
"Yusuf? Sebenarnya, apa yang terjadi??" kini Tiara mendekat ke arah Devi, namun Yusuf menahannya.
"Devi sudah tiada, kamu jangan menyentuhnya. Semua ini ulah para Iblis. kamu jangan ikut campur," peringatkan Yusuf pada Tiara.
"Hah? Masa? Tunggu, bukannya kamu mau ke Jakarta ya? Ko masih di sini?!" kata Tiara yang nampak jutek pada Yusuf, padahal Yusuf telah menolongnya barusan.
"Ya, aku tahu. Aku peka pada hal-hal seperti ini. Besok aku baru berangkat ke Jakarta. Barusan, aku sudah bisa nebak, Devi akan menimbulkan kegaduhan hari ini dan kamu akan terlibat di dalamnya. Benar saja kan?" kata Yusuf enteng dan nampak tenang dengan celotehannya.
"Ko bisa? Kamu jangan kayak cenayang gini deh, Suf. Gak lucu! Terus ini gimana? Kita pasti akan disalahkan atas kejadian ini, bukan?!" ketus Tiara pada pria di hadapannya.
"Sal... keluar!!" teriak Yusuf pada sahabatnya. Kini Faisal pun keluar dengan wajah cengengesannya.
"Loh, kalian? Ini rencana kalian? Kenapa gak dari tadi sih nolongin aku?!" kesal Tiara pada dua pria di hadapannya.
"Maaf, Ti. Kami bawa pasukan lainnya juga kok. Ternyata, keluarga Devi ini pengabdi syetan. Santri di sini pun sebagian udah pada tau kok. Leluhur? Tidak, itu bukan leluhurnya. Melainkan syetan yang keluarga Devi abdikan." tutur Faisal jujur. Ia lebih suhu dalam pengalaman ghaib dibanding Yusuf.
"Astaghfirullah," ungkap Tiara gak habis fikir.
"Eh, Bu Nyai... Pa Kiai," sapa Tiara yang kaget sambil tertunduk, karena banyak sekali orang yang menghampiri ke arahnya.
"Nak Tiara gapapa kan?" tanya Ummi Susi memastikan. Ia sedikit cemas pada calon menantunya itu.
"Nggak ko, Bu nyai. Tiara cuma syok aja. Lalu, gimana nasib Devi?" ungkapnya sambil melirik ke arah Devi yang seperti sudah gosong jasadnya dan tak bisa dikenali.
"Kami akan menguburkannya di sini. Toh, orangtuanya udah meninggal juga," tutur pa Kiai yang interupsinya mengarah ke beberapa santrinya yang turut datang ke TKP.
"Tapi.. Gimana ngumumin kematian Devi ke para santri, sedangkan kematiannya aja tidak masuk akal," gumam Tiara yang resah. Ini pertama kalinya dia menghadapi kasus kematian tak biasa.
"Itu urusan yang gampang, Nak. Sudahlah. Mi, tolong antar Tiara ke kamarnya. Pasti nak Tiara masih trauma untuk saat ini," perintahkan kiai Rifki pada istrinya.
"Iya, Bah," Tiara pun istirahat dengan keadaan bingung yang teramat mendalam. Pasalnya dia sekamar sama Devi, namun dia sendiri yang harus melihat kematian teman misteriusnya itu.
"Nak, ummi antar sampai sini ya. Kamu langsung saja istirahat. Urusan Devi, biar kami yang urus." ungkap Nyai Susi lemah lembut.
"Muhun, Bu Nyai. Hatur nuhun," Tiara pun menurut dan langsung menuju kamarnya itu. Sementara saat ini, pa kiai Rifki, Yusuf, Faisal dan juga Adnan yang ikut nimbrung di sana, sedang mengkondisikan jenazah Devi yang besok akan di semayamkan di kuburan yang tak jauh dari pesantren.
...----------------...
Laa Ilaha Illalloh.. Laa Ilaha Illalloh.. Laa Ilaaha Illaloh..
