Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 22


__ADS_3

"Loh, ini sapu lidinya tumbang gitu aja, tapi orang yang makenya kenapa gak ada?" kata Lili yang mulai resah, karena Tiara tidak ada di gerbang pesantren.


"Tolong!" kini Lili pun teriak, ia panik. Menghilangnya Tiara tentu akan membuat geger seluruh pesantren, termasuk para kiai dan bu nyai.


"Ada apa, Li?" Saskia yang nampak sedang berkebun di sana mendengar teriakan Lili yang begitu nyaring. Ia pun menghampirinya dengan langkah yang cepat.


"Teh Tiara hilang. Ya ampun, gimana ini teh Kia." ucap Lili yang terus panik, karena sampai saat ini Tiara tak kunjung menampakkan hidungnya.


"Kamu yang tenang, ya? Aku mau coba ke anak IT yang bisa lacak keberadaan Tiara. Siapa tahu dia belom jauh dari sini, seandainya diculik." tebak Saskia. Ia memang sudah curiga, Tiara tidak mungkin kabur atau pergi tanpa kabar. Ia sudah bisa menebak, kemungkinan terburuk saat ini adalah Tiara tengah diculik oleh seseorang.


"Ya Allah, siapa yang nyulik? Aku nyesel ngebiarin teh Tiara nyapu di gerbang pesantren, astaghfirullah," kini Saskia dan Lili pun menuju ke asrama putera. Ia ingin menyuruh Wisnu melacak keberadaan Tiara, siapa tahu ia bisa menemukannya.


"Bentar, aku coba yah," sahut Wisnu yang kini tengah mengotak-atik alat canggih pesantren untuk menemukan keberadaan Tiara.


Saat ini Saskia dan Lili saja yang tahu kabar hilangnya Tiara. Mungkin kalau sampai malam Tiara tak kunjung ditemukan walau sudah dilacak, mereka akan ngadu ke Bu Nyai dan juga Pak Kiai. Bagaimanapun, kejadian ini benar-benar fatal.


"Gimana Wisnu.. Udah ketemu?" kata Saskia tak sabar.


"Belum. Kok susah ya?" Wisnu pun harap-harap cemas. Biasannya ia bisa menemukan seseorang dengan mudah dengan modal perangkat komputer. Namun kini untuk menemukan Tiara, mengapa sulit?


"Ya Allah.. Teh, aku aduin aja yaah sekarang ke Bu Nyai?" kata Lili yang sangat cemas.


"Jangan dulu, kita tunggu Wisnu menyelesaikan operasi pencariannya. Kalau sampai menjelang maghrib nanti tak kunjung hasil. Baru deh kita ngadu,"


Entah kenapa Saskia merasa lega dengan hilangnya Tiara. Rupanya kepribadian Saskia itu berubah-ubah. Kadang ia baik, kadang ia tegaan. Apa mungkin faktor cemburu?


"Loh, kok gitu sih teh Ki?" ungkap Lili heran. Biasannya Saskia gak begitu.


"Udah sini, duduk dulu aja. Lagian baru jam lima sore kan," tutur Saskia tenang.


"Justru mumpung masih sore, harusnya kita sigap untuk mencari keberadaan teh Tiara. Lapor polisi kek, apa gituh, ih aneh banget sama teh Kia," gerutu Lili dalam hatinya.


"Nah, ketemu. Eh, kok terputus gitu aja sih," gumam Wisnu cemas. Pasalnya, sekejap ia telah menemukan keberadaan Tiara. Namun kini, ia harus kehilangan jejak kembali.

__ADS_1


"Kenapa? Ko bisa gitu?" tanya Lili penasaran.


"Yang nyulik teh Tiara bukan orang biasa. Kita harus lapor ke bu Nyai, pa Kiai. Biar pihak berwajib yang terjun. Aku angkat tangan," ungkap Wisnu menyerah. Seketika Lili pun berlari hendak ke rumah Kiai nya. Sementara Saskia nampak termenung, apakah ia harus sedih atau bahagia?


"Ki." tegur Wisnu.


"Heuh?" Saskia pun sadar dari lamunannya.


"Gak biasannya kamu cuek gini ke Tiara. Ada apa sih?" tanya Wisnu penasaran. Pasalnya ia selalu melihat Saskia dan Tiara nampak begitu akrab. Namun melihat tingkah Saskia saat ini, Wisnu merasa ada yang janggal.


"Ga kenapa-napa. Kalau gitu, aku cabut ya! Makasih loh bantuannya," ungkap Saskia beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba saja Wisnu mencegah Saskia, seketika mereka pun saling berhadapan.


"Aku tau kamu cemburu kan sama Tiara? Kamu suka kan sama A Yusuf?" tutur Wisnu, kini ia memandang Saskia dengan tatapan yang begitu dalam.


"Kata siapa, kamu jangan ngasal deh," ucap Saskia berkilah.


"Ayolah. Sampai kapan kamu nolak aku terus? Dibanding mengharapkan A Yusuf. Aku bisa kok ngebahagian kamu. Bukalah hatimu, Ki. Sedikit aja buat aku," pinta Wisnu. Namun Saskia malah memalingkan wajahnya.


"Aku kan udah bilang berkali-kali sama kamu. Aku gak suka kamu. Cinta itu gak bisa dipaksa. Kenapa kamu gak ngerti-ngerti sih?!" Saskia pun menghentakkan kakinya kesal, lalu berlalu meninggalkan Wisnu yang nampak melongo melihat kepergian Saskia.


Wisnu memang memendam perasaannya selama ini pada Saskia. Bahkan dia pun tidak jadi keluar pesantren saat hendak melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA. Hal itu dikarenakan, saking seriusnya dia menyukai sosok Saskia yang sampai saat ini terus saja menolaknya.


