
Di pondok pesantren Ar-Rizqon, tampak saat ini para santri dan santriahnya itu sedang sibuk untuk mengurus acara pemilihan ketua asrama putera maupun asrama puterinya. Ya, agenda tahunan yang wajib digilirkan estafet kepemimpinannya, saat inilah moment mendebarkan itu kembali dilaksanakan.
Kebetulannya ketika itu Tiara diamanahi sebagai penanggungjawab sekaligus saksi dari pihak keluarga pesantren mengenai ketua terpilih untuk asrama puteri maupun putera. Berhubung dia adalah menantu dari pimpinan pesantrennya, maka bu Nyai Susi tak segan-segan untuk mengamanahi kepanitiaanya itu pada sang menantu.
Setelah mengucapkan salam dan pembukaan untuk para santri maupun santriahnya, Tiara pun segera memulai sidang ketua terpilih itu dengan tertib dan kini, nama-nama calon pemimpin masing-masing asrama sudah berada dalam genggamannya.
"Baik para santri dan santriah Ar-Rizqon yang saya banggakan. Sudah saatnya, kita melakukan sidang isbat terpilih untuk calon para ketua. Sebelum saya menunjukkan beberapa nama, apakah dari kalian ada yang ingin mengajukan sebuah nama untuk ketua asrama puteri maupun putera?" tanya Tiara.
Seketika suasana pun tampak menjadi riuh, para santri pun saling tunjuk satu sama lain. Tak ayal, ada beberapa orang yang menggoda Tiara untuk jadi ketua asrama puteri saja dan itu membuat menantu Ar-Rizqon itu tersenyum bahkan tertawa melihat tingkah para santri.
"Gimana kalau teh Tiara aja yang jadi ketua asrama puteri..," cetus salah satu santriah.
Entah itu celetukan baik atau buruk yang pasti, sampai saat ini para santri masih banyak yang tak terima. A Yusuf menjadi pendamping santri yang sudah diangkat menjadi menantu itu.
Tiara pun menanggapinya dengan senyumannya yang manis, "Wah, kalau saya yang diangkat jadi ketua asrama puteri. Nanti gak adil dong, mengingat sekolah saja saya masih di kelas sepuluh SMA. Masih ada yang lebih pantas untuk menjadi ketua. Ya sudah, kalau tidak ada yang mau mengajukan. Biar saya saja ya yang membacakan nama-nama ketua terpilih."
Deg-Deg-Deg!
Tentunya, beberapa orang sudah ada yang tau siapa aja yang akan dipilih menjadi ketua di antara mereka. Apalagi orang-orangnya yang saat ini merasa bahwa merekalah orangnya.
"Duh, sumpah deh. Aku gak siap jadi ketua di kelas sepuluh. Ya Rabb.. Plis deh. Jangan aku!" kata Saskia dalam hatinya.
Tiara menghela nafasnya pelan, "Baik, untuk calon ketua terpilih dari santri puteri, jatuh kepada... Teh Saskia, Teh Mawar, dan Teh Zia. Sedangkan untuk calon ketua terpilih dari santri putera, jatuh kepada... A Galih, A Rudi, dan A Fian. Kepada nama-nama yang terpilih, silahkan untuk menempati forum debat yang lima belas menit lagi akan segera dilaksanakan, " persilahkan Tiara, pada enam santri terpilih dari calon ketua asrama puteri maupun putera.
"Ti. Aku mau ngundurin diri, ya. Hanya aku saja di sini yang kelas sepuluhnya. Aku gak siap." bisik Saskia pada Tiara. Saat ia maju ke belakang arah Tiara yang sedang jadi MC.
Tiara pun mengenggam lengan Saskia dengan lembut, "Gapapa. Itung-itung belajar, siapa tau taun depan terpilih lagi. Jadi gak bakal gugup, Ki." semangati Tiara.
Saskia pun mencebik, "Plis deh, Ti. Aku gak mau. Yayaya?" rengek Saskia.
Tiara pun sebenarnya kasihan jika Saskia harus mengemban amanah yang terbilang besar untuk memimpin kepemimpinan di asrama puteri yang menaungi beberapa ratus santri di pesantren Ar-Rizqon.
"Ehm, kalau gak mau. Kamu nanti pas debat calon ketua, bilang aja gak siap. Bismillah, Ki. Hadapi... Ini artinya, Bu Nyai sama Pak Kyai percaya sama kamu." tenangkan Tiara.
"Huft. Baiklah." jawab Saskia, pada akhirnya.
Setelah beberapa jam sidang calon ketua terpilih yang disaksikan langsung oleh para santri/ah. Detik-detik terakhirlah, penentuan calon ketua akan ditentukan oleh para pengurus inti termasuk Kyai Rifki yang turut hadir di sana.
"Abah. Maaf. Nanti teknis pemilihannya bagaimana ya? Apa para santri yang milih ataukah atas penilaian abah dan para pengurus inti?" ujar Tiara, yang saat ini sedang jongkok pada mertuanya di samping para calon ketua terpilih.
