Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 37


__ADS_3

"Mega? Rere?" Tiara terkejut karena tiba-tiba saja, dua sobatnya itu menepuk punggungnya dari arah belakang.


"Kamu lagi ngapain di sini, Ti?" tanya Rere heran. Pertemuan mereka memang tidak terduga.


"Aku lagi ngantar yang sidang skripsi. Kalian sendiri ngapain di sini? Ko bareng sama geng motor itu sih?" ucap Tiara yang terlihat tak suka karena dua sahabatnya dekat dengan 4 orang berpakaian seperti geng motor.


"Ngantar siapa tuh? Tumben bisa keluar dari pondok? Em.. Itu teman sekelompok kita di kelas, Ti. Jangan salah paham dulu." ujar Rere menyanggah, disusul Mega yang menguatkan perkataanya.


"Em, seseorang. Aku udah izin kok, jadi gapapa keluar bentar dari pondok pesantren," kilah Tiara yang padahal sedang menyembunyikan statusnya itu.


"Hei, dia lagi main kucing-kucingan sama kita." kompori Rere pada Mega, ia nampaknya curiga dengan gelagat Tiara.


"Siapa tuh? Ti? Kamu gak nyembunyiin sesuatu dari kita kan?" kini Mega yang bertanya.


"Tiaraaaa" teriak Rayn dari kejauhan.


"Eh, kamu kok malah di sini, kenapa gak di ikut sama Yusuf?" ujar Rayn tanpa dosa.


"Rayn!" geram Tiara.


"Ohhh, jadi kamu beneran suka sama yang namanya Yusuf itu? Wah, jahat nih Tiara. Kamu gak bilang-bilang sama kita," rajuk Rere.


"Iya, ih." begitupun Mega yang sama-sama merajuk, karena mereka tidak tahu apa-apa.


"Kok kamu tau aku di sini sih, Rayn?" tanya Tiara tanpa menghiraukan kedua sahabatnya yang merajuk.


"Hem, feeling aja sih. Kan dari SMP pun kamu sukanya diam di perpus. Eh, ternyata dugaanku benar kan," balas Rayn sambil menaikan halisnya.


"Rayn! Ini beneran kamu? Wah, pangling banget," seketika Rere melupakan kejadian tentang Tiara.


"Iyah, alhamdulillah. Aku mau hijrah gais! Aku mau mondok di pesantren yang sama dengan Tiara," ucap Rayn sambil melirik ke arah Tiara.


"Hei! Jawab, Ti. Kamu ada hubungan apa sama Yusuf?" tekan Mega. Ia memang selalu bisa tegas, kalau ada sesuatu yang menurutnya belum terpecahkan.


"Itu..." Tiara bingung harus menjawab apa.


"Loh, kalian gak tau ya? Tiara kan udah meni..." seketika Tiara menyumpal mulut Rayn.


"Beneran? Kamu nikah sama Yusuf?" ucap Rere terkejut.


"Ko kamu gak ngundang-ngundang kita sih? Kamu gak nganggap kita sahabat lagi?" ujar Mega tampak emosi. Ia merasa tidak dianggap oleh Tiara sebagai sahabatnya.


"Eh, gini loh kawan.."


"Udah ah, kamu udah beda, Ti. Mungkin karena kamu udah jadi orang yang sholehah, sementara kami masih begini-begini saja. Kamu tidak pantas berteman sama kita." ucap Rere yang terlihat marah, lalu segera meninggalkan Tiara dan Rayn di persimpangan tangga menuju coffe shop.

__ADS_1


"Hei, kalian salah paham. Astaghfirullah." ucap Tiara sambil mengelus dada.


"Wajar sih, kenapa kamu gak langsung jujur aja sama mereka? Udah tau mereka suka gitu. Ke aku aja kamu kayak sama oranglain. Sebenarnya, kamu itu kenapa Ti?" tanya Rayn heran. Ia lebih memilih mengintrogasi Tiara dulu, lalu menyusul kedua sahabatnya yang sedang merajuk.


