Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 68


__ADS_3

"Saya ingin masuk pesantren, Om. Bila perlu, saya ingin hijrah ke Arab Saudi," tegas Dhika kembali.


"Kamu serius, Nak? Ayahmu sudah tau, tentang keinginanmu ini?" tanya Raihan tidak menampilkan raut wajah kagetnya.


"Ya, Om. Ayah mana peduli dengan hidup saya. Saya berbuat apapun tak dihiraukannya. Makannya, saya ingin terbebas dan ingin berjauhan dengannya. Siapa tau dengan seperti itu, Ayah mulai berubah," jelas Dhika.


"Baiklah, Nak. Akan kami bantu. Tapi sebelumnya, kami akan bilang dulu ya, ke Ayahmu?"


"Silahkan, Om. Sekali lagi, mohon maaf atas kegaduhan yang sempat saya buat. Saya juga ingin meminta maaf atas peristiwa kegugurannya Tiara yang salah satunya tidak lain karena ulah saya," ucap Dhika jujur.


"Astaghfirullah!" spontan Sandra mengucap seperti itu.


Jujur, Sandra sudah tidak respect lagi dengan pemuda yang ada di hadapannya, tapi karena suaminya masih bersikap baik, maka Sandra pun ikut-ikutan saja meskipun hatinya saat ini begitu terluka dengan pengakuan Dhika.


"Saya tidak akan memaafkanmu!" kata Tiara lantang sambil menatap tajam ke arah Dhika.


"Sayang..." tegur Yusuf yang langsung menenangkan isterinya dan mengusap punggungnya dengan lembut.


"Maafkan saya, Tiara. Maaf!" kini, Dhika bersimpuh ke bawah brankar Tiara sambil menundukkan kepalannya.


"Kamu jahat Dhika! Kamu jahat! Kamu telah membunuh anakku!" sentak Tiara lagi dengan emosi yang terus mendominasi psikisnya saat ini.


Ya, bagaimanapun, Tiara terjatuh saat itu karena ada yang menyenggolnya, sehingga kepala dan perutnya pun terbentur sangat hebat di sana.


"Sayang, sudahlah. Maafkan Dhika." kata Yusuf berusaha mengiba pada isterinya.


"Tapi, Mas. Hiks," Tiara masih pilu dengan kehilangan buah hatinya yang belum sempat ia rasakan walau sesaat karena yaa, dia pun benar-benar tak menyadari kehamilannya itu.


"Sayang, Allah saja Maha Pengampun. Masa kita hambaNya gak mau mengampuni sih? Sudahlah, maafkan Dhika, ya?" Yusuf pun merangkul isterinya sambil mengesun pipinya itu, lalu ia pun mengusap dengan lembut setiap air mata yang menetesi wajah isterinya itu.


"Baiklah. Tapi, jangan pernah sekali-kali lagi menampakkan dirimu di hadapanku, Dhika. Aku gak mau ketemu lagi sama kamu!" ucap Tiara yang langsung memalingkan wajahnya ke arah suaminya, lalu menangis di sana dengan tangisan yang masih terasa menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya.


"Baiklah, Tiara. Aku tidak akan menemuimu lagi. Semoga kamu bahagia selalu dengan kehidupanmu. Doa terbaikku, selalu menyertai,"


Kini Dhika meninggalkan ruangan itu dengan wajah yang lesu dan tentunya terlihat babak belur.


Tak heran, tatapan orang-orang yang meliriknya pun terasa aneh karena Dhika memang seperti orang yang habis dikeroyok massal saking terlihat bonyoknya.


"****!! Kenapa aku mendadak jadi orang gila seperti ini??" gumamnya sambil menendang kaleng yang ada di hadapannya.


Kini dia tengah menenangkan dirinya di taman yang ada di rumah sakit itu.


"Om," sahut anak kecil dari arah depan. Ia nampak menghampiri ke arah Dhika sambil tersenyum dan memegang bonekanya.


"Om. Kenapa wajah Om babak belur?" tegur anak kecil itu lagi dengan memakai bahasa Indonesia.


"Kamu bukan orang sini, Dek?" tampak Dhika mulai membiasakan interaksinya dengan orang lain.


Ya, selama ini dia memang terkenal kaku, tak pernah bergaul dan juga selalu dikatakan cupu. Maka, untuk bersosial seperti ini saja dia membutuhkan dorongan yang kuat untuk memulainya.


Gadis kecil menggemaskan itu menggelengkan kepalanya, "Bukan, Om. Aku sedang mengantarkan kakakku berobat di sini. Dia menikah dengan orang Turki setahun yang lalu dan kini kakakku sedang mengandung."


