
" Dia disana!! Cepat masuk dan tangkap dia!! ''
Aku mendengar suara orang berteriak dari luar saat tengah menuruni tangga.
Tangan kananku kini tengah memegang pedang petirku sementara tangan kiriku memegang pedang kecil mirip belati milik orang yang dikamar tadi.
Tidak perlu waktu lama sampai aku dapat bertemu dengan orang-orang yang menyerang desa ini diruang tamu.
'' Ho. Jadi kalian adalah orang pertama yang cari mati. "
Aku mengejek 3 orang yang masuk ke dalam rumah ini dan sekarang berada di depanku di ruang tamu. Karena ruangan ini sempit mereka tidak bisa maju bersamaan.
" Keparat.. Mati kau!! "
Orang yang memakai kapak meloncat ke arahku dan mengayunkan kapaknya dari atas ke bawah.
Namun yang terjadi, dia malah jatuh menimpa meja kayu dan membuat meja itu hancur.
Tubuhnya tidak dapat bergerak karena pedang telah menembus perutnya.
Memutar pedangku aku kemudian mencabutnya, yang mana itu membuat pendarahan hebat kepada orang berkapak ini.
Tiba-tiba hawa haus darah dapat kurasakan dari sisi kanan dan kiriku.
Dengan cepat aku meloncat mundur dan menghindari ayunan pedang yang hendak menbelahku.
Kedua pedang itu menghantam pria yang ada di bawah dan meninggalkan luka dalam disana.
Pedang mereka cukup tajam untuk menembus besi dan mengoyak daging itu begitu dalam.
Mereka juga tidak segan untuk mengorbankan temannya.
Mereka cukup menjijikan.
Tapi, itu cukup menjadi alasanku untuk tidak segan membunuh mereka.
Aku telah cukup mengetahui level dari kemampuan kalian, jadi aku akan bermain dengan kalian.
•
" Hallo? Apakah kalian tidak ikut masuk? Hanya menyuruh tiga orang itu terlalu meremehkanku loh! "
Aku keluar dengan luka ringan di tubuhku dan darah segar terlihat dibeberapa bagian pakaianku.
Begitu keluar, aku langsung menyapa orang-orang yang sekarang mengelilingi pintu rumah ini.
Ada paling tidak 14 orang dengan 1 orang di belakang sendiri agak memilki penampilan yang berbeda dengan jubah di belakangnya. Sepertinya dia adalah pemimpin dari kelompok ini.
Mereka memiliki senjata yang beraneka ragam tapi hampir semuanya adalah jarak dekat, kecuali 6 pemanah yang sedang membidik ke arahku. 2 di depanku, 4 di sudut masing-masing sisi kanan dan kiri
Dalam jarak segini, apakah aku bisa menghindar ya? Yah. Bodo amat lah.
" Kuakui kalian memang kuat. Tapi sepertinya kalian terlalu meremehkanku. "
Kuatir bahwa anak panah dapat dilepaskan kapan saja, aku segera bergerak ke kiri dengan cepat menghindar setiap anak panah dan menerjang kepada orang yang ada disitu.
Dia berusaha menebasku, namun dengan lincah kuhindari serta langsung kutebas tubuhnya.
Pedangku menyanyat besi yang ada di dadanya meninggalkan luka yang dalam.
Aku beralih untuk menangkis pedang yang ada di kananku.
Pedang kami saling menahan membuat percikan bunga api keluar dari pergesekan kedua pedang kami.
Orang ini agak lebih kuat kurasa.
Orang yang ada di dalam tadi memiliki perbedaan level denganku yang cukup menonjol.
__ADS_1
Aku kini berada dilevel 20. Mereka yang di dalam tadi setidaknya berada dilevel 10-15. Namun perkiraanku bahwa yang diluar sini akan memiliki level yang paling tidak sama, kurasa salah. Setidaknya orang ini mungkin memiliki level di atas 15 atau mungkin bahkan hampir mendekati levelku.
Menggunakan tangan kiriku, aku menusukan belati ke kepalanya dengan cepat. Karena pedangnya adalah pedang dua tangan dia tidak mampu menahan belatiku.
