Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 28


__ADS_3

Berbeda dengan suasana syahdu di Pondok Pesantren Ar-Rizqon. Di sana terlihat para santrinya sangat sibuk dan begitu antusias menyambut hari Raya Idul Adha, yang selalu dilaksanakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Idul Adha dalam Bahasa Arab disebut “Idul Nahr” yang berarti hari raya penyembelihan.


Mengapa dikatakan seperti itu? Agar kita mengingat ujian yang menimpa Nabi Ibrahim AS. Saat itu, Allah perintahkan kepadanya agar ia menyembelih puteranya sendiri, yaitu Nabi Ismail AS. Apakah Allah menyembelih Nabi Ismail? Tentu tidak. Di saat detik-detik moment yang mendebarkan itu, Allah langsung ganti Nabi Ismail dengan sebuah ekor kambing untuk menggantikannya. Di situlah, asal mula berkurban (menyembelih) itu ada.


Akibat dari buah kesabaran dan ketabahan Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah tersebut, dengan rasa ikhlas dan tawakkal sepenuh hatinya pada sang Rabb-Nya. Allah pun memberinya sebuah anugerah yang telah Allah beri gelar sendiri kepadanya dengan sebutan, “Khalilullah” (kekasih Allah).


Ya, Idul Adha adalah hari di mana kaum muslimin mendekatkan diri kepada Allah. Loh, kenapa begitu. Bukannya tiap hari kita dianjurkan untuk mendekatkan diri kepada-Nya? Maksudnya, bagi kaum muslimin yang diberi kemampuan untuk melaksanakan ibadah haji ke Baitullah. Maka sejatinya mereka telah mendekatkan diri kepada Allah dengan sebenar-benarnya pendekatan. Adapun bagi kaum muslimin yang belum berkesempatan untuk melaksanakan Ibadah Haji, maka mereka dianjurkan untuk berkurban saja.


Pada tanggal 9 Dzulhijjah, sebelum pelaksanaan Hari Raya Idul Adha. Para Jama'ah Haji akan menunaikan rangkaian ibadah hajinya yang paling utama, yaitu wukuf di Padang Arafah. Dalam bahasa Arab Wukuf artinya berhenti. Sebab itu, seluruh Jamaah Haji yang sedang wukuf di Arafah dianjurkan untuk meghentikan dirinya dari segala aktivitas duniawinya, lalu berdiam diri dan berkumpul sejenak di Padang Arafah untuk memanjatkan do'a kepada Allah.


Mengapa wukuf menjadi ibadah paling inti dalam pelaksanaan Haji? Karena wukuf merupakan ritual ibadah yang menentukan ibadah haji seseorang.


Di Padang Arafah juga adalah fase kehidupan baru bagi manusia pertama, yang diturunkan Allah ke muka bumi. Siapa lagi kalau bukan Nabi Adam AS. Ya, setelah taubatnya di terima oleh Allah, di sanalah Nabi Adam dipertemukan lagi dengan istrinya Siti Hawa. Konon, Arafah juga adalah simbol untuk mengenal Allah lebih dalam lagi.


Di sana, para Jamaah Haji akan merenungkan segala dosanya. Memohon ampun atas segala kekhilafannya. Juga memohon petunjuk seandainya hidupnya saat ini masih menyimpang dari ajaran-Nya. Tak ada manusia yang sombong, angkuh, iri, maupun dengki. Semua terasa lemah dan tak berdaya di sisi Allah, seandainya ia mengaku bahwa ia hanyalah manusia yang tak punya daya dan upaya, kecuali atas izin Allah. Nah, inilah yang dimaksud dengan sebenar-benarnya pendekatan.


...----------------...


Saat ini para santri dan santriah telah selesai melaksanakan shalat Hari Raya Idul Adha. Yap, mereka tidak ada yang diliburkan dari Pesantren. Justru moment kebersamaan Idul Adha inilah yang paling berkesan di relung hati para santri, karena mereka akan bersenang-senang selama tiga hari penuh pasca Idul Adha.


Bersenang-senang di sini berarti para santri tidak melaksanakan aktivitas mengajinya seperti biasa. Melainkan mereka akan membuat sebuah acara besar, di mana para santri saling berkreasi dan saling menunjukkan unjuk bakatnya di sebuah perlombaan yang rutin dilaksanakan saat hari Raya Idul Adha.


Di hari pertama, tentu para santri putera akan menyembelih kambing maupun sapi yang didistribusikan ke pondok mereka. Di hari itu, para santri mengadakan lomba masak, baik bagi santri putera maupun puteri. Semua di sama ratakan dan tak ada yang tidak mengikuti perlombaan tersebut.

__ADS_1


Kebetulan, pesantren Ar-Rizqon ini memiliki sebuah tanah yang luas, bak lapangan besar. Sesekali santri putera sering menggunakan lapangan tersebut untuk bermain bola di akhir pekan. Namun saat ini, lapangan tersebut digunakan oleh para santri dan santriahnya untuk lomba memasak.