"Rayn! Kamu tau kan, aku gak suka pernikahan aku? Aku pun bingung gitu loh. Aku masih belum menerima ini semua. Makanya aku gak mau mempublikasikan hal ini pada siapapun. Maaf! Bukannya aku gak nganggap kalian. Tapi karena aku pun masih bingung dengan perasaanku sendiri, hiks!" ungkap Tiara yang langsung menangis dan jongkok.


Rayn pun langsung memeluk Tiara dan mengajaknya ke coffe shop di gedung itu, untuk sekedar beristirahat atau menenangkan hati Tiara yang nampaknya sedang tidak baik-baik saja.


"Dulu aku dipaksa masuk pesantren sama orang tua. Its okay, aku nerima, aku jalani. Sekarang, aku dipaksa menikah, malah semuanya tiba-tiba udah SAH aja. Kenapa aku hidup dalam bayang-bayang keterpaksaan gini? Apa aku bisa bahagia, Rayn? Apa aku bisa melewati ini semua? Jujur, ini sulit, ini berat. Aku harus gimana," ungkap Tiara lagi dengan suara yang berat, karena ia terus saja menangis sampai wajahnya pun semakin sembab.


"Ya. Aku ngerti Tiara. Aku paham. Aku juga sama bingungnya dan kecewanya kok kayak kamu. Aku juga sama seperti dipermainkan oleh takdir. Aku juga gak mau orangtuaku begitu, tapi kenyataanya semua telah terjadi kan? Selain itu, aku juga marah sama diri aku. Kenapa coba ngelampiasin ini semua dengan masuk ke dunia malam. Apa semuanya akan beres lalu kehidupan enakku akan kembali lagi? Bohong Ti! Akhirnya aku menyesal kan, telah memilih jalan yang salah. Jalan yang telah Allah murkai sampai dibenci. Aku juga telah menggagalkan komitmen untuk menjaga kesucianku hanya untuk suamiku kelak. Gimana perasaan suamiku nanti kalau aku sudah tidak original lagi? Rasanya hidupku hancur, Ti. Kamu? Kamu masih beruntung. Kamu hanya dipaksa dalam kebaikan, masuk pesantren, dijodohkan dengan anak ustadz, hidup dalam keadaan terjaga. Maaf kalau aku ngomong begini, supaya kamu sadar, bahwa keinginan orangtua kamu itu sangat baik menurutku. Lihatlah aku, sebagai cerminmu, agar kamu bisa menerima takdir dan kehidupanmu saat ini Tiara."


"Huhu, Rayn. Maafin aku!" akhirnya mereka pun sama-sama menangis dan saling berpelukan.


"Oke. Sekarang kita susul dua bocah itu, yuk? Kamu udah mendingan kan?" ajak Rayn pada Tiara.


"Hem, makasih ya, Rayn. Aku gak tau kalau seandainya gak ada kamu, aku pasti akan tetap kufur nikmat. Astaghfirullah, maafkan aku, Ya Allah!" lirih Tiara sambil menunduk dan sedang membersihkan wajahnya yang sembab dengan tissue lalu dibalur bedak.


"Insyaallah, kita sama-sama berubah menjadi lebih baik yaa Ti." kini mereka pun menyusuri gedung itu, lalu mencari kedua sahabatnya.


Rayn berhasil menemukan lokasi mereka, namun seketika mereka terkejut karena Rere dan Mega malah pergi ke bioskop bersama kawan-kawan yang mereka bilang teman kelompok kelasnya.


"Ko malah ke bioskop sih?" ujar Tiara yang saling beradu pandang dengan Rayn.


"Entahlah. Eh, ini jam berapa? Yakin gak dicariin Yusuf?" peringatkan Rayn.


"Ceklis satu. Pasti masih ujian deh" tebak Tiara.


