Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 65


__ADS_3

"Pa, kayaknya anak dan menantu kita makin ke sini makin akur aja ya. Gak sabar pengen nimang cucu lagi," ujar Mama Sandra cekikikan.


Ya, orang yang memata-matai kedua pasutri yang sedang di mabuk asmara itu adalah orangtua Tiara sendiri.


"Hih, Ma. Tiara masih di bawah umur. Taun depan dia baru 17 taun. Jangan dulu deh. Mending resepsian aja dulu pas Tiara dah beres sekolah SMA. Biar orang-orang pada tau, kalau mereka tuh udah resmi menikah. Kasian, putri kita masih kecil." sahut Raihan, bermaksud membela puterinya yang menurutnya masih kecil.


"Tapi... Mereka kayaknya udah itu deh," ujar Sandra menerka-nerka.


"Meskipun udah. Papa harap Yusuf gak melanggar batasannya. Dia harus menjaga perasaan Tiara juga. Bagaimanapun, menjadi seorang ibu itu harus punya kesiapan ilmu dan mental yang matang. Papa gak mau Tiara merasa terbebani, kalau dia benar-benar belum siap menjalani profesi tersebut," balas Raihan tegas.


"Iya deh.. iya. Mama juga inginnya begitu. Tapi ya gimana takdir Allah aja lah. Uh, dari tadi serasa jadi mata-mata. Udah kayak detektif aja yang ngawasin targetnya," ucap Sandra terkekeh.


"Lagian Mama ada acara pengen ngagetin mereka. Siap-siap aja diomelin puterimu yang cerewet itu," ujar Raihan terkekeh juga.


"Biarin, ah. Mama juga pengen main ke Turki. Dah lama kita gak ke sana. Iya kan, Mas?" ucap Sandra tersenyum penuh arti.


"Iya dong. Gas keun... Meskipun sudah tidak muda lagi. Namun jiwa-jiwa asmaranya harus lebih menggelora juga dong dari yang muda-muda." keduanya pun terkekeh bersama.


Ya, sebetulnya orangtua Tiara H-3 sudah berada di Jakarta, semenjak Yusuf dan Tiara merencanakan akan pergi ke Turki.


Namun mereka tak pulang ke rumah, karena mereka tau anaknya dan menantunya sedang berada di sana. Dan akhirnya keduanya pun sepakat nginap di hotel, dan akan ikut ke Turki dengan ticket pesawat yang sama, lalu mereka pun bermaksud jail dan ingin mengejutkan anak-anaknya dengan kehadiran mereka yang juga ikut ke negara Turki.


................


Setelah menempuh perjalanan selama 12 jam non-stop tanpa transit. Akhirnya mereka pun tiba di Bandara Internasional Istanbul dengan selamat.


Ya, meskipun ada beberapa kendala saat mereka terbang mengudara tadi di dalam pesawat. Alhamdulillah, mereka bisa melewati itu semua dengan baik. Kini Tiara melebarkan senyumannya, karena dia benar-benar sudah sampai di Turki.


"Eh, udaranya hangat gini ya. Padahal, aku pengennya lagi musim dingin ke sini tuh," gumam Tiara cemberut.


"Yah, sayangnya sekarang lagi musim semi, sayang. Di mana cuaca akan mulai menghangat dan pohon serta bunga-bunga akan bermekaran. Kan kita cuma bawa jaket pun satu. Tiga bulan ke depan, Mas akan dihadapkan dengan musim semi di sini. Coba ke sininya kemarin pas bulan Januari-Februari. Pasti lagi musim dingin," timpal Yusuf yang saat ini melihat raut kekecewaan di muka istrinya.


"Huft! Aku pengen main salju. Kira-kira, dua harian ke negara bersalju. Boleh gak?"


"Boleh dong. Di pilih aja sayang, mau ke negara mana. Nanti kami yang urus!" celetuk suara seperti Mamanya dari arah belakang.


"Mama!" sentak Tiara terkejut.


"Hi hi hi. Kaget ya?" ujar Sandra tanpa dosa.


"Kok Mama sama Papa ke sini juga?" tanya Tiara heran. Bukannya nanya kabar, dia malah menginterogasi orangtuanya.


"Wah, jadi gak seneng nih dengan kedatangan kami?" timpal Raihan, lalu menggaetkan tangannya di bahu anak bungsunya itu.


"Em, bukan gitu. Tapi.... Ah, kalian jangan-jangan sudah merencanakan ini dari awal," tuduh Tiara.


"Yeay. Emangnya kalian aja yang bisa liburan. Kami juga bisa dong. Jadi gimana, kamu mau pergi ke mana lagi setelah dari sini?" tanya Mama Tiara.

__ADS_1


"Hem, iya deh. Bentar lagi dipikirin dulu," sementara Tiara sedang mikir-mikir, Yusuf malahan kaku dan sungkan pada mertuanya itu.


"Nak Yusuf. Besok kamu bisa kan liat dokumen keuangan di perusahaan?" tanya Raihan, Yusuf pun melirik sekilas ke arah istrinya.


