
POV Mega
Siang itu, rasanya duniaku hancur berkeping-keping. Jantungku tidak aman karena serasa mati mendadak.
Bagaimana bisa aku mendapati fakta, kedua orangtuaku yang selama ini selalu bersikap lembut dan penyayang adalah seorang monster yang tak pandang bulu untuk memusnahkan siapapun.
Kenapa begitu? Apakah mereka sudah gelap mata? Kenapa pula harus keluarga Rayn? Gak orang lain aja gitu? Kalau mau.
Ah, ku nikmati perjalanan ini dengan langkah yang begitu gontai. Ku susuri setiap sudut rumah sakit dengan perasaan yang teramat rumit. Aku bingung, haruskah aku menelpon orangtuaku dan menyuruh mereka pergi saja dari bumi Indonesia?
Jahat! Egois! Aku adalah penjahat sejati yang melepaskan penjahat sesungguhnya untuk membiarkan mereka lari dari kelakuan busuknya. Aku adalah seorang anak yang gelap mata, demi orang terkasih yang selama ini aku cintai, lindungi, dan sayangi, aku harus menutup kejahatannya?
Tidak! Kenapa mereka tidak memikirkan aku sebagai anaknya? Meskipun benar bahwa mereka adalah washilah kenapa aku ada dan terlahir di dunia ini, tapi.. Ini benar-benar fatal. Ini tidak bisa dibiarkan apalagi disembunyikan, lalu orang lain-lah yang akan menanggungnya. Bukankah perilaku tersebut termasuk mendzalimi orang lain?
Aku tidak mau orangtuaku keterusan berbuat jahat, jika mereka tidak segera diberi peringatan. Tidak menutup kemungkinan kan, mereka akan melakukan kejahatan lainnya? Mereka harus diberi efek jera, agar insyaf dan bertaubat untuk tidak melakukan tindak kriminal lainnya lagi.
Lalu, harus bagaimana-kah aku? Haruskah aku bersaksi saja, dan menjebloskan kedua orangtuaku ke dalam sel tahanan. Sementara aku akan dinobatkan anak koruptor, lalu akan dicemooh oleh masyarakat se-Indonesia, akibat buah hasil kelakuan orangtuaku? Apakah itu lebih baik?
Lagi-lagi aku menerka-nerka semua kemungkinan, baik dan buruknya resiko serta langkah yang harus aku ambil ke depannya.
Aku juga harus siap dan meikhlaskan diri, seandainya pacarku memutuskanku apalagi kami telah mengancang-ancang pertunangan tiga taun lagi. Bertepatan dengan kelulusanku di SMA. Haruskah aku mengorbankan semuanya?
Drt.. Drt.. Drt..
Ponselku tiba-tiba berdering. Siapa?
"Halo" ucapku heran, karena yang menelpon adalah nomor tidak dikenal.
"Iya. Ini siapa ya?" jawabku penasaran.
"Oh, Mama. Kirain siapa," jawabku nampak dag-dig-dug gak karuan.
"Kenapa Mama pake nomor baru?" tanyaku penasaran.
"A-pa? Mama dan Papa mau pindah ke luar negeri. Kenapa?" jawabku pura-pura tak tau.
"Oke, Ma. Mega segera pulang ke rumah yaa," jawabku tetap tenang sambil mengakhiri teleponku.
Benarlah, ini yang aku takutkan. Mereka kalut kan? Mereka gusar juga kan? Argh! Saat ini air mataku tak bisa terbendung lagi. Air mataku bercucuran begitu derasnya membasahi pipiku. Rasanya, hatiku saat ini seperti diremas dan ditusuk berkali-kali oleh pedang tanpa henti. Ingin sekali diriku bercerita pada pacarku tentang kondisiku saat ini.Tapi jujurly, aku belum siap untuk kehilangan dia.
"Ya Allah, apakah Kau akan mengampuni kesalahanku dan juga kedua orangtuaku?"
__ADS_1
**
**
"Sayang, kamu makan dulu ya? Ko ngelamun?" ujar Yusuf yang saat ini memberikan nampan berupa bubur lemu dan es cendol pada sang istri.
"Em, kata siapa ngelamun. Nggak ko," jawab Tiara sedikit merengut. Ia nampak tidak berselera dengan makanan yang dibawa suaminya, padahal dia sendiri begitu menyukainya.
"Loh, kalau nggak ngelamun. Kenapa kamu nolak makanan kesukaan kamu ini? Hayo, kenapa hem? Cerita dong,"
"Mas,"
"Ya, kenapa istriku?"
"Barusan aku dapat kabar, hari ini Mega dan keluarganya pindah ke Amerika. Ko aku ngerasa keluarganya egois banget ya Mas? Kesannya menghindari masalah yang mereka buat. Lalu, masalah keluarga Rayn gimana dong jadinya?" tutur Tiara yang nampak berkaca-kaca merenungi masalah rumit itu.
"Wah, kamu dapat kabar dari mana sayang? Apakah Mega yang memberitahumu? Hem, kami bertiga sedang mendiskusikan solusi terbaik untuk masalah ini. Jadi kamu jangan pusing-pusing lagi ya memikirkannya," ucap Yusuf yang langsung mengusap lembut kening istrinya itu.
"Tapi, Mas.."
"Syut, udah.. Mending kamu makan dulu nih bubur lemu sama es cendolnya. Nanti keburu basi loh. Mas belinya jauh dari sini, masa tega sih gak di makan," akhirnya Tiara pun nurut dan pasrah disuapi oleh suaminya itu.
