
Setelah menjalani satu bulan pembentukan dan persiapan perang, mulai hari ini aku akan ditugaskan untuk terjun langsung ke medan perang.
Aku begitu bersemangat dalam upaya untuk membela negaraku ini. Tidak akan kubiarkan sejengkal tanah di negeriku ini dikuasai oleh para pengkhianat itu!
Api telah mengelegar dalam hatiku. Tubuhku bagaikan sebuah pedang yang benar-benar serius kuasah dalam sebulan ini.
Aku bergabung dan dijadikan wakil komandan di peleton ke-8 dengan jumlah anggota 40 orang.
Peleton kami adalah peleton terakhir yang di kirim ke medan perang.
Perang ini adalah perang melawan pemberontak yang berusaha memberontak melawan negara.
Entah apa motivasi mereka untuk memisahkan diri dari negeri yang telah membawa kedamaian untuk semua orang ini.
Tapi dari informasi yang telah ku peroleh, sepertinya ini adalah upaya revolusi.
Sebuah provinsi yang terletak di perbatasan kami sekarang tengah berada dalam kemajuan yang besar akibat adanya tambang yang ada di pegunungan bagian timur dari negeri kami.
Namun lebih dari itu, menurut informasi dari intelegent yang telah kami peroleh, ada pihak ketiga yang menginginkan peperangan ini terjadi. Disinyalir memberikan bantuan untuk persenjataan para pemberontak. Meskipun info ini telah diperoleh kami. Dengan tegas, negara itu membantah hal ini. Meskipun perang belum dinyatakan antara kedua negara kami, namun perang dingin telah terjadi di tengah panasnya peperangan yang kami lakukan.
Apapun alasan akan hal itu, ini tetaplah konyol! Terlebih alasan konyol yang dikemukakan oleh para pemberontak itu.
Hanya karna menemukan tambang emas, segelintir orang memutuskan untuk memonopoli dan menciptakan negeri sendiri ? Betapa bodohnya.
Cukup untuk pendapatku. Kita kembali kepada permasalahan ini.
Awalnya pemerintah kami tidak terlalu mengambil pusing akan masalah pemberontakan ini dan terkesan meremehkan. Namun, setelah beberapa informasi dari intel didapatkan, mereka mulai menanggapi peperangan ini dengan lebih serius.
Perintah untuk menangani pemberontak segera diterbitkan. Menanggapi hal itu, militer segera mengirimkan 3 kompi sekaligus dengan 8 peleton. Total ada; 400 pasukan, 10 unit tank, serta berbagai senjata artileri dan unit berat lainnya.
Meskipun terkesan terlambat, nyatanya pihak militer berhasil mendorong mundur pasukan pemberontak dari kota masuk ke dalam hutan.
Kembali ke saat ini. Turun dari kendaraan truk pengakut, kakiku mendarat di tanah berlumpur.
Suasana di sini terasa begitu berbeda dengan suasana yang pernah aku alami sebelumnya. Jadi ini adalah medan perang.
Begitu banyak orang tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Namun pandanganku sejenak terfokus pada suatu hal. Sebuah truk berhenti untuk menurunkan barang muatannya.
Dan kau tahu apa itu? Itu adalah mayat. Begitu banyak mayat saling bertumpukan di belakang truk itu. Selain dari itu, yang menambah kengerian adalah kenyataan bahwa mayat itu masih berlumuran darah dengan organ yang tidak utuh lagi ataupun terburai keluar.
Melihat itu perutku terasa bergejolak dan aku merasa mual.
Walaupun demikian, aku tidak boleh menunjukkan suatu hal yang memalukan seperti muntah!
Sebisa mungkin aku tahan perasaan mual ini dan mengalihkan pandanganku ke arah berlainan.
Walaupun aku tidak ingin memikirkannya, tapi secara naluriah otakku berfikir sendiri.
Apakah aku akan menjadi salah satu dari mereka sebentar lagi?
Tidak-tidak. Aku tidak boleh berpikir seperti itu. Terlebih dengan jabatan yang kupangku sekarang. Aku tidak boleh gentar.
Walaupun aku berusaha meyakinkan diriku sendiri seperti itu. Tapi tetap saja. Dengan pemandangan mayat-mayat dan orang-orang yang terluka di kamp ini membuat rasa takut mau tidak mau mulai agak menyurutkan tekadku yang sudah membara.
__ADS_1
•••
Duduk di bangku kayu yang keras di depan tenda, aku merenung di depan api unggun.
Apakah ini adalah keputusan yang salah?
"Hei Peltu? Tidak bisa tidur?"
Dari arah belakang seorang pria dengan suara beratnya, membangun aku dari lamunan. Aku cukup familiar dengan suara ini.
( Note: Peltu\= Pembantu Letnan Satu. )
" Ah. Iya, Komandan. Anda juga? "
Dia yang baru saja menyapaku sembari membawa minuman panas adalah komandan kami, Kapten Vince Leordisky.
Dengan perawakan yang tinggi tegap serta muka berwibawa dia sangatlah cocok menjadi komandan peleton kami.
Secara pribadi dia adalah orang yang mudah diajak bicara. Namun, kau tidak akan mendapati hal itu apabila sedang berada di lapangan. Ucapannya yang terasa ramah itu akan berganti dengan cacian serta hinaan dan nada keras lainnya. Itu bukan semacam kepribadian ganda atau apapun, namun itu adalah suatu sikap profesional dimana kau bisa menempatkan dirimu sebagaimana tempat berada. Aku banyak belajar darinya selama satu bulan ini.
" Tidak. Setelah menghabiskan minuman ini aku akan tidur. Apakah ada yang kau pikirkan? Ada yang tidak kau pahami dari brifing tadi? "
" Bukan, Pak. Saya sudah memahami tentang rancangan rencana penyerangan besok. "
Aku agak ragu untuk mengatakan ini. Terlebih ini akan memalukan dengan suatu pekerjaanku sekarang.
