
"Ada apa ini, sayang? Kenapa nak yusuf bisa seperti ini?" tanya Raihan, papa Tiara pun ikut panik. Sebelumnya, ia langsung menghubungi ambulance, agar Yusuf langsung di eksekusi ke rumah sakit terdekat di sana.
"Ceritanya panjang, Pa! Nanti Tiara ceritakan." ungkap tiara tak kalah panik. Kini ambulance itu pun sudah datang, dan langsung membawa Yusuf ke dalamnya.
"Tiara ikut masuk mobil ambulance yaa. Gais, yuk kalian juga temenin gue." pinta Tiara pada ketiga sahabatnya.
"Oke. Siap." mereka berempat pun masuk ke dalam mobil ambulance, sementara Raihan dan Sandra, mengikutinya dari arah belakang.
"Halo, Assalamualaikum, Ki!" kata Raihan di sebrang telepon. Ia langsung menghubungi orangtua Yusuf.
"Waalaikumussalam, iya Han? Gimana kabarnya?" sapa Rifki. Ia merupakan kiai di pondok pesantren Ar-Rizqon.
"Alhamdulillah. Maaf nih, ganggu istirahatnya." tutur Raihan menyembunyikan kepanikannya. Saat ini, jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Makannya ia sungkan menelepon sahabatnya itu.
"Gapapa. Santai. Ada apa ya, Han?" Tanya Rifki to the point.
"Maaf sebelumnya, aku mau ngabarin kondisi nak Yusuf. Saat ini dia masuk rumah sakit, Ki. Sekarang kamu di mana?"
"Innalillahi wainnailaihi roji'un. Saya di pesantren, Han. Ada insiden apa ya? InsyaAllah, pagi ini kami akan langsung ke Jakarta."
"Iya, Ki. Ceritanya panjang. Saya juga belum dikasih tau sama anak gadis saya. Yang pasti, mereka ada di satu tempat kejadian." ungkap Raihan jujur.
"Oke, baiklah. Ya sudah, saya tutup ya! Istri saya belum tau kabar putranya itu. Assalamualaikum."
"Iya, Waalaikumussalam," telepon pun terputus.
"Gimana Pa? Apakah kiai Rifki kaget atau gimana gitu?" tanya Sandra penasaran.
"Ya pasti kaget lah, Ma. Aneh-aneh aja pertanyaannya." kata Raihan sambil tertawa pelan.
"Yaa, siapa tau kiai mah lebih tegar gitu. Kan bentar lagi kita besanan sama mereka." ungkap Sandra bahagia.
"Jangan dulu bahagia, Ma. Kita belum tau pendapat mereka, sepertinya nak Yusuf belum cerita. Apalagi Tiara kalau tahu. kamu tau kan, anak itu seberontak apa? Ikuti alurnya saja, manusia hanya merencanakan, Allah-lah yang menentukan." Ungkap Raihan tenang.
"Hem, iya deh. Mama hanya berharap yang terbaik aja buat Tiara." harap Sandra.
"Ya, semoga kejadian ini, bisa menjadi petunjuk dari Allah. Em, kayaknya ada insiden yang tidak kita ketahui deh, dibalik penusukan Yusuf itu. Kira-kira, apa ya?" gumam Raihan penasaran, ia tetap fokus menyetir. Akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit terdekat.
"Entahlah, Pa. Mama juga penasaran. Pasti si Tiara syok banget." kata Sandra yang sudah siap keluar dari dalam mobil.
"Ma, papa mau shalat tahajud dulu. Mau sekalian bareng gak?" ajak Raihan pada istrinya.
"Iya, Pa. Mama juga pengen lah. Yok!" mereka pun akhirnya melaksanakan shalat tahajud terlebih dahulu di mushola rumah sakit. Kebetulan musholanya di lantai satu sehingga mereka langsung saja menuju ke sana.
...----------------...
"Ti, apa yang sebenarnya terjadi sih?" tanya Mega penasaran. Ia kepo, kenapa Yusuf sampai ditikam begitu saja. Pasti ada suatu insiden, pikirnya.
"Jadi, tadi tuh..." Tiara pun menceritakan tentang kedatangan dhika, lalu perkelahiannya dengan Dhika, sampai kemunculan Yusuf, lalu peristiwa Dhika yang begitu saja menusuk Yusuf.