"Sistemnya dipilih dan terpilih, Nak. Nanti para santri pun yang menentukan. Caranya cukup acungkan tangan saja untuk para santri/ah saat mereka memilih sambil merem pas sebuah nama kamu sebutkan." jelas Kyai Rifki.
"Baik, Bah. Terimakasih." Kyai pun tersenyum pada menantunya.
Segera Tiara pun menuruti apa kata mertuanya itu. Mula-mula, dia menghitung berapa banyak jumlah santri yang memilih kandidat ketua asrama dari pihak santri puteri, lalu beralih ke santri putera yang dibantu oleh salah satu pengurus inti juga.
"Baiklah para santri dan santriah. Sidang ini sudah ada di penghujung acara. Di sini, saya akan membacakan. Siapakah ketua terpilih yang akan memimpin estafet kepemimpinan santri putera maupun puteri satu tahun ke depan."
__ADS_1
Tampak suasana di dalam aula semakin ramai dan bersorak gembira. Berbeda dengan perasaan para calon ketua yang di depan sana nampak terlihat tegang, karena sebentar lagi di antara mereka akan ada yang resmi menjadi ketua terpilih.
"Bismillahirrahmanirrahiim. Atas hasil voting para santri/ah dan juga keputusan dari beberapa pengurus inti. Insya Allah, saat ini juga saya akan membacakan. Siapakah calon ketua asrama puteri maupun putera.
Tiara nampak diam sejenak dan dia pun sesekali menggoda para ketua asrama putera maupun puteri satu persatu, agar keadaan tak setegang tadi.
"Untuk calon ketua asrama puteri jatuh kepada saudari.... Zia Aisyatur Rahmah selaku santri kelas sebelas SMA, sementara untuk calon ketua asrama putera jatub kepada Saudari Alfian Abdul Majid selaku santri kelas dua belas SMA."
Tampak keduanya pun sama-sama terharu dan tersenyum karena memang secara fisik dan mental mereka sudah siap memimpin di asramanya masing-masing.
Zia juga kerap kali konsul pada Tiara selaku menantu di pesantren itu dan dia bisa melihat, bahwa sosok Zia memang cocok dijadikan ketua, karena selain dia orangnya tegas. Kedisiplinannya, keilmuannya dan juga adabnya pun tak perlu diragukan lagi.
Begitupun dengan sosok Fian yang seringkali dijadikan pangeran santeri putera karena kerupawanannya. Semenjak Yusuf sold-out, banyak santri puteri yang berubah haluan dan mengidolakan sosok Fian. Tentu, saat ini banyak kan yang milih Fian jadi ketua mengingat dia adalah primadona di pesantren Ar-Rizqon.
"Alhamdulillah. Selamat juga." ujar Saskia dalam hatinya. Ia merasa lega, karena dia tak terpilih untuk jadi ketua.
"Untuk sambutan resminya, saya persilahkan kepada calon ketua terpilih dari asrama putera terlebih dahulu, lalu dilanjut kepada teh Zia selaku calon ketua terpilih dari asrama puteri. Kepada A Fian, waktu dan tempat, saya persilahkan."
Para santriah tentu sangat senang melihat A Fian yang menjadi sosok yang diidola-idolakan saat itu. Begitupun santri putera yang tak segan-segan memilih kepemimpinan pada sosok Fian yang terkenal arif, bijaksana, berwibawa dan punya sifat yang tegas juga.
Setelah berbagai rangkaian acara di pesantren itu terlaksanakan dengan khidmat. Para santri/ah pun kembali ke kamarnya masing-masing begitupun dengan Tiara yang saat ini kembali ke rumah mertuanya dan segera merebahkan dirinya di kamar sang suami.
Tok! Tok!
"Eh, Ummi."
Tiara pun segera salim pada mertuanya, karena kebetulannya pas ia pulang ke rumah. Sang ibu mertua sedang tidak ada di rumah.
Segera Tiara pun ikut ke ruang keluarga dan di sana, sudah ada Abah Rifki juga yang ikut serta untuk berbincang bersamanya.
"Maaf sebelumnya, Ummi tidak maksud menyinggung teman kamu itu, Nak." ucap Ummi Susi mengawali percakapannya.
Tiara pun tersenyum mendengarkan penuturan umminya, ia masih tidak bisa menebak. Apa yang akan diutarakan oleh ibu mertuanya itu.
"Iya. Ummi. Tidak apa-apa. Silahkan dilanjut." balas Tiara.
Tampak, Kiai Rifki dan Ummi Susi bebarengan menghela nafasnya sejenak. "Apakah temanmu itu mantan PSK, Nak?"
Deg!
Tiara tak bisa menyembunyikan keterkejutanya itu. Dia kira, kedua mertuanya itu tidak akan tau akan masa lalu yang pernah terjadi pada sahabatnya itu.
"I-iya, Ummi. Tapi itu dulu, sebelum dia berhijrah." jawab Tiara, jujur.
"Jadi begini, Nak..." akhirnya, Kiai Rifki pun menyampaikan pembicaraan intinya itu.
