
Hei-hei! Aku terkesan kau dapat memahami apa yang kupikirkan itu, tapi ada satu kesalahan yang kau buat!"
Muka Archiles sekarang tengah bertanya-tanya apa maksutku itu.
"...Kau BODOH!!"
"..."
" Bukankah aku menyuruhmu untuk menjadi kuat?! Kau pikir Kuat itu hanya dari fisik ya? Kau benar-benar bodoh!!..Maksutku, jika kau kalah dalam fisik, maka gunakanlah ini!"
Aku menunjuk kepalanya.
" Berpikir!! Dari yang kulihat, kau tidak seperti Orc yang lain yang hanya mengandalkan kekuatannya.
Maka dari itu, berpikirlah bagaimana mengalahkannya!
Jika kau tidak dapat mengalahkannya seorang diri maka carilah sekutu! Jika kau tidak dapat mengalahkannya secara terang-terangan maka sergap dia!
Jika kau hanya merenungi kelemahan mu tanpa menyiapkan rencana apapun untuk mensiasati kelemahan itu, maka hasilnya cuma satu... Tidak ada. Dengan kata lain, kau hanya terdiam ditempat."
__ADS_1
Archiles hanya termenung mendengar semua yang kukatakan.
" Setiap orang itu memiliki cara bertarung yang berbeda-beda. Tapi, ada satu hal yang membuat mereka sama.
Kau tahu apa itu? Sebuah keinginan untuk memperoleh kemenangan dari pertarungan yang mereka lakukan. kau mengerti yang ku maksud?"
" Apakah maksut Tuan saya harus menggunakan cara saya sendiri untuk bertarung?
Terlebih saya harus berpikir bagaimana mengalahkan musuh saya dengan strategi daripada menggunakan kekuatan fisik. Apakah begitu Tuan? "
" Tepat!! Kurang lebih kau tahu apa yang ku maksudkan."
"Aku? Hm. Kurang lebih begini, Pertama aku akan membaca situasi. Kemudian mencari kelemahan musuh sembari mencari alternatif terbaik, apakah kita sanggup melawan dia atau kita harus terpaksa mundur. Pikirkan minimal 2 rencana baik untuk menyerang ataupun mundur dan cari yang memilki dampak terkecil bagi kita. Kurang lebih seperti itu."
Entah dia paham atau tidak, tapi sejauh ini dia kelihatannya mengangguk-anggukan kepalanya, jadi bisa disimpulkan bahwa dia memang mengerti.
" Sepertinya aku terlalu terbawa suasana ya?"
"Tidak-tidak. Justru saya berterima kasih Tuan mau membagikan ilmu Tuan kepada saya yang bodoh ini."
__ADS_1
"Hei-hei. kau memang bodoh untuk saat ini, tapi dengan belajar terus-menerus kau nanti juga jadi pandai dengan sendirinya,.. Mari lanjutkan ceritamu! Sampai dimana kita tadi? kalau tidak salah sampai ditahanan ya?"
Akupun menyuruhnya melanjutkan bercerita.
"... Saat saya bertugas menjaga tahanan itulah saya mulai belajar membaca Tuan. Saya dapat berteman dengan beberapa tawanan manusia disitu..."
Berbeda dengan Orc yang lain yang memiliki sifat buas dan kasar, Archiles tidak memperlakukan tahanan yang dijaganya dengan seenaknya.
Tak jarang pula dia berbagi jatah kecil makanan dengan para tahanan manusia yang berhasil diculik para Orc itu. Disinilah Archilles mulai menarik hati dari para manusia itu.
Sejak masih kecil Archilles memang memiliki ketertarikan untuk membaca. Sebuah ketertarikan yang bahkan Archilles sendiri tidak tahu mengapa.
Archilles tertarik oleh huruf-huruf yang ada dikertas yang tidak sengaja ada diharta rampasan ayahnya. Tapi, disini permasalahan. Dia tertarik akan sesuatu, tapi tidak tahu apa itu.
Pernah dia bertanya pada keluarganya tapi mereka sama juga tidak tahu dan lebih tekesan acuh kepadanya.
Bosan akan jawaban keluarganya itu dia akhirnya memutuskan bertanya pada tahanan manusia. Berbekal jatah makanan miliknya yang dia berikan kepada tahanan sebagai imbalan, dia akhirnya diberitahu tentang buku apa yang menjadi ketertarikannya itu.
Kegiatan bertanya dan memberikan makanan sebagai upah terus Archilles lakukan beberapa kali sampai kegiatan itu mulai berubah menjadi kegiatan pembelajaran membaca. Tentu hal ini dia lakukan secara sembunyi-sembunyi.
__ADS_1
Dari waktu ke waktu mulai ada kepercayaan antara manusia tahanan itu dengan Archilles.