Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 60


__ADS_3

Malam itu menjadi saksi baru bagi keduanya. Ada rasa tak enak menyusup di hati pria yang telah menjadikan istrinya menunaikan kewajibanya lahir dan batin. Di sisi lain, wanita itu terus menangis dan tak menoleh sedikitpun pada pria bejat yang telah memaksanya dan terus melakukan aksinya tanpa ampun, walau tak dapat dipungkiri pria itu bermain lembut, tapi ia tak rela karena pria itu melanggar janjinya kembali.


Kini, hanya ada rasa penyesalan bagi pria itu untuk yang ke sekian kalinya. Ya, pria itu pusing dan jengah, bagaimana caranya untuk mengikat istrinya agar tak lagi berujar kata PISAH yang tentunya tak semudah itu ia turutkan karena ini tentang janjinya di hadapan Allah dan juga di hadapan kedua orangtuanya dan juga mertuanya. Ia sendiri pun tak rela karena sudah terlanjur menyayangi wanitanya yang kini terbaring lemah di sisinya dengan mata sembab yang tentu semua itu akibat dirinya.


Salahkah ia berbuat seperti itu? Tentu tidak! Karena dia adalah istri sah-nya sendiri. Namun kondisinya saja yang salah, karena keduanya sama-sama sedang emosi, namun beruntungnya sang pria tak melupakan do'a saat hendak bersenggama lalu meniupkan do'a kebaikan juga di kepala sang istri, saat istrinya itu tengah memberontak kepadanya.


Tak ada pernyataan cerewet lagi dari wanitanya maupun sikap manja yang akhir-akhir ini mewarnai hari-harinya. Keduanya ikut terlelap dalam malam yang syahdu namun terasa panas, karena keduanya sama-sama terpaksa dan merasa bersalah karena telah melakukannya sebelum waktu itu tiba.


Pukul tiga pagi, pria itu berhasil terbangun, sejenak ia mengerjapkan matanya perlahan, lalu duduk sebentar di atas ranjang. Ia baru saja mengumpulkan kesadarannya, lalu ia pun menoleh ke arah wanitanya yang sedang meringkuk, namun tak dapat dipungkiri lagi ia baru saja mengingat, bahwa semalam ia berbuat yang tak seharusnya ia lakukan dengan sang istri.


Sejenak ia merutuki kembali perbuatannya, namun sejenak juga ia pun tersenyum, karena rupanya sang dara pun sepertinya menikmati saja. Namun, lagi-lagi ia tersadar bahwa keduanya sama-sama sedang melampiaskan emosi dan bukan atas rasa sadar dan ikhlas dari masing-masing pihak.


"Astaghfirullah," kalimat itu pun terlontar beberapa kali dari mulut pria itu. Lalu ia pun sejenak menyibakkan selimut. Benar saja, dirinya baru saja memecahkan kegadisan sang istri.


"Ya Allah, apa yang telah aku perbuat? Kenapa aku berubah menjadi pria sebejat ini?"


...----------------...


Pagi-pagi buta, Yusuf sudah duluan menunaikan mandi wajibnya, lalu segera menggelarkan sajadahnya untuk melaksanakan shalat malam lalu beristigfar setenang mungkin agar ia dapat melalui ujian rumah tangganya dengan hati yang lapang. Sang dara pun nampak merintih, mungkin ia merasakan perih dan dia pun berusaha bangkit dari ranjangnya, namun lagi-lagi ia terjungkal dan merasa kesakitan di sekujur tubuhnya.


Pria yang sedang berdzikir itu sudah rapi memakai koko, sarung, dan peci karena memang pakaiannya sudah tersedia di kamar istrinya dan memang sudah disediakan oleh sang mertua. Katanya persiapan saja, takutnya hal-hal tak terduga terjadi seperti saat ini. Makanya mereka pun berinisiatif membeli beberapa pakaian untuk sang menantu, lengkap! ada kemeja, jeans, celana pendek, celana kain panjang, baju santai, termasuk baju ibadah khusus ketika sang menantu di rumah itu.


