Terjerat Cinta Di Pesantren

Terjerat Cinta Di Pesantren
Chapter 70


__ADS_3

"Alhamdulillah. Gak nyangka, aku bisa ke Capadoccia juga!" kata Tiara setengah berteriak, ia tersenyum riang kala melihat pemandangan indah yang sedang ia nikmati saat ini.



"Mau naik balonnya, nggak?" tawari Yusuf.


"Mau dong. Tapi, sebenarnya aku takut, Mas," cicit Tiara begitu manja.


"Gapapa, sayang. Kan ada, Mas," Yusuf pun mengenggam tangan isterinya itu menuju operator yang sebelumnya telah Yusuf chat di sebuah aplikasi.


Di sana, saat mereka menaiki balon udara, pengunjung diharapkan mengikuti intruksi yang telah operator (orang yang bertanggungjawab atas keselamatan penumpang saat manaiki balon) agar lebih safety dan sadar diri (tidak dianjurkan untuk phobia ketinggian).


Ya, untuk menaiki ataupun mengunjungi beberapa wisata di Turki, kita memang dianjurkan untuk mengikuti arahan tour guide masing-masing wisata maupun memilih pemandu yang bisa dipercayai saat kita liburan di sana. Jadi, jangan sampai kita diam-diam aja tanpa bantuan warga negaranya saat di negeri orang ya!


"Mas, kenapa sih tempat ini begitu terkenal? Terus, kenapa juga dinamai Capadoccia?" tanya Tiara, saat ini mereka sudah bersiap diri untuk diterbangkan di balon udara.


"Cappadocia ini terkenal dengan hamparan batuan vulkanik lunak yang terbentuk oleh erosi dari gunung berapi selama jutaan tahun. Batuan itu menjadi beragam bentuk yang unik seperti menara, kerucut, lembah, dan gua. Makanya, terkadang kalau di waktu-waktu tertentu, tempat ini bisa berbentuk kayak cerobong asap gitu yang sering disebut dengan cerobong peri saking estetiknya. Terus, setiap paginya tuh ada sekitar seratus balon yang siap diterbangkan di sini," jelas Yusuf.


"Ehm, kenapa dinamai Cappadocia? Kebetulan Capadoccia itu berasal dari bahasa Persia 'Katpatuka,' artinya negeri kuda yang indah. Itulah sebabnya warga setempat masih banyak yang naik kuda. Makanya, disebut Capadoccia deh," sambungnya.


"Wah, aku juga pengen naik kuda, Mas. Boleh gak?"


"Em, boleh deh. Tapi nanti barengan sama Mas naik kudanya, ya?"


"Oke. Makasih banyak suamiku!" Tiara pun curi-curi kecupan singkat di pipi suaminya.


"Gimana, udah siap naik balon udaranya?" Yusuf bisa melihat isterinya itu sangat nervous saat menaiki pintu balon yang akan mereka naiki.


"Bismillah. Aku bisa!" semangati Tiara.


Saat balon udara itu akan mengapung semakin tinggi ke udara. Tiara refleks memegang lengan suaminya itu, lalu menelangkupkan sebelah tangannya ke wajahnya.


"Kamu aman, sayang. Coba buka matamu," kata Yusuf meminta Tiara membukakan matanya, lalu mencoba menjauhi isterinya, agar isterinya tidak terlalu ketakutan lagi saat ada di ketinggian.


"Mas!" Tiara pun gak mau jauh-jauh dari suaminya. Hal itu sontak membuat operator pria yang ikut di balon itu tersenyum melihat interaksi kedua sejoli itu.


"Gimana, baik-baik aja kan?"


"Iya, alhamdulillah. Wah, Masya Allah, pemandanganya indah banget, Mas!" takjub Tiara.


Gadis itu beberapa kali mengucapkan ketakjubannya atas negara Turki yang memang seindah itu jika dilihat dari ketinggian.


"Mas, tolong fotoin aku dong. Pokoknya seestetick mungkin!" pinta Tiara.


"Dengan senang hati, sayang. Sini, pasti cantik banget potretan, Mas," pede Yusuf.


"Awas ya, kalau nggak bagus!"


Cekrek!


"Ehm, lagi dong." pinta Tiara lagi.


"Nih, dilihat dulu. Nanti ngomel kalau gak puas," kata Yusuf sambil menyerahkan ponsel isterinya.


"Wah, kok kamu bisa sih motoin aku seestetick ini, Mas," puji Tiara.


"Iya dong. Siapa dulu gitu loh,"


"Mas. Sini kita selfie!" ajak Tiara lalu memotret kebersamaan keduanya dengan begitu mesra.


Cup!


"Aih, Mas. Malu aku, ke foto barusan tuh pas kamu cium," kata Tiara salah tingkah.


"Gapapa, biar jadi walpaper ponsel Mas nanti. Kan kalau rindu biar mandangin foto kamu terus," ujar Yusuf dengan menampilkan senyuman manisnya.


"Ish, dasar. Nah, Mas. Kayak gitu senyumnya. Cis!"


