
Sebelum pergi ke bandara. Tiara dan Yusuf tak lupa berpamitan pada kedua orangtuanya melalui sambungan telepon. Ya, katanya mau ke negara lainnya pun di gas aja. Tapi mereka milih gimana nanti aja. Soalnya Tiara gak sabar banget pengen ke Turki.
"Yakin gak mau ke negara lainnya lagi?" tanya Yusuf memastikan.
"Iya. Lagian Mas di sana kan mau kerja. Masa aku gangguin terus sih," balas Tiara agak kasian.
"Hem, padahal ini gak terlalu urgent sih. Sekalian aja kamu main ke perusahaan ya nanti?"
"Iya. Aku juga penasaran. Ko Papa gak pusing ngurus sana-sini. Aku aja dengernya ogah berat. Semangat ya, Mas!" Yusuf pun membalasnya dengan senyuman.
"Demi istri, demi masa depan, dan demi kesejahteraan anak-anak kita. Aku pasti bakal memperjuangkannya semaksimal mungkin," Tiara pun malah tertawa kecut.
"Alaaaah, mikirnya ke sana teruss!" ujar Tiara menjulurkan lidahnya sebal.
"Eh, udah jam empat sore. Kita boardingnya udah maghrib loh. Dari sini ke Bandara lumayan jauh, belum macet. Yu, berangkat sekarang!"
Keduanya pun segera bersiap-siap dan menyiapkan dua koper untuk mereka bawa ke negeri Turki itu. Maklum, Yusuf akan tinggal selama beberapa bulan di sana.
Maka Tiara pun berinisiatif untuk membawa makanan cepat saji buat suaminya selama di sana. Biar lebih praktis aja. Jadi satu kopernya lagi, khusus untuk makanan dan peralatan lainnya. Se-prepare itu.
Setelah sampai di bandara internasional Soekarno Hatta. Keduanya langsung melaksanakan shalat maghrib terlebih dahulu di mushola bandara, sebelum 30 menit lagi mereka akan benar-benar naik pesawat.
"Hufft! Ko deg-degan sendiri ya mau ke Turki? Ini beneran kan?" ucap Tiara benar-benar tak percaya.
Pasalnya, meskipun dirinya orang berada. Tapi Tiara jarang bepergian ke luar negeri, kalau di dalam negeri sih sering, karena ia bisa pergi bersama teman-temanya.
"Sembilan rius. Kamu bakalan ke Istanbul, mau ke masjid Hagia Shopia dulu ga? Kayaknya seru malam-malam menuju shubuh i'tikaf di sana," ajak Yusuf.
"Pengen.. Pengen. Tapi, emangnya boleh? I'tikaf segala di sana. Hem, liat di internet, masjidnya itu arsitekturnya itu antar perpaduan mosaik khas era Bizantium dan kaligrafi dari masa Kesultanan Ottoman. Kayak yang wah aja gitu. Gak kebayang bisa masuk ke sana. Sekarang aku mau mengunjunginya, huh," tanggapi Tiara.
__ADS_1
"Dulunya masjid itu pernah jadi gereja loh, terus berubah jadi museum. Malah disebut sebagai katedral terbesar di dunia yang memiliki makna khusus bagi komunitas Orthodox (orang kristen). Tapi, Hagia Sophia dikonversi menjadi masjid ketika Sultan Muhammad Al-Fatih (1451-1481 M) yakni pada saat beliau menaklukkan Istanbul pada tahun 1453 M." terang Yusuf.
"Wah, iya betul. Nama aslinya tuh siapa sih? Kenapa beliau terkenal banget. Aku lupa,"
"Nama aslinya tuh Mehmed bin Murad beliau juga termasuk salah satu pemimpin Turki yang ke-7. Jadi Sultan Muhammad Al-Fatih itu dijuluki Al-Fatih karena beliau telah menaklukan konstantinopel (Istanbul téa) di saat usianya masih 21 tahun. Keren kan? Beliau di usia segitu udah jadi pahlawan islam dan menaklukan benteng terkuat pada masanya. Selain jago menaiki kuda, beliau juga pintar di bidang akademiknya, seperti jago bahasa Arab, Persia, Latin, Yunani, Italia dan juga menguasai ilmu sains dan juga matematika. Pokoknya, orang-orang zaman dulu memang se-wow itu," jelas Yusuf panjang lebar.
"Kok bisa ya orang-orang zaman dulu semultitalenta itu? Kayak yang dengernya tuh, MasyaAllah. Tapi di zaman sekarang, orang-orang yang jago apa kek, sampai beberapa bidang dikuasainya. Kayak biasa aja. Ko bisa ya gitu?" tanya Tiara heran.
