
Keesokan harinya...
Tiara benar-benar akan mengutarakan niatnya untuk mengajak Rayn pindahan ke rumah sang mertua, mengingat semalam mertuanya itu memberitahu bahwa kondisi Rayn akan nampak tidak baik-baik saja jika terus tinggal di asrama puteri karena suatu bahaya yang mengintainya.
Namun, saat di jam sekolah siangnya. Tampak sang guru fisika yang killer itu terus menahan siswanya agar tak segera beranjak dari ruangan kelasnya. Hal itu dikarenakan tak ada satu pun yang mau mengerjakan soal di depan papan tulis sehingga waktu pun jadi molor sampai jam setengah dua belas siang.
"Gilaaa! Perkara rumus newton aja dipermasalahin. Udah jelas-jelas kamu sama Saskia kan bener ngerjainnya. Napa disalahin sih," dumel Rayn dan masih tak terima dengan kebijakan sang guru yang memperlambat mereka untuk keluar dari kelas siang itu.
Ya, Rayn memang tidak terlalu tau bagaimana ruwetnya guru fisikanya di sekolah boarding itu, karena beliau terkenal akan kedisiplinannya dan juga ketelitiannya sehingga para siswa pun harus perfect walaupun yang mereka hadapi itu adalah sebuah soal latihan fisika saja.
Tiara pun tersenyum mendengarkan gerutuan sahabatnya, "Udah. Lupakan. Nanti juga kalau ibunya lagi mood baik pasti gak bakal gitu lagi kok. Lagi sensi kali!" tandasnya.
"Ti! Semalem aku...,"
"Ada apa?"
Kini mereka sudah berada di kantin pesantren. Di mana para santriah membeli cemilan dan makanan disertai toko minimarket di sana sehingga para santri yang ingin belanja kebutuhan bulanan seperti membeli sabun mandi, shampoo, sabun cuci dan lain sebagainya bisa pergi ke sana.
Letak kantin itu ada di dalam pesantren ya. Jadi gak ada istilah santri pergi ke luar kompleks pesantren lagi. Hal itu dikarenakan pesantren pun sudah menyediakannya di sana dan pendapatanya pun menjadi penghasilan ponpes juga yang nantinya akan diputar modalkan kembalu untuk membeli bahan-bahan keperluan santri yang lain.
Bisnis ini baru saja diadakan baru-baru ini, tepatnya di mana Tiara sudah menikah dengan Yusuf. Modalnya pun adalah hasil dari tabungan pernikahan mereka yang sengaja mereka alokasikan untuk kebutuhan kantin dan minimarket pesantren.
Sebelumnya, jika para santri hendak pergi membeli kebutuhan bulanan mereka. Para santri dewasa alias pengurus asrama, mereka akan memantau santerinya untuk membeli kebutuhan itu di pasar yang kebetulan letaknya hanya sepuluh menit saja jika berjalan kaki.
Semuanya murni jadi ladang sedekah mereka berdua, bahkan pendapatannya pun untuk ke pesantren lagi, karena Tiara menolak hasil keuntungannya dari sana dan membiarkan uang itu dimanfaatkan untuk pesantren, mengingat ia pun mempunyai tabungan lain dari kedua orangtuanya yang tak kalah banyak.
Sultan mah bebas. Mungkin itu sematan yang pantas untuk Tiara. Apalagi Yusuf pun seorang influencer alias ustadz medsos yang ceramahnya itu sudah tersebar di sosial media mana pun dan itu tanpa sepengetahuan Ummi dan Abahnya, karena mereka pasti akan tidak menyetujuinya.
Dasar, Yusuf. Memang anaknya gigih dan tak peduli dengan gertakan siapapun. Selagi menurutnya baik, ya teruskan saja. Toh, niatnya baik dan tak ada sedikitpun rasa riya dihatinya. Dakwahnya itu murni karena dia memang senang berbicara dan tampil di depan kamera.
Sebab itulah, Yusuf yang diam-diam memiliki penghasilan lain dari kontennya di media sosial. Berhasil menabung hasil keringatnya itu untuk modal pernikahan plus nafkah lahir untuk isterinya saat ini yang sedang tinggal di pondok pesantrennya. Tempat dia bernaung dan tumbuh kembang sedari kecil hingga remaja.