"Sayang, kamu butuh bantuan-kah?" ucap pria itu yang langsung mendekat ke arah sang isteri, namun isterinya itu lagi-lagi bersikap judes dan menepis tangan suaminya dengan kasar sekaligus geram, karena ia teringat kembali akan kejadian semalam yang dilakukan oleh prianya yang sudah bergelar suami.


"Gak perlu! Minggir! Aku sudah bulat sama keputusan aku! Hari ini, kita selesaikan juga proses perceraian kita!" ujarnya keras kepala, namun tak dapat dipungkiri lagi ada rasa sedih dari raut wajahnya.


"Astaghfirullah," pria itu pun mengusap wajahnya dengan kasar. Sejenak ia menutup matanya, lalu terduduk di sisi ranjang dan menghalangi sang istri yang hendak ke kamar mandi.


"Tiara. Kamu ko sekeras kepala ini. Emangnya aku salah banget kemarin? Aku juga manusia, Ti. Manusia! Aku juga tak luput dari kesalahan. Maafin aku. Maaf! Harus berapa kali lagi aku minta maaf agar kamu mau maafin aku," pria itu pun tiba-tiba saja menundukkan kepalanya. Tak terasa, buliran air mata pun membasahi pipinya.


Konon, kalau pria sudah menangis, itu karena orang yang ditangisinya itu begitu berarti baginya. Begitupun hal yang dirasakan Yusuf saat ini. Ia begitu tak tau harus melakukan apalagi untuk meluluhkan hati istrinya. Itu salah. Ini salah. Ia serasa ingin memecahkan kepalanya saja dan lenyap dari dunia ini, saking pusingnya karena ia memang benar-benar menyerah harus berbuat apalagi pada wanitanya agar sang dara tidak terus-menerus marah kepadanya.


"Mas! Mas ko nangis? Mas!" akhirnya keduanya pun menangis bersama.


Ya, saat ini sang wanita tengah mengintropeksi dirinya. Ia merasa tak seharusnya bersikap seegois ini dan membuat pria yang sudah beberapa bulan ini mendampinginya hengkang karena sikap keras kepalanya yang terus-menerus membuat pusing prianya.

__ADS_1


"A-aku, minta maaf. Maaf karena sudah keras kepala dan membuat kamu jengah olehku. Sekali lagi maafin aku ya, Mas!" ujarnya dengan nada yang sedikit bergetar. Pria itu pun menoleh, senang tentunya, karena akhirnya sang istri mulai luluh juga olehnya.


Dengan perasaan bahagia, pria itu pun menyambut pernyataan maaf istrinya itu dengan pelukan hangatnya. Ya, tak dapat dipungkiri lagi, keduanya mengikis ego yang ada di dalam dirinya masing-masing. Berat! Sulit! Siapa sih yang mau disalahkan atau merasa ngeuh dengan kesalahannya sendiri? Kalau gak ada yang menyadarkan, manusia kerap kali sombong karena merasa dirinya selalu benar dan tetap kukuh dengan pendiriannya.


"Mas! Kamu janji gak bakal gini. Gimana kalau hal yang tidak diinginkan terjadi?! Ah, hancurlah aku," rengek wanita itu dengan manja.


Pria itu pun terkekeh, lalu mengusap kepala isterinya itu dengan lembut, "Kan bisa homeschooling. Lagian masih di lingkungan pesantren. Ummi juga pasti gak akan mempermasalahkannya. Lagian, belum tentu jadi juga kan?" ujar pria itu sambil menaikan halisnya, namun wanitanya malah mencubit pipinya karena gemas.


"Gak gitu konsepnya. Pokoknya, kamu jangan bertindak kasar lagi! Aku beneran marah sama kamu kalau gitu lagi!" rajuknya sambil mencurutkan bibirnya.


"Yaampun, segitunya. Kalau jadi ya rezeki. Jangan ditolak. Siapa bilang kasar? Kamu-nya aja yang keenakan," goda pria itu lagi.


