Tentara Malaikat: Sisi Gelap

Tentara Malaikat: Sisi Gelap
Tertangkap


__ADS_3

Dua di depan, delapan belas di atap, lima belas di atas benteng di belakang. Aku telah terkepung dan terbidik oleh 35 Elves.


Aku memang mengira keadaan akan jadi sedikit kacau. Tapi, aku tidak mengira jika akan separah ini.


Aku yang membawa Putri dari kerajaan ini kembali ke kerajaan setelah menghilang beberapa waktu, bukankah akan dianggap pahlawan?


Terlebih setelah para Elves ini menjelaskan perihal kejadian sebenarnya. Harusnya mereka dapat menerimaku.


Walaupun disisi lain keberadaan manusia dikerajaan ini tersendiri akan dianggap sangat jarang bahkan bisa pula dianggap adalah seorang penculik yang berusaha meminta tebusan ataupun mata-mata.


Tapi alasan kedua itu terlalu lemah. Lantas kenapa mereka mengepung seperti ini?


Aku tidak dapat menemukan jawaban yang cocok. Namun, sesuatu yang pasti adalah menghadapi mereka semua pasti akan sangat merepotkan.


Terutama melawan para Elves yang berada di atas gerbang dan atap rumah secara bersamaan. Sudah barang pasti kemungkinan aku tidak akan sanggup.


Disaat seperti ini aku teringat akan penuturan Theo tentang kemampuan para Prajurit Elves.


Konon para Elves itu mayoritas sangat ahli dalam senjata panah. Bahkan Theo Sendiri yang merupakan seorang pemanah yang ahli berkata jika kemampuannya tidaklah seberapa dari seorang prajurit veteran milik kerajaan Elves.


Dan kini mereka ada lebih dari 30 orang dan terus bertambah?


Sial. Kenapa bisa jadi seperti ini sih!


Setelah menimbang beberapa hal, aku akhirnya mengendorkan pegangan pedang dan mengangkat tangan sebagai tanda menyerah.


Aku tidak tahu apakah ini adalah keputusan bijak. Aku hanya berharap mereka tidak langsung melepaskan anak panah begitu aku melakukan ini. Sehingga mataku tetap berusaha awas untuk melihat berbagai respon mereka sekecil apapun.


Merespon hal itu, salah satu Elves yang mengepungku maju dan mengambil pedang dipinggang ku kemudian mengikat tanganku tanpa perlawanan.


Aku sedikit bernafas lega, walaupun dengan begini aku sudah pasti menjadi semakin tidak berdaya.


" Aku bilang apa yang kalian lakukan!! Kenapa kalian melakukan ini?! "


Dibandingkan dengan diriku yang langsung pasrah dan tidak melakukan perlawanan sedikitpun, Siena yang melihatku pasrah langsung merespon dengan membentak dan berusaha menarik tangan yang kini tengah mengikatku.


" Maaf, Putri. Kami hanya menjalankan perintah. "


" Perintah? Perintah siapa?! Lepaskan Fer!! Cepat lepaskan!!"


Siena yang tak sabar, kembali menyerang prajurit yang tengah mengikatku walau akhirnya dia di tahan oleh Ferita dan Tertris

__ADS_1


" Tenangkan diri Anda, Nona! Mohon anda tenang dulu. Beberapa di antara mereka ini adalah Rotbaum, Nona! Yang mana itu berarti... "


" Benar! Mereka ini mendapatkan perintah langsung dari Raja! "


Seorang laki-laki tiba-tiba muncul dan memotong ucapan Ferita.


Laki-laki itu memiliki perawakan seperti pemuda berusia 25 tahunan. Dengan rambut hitam pendek dia memilki perawakan yang tampan dan berwibawa.


Telinga runcing namun tidak sepanjang telinga Elves pada umumnya berada disamping kanan dan kiri.


Ada dua bilah pedang disamping kanan dan kiri pinggangnya yang memiliki sarung yang indah berwarna biru dan merah.


Sebuah busur dan tempat anak panah berada dalam gendongan punggungnya.


Mengenakan Armor besi indah berwarna silver, dia terus mendekat dengan suara gemericik besi yang berderit dari armor itu.


Melihat sosok itu mendekat sontak Siena membelakan matanya.


