Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 43


__ADS_3

Percakapan Yusuf dan Stephan (Si Pengacara terkenal yang tidak ada lawan)


"[Halo! Assalamualaikum. Apakah benar ini dengan Yusuf?]" tanya seorang pria paruh baya yang terdengar begitu ramah di sebrang telepon.


"[Ya, Waalaikumussalam. Betul ini dengan Yusuf. Maaf, ini dengan siapa ya?]" tanya Yusuf setengah penasaran.


"[Ini Stephan. Om dapat nomor ini dari Raihan. Kamu suaminya putri bungsu Raihan ya? Wah, selamat atas pernikahan kalian. Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warrohmah ya! Em, kebetulan om punya kabar baik dan buruk nih. Kamu bisa kan malam ini juga datang ke rumah Om?]" ujarnya terdengar serius.


"[Oh, ini om Stephan ya? Iya, hehe. Terimakasih Om atas do'a baiknya. Eh, malam ini juga, Om?]" ungkap Yusuf yang langsung menoleh ke arah Zae.


"[Iya, harus malam ini juga. Kasus ini jangan di nanti-nanti. Bisa kacau]"


"[Boleh Om, kalau begitu. Yusuf segera ke sana ya!]" telepon pun terputus.


"Zae! Ada kabar baik dan juga buruk!" ungkap Yusuf dengan wajah yang tak bisa ditebak.


"Apaan tuh?" Zae pun penasaran dengan percakapan Yusuf itu.


"Barusan Om Stephan telepon. Katanya beliau merintahin kita ke rumahnya sekarang juga. Gimana siap?"


"Tunggu. Kabar baik dan buruknya apa? Terus, itu dua cewek mau ditinggal gitu aja di rumah sakit?"


"Kalau itu sih, aku belum dikasih tau sama om Stephan. Soal istriku, mereka udah ada yang jaga kok. Barusan Papa ngirim bodyguardnya ke rumah sakit. Jadi, sudah dipastikan aman,"


"Oke deh. Kalau begitu ceritanya. Gasss, meluncur!"


Keduanya pun begitu bersemangat menghadapi kasus nyata di hadapannya. Bagaimanapun, vibes ini tuh terasa real gitu loh. Walaupun sebelumnya mereka pernah magang di beberapa intansi hukum. Tapi, kali ini suasananya sangat berbeda.


Mereka serasa menghadapi badai dengan penuh rasa kepercayaan diri yang tinggi untuk menghadapinya, padahal ombak di hadapannya itu gak main-main. Mungkin, namanya pria. Konon ada yang mengatakan pria itu senang dengan tantangan. Hal itulah yang pantas disematkan pada kedua pria energik yang sedang merencanakan misi hebatnya itu dengan seseorang yang tak kalah luar biasa juga untuk memberantas keadilan dan juga keamanan negara.


**


**


"Permisi!" ujar Yusuf yang ketiga kalinya mengatakan salam di luar gerbang tempat kediamannya sang pengacara terkenal itu.


"Ini beneran kan rumahnya?" tanya Zae memastikan kembali.


"Bener kok. Beliau shareloc sendiri ke aku," sahut Yusuf yang memperlihatkan chatanya dengan sang pengacara.


"Rekaman video kecil di samping gerbang pun tiba-tiba saja menyala, "Hai! Ini Yusuf kan? Silahkan masuk, Nak. Pencet saja nomor 9004 dari arah dalam gerbang, nanti gerbangnya terbuka sendiri kok,"


"Baik, Om."


Mereka pun menuruti perintah sang Tuan rumah. Akhirnya kedua pria itu pun memasuki rumah mewah yang cukup minimalis itu. Ya, saat pertama kali memasuki halaman, anehnya mereka tak menemukan satpam ataupun bodyguard gitu untuk sekelas pengacara, pasti banyak orang yang ingin mencelakainya bukan?


Keduanya pun lebih terpana, saat mereka memasuki lorong yang terbilang cukup panjang sebagai tangga untuk ke lantai dua rumah tersebut.

__ADS_1


"Gila, ini rumah apa dufan ya? Kayak wahana liburan aja," gumam Zae tak habis pikir.


"Parahnya, kenapa sepi sih? Aku jadi merinding," gumam Yusuf menimpali.


"Hush, jangan-jangan tempat ini hororr?" seketika Zae menyentuh bulu kuduknya yang tiba-tiba meremang.


