
"Tiara???" teriak Rere di ambang pintu, ia pun langsung menghamburkan pelukannya ke arah Tiara yang kini sudah ada di halaman rumahnya.
"Kamu kenapa, kok wajahnya sembab gini?" tutur Rere yang langsung mengusap pipi Tiara saking cemasnya ia pada sahabatnya.
Kebetulan, malam itu Rere tengah ngadem di balkon kamarnya yang ada di lantai dua, lalu tak sengaja dia melihat mobil berhenti di luar pagar rumahnya. Sontak ia pun terkejut, tatkala wanita yang keluar dari mobil itu adalah Tiara.
"Ceritanya panjang, Re. Untuk beberapa hari ke depan, boleh gak aku tinggal dulu di rumah kamu?" pinta Tiara dengan nada memelas.
Wajahnya nampak pucat, pakaiannya pun nampak awut-awutan dengan balutan hijab yang sudah kusut bahkan tak enak lagi untuk dipandang. Mau melepas hijab pun rasanya ia sudah merasa malu, untuk menampakkan auratnya lagi. Entah kenapa kini dirinya merasa nyaman dengan pakaian tertutup, tentu dengan balutan hijab yang sudah istiqomah ia pakai sehari-hari. Sementara Reza yang mengantar Tiara kini ia sudah berpamitan untuk pulang kembali ke kediaman megahnya.
"Ya ampun, kamu pasti ada masalah ya? Boleh-lah, gak boleh kenapa coba. Ayo masuk!" ungkap Rere sambil menarik lengan Tiara yang nampak lemas itu.
"Bunda.. Ayah.." teriak Rere keras.
Pasalnya saat itu keadaan rumahnya sudah nampak sepi, padahal baru jam sembilan malam. Ternyata kedua orangtuanya sudah stand by di kamarnya. Rere gak tau, sebenarnya mereka tengah melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan oleh orang dewasa. Maklum, Rere ini memang anak polos plus ceplos-ceplos. Jadinya orang tuanya pun akan extra hati-hati, jika sedang berbincang ataupun membahas sesuatu dengan anak semata wayangnya.
"Udah, jangan teriak-teriak. Mungkin sudah tidur. Kita langsung ke kamar kamu aja," ucap Tiara mengalihkan pandangan Rere yang terus saja mencari keberadaan orangtuanya.
"Baiklah. Aku gak sabar pengen denger curhatan kamu, yuuu cepet!" seperti biasa, Rere yang energik itu langsung mengajak Tiara berlarian menuju ke kamarnya. Hal itu membuat Tiara ceria kembali, setelah beberapa jam lalu ia sempat mengalami guncangan yang begitu hebat.
Kini, mereka berdua pun sudah di kamar Rere yang begitu luas dan terkesan elegan. Perpaduan warna gold, pink dan putih nampak mendominasi di dalam kamarnya. Di tambah boneka-boneka yang menjadi pajangan di setiap sudut kamar Rere. Ya, dia adalah si pecinta boneka. Maka tak heran jika siapapun masuk ke dalam kamarnya, boneka-boneka big maupun little sudah berjejer rapih dan siap menyambut sang Tuannya.
"Gila. Ini boneka tiap bulan nambah apa yah? Terakhir aku ke sini gak sebanyak ini. Kok sekarang jadi makin rame ya?" gumam Tiara heran, sementara yang punyanya hanya cekikan sendiri.
__ADS_1
"Abisnya gemes, Tiara. Kalau ada boneka lucu dan menggemaskan di Mall. Aku pasti beli mereka. Tuh, ada ruangan khusus juga buat bonek-boneka aku yang gak muat di taruh di sini. Ih, pokoknya ucul-ucul banget," ungkapnya antusias dan nampak sangat riang.
"Nggak ah. Aku gak minat. Sebelumnya, aku mau ikut ke kamar mandi sama minjam baju kamu dulu. Boleh gak?" kata Tiara lagi yang nampak canggung dengan sahabatnya.
"Hih, kamu kayak udah sama siapa aja. Aku kan sahabat kamu dari dulu, kenapa harus gak enakan ginii. Beda yah, jadi santri mah sekarang udah anggun gini, gak sebar-bar dulu," sahutnya sambil mengambil beberapa setelan piyama berlengan panjang dan juga mukena, khusus untuk Tiara.
"Ya gak tau, Re. Aku berubah ya? Gak nyadar asli. Tau gak? Aku di sana pun masih bisa pergi jalan-jalan, bahkan nge-Mall dan nonton bioskop," ungkapnya senang.
"Wah, serius? Ko bisa?" tanya Rere membelalakan matanya tak percaya.
"Nanti ceritanya. Aku ke kamar mandi dulu ya!" Rere pun menganggukkan kepalanya tanda setuju. Ia pun langsung bergegas ke dapur untuk mengambil beberapa makanan berat dan juga cemilan untuk dirinya dan juga Tiara. Ia sudah bisa menebak, pasti sahabatnya itu tengah kelaparan.
...----------------...
"Ti, mending kamu makan dulu deh. Nih, aku udah bawa makanan yang banyak, khusus buat kamu. Cepet makan dulu pokoknya!" kata Rere tanpa berbasa-basi. Ia sudah tahu, Tiara memang orang yang tak enakan. Makannya ia sedikit memaksanya, agar Tiara tak merasa canggung kembali.