" Kakak?! Kenapa kak? "


Sosok itu tetap berjalan dengan santai menatap balik kepada Siena.


" Bukankah kau sudah tahu bahwa para manusia dilarang memasuki kerajaan kita? Apakah kau melupakan itu wahai adikku? Ini adalah perintah Ayah. Jangan berbuat hal yang bodoh! " Ucapnya santai namun dengan nada kasar.


" Ini pasti ada kesalahan. Aku akan berbicara dengan Ayah!.. Minggir! "


Langkah Siena dihalangi dengan acungan pedang dari salah satu prajurit.


" Biarkan dia! "


Menuruti perintah orang itu, prajurit yang sebelumnya menghadang Siena membiarkan Siena untuk berjalan melewatinya.


Aku hanya dapat terdiam sedih ketika Siena pergi meninggalkanku. Pasti gadis emosian itu tidak berfikir sama sekali.


" Baiklah manusia. Ayo kita pergi! "


Ucapan pelan dan datar pangeran membangunkanku dari lamunan.


Dengan Pangeran itu yang menjadi paling depan, aku dibawa berjalan dengan kawalan tujuh orang.


" Jika Anda berkenan, bisakah anda menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, paduka pangeran? "

__ADS_1


Aku berusaha bertanya kepada Pangeran yang berjalan di depanku walaupun aku tahu kemungkinan dia akan menjawab itu kecil.


" Bukankah sudah kukatakan bahwa manusia tidak boleh memasuki hutan ini? Manusia. Tidakkah kau ingat hukum yang disepakati oleh pemimpinmu dan kami? "


Hah? Hukum apa? Mana tahu aku hukum begitu. Bahkan Fenrid tidak memberitahuku tentang hal ini.


" Maafkan saya, saya tidak mengetahui tentang hukum tersebut. Saya hanya ingin mengantarkan Putri dari negara ini kembali dengan selamat. Hanya itu. "


Tiba-tiba pangeran itu berhenti yang membuat kami semua mengikutinya.


" Kau bisa menjelaskan itu semua nanti. Sekarang tutup mulutmu atau aku yang akan mengeksekusi disini!"


Sang pangeran kembali mengucapkan kata-kata pedasnya dengan datar seolah itu adalah hal biasa.


Tanpa menunggu jawabanku kemudian pangeran itu melanjutkan berjalan.


Walaupun diucapkan dalam nada datar seperti itu, ancamannya terdengar serius.


Sial. Terlambat untuk menyesali semua ini.


Terus berjalan menuju ke bagian paling dalam semakin banyak orang-orang yang ada di jalanan.


Mereka menatap ke arahku dengan tatapan yang kosong dan tidak sedikit juga yang mengabaikan diriku walaupun masih mempunyai kesadaran untuk membuka jalan. Kemungkinan besar, mereka adalah pengungsi. Aku sangat yakin ini.


Bergerak semakin ke dalam, semakin sedikit juga jumlah orang-orang yang seperti tadi.


Namun sebagai gantinya, tatapan kosong itu berubah menjadi tatapan jijik dan memandang rendah.


Bisikan hinaan santer terdengar samar ditelingaku dari beberapa Elf yang bergunjing.


Lain dariku, untaian pujian dan sorakan mengalun kepada orang yang berjalan paling depan. Siapa lagi jika bukan sang Pangeran yang berjalan tegap sembari memegang kedua gagang pedang dipinggang seolah dia adalah orang yang berhasil menaklukanku.


Berjalan ke arah yang berlainan dengan istana besar, aku tidak tahu akan dibawah kemana.


" Mau dibawa kemanakah saya? "


" Penjara. Sampai yang mulia memutuskan hukuman buatmu, Kami akan mengurungmu dipenjara, " Ujar pengawal disebelah kiri yang memegang tali yang terhubung denganku.


Melihat bahwa salah satu anak buahnya mau menjawab pertanyaanku, sang pangeran melirik dengan sorotan tajam seolah tidak suka ke arah pengawal itu.


Pengawal itu langsung menyadari dan kini semua pengawal diam seribu kata.

__ADS_1


Aku hanya bisa terus berjalan dalam diam mengikuti perintah mereka karena kutahu bahwa mengajak mereka berbicara adalah percuma untuk selanjutnya.


__ADS_2