"Mas! Udah ah, jangan ngomongin itu mulu. Lagian kamu curang udah rapi gini. Lah aku? Bantuin dong, pengen ke kamar mandi," rengeknya lagi dengan sangat manja.


Pria itu pun tak berujar lagi namun nampak membantu wanitanya dengan membopongnya sampai ke pintu kamar mandi.


"Udah, turunin. Aku bisa sendiri," ucapnya sambil menutup pintunya sedikit kasar.


"Waduh, udah ah. Jangan banyak ngomong. Nanti salah ngucap lagi deh," gumam pria itu pelan.


...----------------...


Setelah keduanya melaksanakan shalat shubuh berjamaah, dengan Yusuf yang menjadi imamnya. Tiara pun nampaknya ingin setoran hafalan qurannya pada sang suami. Yusuf pun senang, rupanya sang istri sedang menghafal juga dan itu membuat Yusuf semakin bangga pada istrinya.


"Kamu udah juz dua lagi aja. Wah, keren banget sih. Isteri siapa ini," godanya, lalu ia pun mengusap pelan kepala isterinya yang terbalut mukenanya. Keduanya pun segera menutup qurannya karena agenda pagi itu sudah mereka habiskan selama satu jam lamanya. Apalagi kalau bukan untuk berlama-lama dengan al-quran, baik untuk sekedar saling ziyadah, murojaah, maupun tadarus bersama yang rutin mereka lakukan saat di pesantren.


Terdengar suara perut yang demo karena ingin segera di cas ulang. Tiara pun nampak malu, karena ia ketauan sedang lapar dan ingin segera makan karena semalaman dia cuma makan sedikit, pun tidak nyemil sama sekali.


"Lapar ya? Yuk ke bawah. Siapa tau udah di masakin," ajak Yusuf. Tiara pun manggut-manggur saja, karena ia tak berani menjawab, kadung malu.


Saat keduanya sudah di ruang makan. Benar saja. Bik Mia memang sangat peka, keduanya sudah siap dihidangkan oleh daging rendang yang menggugah selera, apalagi ditambah daun lalap singkong dan sambal khas makanan padang yang membuat keduanya meneguk liurnya sampai hampir ngacai mungkin, saking ngilernya.


"Tumben Bi, pagi-pagi udah masakin buat kami. Tadinya Tiara mau ngangetin lagi aja sate yang masih ada. Eh, bibik tau aja aku pengen rendang," ucap Tiara yang langsung mengambil piringnya, lalu memasukkan nasi, daging rendang, tak lupa daun lalap singkong plus sambal buatan bik Mia yang nagih.


"Ya iyalah, Non. Saya kan sudah hapal menu kesukaan Non. Mana mungkin dilewatkan, apalagi Non Tiara ini jarang pulang ke rumah. Ibu sama Bapak juga udah hampir sebulanan gak pulang-pulang, bibik ya seneng non pulang sekarang, apalagi sama den Yusuf. Makin ramai aja ini rumah," ucap bik Mia sambil tersenyum, lalu ia pun segera menuntaskan beres-beresnya lagi di sekitar dapur, lalu hendak beranjak ke lantai dua, tepatnya ke kamar Tiara.

__ADS_1


"Nih, buat Mas dulu. Aku kan harus nyiapin dulu buat suami aku. Baru ini yang aku," ucapnya antusias, Yusuf pun tersenyum begitupun bik Mia yang senang melihat kemesraan Nona mudanya itu bersama sang suami.


"Non, bibi ke atas dulu ya bersih-bersih kamar," ucapnya pelan sehingga Tiara dan Yusuf pun tak mendengarnya.