"Oh iya, Rayn. Kamu mulai sekarang tinggal dulu sementara di rumah ummi, ya." pinta Tiara, sedangkan Rayn yang mendengarkannya pun langsung mengrenyitkan halisnya.
"Apakah ada hubungannya dengan kejadian semalam?" batin Rayn.
__ADS_1
"Rayn!" tegur Tiara lagi.
Saat ini mereka sedang menikmati bakso buatan Bik Samrah disertai mie ayamnya juga membuat hidangan makan siang itu komplit dan terasa makyuss. Apalagi Tiara yang notabene-nya seneng pedas, dia membuat makanannya tampak merah merekah dan saat ini pun dia sedang kelimpungan sendiri karena versi pedasnya itu gak main-main, hot ngajeletot pokoknya.
Uhuk-uhuk!
Rayn pun segera menyodorkan air putih hangat pada Tiara, lalu setelah itu jus alpukat yang baru saja hadir karena mereka baru memesannya. Sepengertian itu Rayn pada Tiara.
"Ti. Eling! Ku kira porsi pedas kamu udah mengurang, karena mungkin ada yang ngingetin atau nggak ngelarang. Eh, ternyata sama aja. Jangan kepedesan lagi ah, nanti mah. Aku orang terdepan yang akan melarangmu." marahi Rayn, sementara Tiara saat ini tersenyum, karena sang sahabat mengomelnya.
"Ini nih, moment yang aku kangenin. Coba aja ada Rere sama Mega juga di sini. Pasti kita bisa ngumpul dan bercengkrama bareng di sini." ujar Tiara tiba-tiba sendu. Begitupun Rayn yang sudah hampir sebulan ini betah tinggal di pesantren.
"Hei, Ti. Rayn. Aku ikut gabung, ya!" kata Saskia, yang saat itu ikut memesan bakso big saja, tanpa mie kuning atau bihun sebagai pelengkap hidangannya.
"Silahkan, Ki." sahut Tiara mempersilahkan, begitupun Rayn.
"Oh iya. Perkara tadi, kenapa Ummi berkata seperti itu?" tanya Rayn, mencoba menuntut penjelasan dari Tiara. Kenapa dia harus tinggal di rumah mertua Tiara sementara.
Sedangkan Saskia pun sibuk mengemil saja sambil sesekali mendengarkan, apa yang sedang Tiara dan Rayn perbincangkan itu.
Tiara pun nampak menghela nafasnya pelan, "Ki. Kata Ummi, untuk sementara waktu ini, Rayn kami biarkan tinggal di rumah dulu, karena kebetulannya ada hal yang urgent dan itu hanya kami saja yang boleh mengetahuinya. Kira-kira, teh Zia mengizinkan tidak, ya?" tanya Tiara pada Saskia.
Saskia pun yang ingin bertanya lebih, karena penasaran, tapi ia berhasil menahannya dan akhirnya ia pun menjawab, "Coba aja bilang dulu ke ketua pengurus asrama, Ti. Kalau ini memang perintah bu Nyai sama pa Kyai. Its okay. Cuma, alasannya mungkin harus kamu utarakan. Bagaimanapun, pesantren ini punya aturan dan semua santri wajib menaatinya." jawab Saskia lugas.
Tiara pun menganggukkan kepalanya, "Baiklah. Setidaknya aku bisa lebih tenang setelah mendengarkan jawabanmu, Ki. Makasih, ya. Udah mau membimbing Rayn sampai saat ini." ujarnya, berterimakasih.
"Sama-sama, Ti. Rayn. Kita belajar aja bersama-sama."
Siang itu. Mereka hanya mengobrol santai. Lalu menceritakan tentang sekolah beserta pelajarannya, mengingat ketiganya pun sekelas. Jadi, apapun yang dibahas tentu akan nyambung dan setelahnya, Tiara dan Rayn pun segera bergegas ke kamar Zia selaku ketua pengurus asrama puteri.
...----------------...
