Tentara Malaikat: Sisi Gelap

Tentara Malaikat: Sisi Gelap
Penyergapan


__ADS_3

Dari atas pohon aku menunggu kedatangan para kobold itu.


Aku berharap Siena dapat melakukan tugasnya dengan baik.


Tidak lama setelah aku membatin tentang hal itu, suara gemerisik semak yang menghalangi antara kami dan posisi terbuka tempat kobold tadi beristirahat mulai terdengar dan semakin intens diikuti suara langkah kaki yang berlari mendekat.


Itu dia!


Aku segera menyembunyikan diriku dirimbunan dedaunan.


Siena muncul dengan keringat diwajahnya.


Dia segera berlari terbirit-birit ketempat yang sudah kutunjukan tadi.


Muncul dari tempat yang sama dibelakang Siena ada sosok yang muncul seolah bergantian.


Jakpot! Tidak cuma satu atau dua, tapi kami bisa memancing keempatnya sekaligus.


Ketika mereka semua telah keluar dari semak-semak, tiba-tiba mereka berhenti.


Hidung mereka membau udara dan melihat ke sekeliling.


Jelas Keempat kobold itu penuh kewaspadaan. Mungkin karena bau yang tercium menyebar dan ada di sekeliling mereka.


Mereka terlihat tidak nyaman dan terus-terusan mencoba membau, terutama mereka membau ke arah kanan dan kiri ke tempat bekas kencing kami tadi.


" Manusia? " Yang terdepan berbicara sembari menenteng pedangnya.


" Orc juga? Kenapa ada bau manusia dan Orc disini? Dimana mereka? " Timpal salah satu yang lain yang terlihat menoleh ke kanan dan kiri berusaha mencari kami.


" Kita pasti dijebak!! Apa yang harus kita lakukan? Mundur? " Yang paling kecil dan berada ditengah ikut bersuara.


Sial! Tidak kusangka mereka cerdas. Aku harus mempercepat ini sebelum terlambat.

__ADS_1


Aku mulai mengintruksikan target kita masing-masing kepada Archilles dengan Jariku.


" Tidak!! Kita harus menangkap Elf itu atau zue akan marah! Hanya ada satu manusia dan Orc disini! Jangan berpisah! Tetap dekat dan sergapan mereka tidak akan berarti! Kita akan menghabisi dia ketika dia muncul!"


Pandanganku beralih ke kobold yang berbicara itu. Dia berdiri paling depan memposisikan seolah dia adalah pemimpin mereka.


Jadi mereka tidak memisahkan diri?


Aku entah kenapa bahagia untuk saat ini. Dengan begini aku bisa dengan cepat mengalahkan mereka.


Syukurlah dia berpikir bahwa dirinya itu pintar.


Namun tetap saja. Jadi mereka tetap bisa membedakan jumlah orang ya?


Cih. Menyebalkan!!


Mereka mulai fokus lagi ke depan ke tempat dimana Siena ku suruh bersembunyi.


Mereka tetap berkelompok namun kewaspadaan mereka begitu tinggi.


Bum.


Seketika omongannya terhenti ketika dia mendengar sesuatu jatuh dibelakangnya.


Terjun dari atas aku langsung mendaratkan serangan ke arah kobold yang berdiri paling belakang yang berdiri tepat dibawahku.


Seranganku mengenai pundak dan terhenti ditengah-tengah tubuhnya hampir-hampir membelahnya menjadi dua.


Seranganku begitu kuat karena aku memegang pedang dengan kedua tanganku.


Aku langsung menendang tubuhnya ke depan melepaskan pedangku dari dirinya.


Sebagaimana diriku, Archiles juga menusukan tombaknya menembus punggung dari salah satu kobold.

__ADS_1


Ketika kobold yang berteriak itu membalikan badannya aku dengan cepat mengibaskan pedangku yang membuat darah dari kobold yang kuserang mengenai wajahnya.


Menolakkan tubuhku aku meluncur ke arahnya. Reflek dari kobold yang paling besar itu ternyata lumayan bagus walau matanya telah terkena percikan darah yang kucipratkan ke arahnya itu.


Dia hendak membalas menyerangku dengan pedangnya.


Gerakan itu lumayan bagus untuk orang yang kehilangan penglihatan sesaat seperti dirinya. Namun, gerakanku lebih cepat dan mantap. Aku menebas membelah ayunannya. Tangan Kobold itu putus.


Tanpa jeda yang berarti, karna posisi kami begitu dekat, aku segera mengambil kesempatan dan mendaratkan tendangan dari samping menggenai pinggangnya sekuat tenaga.


Dukk... Bum.


Dia terhempas mengenai sebuah pohon dan mengerang kesakitan dan megap-megap seperti kesulitan bernapas dengan posisi tertelungkup.


Aku berjalan menghampirinya. Dengan kakiku aku membalikan badannya.


Dia tampak menyedihkan dengan mulut yang mengeluarkan darah. Darah segar mengalir dan mulai mengenang dibawah tangannya yang terluka itu.


Dia menatapku lesu dan ketakutan.


Dia terlihat tidak punya kekuatan untuk bangkit setelah mengantam pohon dengan kerasnya.


" Maaf ya! Sret-"


Tidak ingin menambah penderitaannya, aku menusukan pedangku ke lehernya.


Mengerang dan mengejang sebentar dia menghadapi ajalnya.


Saat dia sudah tidak bergerak lagi, aku cabut pedangku dan kuhempaskan menghilangkan darah yang menempel.


Membalikan badanku, aku mengecek Archilles.


" Kau sudah selesai?"

__ADS_1


" Sudah Tuan." Archiles mencabut tombaknya dari orang yang terbujur di tanah.


__ADS_2