Tentara Malaikat: Sisi Gelap

Tentara Malaikat: Sisi Gelap
Sebuah Ancaman? Tidakkah Kau Sadar Posisimu?


__ADS_3

“ Apa maksutnya ini? ” Tatapku binggung kepada dirinya yang mengacungkan pedang ke leherku.


“ Mari kita buat perjanjian? ”


“ Perjanjian? ”


“ Benar. Mulai sekarang kau tidak akan mengikatku lagi seperti yang kau lakukan beberapa hari ini.”


“ Jika hanya itu bukankah ini berlebihan untuk kau lakukan? Katakan maumu yang sebenarnya!!”


Aku marah saat ini. Kita hanya akan membuang waktu disini. Aku khawatir dengan Archilles. Aku bahkan tidak terlalu yakin dia dapat bertarung dengan baik. Semakin lama waktu terbuang akan semakin buruk.


“ Dan satu lagi. Aku sudah lihat kemampuanmu. Oleh karena itu, Jadilah pengawalku. Antar aku sampai ke rumahku dan jadilah pengawal pribadiku walaupun kita telah sampai disana. Bagaimana? "


"Sampai disana? Maksutmu aku harus mengantarkanmu pulang ke desamu dan disana aku akan menetap untuk jadi pengawalmu? ''


'' Benar."


Apa maksudnya itu? Tenang, aku harus tenang! Yakin bahwa Archilles akan baik-baik saja. Yang terlebih penting sekarang adalah masalah ini.


Eh, tunggu dulu? Bukankah dia bilang menjadi penjaga atau semacamnya kan? Jika begitu, aku lebih diuntungkan untuk saat ini.

__ADS_1


“ Kalau begitu, Kutolak. ”


“ Apa maksutmu? Apa kau tidak sadar posisimu untuk saat ini! “


Dia menekankan mata pedang ke leherku. Aku merasa sedikit panas disana jadi mungkin pedang itu telah sedikit menimbulkan luka.


Namun, bukannya takut akan ancamannya, aku justru menimpali,


“ Aku sepenuhnya sadar akan hal itu. Tentu saja maksutku adalah sadar bahwa kau tidak mungkin untuk membunuhku untuk saat ini.”


Aku memberikan senyum yang meremehkan kepadanya.


Dia sedikit terkejut mendengar pernyataan dan ekspresiku ini.


Terdiam, dia memikirkan apa yang kukatakan barusan.


'' Cih "


Mendecakkan lidahnya dia mengendurkan tekanan pedang dileherku. Dia kemudian mulai merapalkan mantra sihir. Menuruti rapalan mantra, akar-akar ini mulai mengenduur dan akhirnya terlepas dariku dan terjatuh ke bawah.


“Sekarang. Pedangku? “

__ADS_1


Dengan malas dia menyerahkan pedang kepadaku.


“ Jangan kau salah sangka. Aku menolakmu karena aku sudah menentukan tujuanku sebelumnya. Jika kau lebih cepat mungkin aku akan menerima tawaranmu itu. Dan untukku, aku tidak akan mundur jika aku sudah memutuskan untuk melakukan suatu hal."


" Jadi, jika kau sudah selesai dengan tujuanmu itu akankah kau menerima tawaranku ini? "


Di menatap penuh harap kepadaku.


" Mungkin akan kupertimbangkan. "


Seperti mendapatkan angin segar, siena mulai bersemangat lagi atau paling tidak itulah yang aku lihat.


“ Apa tujuanmu?”


“ Pergi ke arah tenggara dan selatan. Disana aku akan menyampaikan sebuah wasiat seseorang.”


" Sebuah wasiat? Apakah itu begitu penting? berapa lama waktu yang kau butuhkan? "


" Itu penting dan aku tidak tahu berapa banyak waktu yang dibutuhkan. Sudahlah. Kita harus bergegas kembali! "


Mengakhiri pembicaraan ini, aku mulai berjalan meninggalkan Siena dibelakang. Aku kehabisan tenaga dan memilih berjalan daripada berlari.

__ADS_1


Kuharap dia akan berhasil dan tidak mati.


__ADS_2