Tentara Malaikat: Sisi Gelap

Tentara Malaikat: Sisi Gelap
Senjata Paling Menyebalkan


__ADS_3

" .. Apakah kau masih suci?"


Merespon, dia membelakan matanya.


Sepertinya ketakutannya semakin menjadi-jadi dan dia kini mulai berkaca-kaca.


" Em.. Em.. Emm.."


Dia menatapku dengan mata iba dan berusaha mengatakan sesuatu.


" Apa?! "


" Em.. Em.."


Ini benar-benar menyebalkan. Semoga saja dia tidak berbuat bodoh lagi.


" Dengar ya! Aku akan memberimu kesempatan satu kali ini! Aku akan membuka ikatan dimulutmu itu! Bicaralah. Namun, Awas saja jika kau macam-macam!! Paham? "


" Heem" Dia menganggukan kepalanya.


Aku mulai membuka ikatannya.


" Puah.."


" Sekarang bicaralah! Kuberi kau 2 menit! "


" T-Tuan.. Kumohom jangan lakukan itu. A-Aku adalah anak Raja. Aku pastilah berharga bukan? Jadikan saja aku tawananmu! Tolong jangan lakukan itu!"


Bukannya dia tadi bilang untuk menyiksanya?


" Terus kenapa kalau kau anak raja? Mana mungkin anak raja akan berdiri digaris depan seperti itu!! Apa kau pikir aku bodoh!!"


" Percayalah, Tuan!! Saya memang anak seorang Raja! Saya tidak berbohong! "


" Terserahlah. Lagipula. Seperti yang kukatakan, memang kenapa kalau kau anak raja?"


Dia seakan tidak percaya akan apa yang kukatakan. Dengan putus asa dia kembali mencoba memohon kepadaku.


" Anda bisa menggunakan saya untuk bernegosiasi. S-saya mohon! Jangan lakukan itu... hiks..."


Ah, sial. Dia menangis.


" Kau pikir aku akan berhenti karna kau menangis? Hentikanlah!! "


" Huaaa... Ampuni sayaaa Hiks "


Bukannya berhenti karna ancamanku, dia malah semakin keras menangis.


Ada apa dengan cewek sialan ini. Apakah dia hanya pura-pura? Tapi tetap saja.


" Ah sudahlah. Kau menghancurkan moodku. Archiles!!"


" Ya, Tuan?"


" Ikat dia dipohon itu. Biarkanku berpikir sebentar."


" Baik."


Apa yang harus kulakukan dengan cewek sialan itu?

__ADS_1


Meninggalkannya disini sama saja membiarkan dia mati.


Melepaskannya? Itu sama saja. Ada kemungkinan dia bertemu dengan makluk orc itu lagi. Percuma dong aku menyelamatkan dia?


Lagian. Apa-apa hasrat Ingin melindunginya ini? Kenapa rasa marahku hilang begitu saja saat melihatnya?


Apakah karna dia cantik? Tidak. Harusnya aku tidak mudah tergoda akan hal seperti itu.


Ah. Apa-apaan ini!!


Aku menggaruk kepalaku padahal tidak gatal.


"Ini menyebalkan."


Berbalik. Aku telah memutuskan.


" Archilles!! Bersihkan bekas abu itu!! Bersiap, kita berangkat sebentar lagi!!"


" Baik, Tuan. Lalu.." Dia melirik ke arah wanita yang terikat dipohon itu.


" Kita bawa dia! Sudah. Cepat bereskan semua ini! "


" Baik."


Menunggu Archilles melakukan perintahku.


Aku menghampiri wanita itu. Dan duduk didepannya. Dia masih sesengukan dan memandangku dengan mata berair. Daripada itu, sepertinya dia kembali katakutan karna tiba-tiba aku mendekat padanya.


" Kau mau? "


Aku menyodorkan daging kelinci kepadanya.


"..."


"..."


Melihat dirinya seperti ini, seperti melihat diriku sewaktu kecil. Hadeh.


" Baiklah!"


Aku menggerakan tangan kiri ku seolah akan menamparnya. Dia menoleh dan memejamkan matanya. Mengetahui bahwa tidak ada yang terjadi dia kemudian membuka matanya.


" Ctak "


Aku menyentilnya tepat dijidatnya.


"Jangan cengeng!! Jika kau masih tidak mau menjawabnya, aku akan terus-menerus melakukan ini!!"


" Masih tidak mau makan? "


"..."


Ctak.


" Masih tidak mau?"


Ctak... Ctak... Ctak..


'' Hentikan!!! Apa-apaan kau ini!! Apa kau ini tidak punya kehormatan menyerang gadis tidak berdaya sepertiku?!"

__ADS_1


" Bodo amat. Masih tidak mau?"


" Hentikan!!.*Ctak*.. Au.. Kenapa kau lakukan ini?"


" Agar kau mau makan."


" Kenapa kau sangat ingin aku memakan itu?.. A-Aku tau!! R-Racun! Benar! Itu pasti berac- Ctak... H-Hentikan Tuan. Aku mohon! Tidak kau lihat jidatku sudah banyak benjolan seperti ini. "


" Hadeh. Coba aku tanya, kenapa aku harus meracunimu? Bukankah akan lebih mudah jika langsung menggunakan pedang? Menurutmu, untuk apa aku menyelamatkan mu? Jika kau masih tidak percaya. Nih lihat! Aku akan memakan ini."


Aku memakan salah satu daging yang kupilih acak dari sekian daging yang telah kupotong.


"Lihat? Sekarang makan!! Awas saja jika kau berani-berani mengigit jariku!"


Dengan ragu, akhirnya dia mau memakan daging yang kusodorkan kepadanya.


Perlahan ekspresinya berubah. Selesai menelan daging itu, dia membuka mulutnya lagi dengan mata yang seolah enggan menatapku.


Lah, nagih.


Aku menyuapinya daging kelinci yang telah kusediakan sebagai bekal ini. Dengan lahap dia memakannya.


Karena pembicaraan racun tadi, aku jadi teringat.


" Bukankah aku memiliki kekebalan akan racun? "


Mendengar ini, tiba-tiba dia berhenti mengunyah lalu menatapku.


" Eh? Tenanglah! Aku beneran tidak meracuni mu! Aku serius!"


" Beneran?"


" Apakah kau merasakan ada racun disitu?"


Dia mengeleng pelan.


" Yasudah!! Lanjutin makanmu! Kita akan segera berangkat."


Dia melanjutkan makannya.


" Kita? Kau hendak membawaku kemana? Kau beneran menjadikanku tawananmu?"


"Entah. Kau mau aku meninggalkanmu disini? "


"..." Dia tidak menjawab dan seperti sedang berfikir.


''Tuan! Saya telah selesai. Kapan kita berangkat?" Dengan tombak terikat dibelakang, dia memberikan laporan padaku.


" Kita berangkat sekarang!"


Aku bergegas melepaskan tali yang mengikat Elf itu dipohon. Mengangkat dia, aku menbopong Elf itu.


" Aw.. Apa yang kau lakukan?"


" Kau pikir aku akan lengah dan melepaskan ikatanmu? Lagipula, jika kau harus di panggul bukankah akan percuma aku memberimu makan tadi kalau hanya untuk dikeluarkan? Sudah, diam saja!"


Namun, tidak kusangka jika wanita ini begitu ringan. Berat ini bahkan lebih ringan dari tas perang yang biasanya kubawa.


" Archiles. Bawa pedangku dan bekal kita itu! Kita berangkat ke selatan."

__ADS_1


" Baik."


__ADS_2