Tentara Malaikat: Sisi Gelap

Tentara Malaikat: Sisi Gelap
Melawan Orc Bersaudara Part 1


__ADS_3


Sial. Tubuhku terlempar ke udara.



Bug...Bug...Bug...



Untuk meminimalisir dampak dari kejatuhanku, Aku berusaha menggulingkan badan.



Dug.



Tubuhku berhenti karna menabrak sebuah pohon.



"Guhh.. uhuk... Sia... lan!"



Batukku mengeluarkan darah? Sepertinya tubuh bagian dalamku terluka?





Dengan terhuyung aku mulai berusaha berdiri perlahan.



Aku memandang dengan samar. Saat perlahan titik fokusku mulai kembali lagi. Kini jelas aku melihat orc yang lebih besar itu berdiri di depan orc yang tengah berlutut.



Rupannya orc yang besar itu yang memukulku untuk membantu pertarungan adiknya.



Sial… Apa-apaan itu?



Ugh sepertinya beberapa tulangku patah. Lebih dari itu, tanganku yang aku gunakan untuk menahan serangan itu mati rasa.



Betapa kuatnya dia itu? Bukankah itu tidak adil!!



“ Kaau. Kurang ajar!! ArrRgg akan kubalas kau!!!! ”



“ Sepertinya kita terlalu meremehkannya dan Kau terlalu bodoh! ”



“ Ma-Maafkan Aku kak. Bisakah kau remukan tikus kurang ajar itu? ”

__ADS_1



Entah kenapa walaupun kesakitan, Orc yang kecil itu seolah memiliki ketakutan sendiri terhadap kakaknya itu.



“ Dari awal sudah ku bilang kalau Aku saja yang bertarung!”



“ Ini gawat !  Pedangku bengkok akibat menahan serangan tadi. Bagaimana caraku menghadapi nya? ”



Sial, menengkok ke kanan kiri Aku berusaha mencari solusi secepat mungkin. Entah itu senjata darurat atau jalan kabur, Aku harus segera menemukan sesuatu!



"Ah, bukankah itu?"



Berlari, Aku mengambil sebuah gagang pedang yang terlihat muncul disemak-semak.



"Ini senjata orc tadi? Tapi bukankah ini terlalu besar untuk ku pakai? Eh!"



Tiba-tiba saat aku mencoba mengangkat pedang yang tergeletak disemak-semak ini, pedang ini menyusut.



Entah bagaimana pedang ini berubah menjadi pedang yang mempunyai ukuran seperti pedang yang kumiliki tadi, padahal sebelumnya pedang ini memiliki ukuran yang besar dan anehnya pedang ini sangat ringan seolah Aku kini sedang memegang sebuah ranting.




Kebahagian karna memiliki benda perlindungan berubah menjadi keterkejutanku saat melihat kembali ke arah kedua orc itu.



Tangan orc itu mulai beregenerasi! Bahkan perlahan luka ditubuhnya pun mulai pulih dan menutup.



Keparat! Ini benar-benar tidak adil!!



Orc kecil itu memandang penuh kebencian kepadaku dengan wajah jeleknya. Sedangkan orc yang besar mulai berjalan ke arahku memikul gada besarnya.



Menyadari bahaya yang mendatangiku Aku segera menyiapkan diriku.



Pikir! Amati seluruh tubuh orc itu.



[[Skill Learn: aktif]]


__ADS_1


Jika bisa kuibaratkan, tubuh orc itu mirip sebuah tank. Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengalahkan tank? Pastilah senjata anti tank atau ranjau darat akan efektif menyerangnya, tapi saat ini Aku tidak memiliki senjata seperti itu!



Tenang! Tenang! Pikirkan secara tenang namun cepat!



Jika Aku menyerangnya dengan pedangku, kemungkinan seranganku akan melukai badan besarnya akan semakin kecil, karna armor tank itu tebal sama halnya dengan kulit yang terlihat tebal dan penuh bekas luka yang telah menutup itu.



Eh, Tunggu! Kenapa aku tidak terpikirkan!



Ranjau. Benar, ranjau akan efektif karena itu bisa memutuskan rantai tank atau menghancurkan tank itu sendiri!



Jadi itu! Incar bagian bawah dan hentikan pergerakan.



Karna badannya yang besar, kemungkinan aku bisa menebas bagian atasnya akan semakin kecil, jadi memang Aku harus memutuskan rantai makhluk buas ini!



“Manusia! Kurasa kami terlalu meremehkanmu.  Sekarang Aku akan serius menghadapimu!”



Berhenti pada jarak kurang-lebih 8 meter, Orc itu memancarkan hawa haus darah yang mengerikan.



"Serius deh! Aku benar-benar tidak berharap untuk kau serius bertarung denganku! Tapi tentu hal itu tidak dapat kulakukan benar? Semoga saja Aku akan selamat kali ini!''



Berlari, Aku mulai bersiap menyerang orc sialan ini.



Saat Aku mulai mendekat, orc itu mengayunkan senjatanya membentuk  pola horizontal guna menghempaskanku. Meluncur, Aku menghindar serangannya dan mencoba menebas paha bagian kanannya.



Sebuah darah hijau mengalir dari luka menganga di paha itu.



Senjata ini hebat! Tidak seperti senjata sebelumnya, kurasa senjata ini memiliki tingkat ketajaman yang lebih tinggi!



Segera Aku kemudian melesat kembali menyerang orc itu. Tanpa menghiraukan lukanya, dia pun juga hendak menyerangku dengan serangan dari atas kali ini.



Aku melompat ke kanan untuk segera menghindar serangan itu dan berusaha menjaga jarak darinya.



Bumm...wuuss.. Kratakk


__ADS_1


Tanah yang terkena gadanya retak dan menghembuskan debu-debu ke sekitar.


__ADS_2