"Assalamualaikum," ketuk Tiara di depan ruangan Raisah (pengurus ketua asrama puteri) yang mana di dalamnya tinggalah pengurus inti, mencakup sekretaris dan bendahara pengurus pesantren yang menjadi bawahan Zia sebagai ketuanya.
"Waalaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh. Eh Tiara, Rayn. Ayok masuk!" persilahkan Zia. Kebetulannya dia sedang ada di ruangannya.
__ADS_1
"Ada apa? Menantu Kyai?" goda Zia.
Tiara pun salting digoda begitu oleh kakak tingkatnya itu, "Teh. Aku mau menyampaikan amanah dari bu Nyai. Tapi, aku harap teteh bisa memaklumi keputusan ini, ya." ujar Tiara, serius.
"Iya. Silahkan, sampaikan saja. Insya Allah, teteh juga bakal ngasih keputusan yang tepat permasalahan yang akan kamu utarakan saat ini."
Deg-Deg-Deg!
Tak dapat dipungkiri, Rayn sendiri yang belum tau biduk permasalahannya apa dan kenapa dia sampai disuruh tinggal di rumah mertua Tiara. Tentu membuatnya semakin tidak enak, mengingat dia bukanlah siapa-siapa apalagi keluarga pesantren.
"Untuk sementara waktu, Ummi ingin meminta Rayn tinggal di rumah kami, mengingat ada sesuatu yang harus ummi kerjakan bersama Rayn dan juga aku. Terutama saat di malam hari. Jadi, aku minta izin ya teh Zia, kepada teteh selaku ketua pengurus puteri untuk mengizinkan Rayn tinggal di sana sementara waktu." jelas Tiara.
"Berapa lama? Ada waktu pastinya nggak?" tanya Zia, tegas.
Ia tak akan menanyakan hal yang semisalnya tergolong privasi, apalagi ini atas dasar permintaan pimpinan pesantrenya. Pasti ada hal yang benar-benar urgent dan Rayn pasti sangat dibutuhkan di dalamnya.
Zia tak mempermasalahkannya cuma, dia ingin kejelasana berapa waktu sehingga dia bisa menyesuaikan kewajiban santri yang melekat pada Rayn, berbeda dengan Tiara yang sudah lepas menjadi menantu pesantren.
Tentu, posisi Tiara yang sudah sebagai menantu dialih tanggungjawabkan pada suaminya, bukan pada pesantren lagi. Dan itu jelas berbeda untuk Rayn yang hanya seorang santri dan kebetulannya teman akrab Tiara-menantu pesantren Ar-Rizqon.
"Soal itu, mungkin beberapa minggu aja, Teh. Insya Allah, kami pun akan segera menyelesaikan tugas itu. Kalau udah selesai, pasti akan kami kembalikan lagi Rayn ke asrama." ujar Tiara. Sementara Rayn nampak terdiam, karena ia bingung harus berbicara apa.
"Rayn. Kamu gak tau, soal apa Ummi Susi sampai ingin membuatmu tinggal di sana?" kita Zia, bertanya pada Rayn.
"T-tidak, tau, Teh. Aku juga baru dapat kabar sekarang dari Tiara. Mungkin, setelah aku ke sana dan menanyakannya, baru aku tau alasannya." jawab Rayn gugup.
"Baiklah. Tapi, tetap ya. Jadwal piket pagi-sore sama patrol harus tetap berjalan. Kalau Tiara, ya dia mah sudah jadi menantu. Jadi kamu jelas berbeda ya sama temanmu itu, Rayn. Kalau begitu, saya izinkan. Tapi, kalau ada apa-apa dan sekiranya itu penting buat saya ketahui. Tolong jujur dan katakanlah pada saya." pinta Zia, tegas.
"Baik, Teh. Terimakasih. Tiara pamit yaa sama Rayn."
Mereka pun nampak bersaliman dan Zia pun tak luput memandang kedua orang yang baru saja menemuinya barusan.
"Apa ada masalah dengan Rayn? Ko aku curiganya, bukan masalah urgent sih? Kayak ada hal lain gitu loh." batin Zia, bertanya-tanya dalam hatinya.
...----------------...
__ADS_1