
[.. Tahap Evolusi terjadi. Pengambilan Mana dari Master dibutuhkan.. Mana selesai diambil.. Memulai Tahap Evolusi...]]
Samar aku mendengar seseorang tengah berbicara, tapi mata ini sangat sulit aku buka.
Tubuhku rasanya sangat letih dan kepalaku pusing. Mungkin inilah yang menyebabkan aku tidak bisa menbuka mataku untuk saat ini.
Tidak mau menghiraukan suara itu, Akupun melajutkan tidurku.
Setelah beberapa Jam...
[[ Evolusi berhasil dilakukan. High Orc tercapai ]]
[[ Selamat. Anda telah mencapai Level 10. Pemberitahuan: Auto Battle kini tidak tersedia.]]
Sementara itu...
" Perintah Anda Tuan?"
Seseorang dengan pakaian besi bertanya kepadaku dari atas kudanya.
" Hah?!"
Tak ayal, hanya jawaban spontan itu yang dapat kukatakan.
" Apakah kurang jelas Tuan? Maksut saya adalah itu.. Sepertinya komandan musuh mengajak Anda berduel. Lalu apakah yang akan kita lakukan?"
Aku melihat ke arah yang ditunjuk Pria berbaju besi ini.
Terlihat dipandanganku seorang... Tunggu! Itu wanita bukan?
Aku memicingkan mataku untuk melihat sosok yang berada lumayan jauh itu.
Ya benar, dia wanita. Tidak salah lagi. Kenapa wanita itu mengendarai kuda didepan pasukan besar itu?
Tidak lama berselang, seseorang yang mengendarai kuda muncul dari arah wanita itu dan mendekat ke arah kami.
" Jendral kami menyatakan Duel!! Keluarkan orang terbaik kalian atau meringkuklah ketakutan dihadapan ombak besar kami!!"
Sungguh pernyataan Provokasi.
Sontak saja aku mendengar teriakan berbagai hujatan dari belakangku. Kemarahan tampak muncul dari pasukan dibelakangku ini.
Berlainan dengan kemarahan yang tampak disekitarku, kini keringat dingin mulai muncul dari punggungku.
Apa-apaan ini?! Apakah ini mimpi?
Firasatku mengatakan hal buruk akan terjadi sebentar lagi.
"Hm. Tidak sakit, jadi benar ini mimpi."
Aku mencoba mencubit pipiku sendiri.
"Biar kubunuh si pembawa pesan itu Tuan!!"
Orang disampingku mengatakan itu dengan amarah yang mengelora.
" Terserah saja, lakukan semaumu!" Aku membatin. "Lagipula ini cuma mimpi." Lanjutku.
Aku bermaksud mengikuti arus yang terjadi disini.
__ADS_1
" Tunggu!! Aku tahu perasaanmu saudaraku, tapi jangan lakukan itu!! Kita harus menghormati pembawa pesan, seperti yang dibilang Tuan Eldric. Benarkan Tuan?"
Dia melirik ke arahku.
'' Ah.. Benar!!"
Kapan pula aku bilang begitu.
" Aku mengerti. Lalu, akan kami serahkan kepada Anda, Tuan. Biarkan kekaisaran keparat itu tahu kemarahan dari taring legium Naga itu seperti apa! Mohon jangan berbelas kasih kepada Orang sombong itu!!"
..!! Apa maksutnya??? Sang Naga?? Jangan bilang aku yang maju duel??
"Kami serahkan kepada Anda Tuan!!"
Serentak orang dibelakangku berteriak.
Asem.
" Yah. Mau bagaimanapun ini cuma mimpi"
Dengan malas dan putus asa aku menggerakan kudaku ke depan.
Semakin maju aku menjadi semakin jelas untuk melihat sosok di depanku ini.
Dia memiliki wajah seperti orang Asia dengan rambut sekitar sebahu. Dia lumayan cantik.
Dia mengenakan Pakaian besi yang sepertinya tidak tebal dan terkesan terbuka dibeberapa bagian. Kalau tidak salah mirip zirah samurai gitu? Dengan sebuah pedang berada disamping kiri pinggulnya. Dia memang berkesan seperti samurai tapi tanpa mengenakan helm.
Yang benar saja! Aku melawan perempuan??
Tidak lama dia membuka pembicaraan.
"Namaku Pahlawan Hirata Yuki. Komandan Divisi 1 Angkatan darat Kekaisaran. Dengan ini menyatakan Duel terbuka dengan Anda."
