Tentara Malaikat: Sisi Gelap

Tentara Malaikat: Sisi Gelap
Tanpa peringatan


__ADS_3

Pandangan kami berdua seolah bertemu.


Dengan bergetar bibir merona dari gadis itu berusaha mengucapkan sesuatu.


''Bi-Bitte helfen..."


" (To-Tolong)''


Dia mengucapkan secara lirih tanpa tenaga


bahkan hampir tak terdengar suaranya.


Aku tidak mengerti apa yang dikatakannya.


Bahasa apa yang dia pakai barusan?


Tetapi melihat keadaannya sepertinya dia meminta pertolongan kepadaku.


Ap-Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku ikut konflik yang terjadi antara Orc dan Elf ini? Dua orc dibelakang itu kelihatanya lebih kuat daripada Orc yang pernah kulawan.


"...fen...(pingsan)..."


Sekali lagi gadis itu berusaha mengucapkan itu sebelum akhirnya pingsan.


Melihat situasi saat ini, sepertinya aku tidak punya pilihan. Selain itu, mana mungkin aku akan membiarkan dan menelantarkan sesorang yang butuh bantuan seperti ini. Ini berlainan dengan jiwa prajurit yang ada dalam diriku.


'' Hei. Dengar! Sepertinya aku akan membunuh mereka semua. Kau boleh bergabung dengan mereka dan mati!! Tetapi jika kau masih ingin hidup, berlututlah dan mundur ke belakang!! " Perintahku kepada Orc yang disampingku ini.


Menanggapi itu, dia langsung gemetaran dan bergegas berlutut.

__ADS_1


Sebenarnya jika dia tidak segera berlutut aku akan segera bergegas menebas lehernya. Tetapi sepertinya hal itu tidak diperlukan.


''Bagus. Mundurlah!!''


Melihat Orc disampingku berlutut kepadaku mereka pun terkejut.


'' Hey kenapa kau berlutut?! APA KAU SERORANG PENGH...''


Ucapannya terputus saat aku tiba-tiba menyerang anak buahnya yang paling dekat denganku.


Aku mengaktifkan Auto-battle.


Aku tahu jika para Orc itu tidak ada yang bisa diajak bicara baik-baik terkecuali Orc yang tunduk denganku tadi.


Maka tanpa membuang waktu aku segera menyerang mereka tanpa menunggu reaksi mereka.


Ting... Bukk.. suara benda logam dan tubuh yang jatuh berbarengan.


Tubuh yang tidak berpakaian itu terbelah menjadi dua.


Melalui pertarungan yang telah kujalani sebelumnya aku telah mengetahui kelemahan dari para Orc ini. Memang benar mereka dapat beregenerasi jika mendapatkan luka fisik. Namun sejauh yang kutahu, regenerasi mereka itu ada batasannya. Dan ini lah batasannya. Mereka tidak dapat menyembuhkan diri jika yang mendapatkan luka terbelah itu adalah tubuh utama dan leher mereka.


Terkejut dan panik mereka menjatuhkan senjata dan armor jarahan yang mereka pegang.


Sekarang sisa 3 Orc lagi yang berada di dekatku. 1 di depan berjarak 2-3 meter, 1 di agak serong kanan mungkin 4 meter, sementara yang terakhir berada dijarak 2-4 meter di kiriku.


Mereka tergesa-gesa dalam mengeluarkan senjata mereka.


Tapi terlambat.

__ADS_1


Berlari dengan secepat yang kubisa, aku menyerang Orc yang paling dekat denganku, yaitu di kananku. Tanpa pertahanan Kepala Orc itu dapat kutebas dengan sempurna. Satu kepala mengelinding diatas tanah sementara tubuhnya sendiri roboh mengucurkan darah segar ke tanah.


Kembali, aku segera berlari ke arah kiri. Tepatnya ke arah Orc yang memakai semacam pelindung besi ditubuhnya.


Mendapati aku yang kini berlari dengan sangat cepat ke arahnya, dia melangkah mundur.


Apakah dengan mundur dia berpikir dapat memperbaiki langkahnya? Konyol sekali.


Mengayunkan pedangnya dia mencoba menebasku.


Tingg... Senjata kami berbenturan.


"Tidak buruk." Memperbaiki pijakanku a


ku mendorong pedangnya dan memutar pedangku.


Melesat aku menebas Orc di depanku mengincar lehernya.


Dengan pedang yang telah terpental itu tidak mungkin dia dapat melindungi bagian yang ku incar ini, maka dia berinisiatif untuk menggunakan tangannya yang terbebas.


"Kau pikir itu cukup!!!"


Bersamaan dengan tangannya itu aku berhasil menebas dan memotong lehernya sekalian.


Dia terlalu meremehkan ketajaman pedangku rupanya.


Tiga bagian tubuh terjatuh ke tanah. Darah segar berwarna hijau memuncrat dan mengalir darinya.


Dalam waktu singkat aku berhasil menghabisi 3 orc. Tubuhku dipenuhi cipratan darah Orc.

__ADS_1


Sekarang tinggal Satu lagi.


__ADS_2