"Astaghfirullah." gumam Rere. Ia memang tidak antusias, namun ketika nama Dhika disebutkan, ia jadi tidak menyangka. Dhika yang terkenal culun di sekolahnya, ternyata seorang psikopat.
"Si Dhika pasti suka sama Tiara dari dulu kan? Kalian merhatiin gak sih, waktu moment Tiara naik ke panggung karena menjadi murid terbaik di kelas 9. Si culun itu ngeliatin Tiara teruss," kata Rayn yang masih mengingat Dhika paling depan melihat Tiara kala itu.
"Gila. Bener-bener ya, orang pendiam tuh DDM banget." sengit Mega.
"Apa tuh, DDM?" tanya Rere penasaran.
"Diam-Diam Menghanyutkan. Keliatannya aja culun, pake kacamata, celana sampai atas, terus kek murid bloon. Eh, ternyata dalam dirinya, terpendam jiwa psikopat yang sangat mengerikan." umpat Rere kesal.
__ADS_1
"Hush! Udah ah. Sekarang, bagaimana caranya gue berbalas budi ke dia? Kok dia tau nama gue? Lagian gue kaget, pas Yusuf tiba-tiba datang nolongin gue. Kok tau gitu loh, gue di situ." gumam Tiara penasaran.
"Elo lupa? Nyokap lu kan ngobrol sama si Yusuf sebelum kita ke pameran. Jangan-jangan, ada sesuatu yang nggak lo tau. Antara nyokap lo sama si Yusuf misalnya?" tebak Rayn.
"Bisa jadi. Secara..." Mega pun tak melanjutkan perkataannya lagi, karena tiba-tiba saja dokter keluar dari ruang UGD.
"Apakah Anda keluarga korban?" kata dokter pada keempat gadis itu.
"Ada apa dok?" timpal Tiara lebih cekatan, karena ia merasa bertanggungjawab dengan keadaan yusuf.
"Pasien sudah selesai di operasi. Namun untuk sadar, sepertinya membutuhkan waktu sampai 3-4 jam. Kalau belum sadar, nanti panggil saja lagi tim medis ya, untuk di periksakan kembali kondisinya." tutur dokter jelas.
"Baik dok, terimakasih. Kalau boleh tau, untuk luka sayatannya, apakah seserius itu? Separah itu maksudnya?" tanya Tiara memastikan.
"Saat pasien datang ke rumah sakit, ia kehilangan darah yang begitu banyak. Untungnya, stock darah pasien cukup di rumah sakit ini. Adapun luka tusukannya, perlu waktu beberapa minggu, bahkan sebulan untuk bisa sembuh kembali seperti sedia kala. Anda hanya perlu merawat dan menjaga pasien dengan baik. Jangan biarkan pasien beraktivitas terlalu berat dalam masa pemulihannya." jelas Dokter.
"Baik dok, terimakasih atas penjelasannya. Apakah kami boleh menjenguknya?" tanya Tiara kembali.
"Silahkan, pasien sudah boleh dikunjungi." dokter pun mempersilahkan keempatnya untuk masuk ke kamad VVIP Yusuf. Di saat itu pula, kedua orang tua tiara sudah datang ke sana, lalu mereka pun ikut masuk menjenguk Yusuf.
"Pa, siapa yang mesen kamar ini?" tanya Tiara pada papanya Raihan. Kini mereka duduk di sofa yang ada di kamar VVIP itu.
"Ya, Papa. Memangnya kenapa?"
"Em, enggak. Habisnya bingung, tadi kan kami gak ngurusin administrasi sama sekali. Tapi, tiba-tiba saja Yusuf segera dialihkan gitu ke kamar ini." jelas Tiara.
"Oh, papa memang sudah kenal sama pemilik rumah sakit ini. Jadinya gak perlu administrasi-admistrasi segala." tutur Raihan.
"Ko bisa gitu?" tiara terus kepo.
"Udah lah. Yang penting, Yusuf sekarang sudah dialihkan ke ruang perawatan kan? Sekarang, papa mau tanya, gimana ceritanya kalian bisa bersama-sama. Lalu Yusuf bisa berakhir seperti itu?" selidik Raihan pada putri bungsunya. Raihan memang pengusaha terkenal dan memiliki saham di mana-mana, maka tak aneh jika dirinya bisa seenak jidat memesan atau bahkan memesan kamar VVIP seperti Yusuf saat ini.