Yap, kali ini santri diberikan kesempatan seharian untuk memasak. Di sana mereka memasak menggunakan alat dapur seadanya, tergantung alat yang tersedia di kamarnya masing-masing. Setiap kamar terdiri dari 10 orang dan mereka bebas memasak apapun, karena para pengurus santri memberikan perlengkapan beras sebanyak 1 kg untuk per-kamarnya, daging sapi atau kambing yang sudah disembelih sebanyak 1 kresek sedang dan bumbu dapur terbatas guna melengkapi perlengkapan masaknya itu.


Ada yang membuat nasi liwet, nasi kuning, nasi tumpeng. Lalu dikreasikan dengan tempe-lah, telur-lah, kentang-lah, sampai perbontengan dan perterongan menghiasi perlombaan masakan mereka. Perlombaan tersebut hanya berlaku bagi santri saja, sedangkan pengurus tidak berlaku. Tapi mereka juga sama-sama masak untuk sesama pengurus lainnya. Hal itu dikarenakan selama tiga hari ini, para pengurus santri-lah yang membuat agenda kreasi dan perlombaan untuk para santri.


"Ra. Kamu masak daging gih, aku lagi masak nasi nih, mumpung apinya masih besar. Takutnya gosong kalau ditinggalkan." perintah Raya pada Clara.


Yap, semua kelompok dikasih tempat tersendiri dan antar kelompok satu dengan yang lainnya dikasih batasan. Mereka memasak menggunakan kayu sebagai bahan bakar. Makannya, ada sebagian santri yang sangat lama untuk sekedar membuat tungku api, karena bagi mereka hal tersebut sudahlah sangat kuno.


Tapi di sini, mereka semua dituntut agar bisa memasak ditungku perapian itu. Jadi, perlombaan ini itung-itung jatah makan mereka yang biasanya disajikan oleh para santri yang patroli (piket), melainkan seharian ini mereka olah sendiri.


"Oke. Anak-anak lagi pada potongin tempe, tahu, sama beberapa bumbu dapur untuk dibuatkan sambal tuh. Itu anak-anak udah pada beres belum ya?" tanya Clara.


"Coba samperin. Suruh motonginya di sini aja." titah Raya.


Sementara di santri putera, mereka tak kalah ramainya. Mereka yang notabene-nya hanya piket untuk membuat nasi saja, tampak kelimpungan saat mereka membuat lauk pauknya di perlombaan ini. Namun ada juga kok santri putera yang mahir memasak, maka tak ayal kelompok tersebut bisa beres lebih cepat, bahkan masakannya sangat enak dan langsung dilirik oleh para pengurus santri yang menilai masakan para santrinya.


"Wah, gak salah lagi. Gilang ini memang calon chef di masa depan." kagumi Faisal. Santri senior di sana, sekaligus masih saudara sepupuan dengan Yusuf, anak pimpinan pondok.


"Makasih, A." ungkap Gilang tampak segan. Ia merasa tersanjung dipuji oleh Faisal sebegitunya.


"Kelompok kalian boleh langsung istirahat sejenak yah. Silahkan kalian bersihkan diri terlebih dahulu, karena sebentar lagi ashar akan segera tiba." ungkap Faisal pada regu Gilang yang sudah menyelesaikan kreasi masakannya.

__ADS_1


Para pengurus pun akan mengamankan kreasi masakan buatan para santrinya itu ke aula. Ya, mereka akan menyantapnya bersama-sama, saat semua kelompok sudah beres membuat kreasi masakannya masing-masing.


...----------------...


"Ma. Tiara berangkat sekarang nih? Gimana kalau besok aja?" pinta Tiara memelas pada sang Mama. Pasalnya hari itu baru saja seluruh kaum muslimin melaksanakan hari Raya Idul Adha, termasuk keluarga Tiara.


"Kamu kan sedang libur sholat juga sayang. Gak ada alasan lain untuk tidak segera ke pondok Pesantren." jawab sang Mama enteng.


"Tapi, Ma. Gimana kalau di Pesantren lagi libur? Secara hari ini kan masih lebaran Idul Adha."


"Nggak, kok. Mama udah teleponan tadi sama bu Nyai."


"Serius Ma? Gimana reaksinya?" tanya Tiara nampak terkejut.


"Kamu... Dasar anak nakal." ungkap Mamanya gemas.


"Jadi, Mama udah tau?" tanya Tiara ragu-ragu.


"Jangan gitu lagi pokoknya. Malu-maluin kamu. Dasar Tiara Noor Al-Maheera."


"Hehe. Habisnya jenuh Ma di pesantren terus." ungkapnya cengegesan.


"Jangan di ulangi lagi pokoknya. Beruntung Bu Nyai sudah baik hati sekali padamu, Ti. Beliau menyembunyikan hal ini kepada para santri. Jadi kamu harus lebih nurut lagi ya, ketika nanti di Pesantren," nasihati Sandra pada anaknya yang ajaib itu.

__ADS_1


"Iya, Ma. Sip! Unch, sayang banget sama Mama." Tiara pun memeluk Mamanya begitu erat. Rupanya ia sangat senang, bahwa kejadian ini akan diprivatkan oleh bu Nyai. Padahal ia tidak tahu saja, apa syarat yang akan bu Nyai kasih, saat Tiara sudah kembali ke Pesantren.


...----------------...


__ADS_2