" Lantas? Apakah karna suara artileri itu? "
Kapten vince kembali bertanya untuk memastikan.
Karena besok pagi-pagi buta kami akan melakukan serangan fajar, jadi pemborbadiran akan dilakukan sepanjang malam. Itulah salah satu info yang aku dapatkan dari brifing strategi tadi.
Kalau boleh dibilang, memang suara dari artileri itu cukup memekakkan telinga walaupun jarak kami dengan mereka lumayan jauh. Namun, bukan itu yang aku khawatirkan, lebih ke faktor lain.
" Ya. Serta beberapa faktor lain. Ini mungkin sedikit memalukan, namun jujur saya merasa gugup saat ini. ''
" Oh begitu. Meskipun nilaimu sangat baik di pelatihan kemarin, wajar jika kau gugup dihari pertama. "
" Benar, komandan. Apakah anda tidak begitu? "
Selepas menyeruput minuman panasnya, komandan berbicara dengan nada lirih.
" Aku kah? Yah. Ini juga pertama kalinya untukku. Jadi, tidak mungkin kalau aku mengatakan bahwa aku tidak gugup. "
" Anda? Orang seperti anda? "
Tanpa menjawab pertanyaanku, beliau memilih untuk melanjutkan.
" Namun. Aku tidak akan ragu sedikitpun saat sudah berada di medan perang. Karena dengan setitik keraguan di hatiku saja ada kemungkinan akan membawa kalian menemui ajal. Inilah tugas seorang pemimpin dan tanggung jawab yang kupegang. Jangan lupa! Kau adalah wakilku, jadi kau juga harus berbagi tanggung jawab denganku! Benar bukan? "
Aku benar-benar meresapi apa yang dikatakan kapten. Benar juga. Mereka itu adalah musuhku.
Untuk apa aku kasihan pada mereka?
__ADS_1
Terlebih, tanggung jawab nyawa 38 orang dan satu negara ada dipundak kami. Benar yang dikatakan kapten Vince, tidak boleh ada satupun keraguan dihati prajurit.
" Benar. Anda benar! Saya hampir melupakan semua itu. Terima kasih kapten. Dengan ini keraguan dihati saya telah sirna!"
"Bagus-bagus. Tapi tetap fokus dan jangan kendurkan kewaspadaanmu! Besok kita akan memberi pelajaran kepada para pemberontak itu pagi-pagi buta! Jadi, tidurlah! Tidak ada penolakan. Ini perintah! "
" Baik, Pak! "
Menuruti raut wajah serius yang diperlihatkannya, akupun memutuskan untuk segera beranjak ke tendaku. Sementara komandan masih saja melihat peta untuk mengetahui pemetaan lokasi yang akan kami gunakan untuk bertempur.
Raut wajahnya agak menunjukan wajah bermasalah sejenak. Namun, aku tidak ingin menganggunya.
•••
Udara masih terasa dingin di dalam hutan ini, terlebih hutan ini adalah hutan yang masuk area pegunungan.
Selain dingin, suasana sekitar juga masih terlihat gelap. Selain karna ini masih jam 4 pagi, kabut dan debu bekas hujan artileri semalam juga menambah kengerian suasana sekitar.
Pepohonan sebagian besar telah hancur dan terbakar karena serangan artileri semalam, meninggalkan lubang serta mayat dimana-mana.
Dengan senapan serbu di tanganku, serta tanpa mengendurkan kewaspadaan, kami terus berjalan perlahan.
Udara disini tipis sekali.
Terlebih, ini bau sekali!
Meskipun aku telah mengenakan masker gas guna menghindari akan adanya gas beracun akibat bekas artileri, namun selain dari gas beracun itu masker ini tetap tidak bisa menyaring bau-bau yang ada disini.
Sehingga walaupun racun dari bahan peledak dapat diatasi, tapi bau busuk dan gosong tetaplah memenuhi hidungku.
Untuk bernapas saja sudah susah karena disini adalah pegunungan yang udaranya tipis. Ini ditambah harus menghirup aroma busuk ini?
Sial. Kenapa harus melalui rute ini sih?
Ini benar-benar menjijikan dan membuat perut serta tenggorokanku bergejolak.
Sebisa mungkin aku menahan diri untuk tidak muntah sama seperti kawan-kawanku yang lain.
Kenapa kami harus tidak muntah? Alasanya banyak.
Salah satu alasannya sederhananya adalah kami harus berjalan dengan senyap dan serapi mungkin agar musuh tidak tau keberadaan kami.
Tentu saja dengan muntah, kesunyiaan itu akan pudar dan ada kemungkinan juga kami akan bersuara saat memutahkan isi perut. Jadi, kami sebisa mungkin menahannya.
Sepanjang perjalanan ini, entah sudah berapa mayat dan organ tubuh berbelatung yang sudah kuinjak.
Dengan kacamata malam ini tentu saja aku dapat dengan mudah melihat mayat-mayat di depanku. Tapi, aku tidak pernah melihat mayat di bawah, karna itu benar-benar membuatku jijik.
Selain itu, dengan melihat ke bawah kemungkinan untuk muntah adalah tidak tertahankan, sehingga aku lebih memilih menghiraukannya.
" Sebentar lagi kita sampai dilokasi musuh! Bersiap menyebar!" Itulah tanda yang diberikan komandan dengan tanganya.
Kamipun mulai menyebar akan mengambil posisi. Namun, sebelum kami dapat melakukan itu dari sisi depan kami.
__ADS_1
♪ Dor dor dor ♪
Kami dihujani berondongan peluru tanpa henti dari depan!