"Dhika? Siapa dia?" timpal mama Sandra penasaran.
"Dia teman sekolah kami. Seangkatan, beda kelas doang. Gak nyangka kan, ko dia begitu? Padahal, Tiara taunya dia murid yang gak aneh-aneh. Ya, siapa yang tau dalamnya seseorang. Kita hanya mampu melihat covernya saja." tutur Tiara lesu.
"Innalillah, semoga nak Yusuf bisa segera sadar. Papa khawatir, apalagi orangtuanya ternyata tidak ikut liburan ke sini. Mereka pagi ini akan berangkat ke Jakarta dari Garut. Gak kebayang, gimana sedihnya Rifki." ungkap Raihan begitu saja. Ia pun merasa emosional, karena bagaimanapun Rifki adalah teman karibnya.
"Yusuf punya berapa saudara, Pa?" tanya Sandra penasaran, sementara Tiara, Rayn, Mega dan Rere hanya menyimak perbincangan kedua sejoli yang tak lekang oleh waktu itu.
"Dia anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya perempuan, tapi adiknya laki-laki. Katanya sih, kakaknya udah menikah dan sekarang ikut suaminya di Jawa Timur, ngabdi di pesantren. Sementara adiknya Yusuf, sepantaran kamu, nak." ungkap Raihan sambil melirik ke arah Tiara.
"Oh, kira mama dia anak sulung. Bagus deh." kata Sandra yang hampir saja keceplosan mengucap calon suami Tiara.
"Emangnya kenapa? Ko mama kepo?" heran Tiara.
"Em, enggak. Mama kan pengen tau aja." ucap Sandra berkilah.
"Nah, apa kata Papa. Kamu itu jangan ke mana-mana sendirian. Mana kejadiannya malam-malam gini. Ingat, kejahatan akan selalu mengintai kita di manapun. Nggak kenal cewek atau cowok. Untungnya nak yusuf segera datang menyelamatkanmu. Coba kalau nggak? Papa bersyukur, Yusuf memang bisa diandalkan." kata Raihan menceramahi keempat anak gadis itu.
"Ya, mana Tiara tau? Tiara juga gak mau kok gini. Namanya takdir. Yaudah deh, balasan budi apa yang bisa tiara lakukan pada Yusuf? Jujur, Tiara merasa bersalah atas kejadian ini." ungkap Tiara lemes.
"Iya sih takdir. Tapi kamu juga harus lebih waspada dan hati-hati lagi ke depannya, Ti! Kamu gak perlu berbuat apapun, kamu cukup ikuti keinginan Papa dan Mama saja dengan ikhlas, yaitu masuk ke pesantren. Kelar deh urusan. Sebetulnya, pesantren yang kami maksud itu adalah pesantrennya nak Yusuf ini." tutur Sandra sambil tersenyum. Sementara Tiara saat ini langsung melotot, ia tak percaya dengan apa yang di ucapkan kedua orang tuanya.
"What? Tiara gak salah denger? Haha." kata Tiara tertawa lucu.
"Ini semua benar, sayang. Jadi kamu harus nurut pada kami. Kalau nggak..."
"Kalau nggak apa??" tanya Tiara aneh.
__ADS_1
"Kamu harus mau nikah sama nak Yusuf." kata Sandra sekenanya.
Deg!
Ucapan mamanya barusan, rasannya ia seperti tersengat listrik yang langsung menyetrumnya ke seluruh tubuh. Ia kaget bukan main. Dalam daftar hidupnya, tak pernah sekalipun terbayang, ia menikah dengan seorang ustadz. Atau lelaki sekelas Yusuf ini, yang damagenya seperti akhi-akhi begitu.
"Argh, mimpi buruk apalagi ini?!" umpatnya dalam hati.
"Lucu banget sih, Ma! Pranknya benar-benar di luar nalar. Mana ada orang kek Yusuf ini mau sama berandalan kayak aku. Nggak deh. Mama dan Papa jangan mimpi, ya!" kata Tiara sambil tersenyum lebar dan memperlihatkan gigi putihnya yang rapi.
