Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 29


__ADS_3

Hari Kedua : Acara Pondok Pesantren Ar-Rizqon


"Eh, bukannya itu teh Tiara ya?" sahut para santri yang nampak ramai melihat dua mobil bermerek melintas ke area asrama santri putri.


"Iya. Jadi selama ini, dia dari mana?" ungkap santri lainnya juga yang begitu kepo, karena Tiara sudah seperti artis di pesantren Ar-Rizqon.


"Entahlah. Pasti ada acara klarifikasi segala deh."


"Iya. Secara dia kan anak emas alias santri kesayangan bu Nyai."


"Hush! Emangnya ada apa, Dek?" tegur Saskia yang ikut nimbrung bersama mereka.


"Tuh, ada teh Tiara. Akhirnya, yang dicariin nongol juga."


"Kalian bicaranya yang sopan, ya! Bagaimanapun, dia itu teteh kelas kalian. Santri dewasa di sini," nasihati Saskia dengan lembut.


"Memang betul ya, teh Tiara itu diculik? Apakah itu mobil penculiknya teh?" ungkap Clara yang saat ini sedang bertanya pada Saskia.


"Entahlah, Teteh juga belum tahu." jawab Saskia apa adanya.


"Semoga kita selalu dilindungi oleh Allah yaa Teh,"


"Aamiin,"


Setelah perbincangan riuh tentang Tiara di santri puteri. Kini dua orang di santri putera pun nampaknya sedang bercengkrama dan membicarakan topik yang sama.


"Masa iya, Tiara diculik?" ungkap Galih, teman sekelas Tiara yang paling rupawan di antara yang lainnya. Dia ternyata diam-diam menaruh hati pada Tiara.


"Beritanya masih simpang siur, tapi tuh, di sana ramai banget. Kayaknya ada yang datang deh," kata Gilang si santri paling mahir memasak.


"Mana?" Galih pun kepo dan akhirnya celingukan ke arah depan asrama puteri. Ia melihat dua mobil berhenti di sana. Seketika ia pun tercengang bahwa yang keluar dari sana, di antaranya adalah Tiara.


"Lang. Bidadariku sudah kembali," ucap Galih bersemangat.

__ADS_1


"Alhamdulillah, dia masih utuh," celetuk Gilang.


"Enak aja. Emangnya ayam dibilang utuh segala," gerutu Galih.


"Ya, maksudnya.." pembicaraan mereka pun terhenti, karena Wisnu yang tempo hari melacak keberadaan Tiara malah mengompori kedua lelaki itu.


"Dia santriah paling nakal yang pernah ada. Masa keluar-masuk dari Pesantren seenaknya gitu. Mana perginya gak tahu waktu, ngemall-lah, ngebioskop-lah, karaokean-lah. Dasar anak kota, bawaanya pergaulan bebas mulu," ungkap Wisnu tiba-tiba.


"Hei, Anda! Kenapa kamu berbicara seperti itu? Emang Tiara punya salah apaan sama kamu, sampai kamu mitnah begitu ke dia?" ucap Galih membela nama baik Tiara.


"Kalian gak tahu aja. Aku kan tim IT. Tahu lah, dia pernah pergi ke mana aja. Makanya, kalian jangan terlalu mengagumi anak kota itu," ucap Wisnu dengan nada sarkasmenya.


"Wuoh, ngajak gelut nih orang," ungkap Gilang yang merasa tak rela juga Tiara dibilang begitu.


"Bagaimanapun masa lalu seseorang. Kamu tak berhak menjudge dia sampai sebegitunya. Belum tentu orang yang kamu rendahkan itu martabatnya hina di sisi Allah. Bisa jadi di pandangan Allah dia lebih mulia dibandingmu. Ingat! Kita gak pantas menilai seseorang. Hati-hati sama ucapan kamu, Nu," ungkap Galih tenang. Ia malas berdebat dengan Wisnu. Makanya dia hanya menetralkan suasana saja.


"Yaudah, kalau tidak percaya. Cepat atau lambat. Bu Nyai sendiri yang akan membeberkan perilaku busuk orang kota itu," ucap Wisnu penuh yakin. Ia pun lantas berlalu dan meninggalkan Galih dan Gilang itu di aula.


"Rese banget sih si Wisnu. Pasti dia kalah telak lagi. Secara kan dia suka sama Saskia. Aneh, pelampiasanya jadi ngatain orang sebegitunya," gumam Gilang tak habis pikir.


...----------------...


"Bu, maafin Tiara," ungkap Tiara yang langsung sungkem pada ummi Susi.


"Loh, nak Tiara kenapa harus minta maaf. Gapapa, sayang." ucapnya lembut. Ia pun membantu Tiara untuk duduk sejajar bersamanya. Lalu berbincang sejenak dengan orang tua Tiara yang telah mengantarnya ke Pesantren.