Entah perasaan apa yang menerjangnya, seketika hati Dhika serasa ada yang meremasnya dengan sangat kuat. Ia teringat kembali, karena perilaku gilanya, dia membunuh janin tak bersalah, akibat sikap obsesinya pada seorang wanita.

__ADS_1


"Om?" tampak gadis kecil itu menegur kembali Dhika yang kini sedang terisak dan mengeluarkan air matanya.


"Om menangis?" tanyanya lagi.


Langsung saja Dhika membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Dan gadis kecil itu pun spontan langsung mengusap lembut punggung Dhika yang sedang bergetar itu.


"Om. Pasti Om punya masalah ya? Yang kuat ya, Om. Ingat, Allah tak akan membebani seseorang, kecuali ia sanggup menghadapinya. Artinya, Om terpilih untuk menjalani ujian dari Allah. Seberat apapun beban yang dipikul, insya Allah akan terasa ringan jika melibatkan Allah di dalamnya. Jadi, sudah ya Om jangan nangis-nangis lagi. Segera obati luka, Om. Malu loh, Om sudah besar. Masa masih sering bertengkar sih sampai babak belur," celoteh gadis kecil itu panjang lebar.


Dhika pun terhibur dengan celotehan gadis itu hingga ia tak sadar tertawa sendiri dan akhirnya menghentikan tangisnya.


"Makasih ya, Dek. Insya Allah, Om akan kuat menghadapi ini. Om gak akan bertengkar lagi, kok. Pasti Om akan mengobati lukannya secepat mungkin," ucap Dhika sambil tersenyum.


"Nah, gitu dong, Om. Aduh, kalau aku udah besar. Aku mau deh jadi isteri, Om. Soalnya, Om ganteng sih," celotehnya lagi dan itu lagi-lagi membuat Dhika semakin tertawa lebar.


"Emangnya, usia kamu berapa taun sih? Ko kamu udah ngerti hal-hal yang kayak gitu?" Dhika pun menanggapi celotehan gadis itu.


"Aku udah mau naik ke kelas dua SD loh, Om. Om sendiri orang Indonesia kan? Siapa tau, suatu saat, kita akan bertemu lagi, kalau aku udah besar," entah kenapa, Dhika semakin gemas mendengarkan celotehan gadis itu.


"Kamu yang rajin aja belajarnya, jangan ngurusin dulu masalah percintaan. Masih kecil. Baiklah, Om akan menunggumu. Semoga ya, kita akan bertemu kembali, seandainya kalau itupun berjodoh," Dhika tertawa geli mendengarkan penuturannya sendiri, sementara gadis kecil itu semakin puas menggoda pria dewasa yang ada di hadapannya.


"Eh, Om. Udah dulu yaa, Tania mau ke kamar kakak. Nanti disangka ilang karena diculik Om-om di sini. Dadaah, Om. Semoga berjumpa kembali suatu saat nanti,"


Gadis kecil itu pun tak ragu-ragu mencium pipi Dhika secara bergantian. Hal itu sontak membuat Dhika geleng-geleng kepala dibuatnya.


****


Berbeda dengan keadaan pasutri yang saat ini masih betah berduaan di ruang rawat inap. Ya, orangtua mereka memilih untuk mengunjungi perusahaanya, berhubung Tiara dirawat di rumah sakit dan Yusuf pun harus menjaganya.


Maka, Raihan pun mau tak mau yang menghandlenya saja saat ini. Apalagi, dia pun kan kebetulan sedang ada di Turki. Maka, tugas menantunya akan ia cancel dulu, mengingat puterinya Tiara saat ini masih membutuhkan belaian dari suaminya.


"Masih, Mas. Emh,..." lenguh Tiara sambil melirik ke arah suaminya.


"Kenapa?" tanya Yusuf.


"Mas. Itu televisi bisa dinyalain gak sih?" tanya Tiara penasaran.


"Bisa kok. Kamu mau nonton?" Tiara pun antusias dan langsung menganggukkan kepalanya.


"Yaudah. Mas nyalain sekarang, ya?" Yusuf pun segera bergegas menyalakan televisi yang ada di ruang VIP itu.


Maklum, ruangan VIP di rumah sakit memanglah hal lumrah sebagai fasilitas di dalamnya. Selain itu, di kamar itu juga, kita bisa melihat pemandangan Indah negara Turki dari sisi balkon kamar inapnya.


"Mas, boleh gak nonton drakor?" pinta Tiara dengan wajah pupe eyesnya. Hal itu sontak membuat Yusuf tak bisa mengelak dan akhirnya menuruti keinginan isterinya.


"Satu episode aja, kok. Hehe, asik dibolehin. Makasih suamiku," satu kecupan berhasil membuat Yusuf salting dibuatnya.