"Apakah tidak bisa di sini saja, Ummi? Bukankah kita tak berhak menghakimi masa lalu seseorang? Lantas, apa bedanya kita dengan orang-orang di luaran sana, yang men-cap seseorang itu buruk hanya karena dari masa lalunya? Bagaimana kalau itu berlaku pada Tiara, Ummi. Abah.. Tiara mohon, jangan jauhkan Rayn dari kehidupan Tiara." ucap Tiara kecewa dan saat ini matanya pun terlihat berkaca-kaca.
__ADS_1
"Astaghfirullah. Bukan begitu, Nak. Maksud kami, Nak Rayn sebaiknya tinggal saja di sini sama kamu untuk sementara waktu. Mengingat, ada seseorang yang mencoba mencari keberadaanya sampai ke pesantren. Mungkin dari club malamnya. Ummi sama Abah khawatir, dia akan kenapa-napa, jika seandainya masih tinggal di asrama puteri. Setidaknya, kalau di sini. Dia bisa aman bersama kita." jelas Ummi Susi.
Tiara pun bernafas lega, karena tadi sang Abah tidak jelas menyampaikan pernyataanya dan Tiara pun sudah sangat gatal untuk menyela.
"Betulkah itu, Ummi? Kenapa bisa sampai tau mereka, tentang Rayn yang sedang berada di Pesantren?" tanya Tiara tak habis pikir.
"Nak. Kejahatan medsos dan teknologi ini tidak bisa kita sepelekan kehebatannya. Bahkan, kasus pinjol, riba, dan pencucian uang pun. Siapapun, kapanpun, di manapun. Ada celah baginya untuk mencelakakan seseorang, apalagi ini Rayn. Dia yang sudah jelas-jelas terlibat oleh orang-orang yang bisa dikatakan tak baik dan hanya mementingkan kepentingan dunia. Apakah kamu tidak berpikir, bahwa bisa aja kedatangan mereka kemari untuk mengajak Rayn kembali bahkan mempaksanya untuk bergabung kembali ke dunia malam itu?" jelas Ummi Susi lagi.
"Astaghfirullah. Tidak Ummi. Tiara akan melindungi sahabat Tiara." ujar Tiara nampak ketakutan.
"Ya sudah. Malam ini juga, Tiara akan langsung mengajaknya, ya."
Namun Ummi Susi pun langsung mencekal lembut lengan sang menantu. "Ini sudah jam sepuluh malam, Nak. Besok saja. Kebetulan kan besok hari jumat. Sekolahmu hanya berlangsung sampai sebelum jum'atan." ujar Ummi Susi nampak gemas dengan kesolidaritasan menantunya.
Tiara menepuk pelan jidatnya, "Eh, Iya. Hehe. Baiklah, Ummi, Abah. Tiara pamit ke kamar ya." ujarnya, lalu mereka pun segera bubar dan berlalu ke kamarnya masing-masing.
Di asrama, nampaknya Rayn hendak ke luar kamarnya dan akan mengambil bukunya yang tertinggal di aula.
Dia sama sekali tak curiga oleh suara-suara asing, yang sedari tadi mengikutinya dan kini, dia sudah berhasil mencekal pergelangan Rayn.
"Agh! Kau siapa?! lepaskan!!" teriak Rayn.
Kebetulan saat itu santri puteri maupun putera sudah pada ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Mengingat waktu sudah sore dan mereka harus bangun kembali jam tiga pagi untuk shalat tahajud.
Buk!
Dengan kekuatan sebisanya, Rayn akhirnya mampu untuk melumpuhkan seseorang bertopeng dan dress serba hitam yang ada dihadapannya ini.
"Jangan mengangguku!"
Rayn pun berlari dan hendak kembali ke asramanya yang cukup jauh dari aula. Namun, seseorang berhasil menepuk bahunya kembali.
"Agh!"
Rayn refleks berteriak namun saat itu, ia salah sasaran. Akhirnya, dia malah memukul seorang santri putera dan alhasil dia pun kesakitan, karena Rayn menajong anu' nya.
"Astaghfirullah. A F-fian. M-maaf. Saya kira...,"
Rayn nampak tak enak hati, karena Fian harus tersakiti olehnya. Padahal baru saja dia dilantik jadi ketua beberapa menit yang lalu, tapi dia selaku santeriah sudah bersikap onar.
"Sudahlah. Kamu tak perlu meminta maaf, karena saya juga mengagetkanmu barusan. Ehm, saya khawatir, karena malam-malam ada yang berteriak dari arah aula. Syukurlah, kamu baik-baik saja." ujarnya setengah meringis dan itu makin membuat Rayn tak enak dibuatnya.
"A Fian. Sekali lagi, mohon maaf, ya. Barusan ada seseorang yang mencoba menculikku." ujar Rayn, jujur.
"Ya sudah. Tidak apa-apa. Kembalilah ke kamarmu. Saya akan melihatmu dari sini, sampai kamu aman dan masuk ke pintu asrama puteri." ujarnya.
Rayn pun menganggukkan kepalanya, tanpa sadar. Sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan gerak-gerik Rayn.
__ADS_1
"Sialan! Bos! Kita tidak bisa melumpuhkan target hari ini." kata orang itu yang sedang sibuk menelpon di ponsel pintarnya.
...----------------...