Tidak diberi istirahat, aku langsung berhadapan dengan lima orang yang mengeroyokku.
Aku memang merasa sudah agak kuat karena latihan intensif yang kujalani beberapa hari ini dan pengalaman bertarungku dengan para monster selama ini.
Namun, untuk menghadapi 5 orang sekaligus, aku hanya dapat mati-matian menghindari dan menahan serangan mereka.
Tidak semua serangan dari kelima orang ini dapat kuhindari secara sempurna. Beberapa serangan mengores tubuhku. Namun aku tetap berusaha mencari celah untuk membalas serangan mereka.
Saat aku berhasil mengalahkan satu orang, satu terus menyela dan tidak membiarkanku untuk bernafas.
Mereka cukup lemah saat bertarung satu lawan satu, namun dengan cara bertarung bersamaan begini, mereka cukup membuatku kuwalahan.
Lengah sedikit, aku mendapatkan tendang dari belakang yang membuatku tersungkur ke tanah.
Dengan cepat aku berbalik dan mengarahkan pedangku ke atas menahan serangan yang kembali menghujamku.
Aku masih dapat bersyukur bahwa itu bukanlah tusukan pedang.
Aku bangkit karena posisi ini benar-benar tidak menguntungkanku.
Mereka tidak kenal lelah untuk mendaratkan senjata mereka kepadaku.
Saat aku tengah bertarung dengan ke-tiga orang, mata ayamku menangkap suatu kejadian dan suara orang berteriak marah.
" Apa yang kalian lakukan?! Cepat tembak dia!!"
Orang berjubah itu memerintah kepada pemanah sambil berteriak penuh kemarahan.
Jadi dia memang pemimpin mereka.
" Mereka terlalu dekat. Kami akan mengenai mereka juga! "
Aku memang selalu memposisikan diriku menghadap para pemanah saat bertarung agar tubuhku dapat tertutup tubuh teman-teman mereka yang menghadapiku.
" Aku tidak peduli! Cepat panah dia sekarang! Dan kalian! Kenapa hanya diam saja?! Cepat serang dia!! "
Sepertinya melihat tubuhku yang sudah agak terlihat dan tidak tertutupi lagi dia memerintahkan untuk menembak. Terlebih, kini dia memerintahkan untuk menambah orang lagi untuk ikut membantu mengeroyokku.
Anak panah melesat menuju ke arahku.
Tiga anak panah dapat kutepis dengan pedangku. Sementara sisa anak panah lainnya malah mengenai teman mereka yang mengikuti pergerakanku.
Orang yang terkena anak panah ini tadinya hendak menebasku dari atas. Namun berhenti sesaat saat anak panah tiba-tiba menghujam pinggulnya.
Aku bersyukur rencanaku berhasil. Aku memang sengaja membuka sedikit celah agar para pemanah maupun orang berkapak ini menyerangku.
Ini terlalu beresiko karena ada dua serangan yang langsung mengarah kepadaku dalam jarak sangat dekat.
Anak panah ini bergerak terlalu cepat serta memiliki akurasi yang akan akurat di jarak segini, sementara itu kalaupun tidak ada anak panah yang mengenai tubuhnya, kemungkinan terbesar adalah serangan itu tidak dapat kuhindari.
Namun, yang membuatku kaget. Meskipun telah menerima hujaman panah. Orang berbadan besar di depanku ini masih bisa bergerak dan berusaha mengapaiku dengan kapaknya.
Memperbaiki pijakan di tanah, aku melesat ke depan dan mengarahkan senjataku ke orang besar ini. Sebagai hasilnya pedangku menusuk dadanya sampai menembus ke punggung.
Kapak perang yang dia pegang terjatuh ke bawah.
Kupikir dengan begini orang ini akan berhenti dan akan jatuh seperti yang lain. Namun, yang membuatku terkejut, orang yang ku serang ini masih mempunyai sedikit tenaga bahkan untuk memegang bilah pedang yang menusuknya.
Ini tidak bisa kutarik.
Apa-apaan orang ini?!