"Saya turut bersedih, karena nak Tiara harus mengalami kejadian seperti itu kemarin. Harusnya kami siapkan juga seorang satpam di luar gerbang, agar kejadian ini tak terulang kembali," ungkap kiai Rifki yang sudah tahu akan kejadiaan naas Tiara yang tempo hari diculik oleh Dhika.


"Tidak apa-apa, Ki. Semua ini sudah menjadi takdir. Semoga ke depannya kita semua selalu dijaga oleh-Nya." harap Raihan, lalu ia pun menoleh ke arah anaknya yang masih menunduk.


"Assalamualaikum," tiba-tiba saja ada seseorang mengetuk pintu dari arah luar.


"Loh, By. Itu kayak suara Yusuf ya?" ucap Susi sambil berbisik.

__ADS_1


"Iya tuh. Tolong bukain Mi."


"Eh, kebetulan kamu pulang juga ya, Suf." sapa Raihan pada Yusuf yang kini sudah berkumpul dengan mereka. Ia pun meyalami orang-orang di sana satu persatu, termasuk Raihan dan Sandra.


"I-iya, Om. Yusuf gak tau, Om sedang bertamu hari ini," ucapnya sambil tersenyum.


"Mumpung ada kamu Suf. Gimana kalau Om bicarain langsung sama Aby kamu," ungkap Raihan begitu saja. Hal itu mengundang pertanyaan di benak orang-orang yang kini nampak menunggu pernyataan Raihan.


"Kenapa, Han?" tanya Rifki penasaran. Ia serasa anaknya itu belum curhat apapun, tapi malah Raihan sendiri yang duluan tau.


"Begini, jadi aku minta Yusuf ini gantiin posisi Dirut di Turki. Sementara kok, perkiraan 1-2 tahunan. Qodarullah, perusahaanku di sana ada yang main-main dari pihak internalnya. Aku curiga, ada yang korupsi uang perusahaan secara berlebihan. Karena terakhir aku lihat keuanganya itu tidak slek dan sangat berbeda dua tahun terakhir ini. Nah, masalahnya adik iparku yang bertanggungjawab di sana untuk membereskan kekacauan, harus ke Italia. Di Turki tuh jarang banget ke pegang, karena dia juga harus ke berbagai negara juga. Aku bingung Ki, mau nyari ke mana orang yang cocok gantiin posisi Dirut di Turki. Nah, aku tawarin lah ke Yusuf. Gimana menurut kamu, boleh gak?" tanya Raihan yang begitu santai pada sobatnya itu.


"Subhanallah. Kamu punya perusahaan berapa, perasaan banyak banget?" ucap Rifki kagum. Orang-orang pun nampak senang dengan kedekatan dua pria paruh baya itu.


"Hehe, aku juga gak nyangka, Ki. Semua ini titipan dari Allah. Makanya, aku tuh butuh banget orang yang bisa handle. Secara kan aku udah semakin tua nih, udah harus ada yang gantiin juga." ucapnya sambil melirik ke arah Yusuf. Sementara Tiara malah sebal dengan tingkah Papanya itu.


"Kalau saya sih, setuju aja. Tapi gak tau tuh Yusuf. Mau tidak, Nak?" tanya Rifki pada anaknya itu.


"Yusuf bersedia saja. Tapi deg-degan juga, karena ini pertama kalinya Yusuf terjun ke dunia perusahaan," umgkapnya gugup.


"Nah, kalau begitu. Gimana kalau kita mengadakan pernikahan agama dulu, sebelum Yusuf pergi ke Turki?" ucap bu Nyai Susi sekenanya.


"Pernikahan siapa, Ummi?" ucap Yusuf polos.


"Kamu sama Nak Tiara, lah."


"Apa???" Yusuf dan Tiara pun kaget bersamaan. Pasalnya mereka tak menyangka, memang harus banget ya, main jodoh-jodohan gini.


"Bu Nyai, sepertinya salah orang ya? Tiara kan masih sekolah, masih belum pantas untuk menikah. Lagian Yusuf kan mau pergi ke Turki. Siapa tau jodohnya di sana," tolaknya secara halus sambil tersenyum. Sandra pun langsung mencubit anaknya itu agar diam.


"Saya setuju sih, kalau harus dinikahkan sekarang juga secara negara, biar langsung sah secara hukum gitu loh," ungkap Sandra gembira.


"Mama!" pekik Tiara tak terima.

__ADS_1


"Ya sudah, kami sepakat untuk menikahkan kalian, SAH secara agama dan negara. Kebetulan Pak Penghulu pun sudah hadir saat ini,"


...----------------...


__ADS_2