"Justru itulah, nak. Kami ingin, nak yusuf membimbingmu. Percayalah, pilihan orangtua itu baik dan insyaaAllah yang terbaik untukmu." kata raihan menimpali perkataan anaknya.
"Hellow, ini bukan zamannya Siti Nurbaya yaa, mama dan papaku tercinta. Tiara ingin menikah dengan orang pilihan tiara. Cukup kemarin kalian menakut-nakuti tiara dengan dalih akan menikahkan tiara sama om beni. Baiklah, sekarang tiara turuti keinginan kalian. Tapi jangan harap, tiara mau menikah sama yusuf." ancam tiara pada kedua orangtuanya.
"Lihatlah saja nanti, nak. Kalaupun kamu berjodoh sama Yusuf, sekeras apapun benteng dalam dirimu, akhirnya runtuh juga. Semoga kamu bahagia di pesantren nanti yah, nak!" kata Sandra yang tak menanggapi ancaman anaknya itu.
"Terserah deh, gimana kalian aja. Siapa takut. Udah keluar dari pesantren nanti. Tiara keukeuh, pengen jadi jaksa. Titik!" kata Tiara yang berpegang teguh pada keinginannya.
Sementara ketiga sahabat Tiara, hanya senyum-senyum saja melihat penolakan Tiara. Mereka yakin, lambat laun Tiara pun akan menyukai sosok Yusuf. Hal itu membuat Tiara sebal bukan main, bukannya didukung untuk menolak Yusuf, justru mereka mendorongnya agar Tiara mau menerima Yusuf.
"Gak asik, kalian!" rajuk Tiara.
"Eh, bukannya gitu, Ti." ungkap Rere yang tak bisa menyembunyikan tawanya itu.
Allohu Akhbar, Allohu Akhbar!
"Nah, sudah adzan shubuh tuh. Mari kita shalat terlebih dahulu. Kita mau gantian, apa gimana?" tanya Sandra pada keempat gadis itu.
"Gantian aja, Ma. Kasian Yusuf di sini sendiri." ungkap Tiara datar. Hal itu sontak, membuat orang-orang di sana meledek Tiara.
"Siapa tadi, yang nolak habis-habisan gamau dijodohin sama Yusuf?" goda Raihan.
"Apaan sih, Pa! Ini tuh sebagai bentuk rasa tanggungjawab Tiara aja, karena bagaimanapun Yusuf begini akibat Tiara." ucapnya dengan nada kesalnya.
"Yaudah deh, nanti malah makin gak ngaku kalau diledek terus. Papa sama Mama shalat duluan ya! Nanti giliran kalian." pamit keduanya meninggalkan mereka berempat.
"Ti, lo yakin gak suka sama Yusuf?" tanya Mega serius.
"Ya nggak lah. Kalau kamu mau, tuh silahkan. Dengan senang hati, kamu boleh memilikinya. Aku dukung kamu kok." kata Tiara sambil tersenyum.
"Nggak deh. Keknya Yusuf beneran suka sama lo. Terus orangtua lo juga dukung. Jangan-jangan, kalian akan dijodohkan." tebak Rayn.
"Ngomong apaan sih. Udah ah. Kalian buat mood gue buruk tau." kesal Tiara pada ketiga kawannya.
"Yeeee. Dasar." goda Rayn sambil menyenggol bahu Tiara.
"Ummi. Abii." lirih Yusuf pelan dari arah brankarnya. Tiara pun spontan menghampiri Yusuf yang sangat pucat itu.
"Um-mi." ungkapnya pada Tiara. Tiara sendiri aneh, ko bisa-bisanya dia dianggap ibunya.
"Ki-rani." ucapnya lagi dengan terbata-bata.
"Hah, dia ngomong apaan? Kalian denger gak?" kata Rere yang mendengar jelas kata Kirani terucap dari mulut Yusuf.
"Paling pacarnya." ucap Tiara santai.
"Hah?" mereka bertiga pun saling pandang.
Yusuf pun tak sadarkan diri kembali. Akhirnya Tiara pun segera memanggil pihak medis, karena ia sudah diwanti-wanti untuk memanggil tim medis, kalau Yusuf sudah sadar.
__ADS_1
***