Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 17


__ADS_3

"Nis, kamu baru beres patrol jam segini?" tanya Saskia terheran. Saat ini jam menunjukkan pukul jam sepuluh malam.


"Udah dari tadi sih, sekitar sebelum isyaan. Tadi tuh Nisa ikut ngaji malam dulu, terus setoran kitab deh ke santri takhosus," ungkapnya jujur.


"Oh kirain kenapa. Ini Devi sama Lili pun menghilang terus. Pada ke mana yah?"


"Ki, aku boleh jujur gak?" kata Anisa yang sepertinya ingin meluapkan perasaanya.


"Ya, bolehlah. Kenapa?"


"Jujur, kami bertiga rasanya canggung sekamar sama Tiara," hal itu pun sontak membuat Saskia terkejut.


"Maksudnya? Kalian gak benci kan sama Tiara?"


"Eh, bukan gitu maksudnya. Maksud kami tuh, ya canggung aja. Mau berusaha akrab pun sepertinya sulit, apalagi kalau dipaksain," ungkap Anisa tertunduk.


"Haduh, pantesan. Kalian kok jarang sekali di kamar, ternyata ini yah sebabnya. Mau berjalan gimana jobdeks kepengurusan kita. Masa harus di tanggung sama santri takhosus. Malu juga kalau ketauan sama bu nyai," keluh Saskia sedikit frustasi.


Jadi sistem kepengurusan di Pesantren Ar-Rizqon itu random. Gimana sudut pandang dan kemampuan santrinya mengelola kepesantrenan. Kebetulan santri takhosus pun masih di bilang pengurus, karena mereka santri paling lama mesantren dan paling dewasa. Otomatis, pengalaman di pesantren mereka melebihi pengurus santri.


Tak ayal, banyak santri takhosus yang kecapean dan memilih mundur dari kepengurusan. Bukan apa, biasanya mereka ingin fokus mesantren tanpa harus mengabdi seperti pengurus santri pada umumnya yang sibuk oleh manajemen kepengurusan di pesantren. Ada juga yang ngabdi satu sampai dua tahun, hanya untuk mempersiapkan diri menjadi seorang istri yang siap berumah tangga kelak. Karena yah, di pesantren Ar-Rizqon ini memang paket komplit. Bisa belajar masak, menjahit, merias (make-up), sampai berbisnis pun bisa digeluti oleh para santriah.


"Terus solusi kamu gimana, Ki?" tanya Anisa bingung.


"Aku mau tanya, kalian pengurus kan?" Anisa pun hanya menganggukkan kepala. Kebetulan saat itu Devi dan Lili sudah nimbrung di kamar, sedangkan Tiara masih menghafal quran di aula, untuk di setorkan besok pagi ke bu nyai Susi.


"Kalau kalian merasa bertanggungjawab jadi pengurus. Harusnya kalian gak bersikap kekanakan gini," tegas Saskia. Mereka bertiga pun termenung.


"Tugas pengurus santri itu ya mengayomi. Apa bedanya kalian sama santri biasa kalau gini caranya? Emangnya aku juga gak sama kayak kalian. Awalnya aku pun canggung, tapi karena sadar aku ini pengurus, ya aku harus sedikit lebih dewasa lah. Coba kalian juga terapin kata-kata aku ini," ungkap Saskia kembali dengan nada tegasnya.


"Huhu, maafin aku teh," ungkap Devi merasa bersalah.


"Iya, Lili juga maafin yaa. Lili sudah bersikap kekanak-kanakan. Padahal Lili sudah diamanahi untuk menjabat sebagai pengurus santri," mereka bertiga pun tertunduk, merenung kesalahanya masing-masing.


"Ya udah, dari sekarang, sok pada berubah. Kalian itu dituntut untuk dewasa, agar bisa mengayomi santri lainnya. Apalagi sama Tiara, teman sekamar kita. Walaupun dia belum jadi pengurus, tapi bu nyai menitipkannya pada kita. Jadi kita harus mengayominya, karena dia benar-benar baru masuk pesantren. Anaknya baik kok, pengertian, hangat pula. Kalian aja yang duluan suudzon. Jadinya gini," kata Saskia lagi.

