
"Mas, barusan om Stephan nelepon" ujar Tiara yang nampak sudah beres menyiapkan baju kemeja bergaris abu putih kesukaanya dan celana kain hitam untuk sang suami.
"Oh ya? Beliau bilang apa? Eh, makasih ya. Kebetulan aku lagi pengen pakai baju ini," ucapnya sambil tersenyum manis. Meleleh deh jadinya.
Saat itu Yusuf baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang ia lilitkan di pinggang. Yup, ia sudah tak canggung lagi mengenakan baju di hadapan istrinya. Namun, melihat penampakan tersebut, Tiara malah memalingkan mukanya sambil tersenyum. Kayaknya, udah ada yang kesengsem sama suami sendiri. Tapi masih gengsi.
"Hem, om bilang ada suatu cara biar di persidangan nanti kita bisa menang. Tapi, kemungkinan besar jauh banget dari kata berhasil." sahut Tiara pura-pura gak grogi.
"Bentar, kan itu pelakunya masih ada 8 orang lagi. Kira-kira, ada yang kamu kenal lagi gak sayang?" kata Yusuf yang masih sibuk dengan aktivitas menyisirnya. Yap, rambutnya tidak gondrong tapi ia rutin merapikan bentuk rambutnya pakai sisir. Ala-ala orang gondrong gitu, entahlah. Mau digimanain juga kalau orang cakep mah bawaanya kece mulu apalagi kalau habis mandi. Beuh, kalau dilihat-lihat dia ganteng banget, sampai Tiara pun gak ngicep-ngicep.
"Hei, kamu kenapa bengong?" tegur Yusuf sambil melambai-lambaikan tangannya di hadapan Tiara.
"Emh, kenapa? Mas tadi ngomong apa?" balas Tiara gelagapan.
"Ciee, ada yang kepincut suaminya sendiri tapi gengsi mau ngaku," goda Yusuf sambil menoel dagu sang istri.
"Udah deh, lawak terus, serius nih." ketus Tiara sambil memalingkan wajahnya. Ia paling sebal, kalau suaminya itu meledek dirinya.
"Waduh, kan dia yang ngelamun, tapi ko aku yang disalahin? Dasar, cewek memang selalu benar," gumamnya sambil tersenyum dalam hati.
"Iya. Kemarin kamu kan liat video itu terus langsung ngeuh bahwa di sana ada orangtuanya Mega. Kira-kira, ada yang dikenal lagi gak sama kamu?" jelas Yusuf.
"Em, bentar deh. Mana sini videonya, biar aku teliti satu-persatu mukanya," pinta Tiara. Yusuf pun menyodorkan ponselnya.
Sekilas, Tiara nampak intens memperhatikan satu persatu muka dari orang-orang yang ada di video itu. Namun ia nyerah, karena sampai akhir, rupanya tidak ada yang dikenalnya lagi, selain Ayah dan Ibu Mega.
"Eh, tungguuu" Tiara heboh sendiri. Yusuf pun antusias dong.
"Ini. Beliau namanya Pak Rahardi. Bapaknya temen kelas aku pas waktu kelas 3 SMP. Waduh, gimana ya? Aku gak tega ngelibatin Salsa," gumamnya sambil cemberut.
"Yakin, itu pak Rahardi Ayahnya Salsa? Kenapa gak tega?" selidiki Yusuf. Ia malah gemas, karena Tiara bete sendiri.
"Masalahnya, aku dapat kabar dari grup sekolah. Salsa udah lama dirawat di rumah sakit. Bahkan ia pun tidak melanjutkan sekolahnya lagi. Tapi.. Wait!!" Tiara pun nampak berpikir.
"Kenapa sampai sakit parah gitu coba? Terus.. Waktu di sekolah pun. Anaknya pemurung banget. Apa jangan-jangan...," seketika mereka pun saling beradu pandang.
"Jadi, menurut kamu dia mengalami kekerasan? Dan itu oleh keluarganya sendiri?" tebak Yusuf. Seketika, Tiara pun manggut-manggut setuju. Mereka satu pikiran.
