Tentara Malaikat: Sisi Gelap

Tentara Malaikat: Sisi Gelap
Sebuah Hukuman Mungkin Diperlukan?


__ADS_3

" Lama sekali. Seberapa jauh dia kabur. Dasar gadis sialan! "


Aku duduk menyender dengan kaki terbuka menunggu kedatangan Archilles yang tengah mengejar gadis tak tahu diri itu.


Ah. Itu dia!


Dari balik pohon muncul Archilles yang membopong gadis itu di bahunya.


Meskipun gadis itu masih melawan dan meronta-ronta, namun hal itu tidaklah berarti banyak. Tangannya telah dikunci dengan tangan kiri Archilles dan tubuhnya dipegangi dengan erat dengan tangan kanannya.


Selain itu, tendangan dari gadis itu pun tidak terlalu menggoyahkan Archiles yang terus mendekat ke arahku.


Ketika dia sudah berada didepanku, dengan terengah-engah dia melapor padaku,


" Maaf Tuan, Elf ini sangat gesit. Saya sangat kualahan tadi!"


" ይሂድ !! ልሂድ !! "


" Bagus! Ikat dia!! "


" Baiklah.."


Setelah Archilles selesai mengikat wanita itu. Aku bangkit. Aku berjalan dengan mengangkang ke arahnya.


Sial. Ini masih terasa sakit saat kupakai jalan. Semoga masa depanku tidak terancam gara-gara Elf sialan ini.


" ልሂድ !! ልሂድ !! ልሂድ !! የሰው ልጅ! "


Ah. Dia terus menerus berteriak dengan tidak jelas. Apakah dia tidak paham kalau kami sama sekali tidak paham apa yang dikatakannya?


Sekarang bagaimana aku berkomunikasi dengannya? Bahasa isyarat tidak berguna untuk gadis sialan ini.


Apakah aku harus meninggalkan dia terikat disini sebagai hukuman?


Ah. Ini menyebalkan!!


Aku mengacak-acak rambutku sendiri memikirkan ini. Lalu,

__ADS_1


[[ Pemberitahuan: Bahasa Elf sudah didapatkan. Kini Anda sudah bisa berbicara dan mengerti bahasa yang digunakan Elf. ]]


"Huh?"


Sebuah suara ada didalam kepalaku.


Suara itu memberitahuku bahwa aku telah dapat berkomunikasi dengan para Elf. Tapi, suara ini berbeda dari milik Nona sistem. Siapa dia?


" Cepat lepaskan aku!! Dasar kau manusia rendahan!! Apa kau lihat-lihat?! Dasar manusia menjijikan!! Cepat lepaskan aku!! "


Pandanganku dengan cepat beralih ke Elf wanita yang terus memberontak itu.


Ternyata benar, aku paham bahasanya. Tapi sungguh. Dia dari tadi berteriak-teriak hanya untuk menghujatku? Apakah dia tidak sadar posisinya sekarang? Dasar tidak tahu diri!!


" Berdirikan dan pegangi dia, Archilles!! "


" Apa? Apa yang kau lakukan?! Jauhkan tangan kotormu monster!! Tida-Emm!! "


" Diam " Aku menyapit pipinya dengan tanganku hingga bibir itu nampak monyong sekarang.


Dengan ini paling tidak dia tidak berisik lagi.


" Kenapa? Kau kaget aku bisa bahasamu? Dasar wanita tidak tahu diri!"


Aku melepaskan tanganku dari wajahnya.


" Puihh.. Dasar monster!! Kau Pasti pemimpin mereka kan!! Sudah kuduga bahwa Orc tidak mungkin dapat menjadi sekuat itu tanpa seorang pemimpin. Dasar Manusia Jahat!! Kau boleh menyiksaku!! Tapi jangan berharap aku akan membocorkan informasi apapun!! Cuih."


Dia meludahiku.


" ..."


Kesabaranku hampir mencapai batasnya. Ingin rasanya aku layangkan sebuah tamparan ke muka gadis sialan ini. Namun tidak kulakukan.


Daripada melakukan tindakan sia-sia itu aku langsung mengambil pedangku yang tergelatak dipohon dekat api unggun. Aku memotong baju bawahku hingga kudapatkan sebuah tali. Lalu pergi ke arah gadis itu.


Melihatku membawa pedang dengan wajah marah, sudah pasti wajah Elf itu kini berubah. Dia nampak ketakutan.

__ADS_1


" Ada apa? Kau diam? Baguslah. Jika aku mendengar satu kata keluar dari mulutmu itu. Aku bisa pastikan, sebuah rasa sakit juga akan menyertainya!! "


Aku tidaklah hanya sekedar mengancam. Jika dia benar-benar akan melakukannya, tentu saja aku juga akan melakukan apa yang kukatakan itu.


Aku mengikatkan tali ke kepalanya untuk menyumpal mulutnya, tanpa perlawanan yang berarti.


Paling tidak sekarang dia tidak berisik lagi.


Lalu. Dia pikir aku yang memimpin pasukan yang menyerangnya kemarin?


Yah. Terserah sajalah. Malah dengan begini aku jadi punya ide untuk membalas perbuatannya.


" Ya. Aku yang melakukannya! Terus kenapa? tidakkah kau sadar posisimu sekarang? Apakah kau benar-benar siap akan apa yang akan kulakukan? "


Perlahan tanganku maju kedepan, membelai pipinya. Dia memalingkan wajahnya.


Disaat inilah aku menyadari. Kulitnya benar-benar terasa halus dan lembut. Walaupun sekarang dia begitu berantakan, namun kecantikan dan keanggunan seperti memancar darinya.


Sejenak aku terkesima dengan kecantikan dan kemulusan kulitnya.


Perlahan kemarahanku mereda sedikit demi sedikit namun tidak sampai dikatakan hilang.


" Emm.. Em.. Hm..." Dia terus-menerus memalingkan wajahnya agar tanganku tidak menyentuhnya.


Namun percuma. Karena tangan kiriku segera memegang dagu nya dan menghentikan perlawanannya itu. Sementara itu, tangan kananku beralih dan menyibakkan rambut berwarna putih itu hingga nampaklah telinga khas Elf itu.


" Kulitmu halus sekali, Nona. Namun.."


Aku mengerakan pandanganku dari atas sampai kebawah dan kembali memandang wajahnya lagi. Sepertinya dia menyadari hal itu.


Dia mulai bergetar ketakutan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Sementara itu Archiles yang sepertinya tidak paham apa yang kukatakan hanya bisa diam. Sepertinya Dia tidak berani menegurku untuk saat ini.


Aku melanjutkan,


".. Kau bilang kau tidak akan membocorkan informasi apapun? Hahahaaha.. Apa kau yakin? Asal kau tahu! Aku masih punya 1000 cara untuk membuatmu membuka mulut manismu itu. Tapi, sebelum itu...''


Sebuah senyum jahat mungkin terpancar dariku saat ini. Perlahan aku mendekatkan wajahku ke arah telinganya.

__ADS_1


Mengabaikan dirinya yang bergetar ketakutan. Aku dengan pelan berbisik,


" .. Apakah kau masih suci?"


__ADS_2