__ADS_1


"Baiklah, Ki. Maafin aku yah. Harusnya aku punya pemikiran sedewasa kamu. Sungguh, aku kok ngerasa gak pantes yaa jadi pengurus," ucap Anisa, lesu.


"Gak gitu, Nis. Justru ini pembelajaran bagi kita, agar kita lebih terdidik lagi dalam hal apapun, terutama dalam aspek sosial. Ini baru pertama kalinya loh kalian begini. Biasanya juga kalian tegar dan bisa dewasa. Apa karena Tiara sekamar sama kita?" tanya Saskia memastikan ketiganya.


"Ya, mungkin. Pasti karena itu deh. Sekali lagi, maaf yah, Ki." tutur Anisa kembali.


"Yaudah, kalau Tiara udah balik ke sini. Kalian biasa aja, nyapa kek, basa-basi kek, apa gituu. Tiara welcome kok orangnya. Jangan sampai yah, dia gak betah gara-gara kita. Bisa disidak langsung sama bu nyai," peringatkan Saskia. Mereka pun sedikit lapang, karena keresahan di hati mereka sudah terurai dengan perlahan.


"Assalamualaikum," ucap Tiara dari balik pintu. Mereka pun seketika terkejut.


"Waalaikumussalam," jawab mereka serempak.


"Eh, Ti. Gimana hafalannya, lancar?" sapa Saskia sedikit khawatir. Pasalnya mereka baru saja berbincang tentangnya. Mereka takut ketauan, sedang mengobrolkan unek-uneknya tentang Tiara.


"Alhamdulillah. Eh, Nisa juga sama kan ya kelas tahfidz?" Tiara pun berinisiatif untuk berbincang terlebih dahulu.


"Ya ampun, aku beneran udah kelewat suudzon. Dia baik gini, aku yang emang jahat," ungkap Anisa dalam hatinya.


"Halau?" Tiara pun nampak menyadarkan lamunan Anisa.


"Eh, iya?" Ia nampak salah tingkah.


"Wah, maasya Allah. Tapi aku kayaknya mau nyoba-nyoba dulu aja. Kasih tipsnya dong, Anisa. Biar ngafalinnya semangat," ungkap Tiara mengakrabkan diri.


"Hehe. Iya Tiara. Intinya kamu jangan cepat bosan, apalagi malas ngemulai hafalan baru. Emang kitanya harus bener-bener ngelawan hawa nafsu, karena terkadang keinginan terburuk dalam proses menghafal itu yaa malas. Malas murojaah, tilawah, maunya terus aja ziyadah. Hafalan yang telah lalu gak disenggol lagi, itu kesalahan terbesar." ungkap Anisa memberi tips dan triknya.


"Berarti setelah kita ziyadah, minimal harus tilawah atau murojaah bilghoib (tanpa melihat mushaf) yah?" tanya Tiara antusias.


"Iya, betul. Jangan sampai kita terus-terusan ziyadah (menambah hafalan). Tapi, murojaah (ngulang hafalan) atau tilawah (baca quran) ditinggalkan. Kata bu nyai mah, tilawah minimal se-juz, begitupun muroja'ah. Biar hafalan makin mantep," tuturnya serius.


"Oke, Nis. Makasih banyak yaa wejangannya. Maasya Allah. Jadi semangat nih, ngafalnya," ucap Tiara sambil tersenyum.


"Nah, kalau Lili ini, dia jago banget bahasa Arabnya," perkenalkan Anisa yang mulai nyaman bercakap dengan Tiara.


"Eh, enggak teh. Boong. Gak gitu kok," sangkal Lili malu-malu.

__ADS_1


"Emang Lili ini pemalu orangnya. Dia terlau rendah hati, makannya kalau ada yang muji, gini deh," kini Saskia yang bersuara.