Keduanya pun kompak memotret selfie yang beranekaragam gaya sampai-sampai mereka pun malu sendiri pada operator yang lebih memilih memalingkan mukanya, karena kedua sejoli itu begitu romantis, serasa dunia milik berdua.

__ADS_1


"Mas. Aku mau potret jari dulu, ya. Uhuy, kayaknya kece maksimal nih!" ujar Tiara begitu semangat.



"Eh, beneran bagus Mas. Liat deh!" kata Tiara antusias, lalu menyerahkan foto hasil potretnya sendiri pada Yusuf.


"Wah, iya cantik. Secantik orangnya," puji Yusuf.


"Ish, Mas. Aku lama-lama mabok di puji terus sama kamu," ungkap Tiara malu-malu, lalu dia pun segera menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Mas! Makasih ya. Aku bahagia banget hidup bersama kamu," ucap Tiara lagi.


"Iya sayang. Mas lebih bahagia lagi. Makasih udah mau jadi isteri, dan ibu untuk anak-anak kita kelak," seketika raut wajah Tiara berubah menjadi sendu.


"Mas! Aku sedih. Untuk saat ini, jangan bahas itu dulu, ya? Aku masih ngerasa berdosa atas keguguran yang telah terjadi tempo hari," ujarnya sedih.


Yusuf pun semakin mengeratkan pelukannya pada sang isteri, "Gapapa sayang. Kamu jangan merasa bersalah. Semoga, tiga tahun lagi. Kita bisa diamanahi sebagai orang tua," harap Yusuf.


"Mas!" Tiara pun mendongklakkan wajahnya.


"Aku berat berpisah sama kamu. Yakin, kamu gak bakal berpaling dari aku?" kata Tiara overthingking lagi.


"Huft! Udah Mas jelaskan berkali-kali. Kamu itu satu-satunya perempuan yang bertahta di hati, Mas. Gak ada yang lain. Ehm, lagian, dua tahun lagi kayaknya kita bisa deh bersama-sama lagi. Kamu mau ikutan akselerasi (percepatan) sekolah nggak?" tawarkan Yusuf.


"Emang boleh?"


"Tentu, boleh. Nanti Mas bilang ke Ummi, biar diuruskan secepatnya. Tapi, kamu yakin mau gitu aja?"


"Nggak deh, Mas. Gausah repot-repot. Biar aku sekolah aja kayak biasanya. Lagian, kamu juga bakal pulang kan sebulan sekali? Kecuali tiga bulan pertama, karena kamu harus di sini,"


"Beneran? Eh, kamu udah lupa mimpi kamu jadi jaksa?" goda Yusuf.


"Ya nggak lah. Itu akan tetap tercapai, ya! Kita lihat saja di masa depan," ujar Tiara yakin.


"Ahahaha, oke. Mas akan nantikan itu semua. Tapi kalau nanti nggak jadi, Mas ingin minta suatu hal,"


"Ada deh. Rahasia. Nanti kamu akan tau kalau udah lulus SMA,"


"Ish, gak asik main rahasia-rahasiaan," ujar Tiara merengut.


"Pokoknya, kalau kamu dah lulus. Nanti kasih tau, Mas. Mau lanjut kuliah, atau..."


"Atau apa?" Tiara makin gemas dibuatnya.


"Atau mau secepatnya jadi ibu dari anak-anakku," bisik Yusuf. Sontak, Tiara langsung menggebuk lengan suaminya itu.


"Nggak ya. Aku bakal tetap pengen jadi jaksa, blee," Tiara pun menjulurkan lidahnya.


"Siapa takut,"


Akhirnya, keduanya pun sudah tiba lagi di tepian. Kali ini, mereka menaikinya dengan riang gembira sehingga kata mabok di udara tidak sama sekali dirasakan oleh Tiara terkhususnya, malah dia terhibur sendiri karena sedari tadi dia bercanda terus dengan sang suami.


Saat sebentar lagi memasuki waktu adzan. Keduanya pun segera mencari masjid terdekat untuk shalat Ashar. Yusuf pun segera mengambil air wudhu di tempat pria, begitupun dengan Tiara.


"Eh, Papa ada apa ya nelepon dari tadi? Aduh, maafkan Yusuf. Dari tadi ponsel Yusuf dibisukan, jadi gak terdengar panggilan telepon,"


Yusuf pun akan segera menelpon balik mertuanya itu saat shalat Yusuf telah mereka tunaikan.


Setelah keduanya sama-sama beres berjamaah shalat Ashar. Yusuf pun segera menelpon mertuanya itu.


"Halo, Assalamuaikum, Pah? Maaf Yusuf baru bisa nelepon papa sekarang," kata Yusuf tak enak hati.


"Waalaikumussalam, Nak. Iya gapapa. Gimana kabar puteri Papa? Dia udah sehat?"


"Alhamdulillah, sehat Pah. Kami juga udah jalan-jalan nih seharian ini. Maaf, ada apa ya, Pah?" kata Yusuf ingin segera tahu, apa tujuan mertuanya menelpon.


"Ehm, jadi begini, Nak...," Papa Raihan pun menjelaskan apa maksud dan tujuannya itu. Seketika Yusuf pun melirik sekilas ke arah isterinya.