__ADS_1
Saat ini jasad Devi tengah di gotong menuju pemakaman yang jaraknya lumayan dekat dari pesantren. Para santri histeris dengan kematian Devi yang sangat tiba-tiba itu. Namun, tiba-tiba saja kejadian tak terduga terjadi..
"Astaghfirullah, kenapa makamnya goyang-goyang gini.." gerutu salah satu santri yang menggotong jasad Devi di bagian belakang.
"Masa sih? Rarasaan kamu itumah," ungkap salah satu santri lainnya.
"Kok bisa sih, cuma aku doang yang rasain," keluh santri yang di belakang itu.
Brak!
Tiba-tiba saja, keranda jenazah Devi itu terjatuh ke tanah dan bau busuk mengelilingi aroma sekitar mereka yang mengantar Devi menuju pemakaman umum.
"Gusti.. Kenapa bisa gitu?" lirih Saskia yang terkejut melihat kejadian tak biasa.
"Ki, kamu gak tau tentang Devi?" tanya Tiara hati-hati. Semalam ia tak sempat bercerita, karena semuanya sudah tidur dengan nyenyak, saat ia tiba di kamar.
"Kenapa emangnya?" Saskia pun penasaran.
"Devi itu..." belum sempat Tiara mengatakan kenyataannya, tiba-tiba suasana jadi semakin ricuh. Pasalnya, keranda Devi tiba-tiba saja mengeluarkan kepulan asap hitam yang entah dari mana itu berasal.
"Sebaiknya santri puteri segera kembali ke pondok!" titah Yusuf mengamankan keadaan.
"Kenapa Suf? Ko keadaanya jadi rumit gini sih?" gerutu Tiara yang kepo dengan suasana yang terjadi.
"Baiklah," Saskia yang melihat kedekatan Tiara dan Yusuf memalingkan mukanya. Hatinya tiba-tiba ciut kembali, namun ia tetap profesional untuk mengarahkan para santri agar balik arah ke pesantren.
"Gawat, Yusuf!" kata Faisal yang nafasnya terengah-engah.
"Arwah si Devi memberontak, minta keadilan. Para syetannya ngamuk. Kita harus berbuat sesuatu Suf," kata Faisal yang kewalahan.
"Ya sudah, kita lawan aja dengan jalur langit. Semuanya, berkumpul rapi. Duduk dan pejamkan mata kalian semua. Serempak ya, baca do'a-do' a ini." kata Yusuf menyerahkan selembaran kertas, namun para santri tentunya sudah pada hafal.
"Bismillah, mari kita lawan." semangati Yusuf yang saat ini memimpin ritual do'a berjamaah. Sementara kiai Rifki sedang ada urusan di luar kota, jadi Yusuf yang bertanggungjawab atas pemakaman Devi yang saat ini bermasalah.
"Allohu Akhbar.. Allohu Akhbar.. Allohu Akhbar.." Tiba-tiba cuaca berubah menjadi mendung, seperti akan terjadi hujan lebat.
"Ya Allah, semua ini adalah milikmu. Kejadian ini sejatinya Kau yang menghendaki. Maka dari itu, hanya Engkau pula lah yang bisa menghentikan ini semua. Tolong kami ya Rabb.. Tunjukilah kekuasaanMu.." gumam Yusuf dalam hatinya.
Suasana pun tiba-tiba cerah kembali, mungkin perubahan cuaca tadi disebabkan oleh alam ghaib yang sedang melawan kekuatan Allah. Yah, kebenaran itu akan tiba. Tak peduli seberapa dalamnya masalah, seberapa berat terjalnya badai. Kun Fayaakun. Pasti Allah tunjukan kuasaNya. Allah tunjukkan kekuatannya.
__ADS_1
Kini, jenazah Devi pun bisa disemayamkan dengan tenang. Walau harus banyak drama, tapi mereka bersyukur, karena salah satunya untuk menghentikan peristiwa tadi adalah karena kebaikan Devi juga yang telah mengalahkannya.