"Karena orang-orang zaman dulu tuh tirakatnya kuat. Ibadahnya kenceng, dzikirnya mantep. Makanya pada sukses dunia akhirat. Keberkahan pun meliputi mereka. Kalau sekarang, rata-rata orang ngejar dunia, dan mengesampingkan akhirat. Contoh aja inimah maaf, kita seringkali menunda-nunda waktu shalat. Menjadikan shalat kewajiban saja. Padahal kan itu tuh moment sakral. Moment di mana kita bertemu Allah. Harusnya benar-benar semangat sebagaimana kita pengen apa-apa mintanya cepet ke Allah. Tapi kita denger panggilannya aja, gak gerecep sama sekali. Gimana gusti Allah gak kecewa,"
"Iya yah. Berat banget ya, Mas. Berat! Mau jadi orangtua aja kita harus kencengin tirakat. Ya, menahan hawa nafsunya, puasanya, ibadahnya, dzikirnya. Kayaknya aturan islam tuh secara tidak langsung membuat kita baik secara lahir dan batin. Cuma, gak semua orang menyadari itu semua," sahut Tiara.
"Nah, itu betul istriku. Contohnya kayak wudhu aja. Secara logika wudhu tuh cuma basuh-basuh biasa aja lah gitu ya. Tapi, dari sudut pandang pengobatan secara medis oleh Mokhtar Salem dalam bukunya berjudul "Prayers: a Sport for the Body and Soul (Sholat: Olahraga untuk Jasmani dan Rohani)" menjelaskan bahwa wudhu bisa mencegah kanker kulit. Jenis kanker ini lebih banyak disebabkan karena terpaparkan kulit oleh bahan-bahan kimia yang menempel setiap hari dan terserap oleh kulit. Membersihkannya dengan air (berwudhu) minimal lima kali sehari jadi salah satu cara efektif untuk mencegahnya."
"Wah, ini secara medis ya, Mas. Ilmuwan sudah menelitinya berarti wudhu itu memang seajaib itu bagi kesehatan. Malah aku pernah denger, katanya setiap basuhan air wudhu itu akan menggugurkan dosa-dosa kita. Begitupun saat kita shalat, terutama pas rukuk dan sujud. Nah, di sujud itu kita dianjurkan untuk berdo'a apapun itu. Karena di sana tempat terkabulnya do'a itu paling mujarrab,"
"Cakep! Istriku makin pintar aja." puji Yusuf sambil mengusap lembut pipi istrinya.
"Idih, sama suami sendiri kayak gitu. Gak bisa dibiarin!" Yusuf pun semakin menggoda istrinya itu, alhasil mereka seperti menikmati dunianya sendiri dan orang-orang pun termasuk pramugari tersenyum ke arah kedua pasutri itu.
"Hei, udah Mas. Ini di tempat umum. Kamu tuh gak kenal tempat ya bercandanya," tegur Tiara sebal.
"Abisnya kamu gemesin banget. Masa tanganku ini banyak kumannya. Apa kabar dirimu sayang? Inget gak? Sebelum ke sini kamu megang apa," ujar Yusuf menggoda lagi.
"Megang apaan? Mas jangan ngada-ngada ya! Dasar, mesum!" protes Tiara.
"Ha ha ha, sepertinya kamu deh yang mesum. Emangnya mikirin apaan hayoh,"
"Ah kacau. Aku sudah terkontaminasi suami sendiri. Gara-gara kamu, pikiranku jadi kotor gini," tuduh Tiara.
__ADS_1
"Hem. Mas ngantuk. Tidur yuk! Kamu gak ngantuk?" ucap Yusuf mengalihkan pembicaraan.
"Belum ngantuk. Kayaknya pengen pudding sama donat deh. Ada gak sih di sini?"
"Ada. Bentar. Mas ke belakang dulu ya bilang ke pramugari," namun Tiara malah menahannya.
"Gak ah. Pramugarinya seksi-seksi. Kamu kesempatan aja ya biar cuci mata?" tuduh Tiara.
"Astaghfirullah. Enggak sama sekali. Mas nunduk dari tadi juga. Hem, yaudah deh. Mas!" panggil Yusuf ke pramugari pria. Tiara pun seketika langsung tersenyum.
"Udah cemburunya?" ujar Yusuf memastikan.
"Siapa yang cemburu," Tiara pura-pura merajuk.
"Nih tuan puteri. Donat sama cake-nya sudah tersedia," Yusuf pun memberikan nampan dari pramugari pria itu. Lalu Tiara pun nampak berbinar melihat kedua makanan favoritnya itu.
"Suapin," rengek Tiara.
"Ya ampun. Ini istri siapa manja banget," Yusuf pun langsung menyuapinya. Namun saat Tiara masih mengunyah, ia pun mencuri kecupan singkat pada istrinya itu.
"Ih, main nyosor-nyosor aja!" gerutu Tiara.
"Em, Mas ikutan kenyang juga nih," gumamnya, sementara Tiara menyubiti pinggang suaminya itu.
"Nakal... Nakal!"
Ya, kedua pasutri itu nampak betah bercanda dari tadi. Namun, tiba-tiba saja pesawat terguncang dan peringatan untuk memakai alat pengaman pun berkumandang dengan kerasnya.
"Mas! Kenapa ini!" mereka semua panik.
__ADS_1
***