"Oh, gitu ya, Pa. Gapapa kok. Nanti Yusuf akan bicarakan sendiri ke Tiara,"

__ADS_1


"Yaudah, Nak. Silahkan nikmati kebersamaanmu sampai besok pagi. Papa mohon, bujuk isterimu itu ya. Assalamualaikum,"


"Iya, Pa. Waalaikumussalam,"


"Kenapa, Mas?" kata Tiara kepo, karena sepertinya Yusuf begitu serius saat menelpon dengan papanya barusan.


"Sayang. Maafkan dulu ya..." kata Yusuf tak enak.


"Kenapa ih, coba ceritain," pinta Tiara.


"Mas harus ke Amerika seminggu. Tapi kamu tenang aja, Mas ke sananya sama Papa kok. Ada perjanjian besar dengan perusahaan yang ada di sana. Proyek ini memang sudah Papa nantikan sejak beberapa bulan yang lalu. Jadi, Mas gak enak kalau nolak ajakan Papa ini. Kamu ikhlas kan, Mas ke sana?"


"Kapan?"


"Besok,"


"Hem, kenapa gak dua harian lagi. Aku masih ingin sama kamu, Mas," Tiara pun merengut.


Yusuf segera memegang bahu sang isteri, lalu menatapnya lekat-lekat, "Percayalah sama Mas. Sesudah proyek Amerika itu. Papa bolehin Mas bulan depannya jenguk kamu ke Pesantren. Jadi, maaf ya kalau mulai hari besok, kita harus mulai LDR-an?" ucap Yusuf meyakinkan.


"Janji?"


"Iya, insya Allah,"


"Ehm, oke lah,"


"Jangan marah dong. Jadi kamu mau ke mana lagi sekarang?"


"Pengen ke tempat penginapan aja. Pegel dari tadi jalan terus. Kayaknya, kita habiskan saja waktu berduaan semalam ini,"


"Yakin?" Yusuf pun antusias mendengarnya.


"Tanpa adanya modus-modusan. Malam ini, kita murni berduaan saja gak ada urusan ranjang,"


"Yahhhh," Yusuf pun kecewa.


"Aku gak mau nanggung resiko. Apalagi kamu mau jauhan sama aku," kata Tiara merajuk.


"Emh, kita liat aja nanti,"


Keduanya pun kompak memasuki mobil putih milik Raihan yang ada di Turki. Sesekali Tiara kegirangan karena melewati beberapa kota yang ada di Turki. Tak lupa juga Tiara meminta untuk berhenti, karena saking sukanya dia akan pemandangan yang mereka lewati selama di perjalanan menuju hotel.


"Mas, Berhenti dulu deh. Kok ya bagus banget sunsetnya di sini," kagumi Tiara.



"Ini namanya Galata Bridge (Jembatan Galata), sayang," kata Yusuf memberitahu.


"Wah indah sekali, ya. Kalau itu masjid apa?" tanya Tiara sambil menunjuk masjid yang tak jauh dari Galata Bridge.


"Itu museum, sayang. Bukan masjid. Namanya Mevlana Museum. Nah, di sanalah tempat di mana karya-karya sastrawan Jalaludin rumi berada. Di sana juga ada barang-barang pribadi dan juga makamnya. Nah, setiap bulan desember di Konya ini sering diadakan festival Seb-I Arus. Di mana setiap tahunnya, warga Turki merayakan festival ini untuk mengenang karya-karya besar Jalaludin Rumi. Gimana, kamu mau nginep di dekat hotel ini gak?"


"Oh, Jalaludin Rumi, ya. Aku tau karena seringkali berseliweran kata-kata bijak beliau, seseringnya romantis sih. Ah, aku jadi inget sastrawan Arab juga yang bernama Abu Nawas. Kapan-kapan kita ke sana, ya? Ke Makkah sama Madinah. Aku rindu Rasulullah," sendu Tiara.


"Maa syaa Allah, isteriku sangat sholehah. Tentu. Mari kita ke sana, ya. Sekalian umroh dan haji. Hehe, mau?"


"Wah, kalau harus bergelar Haji di usia muda. Aku kok kayak yang gimana ya, Mas? Tapi kalau kamu mau, sok aja. Aku belum minat. Malu, soalnya ilmu agamaku belum terlalu luas." curhatnya.


"Yaudah, gapapa. Mas juga akan ikut isteri Mas, siapnya kapan. Masa sih egois sendiri. Kita sama-sama aja. Yaudah, kamu masih mau di sini atau mau ke museum Mevlana?"


"Ehm, di sini aja dulu. Aku kok kayak mau ngemil lagi ya?" ujarnya cengengesan.


"Baiklah, Non Puteri. Mari Pangeran ajak Puteri ke salah satu restoran yang menyajikan makanan terenak yang ada di Turki,"


"Ish, bisa aja,"


Mereka pun bergandengan tangan dan segera menuju ke salah satu restoran yang ada di Galata Bridge. Mereka pun setelahnya ingin mengunjungi dulu Museum Mevlana, lalu setelah itu, mereka pun istirahat ke hotel yang telah Yusuf pesankan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2