yang baik kan?"
Aku bercanda kepada Archiles, tapi sebagai balasan raut wajah archilles malah menunjukan muka yang serius.
" Saya mengerti Tuan. Terima kasih."
Kupikir memang selera humor ku dari dulu tetap terasa payah ya. Yasudahlah.
" Sepertinya sudah larut. Siapa yang akan berjaga duluan? Aku atau kau?"
"Tuan, Tenang saja. Biar saya saja yang berjaga. Anda bisa tidur."
"Apa benar tidak apa-apa? Kita bisa bergantian kalau kau mau."
"Tidak apa. Saya akan mempertaruhkan diri saya untuk melindungi Tuan sepanjang malam." Archilles bersikeras.
"Okelah. Aku tidur duluan ya."
'' iya, Tuan."
Setelah mendengar jawaban itu aku mulai memejamkan mataku.
__ADS_1