"Bisa, Pah. Nanti Yusuf komunikasiin lagi sama Bara." Bara adalah orang kepercayaan Raihan di Turki yang akan membantu kerja Yusuf di perusahaan.


"Oke. Nanti juga tolong periksa di bagian manajer dan beberapa ketua dari departemennya ya! Ko Papah curiga ada yang mau berbuat curang," ujar Raihan pelan.


"Pah!" tegur Sandra. Sementara saat ini muka Tiara sedang menahan marah. Mungkin.


"Ini anak kita minggu depan udah masuk sekolah lagi. Bisa gak di pending dulu pekerjaan mantu kita?" bisiknya, sangat pelan.


"Sehari aja kok, Mah. Nanti udah itu, kita bebasin aja sementara, sampai anak kita balik lagi ke Indonesia," timpal Raihan.


"Papa sama Mama gak usah cemas. Tiara pasti nerima kok. Malah besok mau ikut ke perusahaan," ucap Yusuf menenangkan suasana sambil melirik ke arah isterinya untuk membenarkan pernyataanya.


"Hem, iya! Pokoknya berlaku untuk besok aja. Kalau Mas Yusuf terus-terusan dikerja-rodikan, Tiara gak peduli sama masa depan perusahaan. Selama di sini. Pokoknya Tiara pengen liburan dulu!" ancam Tiara. Entah kenapa Mama dan Papanya nampak tergelak dengan perkataan anaknya itu.


"Hei, jangan ngomong begitu. Tadi kata Mas, pas di dalam pesawat gimana coba?" bisik Yusuf pelan sambil memegang tangan Tiara yang keringetan.


"Tapi, Mas...." Tiara merajuk.


"Besok cuma setengah hari aja kok. Lagian di dalam perusahaanya, Papa nyediain restoran yang bakal buat kamu betah di sana," ujar Raihan menenangkan kemarahan si bungsu.


"Iya.. Iya! Udah yuk. Aku pengen istirahat dulu. Tiga jam lagi dzuhur kan?" kata Tiara mengajak Yusuf ke tempat penginapan.


"Yaudah, Mah, Pah. Kami pamit duluan ya! Kalau mau bareng sama kami. Rencananya kami mau berkunjung ke Masjid Hagia Sophia siang ini,"


Mereka pun berpisah. Sementara saat ini, di perjalanan Tiara terus saja mengomel.


"Udah. Dari Masjid Hagia Sophia, kamu mau ke asrama Thullabunnur gak?" ucap Yusuf mencoba menghibur suasana hati Tiara.


"Iya. Udah gitu, aku pengen ke Barla," rengeknya.


"Wah, ada apa di sana?" tanya Yusuf penasaran.


"Rumahnya Syeikh Badiuzzaman Said Nursi di sana. Dulu mah rumahnya masih kayak modelan zaman dulu gitu. Cuma sekarang udah diperbaharui, jadi lebih modis gaya rumahnya tuh. Terus suka ada yang bersihin juga tiap harinya. Pokoknya, aku pengen mampir ke rumah itu yaaa," kekeh Tiara.



"Bukannya rumahnya tuh di desa Nurs ya? Kan namanya juga laqob (sebutan) dari nama desanya. Beliau namanya cuma Said doang," sahut Yusuf.


"Iya bener di desa Nurs. Itu rumahnya dulu saat beliau masih kecil dan tinggal serumah sama ibunya Nuriye dan Ayahnya Mirza. Tapi kan, beliau sering berpindah-pindah tempat dari satu desa ke desa lainnya. Dari satu kota ke kota lainnya. Jadi, rumahnya yang sendirian tuh letaknya di Barla," jelas Tiara.


"Wah, kamu sampai hafal sebegitunya ya. Btw kamu tau apa aja tentang aku selama ini?" Yusuf malah menggoda istrinya.


"Apaan sih, masa gitu aja cemburu. Aku ya kan bener-bener fans sejatinya beliau. Makanya tau segalannya. Terus... Aku pengen berkunjung ke makamnya juga. Tapi sayang, sampai sekarang gak ada yang tau semenjak peristiwa tentara yang dipimpin oleh politisi Turki (Alparslan Türkeş) membongkar makamnya dan menguburkan jasadnya di suatu tempat tersembunyi di dekat Isparta untuk menghindari adanya pemujaan berlebih dari para perziarah. Hih! Geram asli. Padahal gak usah dibongkar segala, gak sopan!" sungut Tiara.

__ADS_1


"Padahal kan beliau tuh semenjak dijuluki Said Nursi Muda alias udah murni gak mau ikut campur politik, benar-benar gak nyentuh perpolitikan sama sekali. Malah fokus menulis. Eh, oknum-oknum penyirik malah mitnah-lah dan ngadu-lah yang enggak-enggak ke aparat. Kan gedeg jadinya. Beberapa kali dijebloskan ke penjara karena tuduhan itu. Dan itu tuh gak terbukti sama sekali, tapi tetep aja ditahan. Ya Allah! Pengen bertemu beliau nanti di Surga. Boleh kan?"