"Mas, ko kamu gak beli apa-apa sih. Aku kan jadi sungkan," ucapnya sambil mengunyah.
"Prett, ah. Badan kamu udah proporsional gitu, bilang mau diet segala. Gak perlu," omeli Tiara.
"Masa iya? Kamu mau coba gak?" ucapnya sambil mengkerlingkan halisnya.
"Nyoba apa? Aneh deh," balas Tiara nampak santai. Ia sendiri memang tau arah pembicaraan suaminya itu.
"Duh, ini istriku masih polos atau gimana ya? Ah, iya. Aku lupa, dia kan masih SMA ya. Hihihi. Yaudahlah, tahan dulu aja sampai dua tahun ke depan. Semoga kuat nih si adik pun," gumamnya dalam hati sambil menoleh ke arah istrinya yang polos itu.
"Em, kamu bosan gak sih di diam mulu di hotel. Ke mana gitu, kita jalan-jalan yuk!" ajak Yusuf mengalihkan pembicaraanya.
"Boleh, tapi bentar lagi malam. Udah maghriban aja kali ya?"
"Gasss!"
Saat Tiara hendak melangkahkan kakinya ke sisi ranjang, nampaknya ia pun kehilangan keseimbangan sehingga dirinya pun jatuh ke samping Yusuf yang sama-sama akan beranjak dari kasur.
"Auwh, eh, Mas. Maaf!" ucap Tiara nampak gugup karena saat ini mereka saling berpelukan satu sama lain. Dengan posisi Yusuf di bawahnya dan Tiara di atasnya.
__ADS_1
"Ti" ucap Yusuf dengan suara yang berat.
"Heuh," Tiara pun nampak gugup, karena suaminya jadi rada aneh natapnya.
"I Love You" ucap Yusuf begitu saja sambil terus memandangi bidadarinya lekat-lekat yang saat ini berada di atas pelukannya.
"Kamu kenapa Mas, ko aneh begini sih." Tiara pun tidak biasanya mendengar ucapan romantis tersebut dari Yusuf. Jadinya ia berpikir, suaminya itu sedang iseng.
"Kamu masih gak cinta aku, ya?" tanya Yusuf yang masih mempertahankan posisi mereka sambil membelai rambut Tiara yang indah itu.
"C-cinta kok. Ko kamu nanya-nya gitu sih. Btw, aku gak nyaman loh kayak gini terus," ucap Tiara sambil berusaha melepaskan posisi pelukannya itu.
"Kamu gak nyesel kan nikah sama aku?" tanyanya lagi dengan tatapan yang semakin dalam.
"Kenapa harus nyesel? Ngga kok. Justru aku bersyukur dan bahagia, ternyata perjodohan ini tidak serumit yang aku pikir. Jadi kamu jangan aneh-aneh lagi ya bicaranya,"
"Kamu sudah ikhlas dengan pernikahan ini?" tanyanya terus-menerus dan itu membuat Tiara ingin segera melepaskan pelukannya.
"Mau tau jawabannya? Lepasin dulu dong. Aku gerah, pengen mandi," kilah Tiara. Padahal dirinya sudah gemeteran dari tadi. Jantungnya ternyata sudah tidak aman semenjak Yusuf memandangnya dan terus membiarkannya di atas tubuhnya.
Akhirnya Yusuf pun melepaskan pelukannya, tapi ia kembali duduk di sisi ranjang dan membiarkan Tiara duduk di atas pahanya.
"Mas,, kamu kok horor gini sih?" ucap Tiara yang serasa takut, karena Yusuf tidak mau juga melepaskannya.
Tanpa aba-aba ia pun langsung mencumbu isterinya itu dengan lembut. Tiara pun tidak menolak. Ia terenyuh dan merasakan sensasi yang berbeda, tentunya yang lebih intim dari sebelumnya. Namun tiba-tiba saja, Yusuf sadarkan diri. Ia masih waras, tentu ia tidak mau istrinya itu menyesal karena harus menyerahkan dirinya sekarang, sedangkan dirinya masih sekolah.
"Mas, kenapa?"
Yusuf pun tiba-tiba memalingkan wajahnya, lalu mengusapnya dengan kasar. Ia pun lantas berdiri dan hendak menuju ke kamar mandi.
"Maaf isteriku. Seharusnya aku gak bersikap seperti tadi. Aku gak mau kamu menyesal, karena telah menuruti hawa nafsuku,"
Tiara pun nampak mencerna perkataan Yusuf barusan. Ia pun lantas mengancingkan kembali bajunya yang semula telah Yusuf jelajahi. Ada rasa kecewa dalam hatinya, tapi kemudian ia sadar, kenapa suaminya tidak meneruskan aktivitas yang biasanya dilakukan oleh orang dewasa.
"Aku mandi duluan ya! Tolong siapin baju aku, Ti" titah Yusuf, kemudian Tiara pun menganggukkan kepalanya sedikit canggung. Bagaimanapun kejadian barusan telah membuatnya berfantasi liar dan itu membuat Tiara kewalahan dalam mengontrol perasaanya.
Tiba-tiba saja, ada telepon masuk dari ponsel Yusuf.
"Ya, Waalaikumussalam. Iya, Om. Yusufnya lagi di kamar mandi dulu. Ada apa ya?" jawab Tiara.
"Oh, baiklah. Nanti Tiara sampaikan ya. Terimakasih atas informasinya," telepon pun terputus.
__ADS_1
"Huh, apa iya kasus Rayn bisa ditangani kayak gitu?" ucap Tiara menerka-menerka.
...----------------...