"Dev. Kamu kenapa?" tiba-tiba saja, Devi tertunduk lama dan tak kunjung mencekatkan kepalanya.


"Wah, jangan-jangan..." ungkap Lili yang sepertinya peka.


"Kesurupan?" sahut Anisa terkejut.


"Kamu harus mati!" ungkap Devi tiba-tiba. Ia melirik.matanya tajam ke semua orang yang ada di sekitarnya.


"Innalilahi.. Devi.." ucap Saskia yang langsung membawa botol air minum yang belum sedikit pun dibuka.


"Teh Kia, coba bacain do'a-do'a," ungkap Lili yang saat ini tengah memegang tangan Devi yang memberontak. Begitupun Tiara dan Anisa, mereka memegang badan dan juga kaki Devi yang terus saja tidak mau diam.


"Sialan. Manusia seperti kalian. Harus dihanguskan," ungkap Devi kembali dengan suara baritonnya, khas seorang laki-laki.


"Seumur-umur, aku baru liat yang kayak gini secara langsung. Biasanya, aku cuma nonton film hantu, tapi gak nyangka, bahwa kesurupan itu memang nyata adanya," gumam Tiara yang beneran bingung menghadapi situasi ini.


"Haha, Ti. Kamu kok masih bisa ngelawak sih, lucu tau," ungkap Saskia yang tergelak dengan penuturan Tiara.


"Devi ini, emangnya dari kapan suka kesurupan?" Kini Saskia sudah bisa melunakkan Devi. Walau masih harus mereka pegang di sekujur tubuhnya. Hal itu dikarenakan Devi memang seringkali mencakar oranglain dengan kuku panjang yang tiba-tiba tumbuh saat kesurupan.


"Lebih tepatnya pas dia baru masuk pesantren. Kayaknya dari dulu dia gitu, secara saat itu dia pernah kesurupan waktu awal-awal mesantren. Kata santri takhosus dulu yang udah keluar pondok, ini yang ke sekian kalinya. Tapi Devi beneran tertutup orangnya. Jadi kami gak tau," ucap Anisa menjawab pertanyaan Tiara.


"Oh, gitu ya. Emang orang kesurupan itu awalnya gimana? Maksudnya, biar aku hati-hati gitu loh," kata Tiara.


"Intinya, teteh jangan sering ngelamun deh. Biasanya, jin atau syetan itu senang, saat ada manusia yang hati dan pikirannya kosong. Saat itulah mereka akan masuk melalui darah, lalu menguasai diri manusia seutuhnya," tutur Lili, ia lebih tau karena Devi seringkali curhat tentang hal itu.


"Devi nyurhatin ke kamu, Li?" tanya Saskia lagi. Kini mereka sudah sedikit lega, karena Devi sudah lebih stabil dan mereka hanya menunggu Devi sadar kembali.


"Iyah, dia emang sering curhat ke aku. Kadang aku pun ngingetin dia. Jangan banyak ngelamun. Tapi ya, gitu. Katanya, ada leluhurnya yang memang tak menyukainya. Jadi terus dirasuki gitu," ungkap Lili benar adanya.


"Loh, leluhur sendiri gak suka pada anak keturunannya? Ko bisa sih," gumam Tiara aneh.


"Gak ada yang mustahil, Teh. Kalau itu kenyataanya, pasti akan terjadi walau hal itu di luar nalar kita," ungkap Lili kembali.

__ADS_1


Kini mereka pun hanya bisa berdo'a, semoga mereka pun terhindar dari hal-hal buruk yang tidak diinginkan. Kejadian seperti Devi barusan, mengingatkan kita. Bahwa kita di dunia ini tak hidup dengan sesama manusia saja, tapi kita harus yakin, bahwa makhluk lain pun hidup berdampingan dengan kita. Contohnya ya, makhluk halus ini. Mereka harus kita yakini, karena sebagaimana dikatakan Allah dalam al-quran. Kita harus meyakini perkara ghaib dan juga nyata, karena sejatinya, Allah-lah yang mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi maupun yang nampak.


...----------------...


__ADS_2