"Ini gak ada adengan anu 'kan?" kata Yusuf memastikan.


"Emangnya kenapa? Bukannya kita pun udah pernah praktek ya?" goda Tiara sambil menyenggol pinggang suaminya.


"Ish. Kalau gitu ya mending kita praktek aja lebihpada nonton," jawab Yusuf sebal.


"Yeeee. Gak kali. Aku pengen nonton drama balas dendam berjudul The Glory. Itu loh, dramanya aktris cantik bernama Song Hye Kyo,"

__ADS_1


"Oh.... Kirain," mereka pun tampak hanyut menonton televisi itu sambil berbaring dan memeluk satu sama lain dengan posisi Yusuf yang ada di belakang Tiara.


"Mas. Ih, gereget!" ucap Tiara gemas sendiri dan ia malah mencubit pipi suaminya itu.


"Lah, ko aku yang disiksanya. Marahin produsernya," sahut Yusuf yang lañgsung memegang pipinya karena terasa memerah.


"Ah, bikin naik darah. Keji sekali anak sekolahan ngebully temennya sendiri sampe segitunya. Gak ada akhlak!" sungut Tiara sambil melemparkan bantal yang ada di brankarnya itu.


"Haduh, mending nonton yang lain aja. Jangan ini, kamu sendiri kan yang malaj repot," usul Yusuf.


"Hem, yaudah lah. Aku mau nonton yang romantis aja," kata Tiara sambil memencet remot untuk digantikan ke siaran lain.


Maklum, rumah sakit menyediakan internet untuk live streaming ketika ada pasien atau keluarganya yang hendak menonton televisi. Jadi, semacam Neftlix pun bisa dengan mudahnya mereka akses, karena pihak rumab sakit pun sudah memfasilitasinya.


"Hem, mending romantis-romantisannya langsung aja sama suami sendiri. Kan lebih berpahala," Yusuf pun menaik-turunkan halisnya dan seketika ia pun langsung mendekap tubuh isterinya itu, lalu ******* bibirnya dengan lembut dan penuh penghayatan.


"Mas, aku pengen," lirih Tiara yang sudah terpancing karena perlakuan suami mesumnya.


"Hem, yakin? Mas sekarang gak bawa pengaman atau pil pencegah kehamilan loh," kata Yusuf ragu.


"Gapapa. Nanti kamu main aman aja, jangan ngeluarinnya di dalam,"


Akhirnya, pergumulan panas itu pun terjadi. Ya, untungnya mereka sudah mengunci pintu kamar inapnya supaya gak ada siapapun menganggu kedua insan yang sedang bertukar peluh itu.


"Mas! Ko di dalem," protes Tiara. Setelah 30 menit beradu peluh, mereka pun sudah mengakhiri aktivitasnya itu.


"Hehe, Mas kelupaan. Aduh, gimana dong," jawab Yusuf cengengesan.


"Hem, ya sudahlah. Lagian, besok udah bisa keluar kan dari rumah sakit? Aku gak betah di sini," rengek Tiara.


"Iya, sayang. Besok kita teruskan agenda jalan-jalannya. Kamu beneran udah sehat?"


"Udahlah. Kalau belum, ngapain kita olahraga malam kayak barusan,"


"Hehe, isteriku makin pinter aja," mereka pun akhirnya tidur dan saling berpelukan satu sama lain.


Cup!


"Ish, ko kamu makin nackal ya sama suamimu ini?" kata Yusuf sambil menggelitiki perut Tiara.


"Ampun, Mas. Abisnya aku gemes sama kamu. Andaikan kamu gak segera datang tadi, entahlah, nasibku akan seperti apa ke depannya. Maafin aku yang tak berdaya ini ya," kata Tiara merasa bersalah.


"Sudahlah, lupakan. Semoga Dhika beneran mau hijrah dan berubah menjadi orang yang lebih baik lagi," harap Yusuf.


"Mas!"


"Ya?"


"Besok jam tiga pagi aku pengen bangun untuk shalat tahajud. Kamu pasti bangun kan? Aku males mandi sekarang," celoteh Tiara manja.


"Iya. Mas juga pengennya peluk-peluk gini aja, biar besok kita mandi bareng," ujar Yusuf sambil mengesun kedua pipi isterinya.


"Yeay, si paling modus!" mereka pun tersenyum bersama dan terbuai dalam dekapan hangat satu sama lain.

__ADS_1


Untungnya, malam itu mereka sudah melaksanakan ibadah shalat isya' nya sehingga mereka pun tinggal hadats besar saat pagi-pagi dan membiarkan diri mereka istirahat sejenak dengan suasana syahdu dan begitu menenangkan hati keduanya.


***


__ADS_2