"Eitz, kita harus selidiki dulu. Jangan langsung tancap gas," ujar Tiara sambil mencari nomor telepon seseorang.
"Mau nelepon siapa?" Yusuf pun kepo.
"Someone like me," sahut Tiara cengengesan.
"Awas ya!" Yusuf pun mencubit pipi istrinya itu.
__ADS_1
"Hih! Sakit tauuuu"
"Eh, terhubung. Asyik!" gumam Tiara antusias.
"Halo, Assalamualaikum," sapa Tiara duluan.
"Iya. Alhamdulillah sehat. Kamu gimana?" jawabnya basa-basi.
"Eh, aku mau nanya kabar tentang Salsa. Boleh gak?" kata Tiara meragu. Namun, belum sempat meneruskan telepon. Sambungan pun diputuskan oleh pihak sana.
"Loh, ko di matiin?!" Tiara pun berdecak kesal.
"Lagian, kamu nelepon siapa sih?" Tanya Yusuf penasaran.
"Nana. Dia bestienya Salsa. Kemana-mana bareng mulu. Tapi, pas aku nanya, ko kayak ngehindar gitu. Huft!" ujarnya sambil cemberut.
"Halah, pasti ada something nih. Mending kita jalan-jalan aja yuk! Berjamaahnya di masjid aja," ajak Yusuf. Tiara pun meng-iyakan. Kebetulan dirinya sudah mandi sebelum Yusuf, jadi dia tinggal berwudhu saja sebelum mereka pergi.
Ya, baik Tiara maupun Yusuf. Keduanya memang rutin menjaga wudhunya, apalagi kalau mau bepergian. Sebagaimana hadits mengatakan,
“Kelak di hari kiamat ada umatku yang wajah, kedua tangan dan kakinya bercahaya sebab bekas wudhu yang dilanggengkannya. Barang siapa yang ingin dipanjangkan cahayanya maka hendaknya melakukan itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hal itu pula-lah yang diajarkan oleh Ummi dan Aby-nya saat di pesantren. Saking masyaAllahnya, Rasulullah SAW bersabda: “Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang dengannya Allah akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajatnya?” Para shahabat berkata: “Tentu, wahai Rasulullah. Kemudian Rasulullah SAW bersabda:
“Menyempurnakan wudhu’ walaupun dalam kondisi sulit, memperbanyak jalan ke masjid, dan menunggu salat setelah salat, maka itulah yang disebut dengan ar ribath.” (HR Muslim).
**
**
"Eh, kirain kamu suka" balas Yusuf tanpa berdosa.
"Yey, kalau gitu caranya. Mending di pesan aja makanannya. Kirain mau ngajak ke mana gitu yang jauh, eh, malah jalan kaki. Sama aja boong!" ucapnya sambil berdengkus kesal. Ya, saat ini mereka sedang di sebuah restoran yang tempatnya masih di dalam hotel.
"Loh, kamu setuju-setuju aja aku ajak ke mana-mana juga. Hayoh? Coba inisiatif, maunya pergi ke mana. Ke pulau Merauke pun akan ku junjung," ucap Yusuf serius, namun sedikit ketawa.
"Hih, udah ah. Kadung laper, santap aja yang ada," Tiara pun meleos duluan, sedangkan Yusuf geleng-geleng kepala di belakangnya.
"Cewek, emang susah ditebak. Semenit pengen itu, semenit lagi pengen ini. Kayaknya, kalau mau buat kamus pun gak akan ada habisnya," gumam Yusuf dalam hati.
"Alhamdulillah," ucap Tiara sambil bersendawa. Setelah makan daging bakar kesukaanya, ia pun melahap sop duren yang tersaji di menu restoran tersebut.
"Kamu gak kenyang, Ti?" tanya Yusuf ragu.
"Kenapa emangnya? Gak suka ya cewek gendut?" ketusnya.