Ia bertekad dan berjanji pada dirinya, ia tidak akan menyerah menggapai hati seorang Saskia. Ia akan mempertaruhkan apapun, seandainya Saskia tak kunjung membalas perasaanya. Begitulah gambarannya orang yang buta akan cinta. Semuanya terasa indah, bahkan yang terlihat pahit sekalipun, ia tetap merasakan manis walaupun tak nikmat. Padahal sejatinya, itu adalah racun yang seharusnya ia hindari.


...----------------...


Pria misterius itu sudah menapaki kediaman megahnya. Siapa sangka, ternyata sosok Dhika adalah seseorang yang berpengaruh, bahkan dia adalah seorang sultan. Pantas saja dia bisa terbebas dari incaran polisi, bahkan sampai saat ini, ia ditetapkan sebagai tersangka pun, masih belum ada yang mampu menangkapnya. Rupanya powernya itu sangat berpengaruh, sehingga sekelas polisi pun tak mampu mengadilinya.


"Bukankah dunia ini sebercanda itu? Siapa sangka, aku yang selalu dilecehkan saat di sekolah. Akhirnya mampu merebut dirimu ke dalam dekapanku, wahai gadisku.. Apakah kamu mendengarku?" tuturnya sambil menyeringai licik pada sosok wanita yang masih pingsan di sampingnya.


Kini, pria itu menggendong wanitanya. Di sana tak ada bodyguard yang banyak. Hanya ada satu dua. Itupun milik papahnya. Ternyata sudah lama ia tak merasakan kasih sayang seorang ibu. Ibunya sudah meninggal saat ia berumur dua tahun. Sehingga sampai saat ini, ia pun tumbuh menjadi seseorang yang tak berperasaan, bahkan pura-pura menjadi orang culun di hadapan orang-orang. Padahal ia adalah sosok yang bengis dan tak segan-segan mencelakai siapapun.


Perlahan-lahan, gadis itu pun mengerjapkan matanya. Kepalanya nampak pusing, badannya serasa sakit. Ia tak tahu, di manakah dirinya berada? Kini wanita itu mengiringis kesakitan dalam kasur mewah yang telah di sediakan pria misterius itu.

__ADS_1


"Aku di mana?" gumamnya pelan. Ia pun memindai sekelilingnya. Sungguh, tempat ini benar-benar asing baginya.


Ceklek! Pintu pun terbuka dan menampakkan sang Tuan rumah. Tiara nampak syok melihat siapa yang membukakan pintu. Seketika dirinya pun menarik selimut dan menyelimuti sekujur tubuhnya. Ia nampak gemeteran, karena tempo hari ia ingat, pria itu mengincar dirinya. Apakah kini ia benar-benar harus hancur di tangan pria itu?


"Kamu! Kenapa bawa aku ke sini?!" teriak Tiara begitu lantang. Namun pria itu terus tersenyum sengit. Ia tak peduli wanitannya itu menolaknya. Yang ia inginkan saat ini. Wanita itu berada di sampingnya, tak peduli ia di terima atau di caci maki. Yang pasti, wanita itu harus menjadi miliknya.


"Kamu sudah bangun?" tanya Pria itu tenang.


Jawab! Kenapa kamu menculikku? Apa salahku? Kenapa kamu tega padaku?!" ungkap Tiara yang terus menangis dan mencoba menghindari tatapan maut pria bernama Dhika itu.


"Tenanglah. Kamu akan aman di sini. Aku akan memenuhi kebutuhanmu, dan juga keinginanmu. Ku pastikan kamu tak kekurangan apapun selama bersamaku. Asal kamu harus nurut, aku tak akan melukaimu, Sweety," ungkap Pria itu.


Kini ia duduk di sofa kamar tempat Tiara berada. Saat ini dirinya tak akan bertindak lebih pada gadis itu. Ia hanya ingin memandang wanitanya itu sedikit lama, sampai saat dirinya mempunyai keinginan untuk bertindak lebih, ia tak akan segan-segan untuk melakukannya.


"Jangan macam-macam kamu, Dhika! Lebih baik aku mati saja saat ini juga, dibanding harus tinggal bersamamu dan mendekam di sini selama-lamanya. Keparat kamu Dhika!" ucap Tiara dengan beraninya. Ia tak segan-segan mencaci maki pria di depannya.


Plak! Tamparan pun mendarat di pipi mulus Tiara. Ia murka mendengar ocehan Tiara yang menurutnya berlebihan. Namun seketika, ia pun membelai lembut pipi wanita itu, lalu mendekatkan wajahnya lebih rekat sampai tak ada jarak lagi antar keduanya.


"Lepasin aku, ku mohon! Dhika.. Plis!"


"Tidak... Tidak akan pernah!"


"Dhika... Keluar!" ucap sang Papa dibalik pintu.


"Ada apa sih, Pah?"


Plak!!!


"Kurang ajar kamu nyulik anak orang sembarangan. Kamu tau, wanita itu anaknya siapa?!" maki Papanya dengan tatapan nyalang dipenuhi emosi.


"Sekarang. Antarkan lagi wanita itu ke tempatnya! kalau tidak, habislah kamu! Dasar anak tak tau diuntung!" peringatkan Papa Dhika pada dirinya. Namun Dhika malah membalasnya dengan seringai tajamnya.


"Gak peduli! Dhika mau wanita itu!" seketika, Dhika pun tergeletak di lantai. Rupannya, Papanya itu tak segan-segan menyakiti anaknya sendiri, ia sudah tahu, anaknya itu memang seorang psikopat sehingga ia harus bertindak lebih jauh untuk menghadapi sosok Dhika yang kadang sangat sulit dikendalikan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2