Apakah aku harus memperkenalkan diri juga?
" Namaku Adalah Glen Eldric. Akan menyambut tantangan duelmu... Kurang lebih seperti itu?"
Aku tidak tahu apakah ucapanku sudah benar atau belum.
Tapi yang kulihat sebuah cibiran '' Dasar tidak sopan atau apapun itu'' keluar dari mulutnya.
Ya bodoh amatlah, lagipula ini cuma mimpi.
Dengan berkata '' Ya mau bagaimana lagi" dia turun dari kudanya.
Sepertinya dia mengajak duel tanpa kuda ya?
Akupun ikut turun dari kudaku.
Kami sama-sama jalan mendekat namun tetap menjaga jarak.
"Saya akan melemparkan batu ini sebagai tanda. Kita akan mulai setelah batu ini mencapai tanah. Apakah Anda setuju?"
" Terserah." Dengan malas aku menjawabnya.
Tapi beneran deh. Ini beneran? Aku duel dengan wanita?? Seriusan?
Dia memang terlihat kuat sih dan memang ini cuma mimpi, tapi.. tapi.. Masa iya aku harus menyakiti wanita?? Apa yang sebenarnya ada dialam bawah sadarku sih.
__ADS_1
Keraguan terus berkutat dihatiku. Aku mulai mempertanyakan kesehatan mentalku sendiri.
Lain halnya dengan diriku yang ragu-ragu ini, sepertinya itu tidak berlaku untuknya.
Dengan tangan kirinya dia melemparkan batu itu keatas.
Ketika batu itu mencapai tanah... Tek..
Dia menghilang dan tiba-tiba sudah muncul didepanku!!!
" Ap-!!!.. Ugh."
Dengan tangan berlapis sarung tangan besi itu dia memukul tepat diperutku. Aku terlempar ke udara.
Melanjutkan serangannya dia tiba-tiba muncul diudara dan kali ini dia menendangku dengan sangat keras.
Aku terlempar jauh kebelakang dan berguling-guling ditanah sampai akhirnya berhenti dengan sendirinya.
" Uhuk-uhuk... Hah.. hah..uhuk."
Aku kesulitan bernafas dan sesuatu mengalir dimulut. Aku mengusapnya... Ini darah?
Aku tidak menyangka ini. Ini terasa sakit!!! Apa-apaan ini?
Bukankah ini hanya mimpi?!
Sebuah sorakan keluar dari kubu wanita itu. Sementara dari kubu ku sendiri mereka hanya terdiam.
" Aku kecewa. Kupikir sang Ksatria Legium Naga Es itu sangat kuat seperti yang dirumorkan. Ternyata kau hanyalah anak biasa. Bangunlah, kita selesaikan ini!!"
Perlahan aku mulai bangkit. Tubuhku bergerak sendiri.
" Aku tersanjung. Tapi kau tahu, bahkan anak kecil lebih terasa menyakitkan saat dia memukulku. Dan kau tahu? ini bahkan tidak bisa disebut pukulan."
Sebuah perkataan aneh keluar dari mulutku tanpa sempat kukontrol.
A..A..Apa yang barusan kukatakan?! kenapa aku memprovokasinya?!
Mendengar apa yang kukatakan, wanita itupun membalas dengan senyum dinginnya.
"Ah. Begitu ya? Kalau begitu biar kuperlihatkan perbedaan Antara aku dan Anak kecil itu!"
"<<~ Nyanyikan sebuah lagu kemenangan untuk sang dewa.."
Sebuah lingkaran bermotif tiba-tiba muncul dari bawah wanita itu.
"... Amarah sang raja petir yang mengelegar. Menghancurkan apapun sampai tak tersisa.."
Sebuah tekanan sangat besar dapat kurasakan keluar dari wanita itu.
Percikan-percikan Petir keluar disekitar lingkaran itu dan menyelimuti dirinya.
Tak, lama sebagian petir itu seperti tertarik ke arah pedang yang masih disarungkan.
Dia memegang pegangan pedang itu dengan tangan kanan sementara tangan kirinya memegangi sarung pedangnya. Kini dia memasang kuda-kuda.
"...Pedang petir: Amarah Dewa petir.~>>"
".. Mampus aku."
__ADS_1
Aku mulai memegang pegangan pedangku.
Saat aku selesai berkedip, tiba-tiba Sebuah kilatan cahaya mengarah ke wajahku!!!