''Ugh''
__ADS_1
Tiba-tiba aku merasakan sabetan senjata dipunggungku. Terasa begitu panas dan aku merasakan darah mengalir dipunggungku.
Tanpa menengok pun aku tahu bahwa aku lengah dan membiarkan punggungku terbuka.
" Dasar keparat! Mati saja sana!! "
Menendang orang di depanku sekuat tenaga, dengan cepat aku mengayunkan senjataku berputar membuat kepala dari orang yang menyerang dibelakangku melayang.
Menangkap tubuhnya aku mengangkat dan menggunakannya untuk menahan anak panah yang melesat ke arahku.
Berlari ke arah para pemanah itu dengan menggunakan tubuh sebagai perisai, aku mengabaikan pasukan yang lain yang masih ada disekitar.
Saat aku telah dekat dengan mereka, mereka buru-buru untuk berganti senjata. Namun itu tidak cukup untuk manahanku.
Jadi yang dikatakan Theo memang benar. Umumnya para pemanah di dunia ini memang lebih lemah dalam pertarungan jarak dekat.
Satu persatu dari mereka kutumbangkan.
Bukannya pasukan yang sekitar tidak langsung bergegas juga menyerangku, namun aku lebih memilih untuk mengincar para pemanah-prmanah ini daripada meladeni mereka.
Saat aku hampir bisa menyapu habis mereka yang mana itu tinggal 1 orang lagi, tiba-tiba aku dikejutkan oleh perasaan dingin dari punggungku.
Berbalik dengan terburu-buru aku menahan serangan pedang yang mengarah kepadaku.
Karena terburu-buru pijakanku menjadi tidak stabil dan lemah, aku terpental ke belakang.
Mengabaikan tentang pijakan, aku merasa serangan itu memang sudah kuat dari awalnya. Walaupun aku sudah menggunakan kedua tanganku namun ini masih terasa berat dan membuat tanganku kesemutan.
Tidak membiarkanku untuk bernafas sejenak serangannya datang lagi. Dia mengayunkan pedang panjangnya kepadaku.
" Clang "
Pedang kami berdua saling beradu. Namun jelas, pedangku kini dapat sedikit demi sedikit terdorong mundur.
Tidak salah lagi. Orang berjubah ini kuat.
"Ough''
Tiba-tiba saja, sebuah tendangan dilayangkan kepadaku yang membuatku terlempar ke kiri dan menghantam salah satu rumah kemudian terjatuh di tanah.
Tendangan itu terlihat di mataku, namun aku telat untuk menahannya.
" Dasar orang-orang tidak berguna. Hei bocah! Jangan kau kira kau bisa lepas setelah kekacauan yang kau sebabkan. Kalian. Cepat kepung dia. "
Sial. Aku terkepung lagi. Kali ini mereka ada lebih banyak.
Aku merasa situasinya tidak berjalan sesuai rencanaku. Kupikir pemimpin mereka paling tidak akan memiliki kemampuan level yang sama denganku atau paling tidak tidak akan berbeda jauh.
Aku merasa pinggul kananku sakit dan membuatku susah untuk bernafas.
Dengan bertumpu menggunakan pedangku aku mencoba berdiri.
Darah mengalir dari mulutku.
Disaat melihatku tengah berusaha bangkit dengan tertatih. Aku merasa bahwa pemimpin itu sepertinya tersenyum di balik penutup wajah itu, kemudian berbicara dengan angkuhnya,
" Benar. Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan tenang. Akan kurobek-robek kulitmu itu hingga kau menjer- "
Omongannya terhenti ketika dia tiba-tiba menangkis serangan panah beruntun dari kiri dan sejenak mengabaikanku.
" Kau lengah *******! ''
Aku mengayunkan pedangku mengarah ke lehernya.
•
Sudut komentar Lana : Uwu. Sepertinya untuk judul, akan ada perubahan dimana hanya akan ada 1 judul untuk setiap arc, sementara lanjutannya akan dalam bentuk 'part' . Terlalu merepotkan untuk membuat judul untuk setiap update.
__ADS_1