Keduanya pun nampak khidmat memakan makanannya di pagi hari. Apalagi suasananya sudah kembali menghangat. Sudahlah, betapa nikmatnya kemesraan yang mulai tumbuh kembali setelah bunganya kemarin layu. Ternyata benar, pelangi itu akan muncul setelah badai berlalu. Kebahagiaan akan terpancar setelah kesedihan hinggap. Kesulitan pun akan hilang dan berganti dengan kemudahan yang akan membawa bahterai rumah tangga itu menguatkan kembali akarnya setelah sebelumnya mengalami guncangan yang hebat.


Tanpa disadari, niat Yusuf yang ingin mencuci sendiri seprai dan selimut kamarnya itu malah jatuh ke tangan bik Mia. Hal itu sontak membuat bik Mia senyum-senyum sendiri dan ia pun langsung mengeksekusi semuanya, termasuk baju-baju yang mungkin semalam telah bertebaran di mana-mana namun sekarang menyatu dengan selimut dan seprai yang ada di ranjang kamar Tiara.


"Ya ampun, Non sama Den ternyata baru melakukannya. Hem, gak heran sih. Non kan masih sekolah. Semoga hubungan keduanya langgeng dan bahagia selalu ke depannya," harap bik Mia sambil mententeng ember yang lumayan besar itu menuju mesin cuci yang tersedia di lantai dua, pas banget dengan penjemurannya yang langsung terpapar sinar matahari secara ekslusif.


"Ti, hari ini mas mau ke kampus dulu. Ternyata mas lupa belum ngasih jilid skripsi ke perpustakaan pusat yang ada di kampus. Kamu mau ikut?" tanya Yusuf, saat ini dirinya baru saja mencuci mulutnya dengan buah apel yang tersaji lengkap di meja makan.


"Mau mau. Aku juga seneng banget main ke kampus Mas. Rasanya betah dan gak sabar pengen kuliah di sana," jawabnya antusias.


"Yaudah, mending sekarang aja yuk? Lumayan, dari sini ke kampus makan waktu satu jam. Belum oleh-oleh macetnya,"


Keduanya pun langsung ke kamar Tiara untuk mengganti outfitnya. Yusuf dengan setelan kemeja garis-garisnya dan celana kain hitamnya yang tentu membuat imagenya semakin mempesona. Tiara dengan balutan gamis abaya hitam lalu hijab pashmina berwarna nude pinknya yang dirangkai seindah mungkin namun nampak menutup auratnya hingga ke dada. Membuat pasangan itu nampak tampil serasi dan sangat cocok untuk dijadikan pasangan ideal bagi siapapun yang melihatnya.


"Sudah siap?" tanya Yusuf nampak tersenyum dan semakin terpana karena isterinya semakin hari semakin cantik saja dengan tampilan baju muslimahnya.


"Siap dong," timpali Tiara sambil tersenyum manis juga. Lalu ia pun menggandeng lengan suaminya itu hingga depan halaman rumah. Yusuf pun segera membuka pintu mobil untuk istrinya, lalu ia pun segera berputar sambil berlari kecil ke balik kemudinya dan itu pun tak luput dari pandangan pak Supri yang sudah stand by di depan gerbang yang ia buka beberapa menit yang lalu.


"Hati-hati, Den, Non," ucapnya sambil tersenyum, lalu dianggukkan oleh keduanya dengan senyuman yang menawan pula. Kemudian mobil pun melaju dan melesat begitu cepat menuju keramaian kota Jakarta yang setiap harinya selalu macet namun meninggalkan kesan indah di memory keduanya.


"Eh, tadi seprei udah diganti sama kamu, Mas?" tanya Tiara yang nampak asyik dengan gawainya.


"Iya, malah aku mau.., Eh," Yusuf pun seketika melamun, ia melupakan tujuannya itu.


"Kenapa?" kini Tiara menoleh ke arah sampingnya dan menampilkan wajah Yusuf yang sudah merah merona.


"Bik Mia gak mungkin masuk ke kamar kamu kan?"


"Ya masuk lah, pasti dicuci juga sama bibi kok. Eh," keduanya pun kompak salah tingkah.


"Aduuuuh, maluuu aku, Mas,"

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2