Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 34


__ADS_3

"Rayn? Why?" Tiara pun menutup mulutnya yang ternganga. Ia masih tak percaya, bahwa sahabatnya itu nampak seperti penggoda dan berpakaian sangat minim malah terlihat begitu seksi. Tak biasanya Rayn berpakaian seperti itu, walaupun iya dia tidak berhijab. Tapi, ini bukan Rayn. Kini ia berpikiran yang tidak-tidak pada sahabatnya itu.


"T-tiara?" gumam Rayn yang nampak melihat Tiara dari kejauhan.


Kini Rayn terpaku di tempat, ia tengah berbincang dengan beberapa pria seperti om-om. Sementara Tiara yang melihat hal itu jelas langsung menghampiri sang sahabat. Iya penasaran, apakah dugaanya itu benar atau sahabatnya itu hanya sedang ada urusan saja?


"Kamu lagi ngapain Ti di sini?" sapa Rayn yang nampak tergesa-gesa menuju ke arah Tiara dan mengajaknya duduk di kursi lain yang tempatnya agak jauh dari arah duduknya tadi.


"Aku mau ke Jakarta. Kebetulan lagi istirahat dulu di sini. Kalau kamu sendiri? kenapa kamu berbincang dengan om-om tadi? Kamu nggak.." belum sempat meneruskan perkataanya, Rayn pun menitikkan air matanya. Seketika ia pun menangis di hadapan Tiara.


"Rayn.." tegur Tiara kembali. Rayn pun menangis begitu lirih.


"Iya, Ti. Aku pelacur! Hidupku sudah hancur!"


Seketika Tiara pun membeliakan matanya sempurna. Ia mencoba untuk mencerna kembali ucapan sahabatnya. Ia masih belum percaya dengan pernyataan sahabatnya itu. Apakah benar? Ko bisa? Apa yang telah terjadi pada Rayn selama dirinya tidak ada?


"Rayn.. Coba tenang, sok cerita ke aku..." kini Tiara mengusap punggung sahabatnya itu, lalu mendekapnya dengan erat. Namun hal itu malah membuat Rayn semakin bergetar dan tergugu pilu.


"Orang tuaku terlilit hutang, Ti. Sekarang semua aset termasuk rumah, sudah ludes disita bank. Polisi juga telah mengamankan orangtuaku. Mereka diduga terkena kasus korupsi, karena telah menggelapkan dana. Hiks! Aku sedih Ti. Aku serasa hidupku sudah tak ada artinya lagi."


"Ya Allah.. Rayn.." Tiara pun hanya bisa menguatkan sahabatnya. Ia pun bingung, mau membantu tapi dirinya sudah menjadi seorang istri.


"Ti.. Ini siapa?" sapa Yusuf dari kejauhan. Ia melihat istrinya tengah duduk sambil berbincang dengan seorang wanita.


"Eh, aku ngobrol dulu ya? Boleh kan?" tanya Tiara saat Yusuf ikut bergabung dan duduk bersamanya di sana.


"Ya, silahkan. Ini, temen kamu?" tanya Yusuf balik.


"Iya. Aku Rayn." ucapnya sambil tertunduk. Ia pun menutupi sebagian tubuhnya yang nampak terbuka dengan selendang yang ia bawa dari dalam tasnya.


"Suf! Boleh gak, temen aku ini ikut sama aku ke pesantren?" sontak, Rayn pun tercengang mendengar penuturan sahabatnya.


"Em, boleh-boleh aja. Tapi, temen kamu ini harus menutup auratnya dengan sempurna, ya?" ucap Yusuf ragu-ragu.


"Yeee! Pasti lah. Kamu bersedia kan, Rayn?" kini Rayn termangu. Apakah mesantren adalah jalan terbaiknya untuk kondisinya saat ini?


"Ti! Makasih. Tapi, aku gak mau ngerepotin siapapun." ucapnya tertunduk. Ia malu, apakah pezinah sepertinya akan diterima taubatnya oleh Allah?

__ADS_1


"Jangan begitu, Rayn. Sudahlah. Urusan kebutuhan pokok kamu, biar aku yang nanggung. Kalau kamu mau balas hutang budi. Kamu cukup nurutin apa kataku. Aku gak mau sahabatku ini kesusahan sendirian. InsyaAllah, Allah Maha Pengampun. Bukankah Allah itu Maha Rahman dan Rahiim?" kini Tiara meminta pembelaan pada suaminya itu.


"Suf! Bener gak?" Tiara pun sebal, karena Yusuf tidak menjawab perkataanya.


"I-iya. Ini lagi ngobrolin apa sih. Aku belum ngerti situasinya." sanggah Yusuf. Akhirnya, Tiara pun menceritakan apa yang telah menimpa Rayn. Dengan ekspresinya yang selalu tenang, Yusuf pun hanya manggut-manggut saja. Kini ia mengerti, mengapa sang istri sangat pengertian pada sahabatnya itu.


"Jadi gimana, Rayn. Kamu mau kan?" tanya Tiara sekali lagi. Ia ingin memantapkan kegelisahan sahabatnya itu.


"Ti..." Rayn pun akhirnya setuju. Kini Tiara dan Rayn pun saling berpelukan dengan rasa haru.


"Ngomong-ngomong. Kok kamu berduaan gini sama laki-laki? Emangnya dibolehin dari Pesantren?" tanya Rayn aneh. Ia masih belum menebak, kalau mereka ternyata telah menikah.


"Em.. Itu.." ucap Tiara ragu-ragu.


"Kami sudah menikah." sahut Yusuf tanpa ragu.