...----------------...
"Rayn, Mega, Riri.." Tiara menghamburkan pelukannya pada ketiga sahabatnya. Sungguh, dia bahagia, karena para sahabatnya itu menepati janjinya untuk menjenguknya di Pesantren.
"Ya ampun, Ti... Kamu cantik banget sumpah, dihijab besar, mana gamisnya lebar gini.. Ah, udah inimah.. Nyata jadi calon bu Nyai," ungkap Rere yang terpana akan damage sahabatnya yang 180% berubah menjadi muslimah sejati.
"Nahkan, dia mulai terus ginii... Kalian tau gak, aku baru saja ngalamin hal mistis di sini," ungkap Tiara yang merengek dan berubah menjadi mellow pada ketiga sahabatnya.
"Apa tuh?" celetuk Mega yang selalu kepo.
"Eh, btw. Kalian juga pangling tauu.. Semoga tetap istiqomah begini yaa. Harapan aku, kita ke Surga bareng-bareng. Walau saat ini, jarak dan keadaan tak memungkinkan kita untuk terus bersama-sama," kata Tiara kembali dengan suasana sendu.
"Ututuuu.. Terhura deh sama kamu, Ti. Makin ke sini, makin bijak saja. Gak salah yaa Yusuf pilih calon istri," sentil Rayn, namun malah membuat Tiara badmood.
"Bisa gak sih, kalian gak ngeledek aku terus.. Gak mama, papa, terus kalian.. Ngeledek terus gituu.. Jengah tau lama-lama.. Nanti aku beneran kabur dari sini, karena gak ada satu pun orang yang ngertiin aku!" ancam Tiara.
"Wah, sloww dong sayangku.. Kami hanya bercanda. Jodoh itu ditanganmu, eh maksudnya kamu yang berhak menentukan. Oke? Kami akan selalu mendukungmu... Maaf yah Ti," kata Rayn yang sikapnya lebih dewasa di antara mereka.
"Abisnya kalian gitu mulu... Aku kan gak suka sama Yusuf," tiba-tiba saja Tiara menitikkan air matanya.
"Loh, ko nangis?" kini Mega terheran.
"Aku tuh udah ngalamin hal yang beratt kemarin." ucap Tiara yang meneruskan ceritanya tentang Devi dan kematiannya yang di luar nalar.
"Serius?? Ada yang kayak gitu??" tanya Rere yang malah antusias mendengar cerita horor tiara.
"Lah, ni anak malah seneng disajikan kisah nyata mengerikan gini? Aneh," umpat Mega geleng-geleng kepala, ia memang sudah tau kesukaan Rere yaitu hal yang berbau horor.
"Hihihi..." mereka bertiga pun cekikikan bersama. Bernonstalgia, dan saling bercanda satu sama lain. Random banget kalau mereka sudah ketemu, apapun akan dibicarakan dari A-Z.
"Kalian mau gak, nginep sehariii aja di sini??" pinta Tiara dengan puppy eyesnya.
"Yah, Ti. Bukannya kami gak mau, tapi besok, kami harus sekolah. Ini minggu loh. Huhu, mau bangettt, kapan-kapan yaa gess kita rencanain. Jadi santri, satu hari aja," kata Rayn bijak.
"Kalian satu sekolahan lagi?" kata Tiara terkejut, juga sedih karena mereka tidak bisa bersama-sama lagi seperti dulu.
"Iya.." ungkap mereka sendu. Mereka bisa merasakan kesedihan Tiara. Sebetulnya mereka tak ingin mengungkitnya, namun kalau ditutup-tutupi dari awal, dan ketauan di akhir, pasti itu akan membuat hati Tiara lebih sakit.
__ADS_1
Pertemanan mereka sehat, mendukung satu sama lain, dan menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Itulah yang membuat Tiara kesepian di pesantren, karena persahabatannya mereka itu takkan pernah ada yang bisa menggantikan.
...----------------...