"Kalian ditunggu Tuan Stephan di ruangannya," ungkap seseorang dari arah belakang. Tepatnya saat mereka sudah tiba di lantai dua.


"Kapcagiya! Omo!" sentak Zae yang langsung terkaget sekaligus begidik ngeri.


Ya, orang yang mereka temui tak ayal seperti seorang preman yang dipenuhi dengan tato dengan rambut seucrit di atas kepalanya seperti tokoh kartun upin.


"Oke, terimakasih," balas Yusuf. Mereka pun segera menuju ke ruangan yang dimaksud. Ya, kini mereka sudah bertemu dengan orang yang dituju.


"Tolong siapkan hidangan untuk para tamu," titah Stephan.


Ya, mukanya yang memang berkharisma, ditambah kacamata yang selalu menghiasi kerupawanannya. Konon, orang yang berkacamata itu terlihat damage orang-orang cerdas dan ber-IQ tinggi. Begitu juga lah kesan pertama Zae dan Yusuf saat melihat pengaca terkenal itu lebih dekat.


"Kalian kaget kan, saat pertama kali memasuki rumah ini?" ucap Stephan, mengawali perbincangan hangatnya.


"Iya. Kami kira di sini gak ada penghuninya," celetuk Zae begitu saja.


"Haha, sudah kuduga. Maafkan atas ketidaknyamanan-nya ya! Hal ini dikarenakan, tingkat kriminalitas semakin meningkat. Apalagi baru-baru ini saya membela klien yang jelas-jelas tidak bersalah, lalu terdakwa yang diduga penjahat itu kabur ke luar negeri. Huft! Hal itu sangat-sangat menjengkelkan. Bagaimana bisa, keamanan di negeri ini bisa di beli oleh segepok uang saja? Itulah hal pertama yang ingin saya sambut untuk kalian," ucap Stephan dengan gaya humornya, namun tetap berwibawa.


"Menarik! Kami semakin ingin belajar dari Anda, Tuan Stephan," ucap Zae yang terlihat antusias.


"Kalian boleh memanggil saya dengan sebutan 'Om' saja. Bukankah itu terdengar lebih akrab?" tawari sang pengacara.


"Kamu anak muda, namamu Zae kan?"


"Ya. Saya adalah temannya Yusuf. Salam kenal, Om" balasnya sungkan.


"Kabar pertama yang ingin saya sampaikan. Selamat bergabung di dunia tipu-tipu ini. Ya, mengapa saya katakan demikian? Pada kenyataanya. Dunia hukum itu sangat pelik. Bahkan istilah makan dan dimakan saja sudah menjadi asupan sehari-hari bagi kami yang berkecimpung di dunia ini,"


"Sebelum saya lebih dalam membahas ke inti permasalahannya, apakah kalian benar-benar yakin ingin masuk ke dunia tipu-tipu ini?" entah kenapa, pernyataan om Stephan barusan, membuat kedua pria itu saling melempar senyum.


"Ya, kami sangat bersedia," timpal keduanya kompak.


"Baguslah. Saya akan menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Tapi kalian jangan kaget!" ucap Stephan mengawali konflik perbincanganya. Kedua pria itu pun begitu serius memperhatikan mimik wajah Stephan.


"Astaghfirullah. Benarkah? Apakah sudah ada buktinya?" tanya Zae memberondong pertanyaannya.


"Tentu sudah. Saya sudah mengumpulkan buktinya beserta saksinya. Masalahnya, apakah kedua orang tua Nak Rayn itu akan berterus terang? Atau malah pasrah menutup kejahatan, karena mereka memang tidak punya kekuatan sama sekali? Itu yang harus kita yakinkan pada mereka," Zae dan Yusuf benar-benar speechless.


Pasalnya, seorang pengacara, jaksa, maupun aparat dan pejabat pemerintah itu demi mencari bukti dan membuktikan dirinya tidak bersalah, gak kaleng-kaleng. Sampai ke akar-akarnya dan semua tertutup rapi, bersih, dan perfect. Crazy! Daebak!


"Saya ragu, apakah saya pun bisa seperti om Stephan ini, terutama dalam mencari bukti sebuah kasus?" ucap Yusuf menyela keheningan yang tiba-tiba tercipta.