Rayn pun melotot ke arah Tiara. Ia sedikit kaget, karena perjodohan Tiara itu memang direncanakan sangat serius oleh orangtuanya. Dan kini, di usia yang masih muda, Tiara sudah menikah?


"Ouh. Ti. Selamat ya! Ko gak bilang-bilang sih? Rere sama Mega tau gak?" seketika Tiara pun malu, dan Yusuf yang melihat mimik istrinya itu nampak gemas.


"Maaf ya, karena tidak mengabari kalian. Jujur, semua ini sangat mendadak. Bahkan aku pun tak tahu bahwa pernikahan itu akan terjadi. Kami hanya menikah secara agama dulu. Adapun acara resepsinya, mungkin akan dilaksanakan setelah aku lulus saja. Huft!"


"Aamiin. Terimakasih. Semoga menjadi do'a yang baik ya untuk keberlangsungan rumah tangga kami. O iya, kalau Rayn ini mau ke Pesantren. Gimana kalau ikut kami dulu ke Jakarta? Sekalian hang out gitu sama temen-temen kalian?" tawari Yusuf.


"Beneran Suf? Aku gak bakal nemenin kamu kalau gitu. Aku mau langsung kumpul aja sama temen-temen aku. Boleh kan?" seketika Tiara sumringah.


"Ya. Gak boleh gitu dong konsepnya. Kalian bisa bertemu, asal aku pun ikut."


"Hih! Reseee banget sih dapat suami kayak gini." gerutu Tiara sebal.


"Sudahlah. Gapapa kok, kang Yusuf! Eh, manggil apa ya enaknya?" tutur Rayn kikuk.


"Aneh. Istri sendiri aja manggilnya pakai nama. Kok orang lain yang malah lebih sopan ya?" sindir Yusuf pada istrinya.


"Iya Tiara. Harusnya kamu panggil 'sayang' kek, 'mas' kek. Meni gaada romantis-romantisnya." timpal Rayn lagi.


"Ko kalian rese sih?" sahut Tiara sebal.

__ADS_1


"Ti. Kamu kan pasti belajar di Pesantren. Pasti tau menjadi istri yang baik itu kayak gimana. Ko kamu gak ngamalin sih? Ini suamimu loh. Imam rumah tanggamu. Kamu harus hormati dia layaknya seorang suami. Gak boleh loh kamu ketus-ketus gini. Yuk, Tiara. Kamu pasti bisa!" semangati sang sobat.


"Iya deh. Maafin aku, Mas!" ucap Tiara pelan.


"Kamu bilang apa? Coba dong sekali lagi. Aku mau denger." goda Yusuf. Ia merasa, Tiara akan semakin jinak. Jika ia diceramahi oleh sahabat-sahabatnya.


"Gak disiarin ulang untuk kedua kalinya!" tegas Tiara.


"Tiara..." tegur Rayn kembali.


"Udah ah, yok cabut. Katanya kamu ada sidang besok. Nanti malam gak maksimal dong persiapanya."


Akhirnya, mereka berdua pun bergegas kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke Jakarta. Yap, kini Rayn sudah memakai pakaian tertutup dari Tiara sehingga ia pun lega, karena Rayn memang betulan akan keluar dari dunia gelap itu.


Walaupun Rayn minim ilmu agama, tapi ia akui bahwa hukum tentang perzinahan itu sangatlah dimurkai oleh Allah. Kini, ia bersungguh-sungguh ingin bertaubat pada Allah. Mungkin benar, pilihan terbaiknya untuk masuk ke pesantren adalah salah satu hidayah dari Allah, agar ia bertaubat dan senantiasa meraih ridho Allah kembali yang akhir-akhir ini ia abaikan bahkan tinggalkan dengan keadaan yang sangat terpaksa.


**


**


"Suf! Aku sekamar ya sama Rayn." ucap Tiara berlalu, namun Yusuf malah menahannya.


"Kamu mau aku hukum?"


"Apaan sih, Suf. Kan ada temen aku. Apa salahnya aku sekamar sama dia. Wong selama ini kamu juga selalu sendiri." sahut Tiara ketus.


"Kita kan sudah suami istri. Emangnya Rayn mau nerima kamu sekamar denganya?" Yusuf memang sudah berbincang dengan Rayn, agar ia tak mempersilahkan Tiara sekamar dengannya. Rayn pun setuju dong. Baginya, Tiara itu masih harus beradaptasi. Jika Yusuf selalu mengikuti keinginannya, kapan Tiara berubah?


"Ya pastilah. Plis ya! Kamu jangan begini lagi ke aku." ucap Tiara yang percaya diri, lalu menghampiri Rayn yang hendak masuk ke kamar yang telah di sewa Yusuf.


"Eh, Ti. Mau ngapain?" tanya Rayn pura-pura tidak tahu.


"Mau sekamar sama kamu lah." sahut Tiara sumringah.


"Em. Nggak deh. Aku gak mau ngeganggu bulan madunya pasangan yang baru saja menikah. Bye! Selamat bersenang-senang!" ucap Rayn yang langsung mengunci kamarnya, sementara Tiara menggerutu dari pintu luar.


"Rayn! Rayn! Buka! Pasti ulah si Yusuf nih!" ucap Tiara menggebu-gebu. Lalu segera ke kamar samping, tempat Yusuf berada.

__ADS_1


"Yusuf!" belum saja ia masuk, Yusuf pun menarik tangan Tiara menuju kamarnya. Seketika Tiara pun membulatkan matanya lebar-lebar.


...----------------...


__ADS_2