"Hem, dari cerita kamu. Mas bisa nyimpulin. Kalau Syeikh Said Nursi ini memang sangat berpengaruh ya di zaman Turki waktu itu. Tapi, apakah beliau ada sangkut pautnya sama Presiden pertama Turki 'Kemal Attaturk'?" tanya Yusuf.


"Ada! Bahkan saat pertama kali akan orasi jadi presiden. Kemal ingin Syeikh Said Nursi jadi pendukungnya, ibarat penasihatnya-lah. Tapi kan saat itu Said Nursi udah bener-bener taubat dan berjanji gak akan ikut campur politik lagi. Tapi... Dari situ-lah awal mula Kemal tidak terima dan kembali ingkar, malah buat Said Nursi dijebloskan dari penjara satu ke penjara lainnya," jelas Tiara.


"Sebenarnya, Syeikh Said bukan nolak-nolak amat. Tapi, ajaran Kemal yang sekuler itu yang buatnya ragu dan akhirnya memilih, udah ah nyerah sama politik. Abisnya sekuler itu bener-bener misahin agama dan pemerintahan agar tidak boleh menyatu. Bahkan masjid, madrasah, lembaga keagamaan, sampai adzan bahasa Arab pun dihapuskan. Itu tuh bentuk kemurkaan Kemal karena Said Nursi gak mau bergabung dengannya," ungkap Tiara lagi lebih menggebu-gebu.


"Ya Allah...." lirih Yusuf merasa miris dengan fakta yang baru dia ketahui.


"Bahkan nih ya. Kan Syeikh Said Nursi itu suka pakai baju khas sufi gitu. Kek pake kopeah, jubah, baju-baju gombrang lah. Nah, di saat itu Kemal dengan sadisnya melarang semua orang pakai baju seperti itu dan menggantinya dengan gaya Eropa. Makanya sampai sekarang, di Turki kan muslim tuh bener-bener bukan mayoritas, walau kebanyakannya mereka agama Islam, tapi mereka tidak benar-benar berprilaku seperti orang Islam, sebutlah tidak berjilbab," terang Tiara kembali.


"Eh, iya ya. Kamu liat tuh wanita itu..." tunjuk Yusuf ke arah wanita yang sudah sedikit tua, menggunakan blazer, selendang, dan juga rambut yang dicepol.


"Samperin yuk, Mas!" ajak Tiara, namun Yusuf malah ragu-ragu.


"Iyi günler bayan (selamat siang, nyonya!)" ucap Tiara dalam bahasa Turki.


"Iyi günler," sahutnya sambil tersenyum. Terkadang orang-orang dari mereka ada yang ramah dan juga tidak. Beruntung kedua pasutri itu bertemu orang yang baik.


Ya, mereka malah diajak makan siang di sana. Sehingga mereka lupa, harusnya mereka langsung istirahat ke tempat penginapan. Eh, ini malah main ke rumah warga Turki.


Setelah berbincang begitu panjang, kebetulannya Tiara jago bahasa Turki. Jadi mereka lebih luwes lagi selama bercengkrama. Sungguh, Tiara saat itu senyum-senyum sendiri. Ternyata ibu-ibu itu seorang Thullabunnur juga. Artinya beliau ikut jadi pelajar Risalah Nur karya fenomenal dari Badiuzzaman Said Nursi.


"Duh, Mas gak ngerti. Kamu ngobrol apa aja sih?"


"Intinya, beliau adalah Thullabunnur juga. Jadi, tadi kami berbincang banyak mengenai Syeikh Said Nursi," ungkapnya tersenyum cerah.


"Waduh, untung banget kamu. Ketiban rezeki nomplok. Btw, makanannya enak ya!" puji Yusuf.


"Iya lah. Wong kebab aja yang dijual di Indonesia seenak itu. Apalagi ngerasain di negaranya langsung. Apasih tadi tuh namanya, köfte?"


"Iya. Köfte. Kayaknya köfte itu semacam daging cincang lalu dibentuk seperti bola, terus tadi tuh kayak direbus dulu gak sih. Mana dalemannya ada roti lapis, salad, yogurt. Nano-nano rasanya," sahut Yusuf.


"Hem, tapi aku masih laper," jujur Tiara. Sontak, Yusuf tercengang dengan penuturan isterinya kini.


"Jangan-jangan...."


"Heh! Aku belum telat haid. Kamu jangan mikir macem-macem!" kata Tiara mendelik ke arah suaminya.


"Abisnya, ko tumben kamu kelaparan. Tadi aja makannya banyak banget,"


"Hem, gak tau ah! Udah deh plis. Mulai sekarang, kamu libur dulu ya! Babay!"


Mereka berdua pun malah lari-larian sampai ke tepi jalan. Ya, mereka akan dijemput oleh sopir yang telah di sewa orangtuanya menuju ke penginapan.


Saat mereka telah kecapean dan hendak masuk ke dalam mobil. Tiba-tiba ada yang menyenggol sampai membuat Tiara jatuh dan terbentur ke pinggiran aspal.

__ADS_1


"Tiara!" seketika, Tiara pun tak sadarkan diri.


****


__ADS_2