"Oke lah kalau begitu. Mending kita susul aja yu ke dalem? Gimana?" tawar Rayn.


"Em, emang boleh?" kata Tiara ragu.


"Eh, itu mereka." gumam Rayn, sambil memanggil kedua orang yang sedang mereka cari itu.


"Mega... Rere..." kini mereka berdua pun berlarian ke arah mereka, namun seketika mereka menyeringai dan seperti tak suka dengan kehadiran Rayn dan Tiara.


"Mau apa kalian? Kita kenal ya?" ujar Rere sinis.


"Hei! Mau sampai kapan kalian kayak anak kecil begini? Aku belom aja ngejelasin, ko kalian main judge sendiri sih. Mana yang katanya temen, aku atau kalian yang tidak menganggap kita bersahabat sih?" kini Tiara yang marah pada mereka berdua.


"Udah jelas-jelas kamu lah, Tiara. Udah ah, aku capek ketemu kalian. Bye!" ucap Rere lagi, sementara Mega tidak bersuara. Mega itu kalau sudah kecewa atau marah ya diam, lalu setelahnya ia pun bisa mudah kembali memaafkan, tapi saat ini kayaknya akan terasa sulit.


"Ya udah, terserah. Kalian memang udah gak nganggap lagi aku sahabat. Aku mau gimana? Semoga kalian bahagia selalu dengan kehidupan kalian." teriak Tiara sambil terus memandangi kedua sahabatnya yang semakin jauh dari pandangannya.


"Rayn! Kamu ko gak bicara sih? Kamu nerima kita saling berpisah gini?" protes Tiara.

__ADS_1


"Biarkan saja dulu. Adakalanya persahabatan itu akan semakin erat, jika hal-hal seperti ini sering terjadi." ucap Rayn tenang.


"Ya sudah lah. Aku juga lagi emosi. Gak baik juga kalau terus dipaksakan."


**


**


"Suf! Gimana sidangnya? Lancar?" tanya Tiara.


"Hem" jawabnya lesu.


"Loh, kenapa??" Tiara pun heran.


"Tapi boongg" seketika Yusuf pun tersenyum lalu tertawa.


"Lah, dasar aneh" Tiara pun geleng-geleng melihat kelakuan Yusuf.


"Aku cuma disuruh revisian aja sama dosen penguji. Ternyata, bagian yang kamu koreksi itu yang dibetulkan. Ah, makasih Tiara" Yusuf pun seketika memeluk Tiara sangat erat sehingga Tiara yang terkejut pun tak dapat lagi berkutik.


"Ya, sama-sama," ucap Tiara sambil membalas pelukan Yusuf, sedikit terpaksa.


"Oh, jadi ini yaa istrinya Yusuf," goda Zae, sobat karib Yusuf selama di kampus.


"Eh," Yusuf dan Tiara pun salah tingkah. Rupanya, sejak tadi mereka jadi pusat perhatian penduduk kampus.


"Hehe, kenalin, ini Tiara." perkenalkan Yusuf pada Zae.


"Wah, salam kenal ya!" Tiara pun mengangguk dan tersenyum dengan sapaan Zae yang terlihat humble itu.


"Suf! Kamu dicariin dosen tuh." ucap Reka, teman sepenguji Yusuf.


"Ada apa?" tanya Yusuf heran.


"Ga tau. Ke sana aja." kini Yusuf pun berjalan menuju ke ruangan dosen pengujinya itu.


Tak lupa ia mengetuk pintu lalu mengucap salam. Yusuf pun dipersilahkan masuk, namun tiba-tiba saja, ia terkejut akan pernyataan dosennya.


"Kamu bisa kan, Suf?" Yusuf pun merasa tidak enak hati. Saat ini ia bingung, harus menjawab apa ya pada dosen pengujinya itu.


...----------------...


Jangan lupa tombol like+vote nya ya, xixi


Kalau mau ngasih saran juga, boleh banget🤭💕

__ADS_1


Syukron❤️


__ADS_2