__ADS_1


"Itu mudah, asal kamu hati-hati dan bermain cantik. Maka kamu akan selamat dari orang-orang yang berusaha mencelakaimu," balas Stephan enteng.


"Bagaimana kalau kami belum memiliki backingan nama terkenal sepertimu. Apakah kami masih bisa mencari bukti itu pada orang-orang yang terkenal arogan sekalipun?" tanya Zae nampak berpikir keras.


"Gampang! Itulah fungsinya saya di sini. Saya ingin kalian yang meneruskan saya. Bagaimana, apakah kamu masih mau melanjutkan misi ini?" tanya Stephan pada Zae.


"Suf! Kamu gak bakal bantu aku?" Zae malah bertanya balik pada kawannya.


"Nak Yusuf ini sudah diamanahi perusahaan oleh mertuanya. Maka di sini, saya hanya menekankan dirimu, anak muda. Bagaimana, masih sanggup?"


"Hem, baiklah. Pupus sudah harapan saya meneruskan bisnis Ayah," ungkapnya sambil menunduk.


"Kalau tidak mau, tidak apa-apa. Saya tidak memaksa. Ini hanya pembelajaran saja bagi kalian yang notabenenya seorang mahasiswa jebolan dari jurusan Hukum."


"Saya sangat ingin, Om. Saya terima apapun konsekuensinya," ucap Zae lantang. Ya, dia sudah yakin untuk menolong keluarga gadis yang ia sukai itu.


"Kalau begitu, besok kamu langsung praktekan saat sidang pertama dimulai ya. Gimana, siap?" tegaskan Stephan kembali.


"Iya, saya siap!"


Akhirnya, perbincangan panas itu pun berakhir dengan canda tawa ketiga pria berbeda usia itu. Ya, meskipun Stephan sudah berumur, namun nyatanya sampai sekarang dia masih betah menjomblo. Bayangkan, tiap hari kasus yang ia tangani sangat menumpuk.


Tentu, ia selalu bijak dalam mengambil kliennya. Termasuk kasus keluarga Rayn yang dikatakan tersandung korupsi. Ia benar-benar teliti dan langsung set menjurus pada solusi, bagaimanapun, dirinya adalah pria normal. Ya, beberapa kali ia ditawarkan oleh beberapa klienya untuk dijodohkan padanya. Tapi lagi-lagi ia menolak, entah cewek seperti apa yang ia taksir. Yang pasti, untuk saat ini dirinya sangat ingin membantu kasus keluarga Rayn.


**


**


"Zae, kamu yakin kan sama kasus yang akan kamu perjuangkan ini?" tanya Yusuf. Ya, kini mereka sudah kembali ke rumah sakit. Rupanya mereka mengkhawatirkan keselamatan para wanitanya itu.


"Ya, aku yakin. Doakan, semoga besok diriku bisa membungkam para jaksa. Dengan kecerdasanku ini," gumamnya yang terkesan menyombongkan diri, namun Zae tetaplah Zae yang senang mengguyon.


"Hahaha, semoga ya! Aku percaya besok kamu bisa melawannya!" ucap Yusuf menyemangati.


"Jadi Zae beneran bakal terjun langsung jadi pengacara?" ucap Tiara dari arah brankar yang tertutup tirai. Ya, seketika Yusuf kaget, karena isterinya itu belum tidur ternyata.


"Loh, kamu belum tidur?" Yusuf pun seketika menyelinap ke brankar yang ukurannya cukup untuk dua orang.


"Ih, sempit. Jangan di sini dong," tolak Tiara yang merasa risih. Ia pun malu, karena ditonton oleh Zae yang nampak senyum-senyum sendiri sambil memegang berkas persidangannya.


"Ya, besok aku bakal cosplay jadi pengacara. Haha, belum diwisuda, gaya-gayaan begini ya?" tawanya menggema ke seluruh ruangan.


"Tapi, ada yang aneh gak sih. Ko Om Stephan kayak yang benar-benar peduli gitu ya sama kasus ini?" ucap Yusuf menyela.


"Hei, itu kan udah tugas pengacara. Ko kalian berburuk sangka begitu?" sahut Tiara tampak emosi.


"Abisnya...," tiba-tiba, Rayn pun mengigau sebuah nama dengan lirihannya yang begitu pelan.

__ADS_1


"Step-han,"


**


__ADS_2