"Ada apa sih, aku kok penasaran banget.. Itu om tadi siapa? Kenapa bisa sama kamu? Terus, kamu kok gak di pesantren? Orang tua kamu udah tau kamu ke rumah aku sekarang?" cerocos Rere yang memberondong banyak pertanyaan pada Tiara.
"Satu-satu dong, aku bingung mau jawabnya dari mana," ungkapnya tertawa lebar. Kini ia sudah berenergi kembali. Nampaknya, Rere memang mood boster baginya. Ia nampak merindukan kedua sahabatnya yang lain, yaitu Mega dan Rayn juga.
Akhirnya Tiara pun menjelaskan perihal penculikan Dhika yang dilakukannya saat ia sedang menyapu di luar gerbang pesantren. Lalu penyekapan Dhika di kediamannya, termasuk dirinya yang hampir dilecehkan. Ia pun kemudian bisa selamat karena papanya Dhika yang ternyata teman bisnis papanya. Lalu ia pun akhirnya memutuskan untuk ke rumah Rere, karena menurutnya orangtua Rere akan kooperatif dan tak akan mengadu pada orangtuanya.
"Astaghfirullah. Itu si psikopat kayaknya harus dijeblosin ke penjara deh. Kurang ajar! Lama-kelamaan makin ngelunjak itu kelakuannya," umpat Rere dengan kesalnya.
__ADS_1
"Nah itu dia. Harusnya kan dia jadi buronan polisi. Secara tempo hari dia udah nikam Yusuf kan? Ternyata, Dhika gak bisa di penjara begitu saja, karena ada om Reza yang jadi power terbesarnya. Jadi, sekelas polisi pun sampai sekarang gak akan bisa tuh nangkap Dhika, secara kan papanya Dhika pebisnis besar juga kayak papa aku," ungkap Tiara lesu. Ia pun berharap, Dhika bisa berubah agar tak terus-menerus menerornya.
"Tapi ini gak bisa dibiarin, Tiara. Kamu harus ngobrol sama nyokap. Bagaimanapun, ini tuh kesalahan yang sangat fatal. Untung aja kamu gak diapa-apain. Coba, kalau papanya di Dhika gak datang. Gimana dong nasib kamu," ungkap Rere khawatir.
"Nah, itu dia. Aku udah terlanjur nge-iyain ke om Reza. Jangan sampai kejadian ini Papa aku tahu. Bisa putus deh hubungan baik bisnis mereka. Lagian, om Reza juga udah baik nolongin aku sama nganter aku ke sini kan? Mana aku juga gak mau papa sama mama tau aku lagi gak di pondok. Ah, rumit!" ucap Tiara pasrah.
"Ah, aneh banget! Si Dhika di didiknya gimana sih? Perasaan dia udah kayak orang gila, tapi tetep dibiarin berkeliaran. Apa emang gak pernah dididik gitu ya sama orangtuanya? Hih, ngeselin!"
"Eh, Rere. Tau gak? Selama di sana, aku gak liat sosok ibu Dhika. Apa jangan-jangan, Dhika kekurangan kasih sayang?" tebak Tiara.
"Bisa jadi sih. Secara kan.. Ah udah, aku maless ngobrolin si psikopat yang tak tahu diri itu. Mending kamu cerita, gimana caranya kamu bisa ke Mall sama ngebioskop selama di pesantren? Bukannya kamu kayak udah dikurung aja gitu yaa di sana? Ko bisa??" desak Rere yang memang kepo dengan perkataan Tiara tadi.
Tiara pun lantas menceritakan kejadian nackalnya itu. Sementara Rere hanya geleng-geleng kepala. Ternyata Tiara senekad itu demi keluar dari pesantren.
"Tapi, Bu Nyai sama Pak Kiai tau gak kamu kayak gitu?" tanya Rere lagi.
"Ya, nggak lah. Pokonya, aku mau gimana-gimana pun gak ada yang tahu. Haha. Serasa membodohi semua orang yang ada di pesantren," ungkapnya sambil tertawa licik.
"Awas loh. Sebaik-baiknya kamu menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga. Kamu bisa selamat sekarang, tapi gak tahu kalau kejadian ini suatu saat bakal terbongkar," nasihati Rere pada Tiara.
"Ya, semoga aja gak ketahuan. Lagian, semakin ke sini aku makin tobat kok. Bahkan, aku pun udah takut mau lepas hijab pun saking udah mendarah dagingnya," ungkap Tiara serius.
"Yakin tobat? Harusnya kamu pulang aja ke Pesantren sekarang tuh, bukannya ke sini. Eh, bukan maksudnya ngusir yah? Pasti orang-orang di pesantren pada kalut nyariin kamu."
__ADS_1
"Eh, iya yah? Aduh, kok aku bodoh banget. Mana di pesantren aku punya tim IT. Gimana kalau dengan hilangnya aku, mereka bisa lacak aku, pernah pergi ke mana atau mungkin.. Re.. kacau..." kini Tiara mengutuki dirinya. Pasalnya ia tak memikirkan dengan matang perihal itu semua. Sudahlah, ia pasrah, seandainya ia harus di hukum saat dirinya kembali lagi ke pesantren.
...----------------...