
Cuaca menjadi semakin dingin dan berkabut. Jika Prediksiku benar maka ini harusnya sudah ada dikisaran jam 2-3 pagi. Sepertinya sudah tiba saatnya kita harus mulai bergerak. Oleh karena itu, aku bangun menghampiri Archilles dan mencoba membangunkannya.
" Hei Bangun! " Mengoyangkan tubuhnya, itu cukup untuk membuatnya membuka mata.
" Tuan? "
Dengan mata yang masih terkantuk dia mencoba bangun.
" Bersiaplah! Bantu aku membuat lubang untuk memakamkan mayat-mayat itu! setelah itu kita harus bergegas berangkat!"
" Baik. "
Walaupun kesadarannya belum kembali sepenuhnya sepertinya dia langsung bergegas bangun dan bersiap-siap.
Aku kemudian beralih ke gadis yang tertidur didekat api unggun.
" Siena? Bangun! Oi! Bangun oi! " Aku mencoba membangunkannya yang masih tertidur dengan menggoyangkan tubuhnya.
" A-apa? Apakah sudah waktunya makan?"
Sekarang dia bangun, tapi dia masih belum membuka matanya seperti orang yang mengigau.
"Ctak''
"Aduh"
.
.
.
" Hei! Apakah memang perlu untukmu menjitakku seperti itu?"
Berjalan dibelakangku, dia mengerutu kepadaku.
__ADS_1
" Cara biasa tidak akan mampu membangunkanmu, kan?"
" Hah?! Kau hanya ingin mengerjaiku kan? Lihat jidatku ini! Gara-gara kau ini memerah!"
" Maaf tentang itu. "
" Kau ketawa! Kau pasti tidak tulus meminta maaf!"
Berjalan menyusulku, kini dia berada disampingku.
" Tapi muka bantalmu itu membuatku ingin melakukan itu! "
" Kau menyebalkan! Lagian, bukankah ini masih gelap? kurasa aku baru tidur sebentar tadi, aku masih ngantuk! "
" Bukankah kau tahu jika ditempat kita tadi itu adalah jalur dari para kobold? Selain itu, bukankah pergi pada saat hari sudah terang itu terlalu beresiko? "
" Terserah kau saja. "
Dia mundur lagi ke belakang.
Archilles kusuruh membawa 2 Elf, seorang pria dan wanita. Dia memikul mereka dipundaknya. Itu buka cara yang bagus untuk membawa seseorang. Tapi hanya itu caranya. Untukku sendiri, kini aku tengah menggendong seorang Elf pria dipunggungku.
Untuk Siena, dia kusuruh membawa tas yang kudapatkan dari para kobold. Tas itu kini berisi sisa daging panggang dan tanaman obat.
Berjalan sembari menggedong Elf pria ini aku merasa keheranan. Apakah Semua Elf itu memang memiliki berat tubuh yang ringan? Aku kurang bisa memastikan, namun ini jelas lebih ringan dari berat tubuh pria seukuran dirinya. Mungkin beratnya hanya sekitar 20-30 kg.
Yah, dengan berat yang ringan ini, aku juga dapat tertolong dengan tidak cepat merasa lelah.
" Kau masih sanggup, Glen? Bukankah kau terjaga semalaman? Kita bisa beristirahat sebentar jika kau mau''
Di belakang Siena berbicara kepadaku. Mungkin karena dia mulai melihat Keringat mulai bercucuran dari kepalaku jadi dia menanyakan hal itu.
Elf ini memang sedikit ringan tapi itu tetaplah tidak merubah fakta bahwa bila semakin lama aku berjalan maka ototku juga bisa semakin pegal dan lelah juga.
" Tidak apa. Aku masih sanggup untuk berjalan. Kita akan tetap lanjutkan."
__ADS_1
Itu yang kukatakaan, namun sebuah peristiwa yang tak terduga menghentikan kami.
Awalnya kukira sesuatu yang menetes di dadaku ini adalah keringatku. Namun, setelah kuketahui bahwa itu berwarna merah aku menghentikan langkahku.
" Ada apa? " Tanya Siena kepadaku.
" Orang ini, dia mengeluarkan darah. " Ucapku sembari menurunkan Elf yang kugendong ini.
Siena segera mendekat dan memberikan pengobatan kepada orang itu.
" Bertahanlah Svis! "
Mulut Elf pria itu terus mengigil dan ada sedikit darah keluar dari samping mulutnya.
Tidak lama, dia kemudian mengejang beberapa saat dan menghembuskan nafas terakhirnya.
" Dia telah tiada? "
" iya. "
Kami berhenti untuk menguburkan jasad Elf itu. Hanya kuburan seadanya yang dapat kami siapkan.
Menggunakan waktu ini juga kami beristirahat sejenak.
Setelah dirasa cukup. Kami melanjutkan perjalanan. Kali ini aku dan Archilles berbagi masing-masing satu orang. Aku membawa Elf wanita sementara Archilles yang pria.
Tepat pada siang hari kami menemukan sebuah sungai yang tidak terlalu besar. Dengan menemukan sungai ini, harapanku untuk menemukan peradaban dapat sedikit terwujud.
Namun, setelah 2 hari berjalan menyusuri sungai ini menuju ke arah hulunya, kami belum juga menemukan tanda-tanda akan adanya pemukiman penduduk, hingga kami hampir menyerah.
Tapi tetap tidak ada pilihan lain. Lagipula, sungai ini tidaklah terlalu dalam dan bahkan disepanjang sungai ini juga kami bisa mendapatkan makanan dan air bersih dengan mudah. Sungai ini jernih dan terdapat banyak ikan yang mudah ditangkap dengan tombak Archilles. Oleh karena itu, kami tetap mencoba menyusuri sungai ini.
Usaha kami tidaklah sia-sia. Pada hari ketiga bertepatan dengan cahaya matahari yang telah berubah menjadi jingga kami akhirnya menemukan jalan keluar juga.
Melewati Pohon yang menjadi pembatas seperti sebuah pintu, kami tiba ditempat yang terdapat hamparan rumput hijau yang sangat luas.
__ADS_1
" Akhirnya!!"