__ADS_1
"Yaelah, gitu aja ngegas. Untung diri ini sabarnya seluas samudera," ucap Yusuf sambil menghela nafas. Tentunya ia ucapkan dalam hati ya, kalau iya diucapin, gatau gimana galaknya macan betina yang lagi marah.
"Maksudnya, aku makin suka kalau kamu makin berisi, kan makin gemoyy" jawab Yusuf sambil mengedipkan matanya.
"Kelilipan Mas? Ko responya gitu?" tanya Tiara datar.
"Aduh, istriku gemas sekali kalau lagi marah," batin Yusuf lagi.
"Ekhem, Ummi bilang, mau kapan katanya pulang ke pondok?" ujar Yusuf mengalihkan pembicaraan.
"Wah, masa sih? Perasaan belum lama liburanya deh," rengeknya manja.
"Em, masih ada dua minggu lagi sih. Mau di full-in aja di sini?"
"Mau.. Mau... Plisss. Masih pengen liburan," rengeknya lagi.
"Oke. Tapi, udah itu Mas tinggal ya! Kita ldr-an. Kamu yang baik di sana," ucap Yusuf terkekeh, ia pun mengelus pucuk pashmina istrinya dengan lembut sambil tersenyum.
"Hem. Tapi sebulan sekali, wajib pulang ya!" ucap Tiara manja.
"Aduh, sejak kapan isteriku ini manja sekali. Ko aku gak tega ya ngelepasinya?" tutur Yusuf. Saat ini ia mendekatkan wajahnya ke arah istrinya.
"Hei, jangan salah paham. Ya wajarlah aku begini. Gimana kalau nanti kamu kepincut cewek yang lebih cantik dari aku. Apa emang kamu kayak begitu?" selidiknya sambil menatap tajam, tapi itu membuat Yusuf semakin gemas.
Yusuf pun membisikkan sesuatu ke arah telinga isterinya, "Mana mungkin aku kepincut cewek lain. Orang istri sendiri aja, cantik, seksi, bohay, dan membahana kayak gini. Masa sih di sia-siain?" ucapnya dengan nada yang menggoda.
Tiara pun menggebuk punggung kekar suaminya, "Kamu yah, bisa-bisanya mesum di tempat umum," ujarnya nyaring, dominan berkata keras sehingga pengunjung lainnya melirik ke arah dua pasutri itu.
"Pokoknya, kamu jangan mempekerjakan cewek cantik apalagi seksi sebagai sekretaris kamu. Kalau ketauan, aku bakal marah banget sama kamu," ucap Tiara lagi sambil cemberut.
Cup!
"Em, manisnya. Makan lagi dong sup durennya, aku mau nyicipnya dari sini aja," ujar Yusuf semakin menggoda.
"Aih! Ko gini amat ya punya suami," Tiara pun melirik ke arah kanan dan kirinya. Ternyata mereka jadi pusat perhatian.
"Udah yuk, mending ke mushola aja. Aku malu, ternyata dari tadi kita jadi pusat perhatian. Kamu sih," omelnya.
"Haha, baru gitu aja udah ketar-ketir." kekeh Yusuf sambil tertawa pelan.
Kini mereka pun berjalan menuju mushola di hotel itu sambil bergandengan tangan satu sama lain. Yap, jika kemarin-kemarin mereka harus menyiapkan mental menghadapi masalah yang cukup menguras emosi. Namun seharian ini, kedua pasutri itu bermanja-manjaan dan saling mengeratkan hubungan mereka lebih rekat lagi dibanding sebelum-sebelumnya.
...----------------...
..."Terkadang, hal-hal sederhana pun mampu membuatmu bahagia. Maka, nikmatilah kebersamaanmu dengan pasangan yang tulus mencintaimu itu dengan segenap hatimu, niscaya kamu akan menemukan keindahannya, bahkan lebih dalam dari itu, sehingga kau pun akan melupakan, bahwa kau pernah bersedih akan penantian cinta yang selama ini kau dambakan"...
__ADS_1
...💓💓💓...